BAB 5

1170 Words
Aurel menatap laki-laki di depannya. Darrell. Ia tak mungkin lupa wajah laki-laki itu. “Oke ... Kalian foto layaknya pasangan ya.” Aurel menatap Darrell, laki-laki itu memakai kemeja yang mirip ia kenakan. Aurel tak tau jika lawan pemotretannya adalah Darrell. Darrell memegang pinggang Aurel dan menatapnya. Sedangkan Aurel sendiri masih kaget. “Aurel,” panggill fotografer itu. Barulah Aurel sadar. Ia menatap ke arah kamera dan satu lengannya di leher Darrell. Keyla tersenyum senang. Rencananya berhasil membuat Aurel menjadi pasangan Darrell. Jika itu orang lain Darrell pasti akan menolaknya mentah-mentah. Darrell sendiri pernah waktu itu terpaksa menjadi model pakaian dewasa dimana ia harus berpose sendiri dan hanya memakai celana jeans. Awalnya Darrell tak masalah sampai ada beberapa model perempuan memakai pakaian seksi yang mengelilingnya. Ketika salah satu perempuan itu memegang pundak Darrell, Darrell langsung menyingkirkannya kasar dan meninggalkan tempat pemotretan. Sejak itu, ia tak mau menjadi model baju tantenya. Dan baru ini Darrell mau. Kini gantian Aurel yang memeluk Darrell. Darrell lega akhirnya ia menyelesaikan pemotretannya. Ia mengambil kopi dan meminumnya. “Rell mau lihat hasilnya tadi nggak?” tanya seseorang yang tak Darrell kenal. Darrell menganguk. Ia melihat foto yang berada di laptop. Darrell cukup puas melihat hasil dirinya. Ia memang benar-benar mempesona dan tampan. Sampai akhirnya ia melihat foto Marionette yang teridur di kasur dan memperlihatkan lengan bahunya dan kaki jenjangnya. Darrell memperhatikannya. “Cantik ya? Oh salah ... Lebih tepatnya seksi.” tanya orang tadi. “Iya.” jawab Darrell. Laki-laki tadi tertawa. Dan memukul bahu Darrell. “Ntar gue send foto-foto tunangan lo.” Darrell menganguk. Tak menolak. Laki-laki tadi tertawa semakin keras. Ia tak mengira Darrell memang menyukai Aurel. Darrell bahkan tak menolak diberikan foto Aurel. Sekali lagi ia menepuk bahu Darrell. Darrell sendiri diam dan masih memperhatikan foto milik Aurel sembari meminum kopinya. Sampai akhirnya ada seseorang menepuk bahunya sedikit lebih keras. Darrell menatap Aurel yang kini ikut memperhatikan fotonya di laptop. “Oh ... Lo suka ya sama gue sekarang?” tanya Aurel menggoda. Darrell menatap Aurel datar. Ia melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Nggak ada yang menarik.” kata Darrell datar. “Nggak menarik-menarik gini tunangan lo tau.” kata Aurel lagi. “Udah batal.” “Yaudah kita tunangan lagi aja.” ajak Aurel menebalkan mukanya. “Ogah.” “Emang gue bilang apa tadi?” “Yaudah kita tunangan lagi aja.” ulang Darrell polos. “Oke. Kita tunangan lagi. Nggak boleh di tarik lo.” kata Aurel tersenyum senang. Darrell menyeringitkan dahinya penasaran. Aurel membuat gerakan YES. Dan menunjukan handphonenya yang merekam suara Darrell tadi. Darrell paham sekarang. Ia sedang di kerjai Aurel. Alih-alih marah Bibir Darrell malah tertarik ke atas. Dia tersenyum lebih tepatnya menahan tawanya. Ia di kerjai Marionette. Keyla, tantenya memperhatikan interaksi Darrell dan Aurel. Melihat Aurel bisa membuat Darrell tersenyum ia langsung melaporkan ke kakaknya alias ibu kandung Darrell. Aurel terpengarah melihat Darrell tersenyum. Hampir menahan tawanya malahan. Aurel seperti mengenal senyum itu, tapi ia tak ingat. “Terserah.” jawab Darrell. Setelah itu ia langsung pergi keluar meninggalkan Aurel. Darrell memainkan game konsolnya dan mengangkat telfon dari Mère-nya. Berjalan ke koridor dan meninggalkan Lucas bermain sendiri. Darrell menjauhkan telfonnya, suara Mère-nya keras. “Akhirnya ... Mère seneng banget. Kamu mau nyoba tunangan sama Aurel. Tante kamu juga bilang tadi katanya kamu bercanda sama Aurel sampai ketawa-ketawa.” kata Mère-nya. Darrell ingat, ia tak tertawa. Ia hanya hanya sedikit tersenyum. Dan wajar jika ia tersenyum. Memangnya Darrell setan tidak bisa tersenyum. Tunggu setan kan bisa tersenyum. “Arrell nggak pernah bilang mau tunangan sama dia.” kata Darrell. “Mère udah mutusin kamu bakal tunangan sama dia. “ “Serah Mère lah.” “Tuh kan ... Kamu beneran mau tunangan sama pilihan Mère.” Arrell sebenarnya tak mau, tapi ia malas berdebat dengan Mère-nya. Jadi biarkan saja Sedangkan Keyra merenya senang. Anaknya mengatakan terserah yang berarti ia setuju. Darrell hanya terlalu malu untuk mengakuinya. Arrell langsung mematikan telfonnya. Ia mendekati Lucas dan melanjutkan bermain game. “Sean nggak kesini?” tanya Lucas. “Nggak, dia sama pacarnya.” jawab Darrell “Arlen??” Arlen itu juga sepupu Sean. Jika Sean sepupu dari ibunya, Arlen sepupu dari ayahnya. “Dia kan di Perancis.” Lucas menganguk-angukkan kepalanya. Ia tak tau. “Btw, hubungan lo sama perempuan itu gimana?” tanya Arrell kepada Lucas. “Baru sampe tahap jalan-jalan, eh udah di tikung duluan.” jawab Lucas setengah tertawa. Darrell membalasnya dengan tersenyum kasihan. “Ye ... Si Anjing..” maki Lucas yang melihat senyum kasihan dari Arrell. “Rell ... CFD yok besok.” Ajaknya. Darrell menganguk sebagai jawaban. **** Disinilah mereka berdua berjalan jalan ke CFD. Lucas lebih memilih kuliner. Dengan membeli jajanan di CFD. Sedangkan Darrell mengikutinya. Ia lebih suka ng-gym ditempat yang sama dengan Sean daripada jalan+jalan di CFD. Darrell berjalan cuek. Dia tidak memperdulikan tatapan memuja dari para perempuan. “Lo mau ini nggak?” tanya Lucas. Darrell menganguk. Ia mengeluarkan handphonenya dan mulai mencoba memainkan game disana. Sampai ia mendengar suara yang tak asing. “Kamu mau ini nggak?” tawar laki laki itu. “Mau. Aku sosis bakarnya 1, terus otak otak ikannya 2. Cumi bakarnya 1.” Darrell melihat ke arah suara perempuan itu. Alangkah kagetnya melihat Aurel disana dengan seorang laki-laki. Tangan mereka saling bertautan. Menggenggam satu sama lain. Oh ... Darrell ingat. Aurel pernah menceritakan jika ia punya pacar. Mungkin orang itu pacarnya. Aurel sendiri kaget melihat Darrell disana. Darrell menatapnya datar dan menyelidik. Aurel takut sekarang. Bukan takut kepada Darrell tapi takut Dimas akan mengetahuinya. Lucas memperhatikan sahabatnya yang menatap perempuan itu intens. Perempuan itu sendiri menggenggam tangan laki-laki di sampingnya erat. Raut mukanya jelas perempuan itu sedang khawatir. Tapi Lucas sedikit kenal dengan wajah itu. Come on, Lucass memaksa otak pintarnya itu untuk mengingat wajah gadis itu. Tapi Nihill ... Lucas tak bisa mengingatnya. “Marionette,” sapa Darrell pelan yang masih mampu di dengar kedua passangan itu. Suara Darrell semakin menyadarkannya kepada kenyataan. Oh ... Goshh ... Pliss. .. Aurel tak ingin ketahuan secepat ini. Oke, Lucas ingat sekarang. Perempuan itu tunangan Darrell. Model di butik milik maminya Sean. Sean juga mengirimkan foto gadis itu di grup. Dan menunjukan bahwa perempuan itu adalah tunangan Darrell. Tapi sekarang yang ia lihat malah perempuan itu sedang jalan dengan laki-laki lain. Lucas melihat ekspresi Darrell. Ekspresi sahabatnya itu tetap netral. Tak ada sorot cemburu ataupun iri. Sedangkan Aurel lebih memilih tidak mengenalnya. Dan mengabaikannya. “Dim.., Aku boleh minta dibeliin es jeruk yang disana nggak?” tanya Aurel sembari menunjuk es jeruk yang agak jauh darinya. Dimas menganguk mengiyakan. Setelah itu ia berlari menuju ke arah penjua es jeruk itu. Tinggal Darrell, Aurel, Lucas dan penjual jajanan bakarnya. “Gue nggak mau kalau dia sampe tau kita tunangan.” kata Aurel. “Kita?? Lo aja kali.” kata Darrell dengan tersenyum sinis. Ia juga ogah jika banyak yang mengetahui Darrell tunangan dengan boneka Marionette. Darrell langsung berjalan pergi meninggalakan Lucas dan Marionette.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD