BAB 6

1764 Words
Hubungan Darrell dan Aurel tak berjalan membaik sejak terakhir bertemu. Aurel tak peduli. Selama mamanya menganggap Darrell mau di jodohkan olehnya. Dan mamanya tidak banyak bicara Aurel senang. Jika Aurel disuruh jalan oleh mamanya. Ia akan mendatangi Darrell dan memaksanya berfoto bersama supaya bisa dijadikan barang bukti. Aktivitas Darrell sendiri tak jauh-jauh dari hotel ke cafe miliknya. Sesekali ia pergi jalan-jalan dengan Lucas dan teman-temannya. Aril salah satu sahabat Darrell juga kadang iseng-iseng mengenalkan Darrell kepada seorang perempuan. Dan semua itu gatot alias gagal total. Darrell akan menolaknya mentah-mentah. Tapi jika perempuan itu memaksa terpaksa Darrell akan memakinya. Dan akhirnya membuat para perempuan itu menangis. Kalau sudah begitu Darrell akan panik sendiri. Ia tidak tega membuat perempuan menangis. Aril dan Sean lah yang akan membereskan masalah tersebut. Seperti saat ini, Darrell sedang mengemasi baju bajunya. Ia memutuskan untuk pergi ke Lebanon. Liburan yang ia rencanakan untuk ke Labuan Bajo ditunda karena Lucas tidak bisa menemaninya. Aktivitasnya terganggu saat telfonnya berbunyi. Darrell mengangkatnya. “Apa?? Mère disini??” kaget Darrell. Bagaimana tidak ibunya tiba-tiba sudah di depan kamar hotelnya. Darrell segera membuka pintunya. Dan benar Mère-nya berada di depannya. Darrell mempersilahkannya masuk. Keyra melihat rambut putranya mulai memanjang. Putranya itu sudah persis orang tak terawat dengan membiarkan rambutnya gondrong. Jika ia menegurnya pasti Darrell akan menjawab, Mère... ini style Arrell. Kalau Mère ngelarang Arrell, itu sih namanya pelanggaran HAM. “Mère ngagetin kamu?” tanya Mère-nya. Padahal sebenarnya ia yang kaget melihat penampakan putranya. Darrell menganguk mengiyakan. “Sedang apa kamu?” tanya Mère-nya. “Beres-beres. Arrell mau ke Lebanon.” jawabnya kini ia ikut duduk di depan Mère-nya. Mère-nya kaget. “Kamu mau ngapain?” “Jalan-jalan.” “Sudah keliling Indonesianya?” tanya merenya. “Belum. Nggak ada temennya.” jawab Arrell. “Kok nggak ngajak Aurel.” “Aurel siapa?” tanya Darrell. “Aurel yang mau mere jodohinlah.” jawab Mère-nya syok. “Kamu nggak inget namanya?” tanya Mère-nya lagi. Rasa terkejutnya masih menempel. “O ... Marionette.” “Marionette?” “Iya. Di kayak boneka Marionette.” Keyra menghela napas. “Kamu mandi sana. Habis ini anterin Mère.” Darrell menganguk. Dan disinilah ia sekarang. Di depan rumah Marionette. Darrell mendesis. Tau begitu Darrell tak akan mau mengantar Mère-nya kesini. “Mère seriusan mau bessanan sama keluarga matre itu?” ejek Darrell sinis. Keyra langsung mencubit paha putranya itu. Darrell mirip sekali dengan suaminya. Mulutnya tidak punya rem saat mengejek seseorang. “Sakit.” rintih Darrell. “Awas kalau kamu berani ngomong aneh-aneh.” ancam Mère-nya. Darrell mendecak. Keyra memandang putra tajam. “Sorry mom.” kata Darrell. Ia lupa jika Mère-nya sangat membenci decakan. Darrell masuk kedalam rumah itu. Darrell menyalami kedua orang tua marionette. Setelah itu ia melihat Mère-nya memberikan bingkisan ke orang tua Marionette. Darrell dengan Mère-nya ikut duduk untuk makan malam. Darrell benar-benar tak nyaman. Berbeda dengan Mère-nya yang terlihat santai dan berbincang-bincang dengan keluarga tersebut. “Oh ya Rel,” “Iya Mère?.... Kenapa Tante?” jawab mereka berdua serempak. “Aduh jodoh kalian.” saut Dewi mamanya Aurel. “Mère manggil Aurel sayang.” “Aurel kamu sibuk nggak buat seminggu kedepan?” tanya Keyra. Darrell sudah merasa tak enak dengan pertanyaan Mère-nya itu. “Nggak sih tante. Cuma ada pemotretan di tante Keyla.” jawab Aurel. “Bagus kalau gitu. Biar Mère yang nanti yang bilang ke tante Keyla kalau kamu cuti. Kamu mau kan ikut Arrell ke Jogja seminggu?” “Mère...,” panggil Darrell. “Ya pasti maulah Aurel. Iya kan sayang?? Hitung-hitung mempererat hubungan kalian.” saut mamanya. Aurelmeneguk salivanya kasar. Ia tak bisa menolak jika mamanya sudah berkata seperti ini. “Iya tante.” “Aduh Aurel ... Jangan panggil tante. Panggil Mère aja.” “Iya Mère.” kata Aurel lagi “Mère,” Keyra menatap Darrell seolah menyuruhnya diam. Darrell menurut ia diam. “Bagus. Kalian bisa berangkat besok. “ putus merenya. **** Dan disinilah Darrell dan Aurel. Di bandara. Darrell mendengus kesal, Aurel apalagi. Darrell pergi mengurus boarding pass. Aurel melihat disampingnya. “Sekalian punya gue. Nih.” Darrell mengambil hp Aurel dan melihat kode tiketnya. Sampai ia membaca nama yang tertera di tiketnya. Bintang Aurelia Vega. Darrell tak asing dengan nama itu. Ia mencoba mengingat ingat. Sampai akhirnya ia mengingat kejadian 3 tahun yang lalu. Waktu itu ia turun terlebih dahulu. Untuk membayar tagihan makanan yang di pesan Irenee adik kembarnya. Tapi sampai di kasir ia melihat kejadian yang tak mengenakan. Yaitu, perempuan yang menangis gara-gara tak bisa membayar makanan di restoran. Gara-gara ia tak bisa melihat perempuan nangis. Akhirnya ia ikut membayar tagihan makanan perempuan itu. Dan yang paling ia ingat namanya Bintang Aurelia V. Nama seperti miliknya. Darrell Archer Aldebaran. Aldebaran memiliki arti bintang. Mangkanya Darrell sedikit tertarik dengan gadis itu. Ia tertarik hanya karena sebatas namanya sama. “Makasih. Nanti pasti aku ganti.” kata Bintang. “Nggak perlu.” kata Darrell. “Boleh minta nomor tlpnya?” pinta Bintang. “Nggak.” jawab Darrell cepat. “Nggak perlu diganti.” ulangnya sekali lagi. “Nggak bisa, harus diganti. Aku nggak mau berhutang sama orang.” keukuh Bintang. “Kalau ketemu lagi. Baru ganti.” kata Darrell lagi. Dan jelas Darrell berdoa semoga tidak bertemu perempuan itu lagi. Bintang langsung melepas kalungnya cepat. Ia menarik tangan Darrell dan memberikan kalungnya. “Ini benda berharga buatku. Peninggalan mamaku. Jadi aku titipin ke kamu buat jaminan. Aku janji bakal ganti uangnya.” kata Bintang. Darrell menatap kalung yang sekarang berada di tangannya. “Namaku...,” “Bintang.” potong Darrell cepat. Bintang kaget.. “Bukan...,” Darrell menunjuk ke arah name tag. “Namaku Aurel.” bantahnya. Namanya panjangnya memang Bintang Aurelia Vega. Dan nama panggilannya Aurel. “Bintang.” keukuh Darrell. Iya lebih suka memanggil Bintang. Karena sudah lebih dulu membaca name tag. “Gapapa kalau kamu mau manggil Bintang.” kata Aurel akhirnya. “Aku titip baik-baik kalungnya. Kalau ketemu lagi kalungku harus balik dengan keadaan sama dan uangmu bakal aku balikin. “ kata Aurel lagi. Darrell menganguk sebagai jawaban. “Makasih.” Ucap Aurel dengan tersenyum. **** Darrell langsung menatap ke arah Marionette. “Nama lo Bintang Aurelia Vega?” tanya Darrell memastikan. “Iya.” jawab Aurel. Darrell diam. Tak mungkin. Marionette mamanya masih hidup. Sedangkan Bintang yang pernah bertemu dengannya dia bilang kalung itu peninggalan mamanya. Berarti mamanya Bintang udah nggak ada. Jadi tidak mungkin. Mungkin cuma namanya yang sama. “Kenapa?” tanya Aurel. “Gapapa.” jawab Darrell ketus. Ia langsung menarik kopernya meninggalkan Aurel sendiri. -Jogja- Mereka berdua sudah sampai di hotel tempat menginap. Tapi sayang, saat akan check in, Mère Arrell hanya membooking satu kamar. Saat akan membooking satu kamar lagi ternyata kamar di hotel tersebut sudah penuh. Terpaksa Arrel satu kamar dengan Aurel. Arrell langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aurel menghela napas. Welcome to hell untuk seminggu kedepan. Beruntung hotel yang di pesan memiliki 2 tempat