BAB 4

1435 Words
Sean menatap Darrel dan Aurel yang duduk berdiam-diam an. Terlebih Aurel memakai Kaos milik Darrell. Hal langkah yang pernah terjadi. Darrell menggendong Aurel dan kini meminjamkan kaosnya untuk di kenakan Aurel. Sean duduk di sampin Darrell. Tidak berada lama karyawan Darrell datang dan mengantar minuman yang di pesan Darrell tadi. “Minum Rel.” suruh Sean ke Aurel. Tapi malah Darrell yang menjawabnya. Aurel meminum teh hangatnya. Meskipun sesekali ia kaget mendengar suara guntur. Sean memperhatikannya. Jika Aurel bukan calon tungannya Darrell. Ia pasti akan menenangkannya. Tapi karena Aurel adalah tunangannya Darrell, ia hanya diam menatapnya bergantian dengan Darrell. Darrell sendiri diam. Ia menutup matanya lurus kedepan. “Btw, baru tadi loh Darrell gendong cewek. Terus sekarang minjemin baju lagi.” kata Sean ke Aurel. Aurel menatapnya. Ia sedikit terkejut mendengar hal itu. Tapi sayang perkataan itu juga di dengar oleh Darrell. “Gue pernah gendong Mira sama Gisel juga.” bantah Darrell. Ia tak mau di katain baru pertama menggendong perempuan, dan itu Aurel. “Oh iya- ya.” Ingat Sean. Mira itu mantan pacar Darrell sewaktu SMA. Ia merupakan seorang queen bee di masa SMA dulu tapi sayang selama pacaran dengan Darrell, Mira selalu terabaikan oleh Darrell. “Btw, lo nanti malam jadi ke Yogya?” tanya Sean. “Jadi.” “Sama siapa?” “Lucas.” “Berdua doang?” “Iya.” Sean menghela napass. “Habis dari Yogya mau kemana lagi?” “Rencananya mau ke Malang, habis itu ke Labuan bajo, sama Raja Ampat. Terus ke Kalimantan.” jawab Darrell lebih panjang. Aurel mendengarkan. Ia baru tau, jika Darrell sesibuk itu. Laki-laki itu pasti kerja bertemu klien-nya. “Bentar, lo mau ngapain ke malang?” tanya Sean. “Gue kan suka air terjun. Di malang banyak air terjun. Jadi gue mau keliling disana.” jelas Darrell. “Jadi lo cuma mau liburan aja disini?” tanya Aurel tiba-tiba. Dan Darrell diam ia tak menjawab pertanyaan yang di ajukan Aurel. “Iya. Dia cuma liburan aja kesini.” jawab Sean. Aurel melirik Darrell sinis melihat tingkah arogannya. Tak lama Perut Aurel berbunyi membuat Sean dan Darrell menoleh. Rasanya Aurel ingin sekali loncat dari ruangan Darrell. Ia malu. “Laper ya?” tanya Sean. Aurel tersenyum malu. Ia yakin wajahnya pasti sudah memerah. “Sana turun pesen makan.” suruh Darrell. “Gue nggak bawa uang.” kata Aurel pelan. Untung Darrell masih dengar. “Lo kan tunangannya Darrell, udah pasti Gratiss. Nggak bayar.” terang Sean. Aurel diam saja. Faktanya ia bukan lagi tunangannya Darrell. “Udah nggak.” jawab Aurel. “Serius??” Aurel menganguk. “Emang nyokap lo nggak marah? Setau gue kan lo harus banget ngikutin maunya nyokap lo.” tanya Sean. Sean begitu-begitu juga seorang playboy terkenal. Mangkanya dia tau banyak gosip tentang Aureldari para teman-teman perempuan dan para mantan pacarnya. “Ya jelas marahlah. Ini aja dia nyuruh gue buat minta maaf ke sepupu lo. Biar gue bisa tunangan lagi sama dia.” Jawab Aurel. Darrell diam. Ia tak berminat bergabung ke dalam obrolannya dua orang ini. Sean sendiri melihat wajah Aurel, ada bekas seperti tamparan disana. “Nyokap lo mukul lo lagi?” tanya Sean. Aurel cuma tersenyum. Ia lalu menggeleng. Sean diam. Ia kasian dengan perempuan itu. Sekarang malah ia mengingat sahabatnya. Sean berdoa semoga sahabatnya itu selalu bahagia. Karena hidup sahabatnya sendiri tak jauh beda dengan Aurel. “Nggak ada kemungkinan nolak ya?” tanya Sean. Aurel menggeleng. Ia tak pernah bisa menolak permintaan orangtuanya. Jika ia memaksa ia akan dimarahi. “Rell ... Dia itu cantik loh, serius lo nggak mau tunangan sama dia?” “Nggak.” “Jangan-jangan lo beneran belok lagi?” goda Sean. Darrell menatap Sean sinis. “Tunangan aja Rell sama dia.” “Kalau lo suka, lo aja yang tunangan sama Marionette.” “Marionette??” Darrell langsung menunjuk ke arah Aurel. Aurel kaget, Marionette?? Apa Darrell baru saja menjulukinya boneka Marionette?? Boneka kayu?? Boneka yang di gerakan menggunakan tali?? Setelah mengatakan itu Darrell langsung pergi keluar. Tinggal Aurel dan Sean berdua disana. ****** Sean mengantarkan Aurel pulang ke rumahnya. Mama Aurel mengenal Sean. Dia anak temannya. Aurel cukup selamat karena ada Sean disana. Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Seperginya Sean. Orangtuanya memaksanya untuk menemui Darrell meminta maaf dan menjelaskan perkataan Aurel tempo hari. “Darrell liburan ma. Kalau dia udah pulang aja biar Aurel bujuk dia.” kata Aurel. Dan itu cukup membungkam mulut mamanya. “Awas kalau nggak.” Aurel langsung naik ke atas kamarnya. Dia menghela napas berat. Capek?? Jelass!! Keesokan harinya Aurel menjalani kegiatannya seperti biasa. Aurel tidak kuliah. Mamanya melarangnya. Dan menyuruhnya fokus untuk berkarir menjadi model. Sedangkan Aurel sendiri ingin sekali kuliah. Jadi setelah melakukan pemotretan di tempat tante Keyla ia pergi ke pemotretan yang lain. Yang tidak di ketahui mamanya. Dan menabung uangnya. Karena bayarannya selama ini masuk di rekening mamanya. Ia di jatah mingguan dengan mamanya. Seminggu sejak Aurel tidak mendengar kabar dari Darrell. Dan mamanya hampir setiap hari menanyakan Darrell. Darrell sendiri tidak terlalu menikmati liburannya. Mengelilingi kota Yogya dan Malang selama seminggu tanpa ada istirahat. Darrell menidurkan badannya di apartemen milik keluarganya. Ia lelah dan capek. Ia tak mengerti padahal ia sedang liburan. Tapi ada yang aneh, kenapa ia tak menikmatinya. Padahal ini yang ia tunggu-tunggu. Ada yang salah dengannya. ***** “Aurel, gimana hubungan kamu sama Darrell?” tanya mamanya saat mereka sedang sarapan bersama. “Ma ... Orangnya masih liburan.” jawab Aurel. Ia juga tak tau sebenarnya. Aurel langsung bangkit menyelesaikan makannya. Ia sudah tak ada mood makan lagi. Setiap hari mamanya hanya menanyakan Darrell. Aurel masuk ke dalam mobilnya. Baru mau menjalankan mobilnya handphonenya berdering. “Morning sayang ... Udah makan belum?” tanya suara di sebrang sana. Dimas ... Aurel tersenyum. Seketika perasaannya membaik. “Morning ... Udah kok. Kamu sendiri?” “Ini mau makan. Kamu kerja hari ini?” “Iya. Ini mau berangkat. “ “Yaudah, kalau gitu kamu hati-hati ya.” “Iya Kamu juga.” “Bye..,” Aurel mematikan telfonnya. Ia tersenyum. Moodnya membaik. Ia menjalankan mobilnya ke tempat pemotretan. Sesampainya Aurel langsung menemui Mbak Tyas. Dan bertanya tentang pemotretan hari ini. “Hari ini kamu pake baju couple.” jawab Tyas. “Tumben Mbak, tante bikin baju couple ?” “Iya ... Soalnya customernya banyak yang minta baju couple gitu.” “Padahal aku mau nyoba Gaun pernikahannya.” Tyas tertawa. “Nanti mbak bilangin ke tante.” “The best deh mbak Tyas ini.” puji Aurel kini ia mengangkat 2 ibu jarinya. Setelah itu ia mengambil baju yang akan di kenakannya dan menggantinya. Selesai mengganti bajunya ia menunggu di depan meja rias. Selesai bersiap-siap ia langsung melihat pemotretan yang sedang berlangsung. Aurel penasaran karena banyak teman-temannya menonton. Alih-alih siap-siap untuk pemotretan. Aurel melihat laki-laki yang berpose memperlihatkan badan ABS-nya. Harus Aurel akui badan laki-laki tersebut terbentuk sempurna dengan 8 otot di perutnya. Ia seperti mengenal laki-laki itu. Tapi ia tak ingat. Aurel menontonnya. Ia takjub. Harus ia akui pesona laki-laki tersebut luar biasa. Sampai akhirnya “Aurel, giliran kamu.” panggil fotografer tersebut. Aurel tersadar dari lamunanya dan berjalan kesana. Tapi ia tak melihat pasangannya. Mungkin belum siap-siap. Aurel mulai berpose untuk memulai pemotretannya. Sesekali ia melihat hasilnya. Ingin melihat apa ada yang kurang dengan penampilannya. **** Disisi lain Darrell yang tertidur lelap terbangun karena telfonnya berbunyi sedari tadi. Ia membaca nama yang tertera. Sean menghubunginya. Sampailah ia disini, studio tempat tantenya. Ia masuk. Tantenya yang melihatnya langsung memeluknya. Dan meminta Darrell berganti baju. Darrell menurut. Ia berganti baju. Ternyata tantenya memintanya menjadi model. Darrell sudah merasa bosan ia sudah ganti baju selama 11 kali untuk pemotretan model baju tantenya. Dan yang ini yang paling Darrell benci. memperlihatkan badannya ke orang orang. Keyla tau jika keponakannya itu tidak akan tersenyum selama pemotretan mangkanya ia sengaja memberinya model kaos Oversize di balut dengan jaket dan celana jeans. Selain menggunakan itu ia juga memberikan jas untuk dikenakan Darrell. Yang terakhir Darrell di suruh memakai trend baju pantai. Harus Keyla akui keponakannya itu memiliki badan yang sangat bagus. Bahkan model-model lainnya berteriak saat Darrell melepaskan bajunya. “Kepalanya dongak dikit.” Darrell menurut, ia mendongakkan kepalanya. Sampai matanya menatap seorang perempuan yang memakai sweater warna kuning. “Finish.” “Bagus!! Seneng tante punya keponakan kayak kamu.” kata Keyla sembari menghampiri Darrell “Udah ya tan.” pinta Darrell. “Satu tema lagi,” “Males ah.” “Tante mohon sayang ... Sekali lagi, warna bajunya cuma 3 kok.” “Sekali ini..,” “Iya.” Darrell langsung mengganti bajunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD