Darrell makan bersama Sean di cafenya. Hidup sean selamat berkat Darrell. Darrell memberikan salah satu kartunya kepada Sean. Darrell memang the best pokoknya.
“Jadi lo cuti kuliah ?” tanya Sean.
Darrell menganguk.
“Kenapa?? Takut tunangan lo ilang ya?” goda Sean.
“Udah nggak tunangan. Kita nggak cocok. Lagian dia juga udah punya pacar.” jawab Darrell.
“Beneran??”
“Iya. Gue juga udah bilang kok sama Mère. Jadi udah di pastiin perjodohannya batal.” jawab Darrell.
“Serius??” tanya Sean.
“Heem.”
“Rell Serius lo nggak jadi tunangan sama dia?” Ulang Sean.
“Iya.” kata Darrell lagi.
“Rell ... Ortunya di Aurel itu matre banget. Di-”
“Udah tau.” potong Darrell cepat.
“Nah, gue jamin pasti Aurel bakal di hajar habis-habissan sama ortunya deh. Karna batalin pertunangan lo.” kata Sean lagi.
“I don't care.”
“Yaudah. kalau lo nggak peduli ya gapapa. Gue cuma pingin ngasih tau lo aja kok.”
*****
Aurel turun dari kamarnya dan menuju ruang makan. Tapi di depan sudah ada papa dan mamanya.
Plakk...
Aurel memegang pipinya. Mamanya menamparnya. Aurel sudah tau kalau ini akan terjadi.
“Mama nggak mau tau. Kamu putusin laki-laki itu. Terus minta maaf ke Darrell. Pokoknya kamu harus tunangan sama dia.” kata mamanya tajam.
“Aku nggak suka sama Darrel.”
Plak....
Aurel merasakan sakit di tempat yang sama untuk kedua kalinya.
“Mama nggak mau tau Rel. Cinta bisa datang seiringnya waktu. Gimana pun caranya kamu harus menikah sama Darrell.” kini mamanya berkata lebih tajam.
“Hidup kamu, papa sama mama pasti lebih baik. “ sambung papanya.
Aurel langsung lari keluar rumah dengan memegang pipinya. Ia menghapus air matanya kasar.
Aurel benci hidupnya. Kenapa selama ini ia tak pernah bisa memilih kehendaknya. Kemauannya. Kenapa orang tuanya tidak mengerti keinginanya selama ini.
Brakk...
Aurel mundur kebelakang saat ia menabrak seseorang. Ia mendongak untuk menatap siapa laki-laki itu.
Darrell ?
Disisi lain Darrell pasti sudah gila karena tiba-tiba ia sudah berada di depan rumah calon tunangannya yang entah, Darrell lupa namanya.
Darrell menunggu di dalam mobil selama 10 menit sampai akhirnya ia memutuskan akan masuk dan mampir ke rumah Aurel sampai akhirnya ia melihat perempuan itu berlari dan menangis sembari memegang pipi kanannya. Darrell segera mendekatinya.
“Gue nggak suka sama lo!! Gue udah punya pacar. Tapi mama maksa banget buat gue tunangan sama lo.” kara Aurel yang kini sudah berada di dalam Cafe milik Darrell.
Daripada itu Darrell sedari tadi melihat pipi Aurel yang memar. Alih-alih mengurusi perkataan Aurel, ia masih fokus di pipi kanan tersebut yang lebih menyita perhatian.
Ia masih tak mengerti selama ini Darrell ataupun Irenee dan Libra, jika melakukan kesalahan atu menolak apa yang di mau orangtuanya. Orang tuanya tidak pernah memukulnya.
Lah ini, perempuan di depannya menolak pertunanganya malah di pukul orang tuanya. Seharusnya wajar. Karena memang perasaan tidak bisa di paksaan.
“Joe tolong Ambilin es sama kain. “ suruh Darrell kepada salah satu pegawainya. Lebih tepatnya Joe ini manajer dari cafe miliknya ini.
Aurel melihat Darrell yang begitu peduli padanya.
“Ini.” katanya dengan menaruh es di dalam wadah tersebut.
“Makasih.” Ucap Aurel.
“Kompress sendiri.” kata Darrell berikutnya. Kini ia bersandar di sofa yang ia duduki dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Aurel mengambil es lalu membungkusnya dengan kain. Dan mulai mengompres pipinya. Mereka berdua duduk dalam aura kecanggungan. Sebenarnya hanya Aurel yang merasa sedikit canggung. Darrell sih tidak peduli. Dia lebih memikirkan alasan kenapa dia tadi bisa mengemudikan mobilnya ke rumah Aurel.
Aurel menaruh esnya. Dan mulai menatap Darell.
“Gu- Gue ... Ehm, Bilang ke nyokap lo, ..”
Darrell mengangkat alisnya. Ia mendengarkan yang gadis itu katakan.
“Kita ... Tunangan lagi.” kata Aurel susah payah.
“Ogah.” jawab Darrell cepat.
Aurel langsung menatap Darrell terpengarah. Ia yang sedari tadi menahan malunya menekan gengsinya untuk mengatakan hal itu. Harusnya Darrell bertanya kenapa bukan malah langsung menolaknya.
“Gue nggak bisa pulang kalau gue nggak bisa bikin lo mau tunangan sama gue.” jelas Aurel kesal. Kini ia menggigit bibirnya.
“Emang kapan gue mau tunangan sama lo?” tanya Darrell. Dia ingat, dia tak pernah mau untuk dijodohkan.
Aurel diam mendengar pertanyaan Darrell. Dia bingung bagaimana caranya agar Darrell mengatakan iya untuk kemauannya.
“Gue juga sebenernya nggak mau di jodohin sama lo. Cowok homo. Gue juga udah punya pacar yang gue cintai. Gue terpaksa bilang kayak gini, nyokap gue pingin banget gue tunangan sama lo.”
Darrell terpengarah mendengar kata cowok homo. Come on, Darrell normal dia hanya belum menemukan orang yang mampu menyentuh hatinya. Darrell langsung berdiri dari duduknya. Ia menatap tajam Aurel. Aurel sendiri takut dengan tatapan intimidasi dari Darrell. “Keluar.” kata Darrell. Setelah itu ia langsung masuk ke ruangannya.
Aurel langsung keluar dari cafe tersebut. Dia mengacak rambutnya kesal. Pipinya sendiri masih sakit. Terus sekarang, dia harus bagaimana?
Dia tidak bisa pulang. Kalau ia pulang pun percuma. Mamanya akan berteriak marah dan menyuruhnya menemui Darrell. Menyuruhnya minta maaf dan membuat Darrell kembali jadi tunangannya.
Aurel tak mau itu. Mengemis-ngemis. Terlebih alasan mamanya ingin sekali menjodohkannya dengan Darrell hanya karena Darrell kaya raya.
Aurel menghela napas. Ia ingat tidak membawa ponsel maupun uang sepersen pun. Aurel rasanya ingin menangis sekarang. Pergi menemui Dimas juga tidak mungkin. Dimas pasti sekarang bekerja. Lagipula Cafe Darrell ke tempat kerja Dimas terlalu jauh. Dan ia tak mungkin berjalan kesana.
Aurel melihat ke langit-langit. Hujan mulai turun. Double kesialan buat Aurel. Ia mulai berteduh di bawah pohon depan cafe milik Darrell.
“Mbak masuk aja.” panggil salah satu karyawan Darrell. Aurel menolak. Lebih baik ia kedinginan, kelaparan serta kehujanan dari pada berteduh di cafe milik Darrell. Aurel menatap air hujan yang turun. Hujannya semakin deras saja, membuat Aurel mengumpatti keadaannya saat ini. Seolah tuhan mendengar u*****n Aurel. Ia membalasnya dengan suara guntur yang keras. Aurel langsung terduduk dan menutup telinganya ketakutan.
Sedangkan disisi lain Darrell masih emosi dengan gadis yang di tolongnya itu. Bukan malah mengucapkan terimaksih. Ia malah meledek Darrell homo.
Tok..tok..tok..
“Masuk.” kata Darrell.
Karyawan tersebut masuk. “Mas ... Mbak yang tadi masuk bareng, orangnya diluar kehujanan.” kata karyawan itu.
Iya, mas... Karena Darrell tak mau di panggil pak. Ia masih muda. Ia meminta di panggil Darrell saja. Tapi karyawannya menolak. Katanya Jika mereka hanya memanggil namanya itu tidak sopan. Bagaimana pun juga Darrell itu bos mereka.
Darrell terpengarah mendengar perkataan karyawannya. Ia langsung berdiri dan melihat dari ruangannya. Gadis itu terduduk ketakukan dan berlindung dari hujan di bawah pohon.
“Tadi udah disuruh masuk orangnya nggak mau.” kata karyawan itu lagi.
Darrell mendecak. Inilah kenapa ia tak suka dekat-dekat dengan perempuan. Perempuan itu selalu merepotkannya.
“Terus mau gimana ya pak sekarang?” tanya Karyawan itu lagi.
“Biarkan aja.”
Karyawan itu terkejut. Mendengar jawaban bossnya.
“Kayaknya mbaknya ngambek sama mas Darrell. Mangkanya mbaknya nggak mau masuk. “
Kini gantian Darrell yang terkejut. Kenapa perempuan itu harus ngambek. Harusnya Darrell yang marah. Eh, tapi kan ia tadi sedang marah dan mengusir perempuan tadi.
Tunggu ... Jangan-jangan perempuan itu tidak membawa apapun saat keluar dari rumahnya. Mangkanya dia tetap terduduk dibawah pohon ketakutan.
“Yaudah pak saya permisi.”
Darrell menganguk. Dan karyawan tersebut pergi. Darrell duduk lagi. Baru 3 menit ia duduk. Ia mendengar suara guntur. Dan itu mampu membuatnya tak tenang.
Ia berdiri lagi dan melihat ke luar jendela. Perempuan itu duduk disana. Kini ia menenggelamkan kepalanya.
Darrell langsung turun dari ruangannya. Karyawan-karyawannya yang duduk duduk santai langsung kaget melihat Darrell turun. Mereka langsung pura-pura sibuk membersihkan meja yang sudah bersih.
Darrell mengambil payung di samping pintu dan membukanya. Ia berjalan mendekati gadis itu.
Oke ... Sebagai bahan informasi Darrell menolongnya hanya kasian. Dia tak mau dimarahi Mère-nya kalau sampai gadis itu mati tersambar petir karena duduk dibawah pohon seperti itu.
Aurel sendiri sudah menangis. Ia ketakutan karena sedari tadi banyak sekali suara guntur serta petir yang tak selesai selesai.
“Maaf.”
Aurel langsung mengangkat kepalanya mendegar suara lembut yang mengatakan maaf. Dia melihat Darrell berjongkok di depannya. Sembari memegang payung.
Darrell sendiri kaget melihat wajah sembab perempuan itu di depannya.
“Ayok masuk.” ajak Darrell.
Tapi Aurel menangis. Ia kesal dengan Darrell. Laki-laki itu mengusirnya. Membiarkannya mendengar guntur ia takut dengan suara tersebut.
Darrell bingung sendiri Aurel menangis dengan menampakan wajah marah bercampur kesal ke Darrell.
“Akh,” pekik Aurel ketika mendengar suara guntur dengan petir berbarengan. Ia langsung menutup telinganya dengan matanya.
Darrell menghela napas. Bisa-bisa dia tersambar petir jika duduk di bawah pohon lama-lama. Badan Aurel sendiri gemetaran. Darrell tak tau. Entah gemetar karena kedinginan atau gemetar karena ketakutan.
“Pegang payungnya.” suruh Darrell.
Ia menyerahkan payungnya ke Aurel dan menyuruhnya memegangnya. Darrell menarik Aurel berdiri. Setelah itu mengangkatnya dan menggendongnya ala Bridal Style.
Aurel kaget karena Darrell mengangkatnya. Kedua tangannya spontan memeluk leher Darrell sembari memegang payung. Darrell masuk ke Cafenya.
“Ya ampun ... Sosweetnya mas Darrell.” kata salah satu pelayannya
“Astaga...,”
“Itu siapanya mas Darrell sih?”
“Pingin di gendong kayak si mbak itu.”
“Pacarnya kali.”
Sean sendiri yang baru masuk kaget melihat Darrell menggendong Aurel.
“Yan payung.”
Sean langsung mengambil payung tersebut.
“Kamu, bikin teh hangat.” suruh Darrell ke salah satu karyawan.
“Cie ... Mesranya, katanya nggak jadi tunangan. Kok sekarang di gendong.” Goda Sean.
“Tch,”
Darrell langsung naik ke ruangannya. Ia masuk dan menurunkan Aurel di kamar mandi ruangannya. Ia lalu mengambil handuk serta bajunya.
“Pake baju gue dulu. “ kata Darrell setelah itu dia langsung menutup pintunya.