tidur. Aurel langsung membereskan baju bajunya. Setelah itu ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Selesai mandi Aurel melihat Darrell sudah tertidur pulas. Ia lapar. Sedangkan malem ini ia tak dapat makanan dari hotel. Aurel membangunkan Darrell, mengajak nya untuk makan di luar. “Rell ... Bangun.” kata Aurel. Ia menepuk nepuk pipi Darrell. Setelah itu ia langsung menarik Darrell supaya bangun. Bukan malah bangun. Aurel malah jatuh di atas d**a Darrell. Darrell terbangun. Alangkah kagetnya, wajah Aurel berada tepat di depan wajah Darrell. Aurel sempat terpesona melihat mata Darrell yang indah. Setelah itu ia langsung bangun. “Lo mau m***m??” sarkas Darrell. “Gue mau ngajak lo makan kok. Cuma lo aja nggak bisa dibangunin.” jelas Aurel. Darrell melihatnya sinis. “Makan aja sendiri.” jawabnya sinis. “Yaudah.” setelah mengatakan itu Aurel langsung membanting pintu hotel keras. Darrell menutup matanya kaget mendengar bantingan pintu. “Dasar,” gerutu Darrell. Aurel Povv.. Muka doang yang bagus tapi kelakuan nggak ada bagus-bagusnya. Lagian niat gue kan baik gue mau ngajakin dia makan. Eh malah ngatain gue m***m. Pala lo tuh m***m. Makiku kesal. Aku langsung mencari makan sendiri. Biarkan saja dia kelaparan. Aku nggak peduli. Aku keluar dari hotel. Beruntung hotel tempatku menginap ramai, dan di depan banyak yang jualan makan. Aku melihat ada yang jualan sate. Aku langsung berlari kesana dan membelinya. “Makan sini mbak?” tanya Penjual itu. “Iya.” “Tunggu sebentar ya mbak.” “Iya pak.” jawabku. Aku merogoh saku celanaku berniat mencari handphone. Dan s**t!! Aku baru ingat aku keluar nggak bawa hape maupun uang. Aku berniat pergi mengambil uangku terlebih dahulu. Bisa di katain apa nanti makan nggak bayar. Tapi saat akan bangun dan pergi, bapak itu sudah menaruh sepiring sate tersebut di depanku. Aku meneguk salivaku kasar. “Dimakan mbak.” katanya Aku menganguk dan tersenyun. Lalu menatap Sate di depanku nanar. “Pak saya Sate 20 tusuk makan sini. “ “Pake nasi apa lontong mas?” “Nggak dua-duanya.” Aku langsung menoleh ke suara orang tersebut. Darrell. Huft ... Aku selamat. Aku tersenyum memandangnya. Akhirnya aku bisa makan dengan tenang. Tapi senyumku tak bertahan lama. Darrell duduk jauh dariku. Aku langsung membawa makanan dan minumanku dan duduk di sampingnya. Ia melihatku dengan pandangan, ngapain lo duduk disini. Tapi aku nggak peduli dan tetap duduk disampingnya. Sampai akhirnya sate pesanan ia datang. Darrell memakannya tenang. “Rell,” panggilku. Darrell diam. No respon. Its oke. Gapapa. “Emang kenyang makan satenya doang?” “Kenyang.” jawabnya. “Rell,” “Lo bisa diem nggak?? Gue mau makan.” katanya judes. Aku langsung diam. Author pov... Darrell segera keluar saat melihat handphone dan tas Aurel di tinggal. Darrell membuka tas tersebut. Terdapat dompet di dalamnya. Darrell menghela napas. Jangan sampe Marionette membeli makanan dan tidak membawa uang. Ia pun akhirnya keluar dari hotel dan mencari Aurel bingung. Tak lama pandangan matanya jatuh kepada perempuan celana jeans panjang dengan kaos oversizenya. Darrel berjalan kesana. Melihat Aurel menatap makanannya sedih tebakannya benar perempuan itu tidak membawa uang. Darrell memesan Sate. Dan sengaja duduk jauh dari Aurel tapi Aurel mendekatinya. Mengajaknya bicara meskipun Darrell mengacuhkannya. Selesai makan Darrell langsung membayar makanannya. Aurel juga mengikuti Darrell dari belakang. “Berapa pak?” tanya Darrell. “Sama punya saya ya pak. Tunangan saya yang bayar.” kata Aurel tiba-tiba. Darrell langsung menoleh ke arah Aurel. Dan Aurel membalasnya dengan senyuman yang di buat-buat agar Darrell kasihan dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD