BAB 7

1298 Words
Aurel mengabadikan momennya di Candi Prambanan. Sedangkan Darrell menatapnya malas. Karena ia terpaksa mengabadikan gambar Aurel berulang-ulang. Tidak hanya sekali. Darrell melempar kameranya. Beruntung Aurel menangkapnya sigap. “Lo udah gila ya Rell?? Ini kamera mahal tau.” cerocos Aurel. “Bodo!” katanya kesal. Aurel langsung melihat hasil fotonya tadi. Alangkah kagetnya ia melihat fotonya jauh beda dari ekspetasi. “Arrell!! “ teriak Aurel. Darrell langsung menoleh. Ia terpengarah Aurel memanggilnya seperti itu dengan berteriak. “Lo ikhlas nggak sih motoin gue. Jelek semua hasilnya.” kata Aurel kesel. “Kan lo emang jelek.” balas Darrell. Aurel langsung menginjak kaki Darrell kesal. Darrell merintih kesakitan. “Syukurin.” kata Aurel kesal. Setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Darrell. Darrell tak terima. Ia mengejar dan menarik rambut panjang Aurel. Kini gantian Aurel yang merintih kesakitan. Ia menatap Darrell kesal. Darrell tersenyum puas. “Rasain.” kata Darrell. “Hah..” Aurel menaruh kedua tangannya di pinggangnya. Ia mendecak. Setelah itu ia langsung menjambak rambut Darrell bar-bar. “Lepasinn.. Sakit tau.” kata Darrell dengan memegangi tangan Aurel yang masih setia menarik kuat rambutnya. “Nggak akan. Lo ngeselin tau.” kata Aurel marah. “Oke oke.. Sorry.” kata Darrell. “Nggak mau!” “Bintang lepasin.” kata Darrell berikutnya. Aurel terpengarah Darrell memanggilnya Bintang. Aurel langsung melepaskan jambakannya. Tiba-tiba saja ia berdebar. Mengingatkannya kepada sosok laki-laki yang pernah menolongnya. Sayangnya Aurel melupakan wajah laki-laki itu. Dan laki-laki itu membawa barang berharga milik Aurel yaitu kalung peninggalan mamanya. “Kok lo manggil gue Bintang?” tanya Aurel tak suka. “Terus lo mau gue panggil Marionette?” tanya Darrel balik. “Kan nama gue Aurel.” “Ga nanya.” jawab Darrell. Aurel menghentakan kakinya kesal. Kan emang Darrell ngeselin. f**k!! Pokoknya. “Arrell... Gue serius.” “Lo pikir?” “Jangan panggil gue Bintang. Gue nggak suka.” “Suka-suka mulut gue dong. “ balas Darrell. “Rell..,” “Nama lo itu nyama-nyamin gue. Gue nggak suka. Masa kalo ada yang manggil Rell. Gue sama lo noleh, kan ga lucu.” jelas Darrell. Aurel membenarkannya dalam hati. Setelah itu ia menghela napas. “Gue aus. Beliin minum.” kata Aurel berikutnya. “Beli aja sendiri.” “Gue capek tau. Lagian yang pingin liburan kesini kan lo. Gue cuma nemenin masa gue minta beliin minum lo nggak mau.” cerocos Aurel. “Tch, Banyak maunya.” kata Darrell dengan menggeleng gelengkan kepala. “Gue cuma minta lo motoin gue, itu pun hasilnua jelek banget. Habis itu gue minta minum karena haus lo bilang gue banyak maunya?? Emang lo mau gue pingsan gara-gara dehidrasi?? Lagian lo jadi cowok lemah banget sih. Contoh tuh Bandung Bondowoso, Roro jonggrang minta seribu candi dalam satu malam aja dia jabanin. Lo baru gue mintain beli minum udah ngatain gue.” cerocos Aurel kesal. Darrell memutar matanya malas. “Contoh juga tuh Sangkuriang, Dayang Sumbi minta dibuatin telaga sama perahu di puncak gunung dalam satu malam aja di buatin. Lah Lau, baru minta-” “Bawel.” potong Darrell cepat. Darrell jamin ia pasti akan cepat tua jika berhadapan lama-lama dengan Aurel. Ia segera mencari tempat orang berjualan minum supaya mulut mercon Aurel diam. Aurel tersenyum melihat wajah kesal Darrell. Ia langsung mengikuti Darrell dari belakang. Melihat Darrell membeli minuman Aurel mencari tempat duduk yang nyaman di taman hijau Candi Prambanan. Setelah Aurel pikir-pikir, ia sudah mengenal Darrell selama 4 bulan. Dan baru tadi laki-laki itu memanggil namanya. Dan baru tadi juga laki-laki itu berbicara panjang dengannya. “Nih.” kata Darrell dengan memberikan botol minuman yang sudah terbuka. Aurel menerimanya dengan senang hati. Darrell duduk disamping Aurel. “Habis ini naik minibus ya ke candi Ratu Boko.” pinta Aurel. Darrell menganguk mengiyakan. “Habis itu mau ke Sendratari ramayana nggak?” tawar Aurel. “Apa itu?” tanya Darrell. “Itu loh tempat pementasan teater Ramayana. Deket sih tempatnya di belakang candi ini. Lo tau kisah Ramayana nggak? “ Darrell menggeleng. “Yaudah gue ceritain.” “Jangan. Nanti nggak seru nontonnya.” tolak Darrell. Aurel tersenyum. Darrell memandang diam. Selesai puas mengelilingi Candi Ratu boko. Darrell dan Aurel mencari makan sebelum pergi ke Sendratari Ramayana. Darrell menikmati makananya dengan Aurel. Sehabis makan mereka langsung mengatri dan membeli tiket masuk. Melihat harga yang tertera membuat Darrell terkejut. Ia baru tau untuk menonton sebuah teater harus semahal itu. Secara gitu Darrell tak pernah menonton pertunjukan seperti itu. Yang pernah ia tonton konser piano, Shawn mendes, IU. Meskipun tidak semahal tiket konser diatas tetap saja Darrell terkejut. Sedangkan Aurel sendiri kaget. Ia tak mengirah akan semahal itu tiket masuk Sendratari Ramayana. Terlebih Darrell membeli tiket VIP. “Rell.. Mending ga usah deh.” kata Aurel dengan membisikannya. “Kenapa?” tanya Darrell yang sudah siap membayar “Mahal banget.” “Kalau nggak mahal mau nonton?” tanya Darrell. “Ya maulah.” jawab Aurel cepat. Darrell mengacak rambut Aurel dengan tersenyum. Dan itu mampu membuat seorang Aurel Melting. Iyalah Melting. Aurel tidak mungkir jika Darrell memang tampan. Dan memiliki sejuta pesona. Darrell membayar tiket masuk itu. Dan menggenggam tangan Aurel untuk mengikutinya. Mereka sudah duduk siap menonton. “Kan aku bilang nggak usah.” omel Aurel “Yaudah, ayok kita keluar.” kini Darrell sudah berdiri. Tapi Aurel menarik tangan Darrell sehingga membuatnya duduk kembali. “Kan udah bayar. Sayang dong.” kata Aurel lagi. Darrell menahan tawanya agar tidak pecah. Perempuan di depannya benar-benar ... Lucu. Darrell duduk kembali. Ia menikmati pertunjukan yang disajikan. Aurel sendiri bahkan sesekali tertawa terbahak bahak. ****** Aurel tak menyangka pergi dengan Darrel bisa sedikit menyenangkan. Kini mereka sudah kembali ke hotel. Aurel langsung mandi berikutnya di susul oleh Darrell. Aurel berbalas pesan dengan Dimas menikmati sambungan Wifi. Aurel harus meminta maaf nanti, karena ia sudah berbohong dengan Dimas. Ia mengatakan jika ada pemotretan. Tak mungkin baginya mengatakan jika ia sedang liburan dengan Darrell. Bisa kelar nanti hidupnya. Darrell keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Aurel kaget. Alih-alih tutup mata malu, Aurel malah melempar bantalnya. Darrell menoleh. Aurel meneguk salivanya kasar. Badan Darrell sungguh bagus. Terlebih roti sobek yang menempel di perutnya. “Besok lagi ganti baju langsung di kamar mandi. “ omel Aurel Darrell meliriknya. Setelah mengambil kaos ia langsung masuk kedalam kamar mandi lagi. Aurel sempat melihat tato di punggung Darrell. Tato yang cantik menurutnya. Aurel fokus kembali ke ponselnya. Dimas sudah menyerbunya dengan pulahan chat karena Aurel hanya membaca pesan yang ia kirimkan. Darrell keluar dari kamar mandi. Dan mulai mengacak-ngacak rambutnya supaya rambutnya cepat kering. “Arrell, kemana-mana nih airnya.” keluh Aurel. Rambut basah Darrell mengenai mukanya. Darrell tak peduli. Ia lanjut dengan menyisir rambutnya. Selesainya ia langsung naik ke atas tempat tidur memainkan game. Aurel meliriknya penasaran. Tapi mendengar suara piano dari handphone Darrell, Aurel terkejut. “Lo suka main piano?” tanya Aurel. Darrell menganguk sebagai jawaban. “Coba mainin buat gue?” pinta Aurel. “Emang lo siapa?” “Gue Aurel. Calon tunangan lo!” jawab Aurel menggoda. “Tch..” balas Darrell. Aurel tertawa melihat ekspresi Darrell. Aurel sedikit merasa aman Darrell berada disampingnya. Entah mendapat keyakinan darimana, ia percaya jika Darrell tidak akan macam-macam terhadapnya. “Lo pernah jatuh cinta nggak Rell?” tanya Aurel lagi. Darrell diam ia berhenti memainkan piano di handphonenya mendapat pertanyaan seperti itu. “Nggak pernah.” jawab Darrell akhirnya “Berarti lo nggak pernah pacaran?” “Pernah.” jawabnya lanjut dengan bermain. “Kok bisa? Lo pacaran sama orang tapi nggak punya perasaan.” “Mereka yang nembak gue. “ “Anjir.. Gue penasaran tau, pacaran sama orang kayak lo gimana rasanya “ “Mau nyoba?” tawar Darrell dengan meliriknya. “Nggak. Ogah. Gue udah punya Dimas tersayang.” jawab Aurel berikutnya. Kini ia membaringkan tubuhnya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD