Setelah mengantarkan Aurel, Darrell menemui Mira di tempat kerjanya. Darrell tak berniat menemui Mira. Ia hanya ingin membeli kopi buatan Mira. Iya!! Dia hanya ingin membeli kopi tersebut. Bukan menemui Mira.
Tapi, ketika sampai di tempat kerjanya. Ia tak menjumpai Mira. Katanya Mira sedang meliburkan diri karena sakit.
Darrell menatap kopi yang di pesannya tadi di dalam mobil. Ia bingung. Rasanya ia ingin menemui Mira. Melihat keadaannya, kenapa gadis tersebut bisa sakit.
Ia tak tau rumah Mira berada dimana. Rumah sebelumnya masih disita. Darrell pernah berniat menebusnya, tapi Mira melarangnya. Akhirnya ia memberikan salah satu Apartemennya. Tapi, Mira menolak dan mengembalikannya. Mangkanya sebagai gantinya Darrell memberikan uang tiap bulan. Akan tetapi Mira tak pernah sekalipun menarik uang dari kartu yang di berikannya.
Darrell keluar lagi, akhirnya ia bertanya kepada pelayan disana dimana rumah Mira.
Setelah mengetahuinya Darrell mengemudikan mobilnya mendatangi rumah Mira. Sampai di depan gang Darrell menghentikan mobilnya. Ia melihat gang rumah tersebut. Kecil sempit. Lebih kecil dan sempit melebihi gang rumah Azam.
Darrell bertanya, dimana rumah Mira kepada tetangga sekitar, mereka menunjukan sebuah rumah bercat hijau dengan tanamam Kaktus di depannya.
Darrell seketika mengingat dulu ia pernah memberikan Mira tanaman Kaktus karena kesal dengan Mira yang selalu meminta bunga.
Darrell mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama muncullah seseorang.
Mira sendiri ketika membuka pintu dan melihat Darrell di depan rumahnya ia terkejut. Tau darimana Darrell rumahnya.
“Boleh masuk?” Tanya Darrell.
Mira mengangukkan kepalanya lalu menyuruh Darrell masuk.
“Kamu.. Tau darimana rumahku?” Tanya Mira kaget.
“Teman kerjamu!” Jawab Darrell. Darrell menatap Mira. Gadis itu izin katanya sedang sakit. Tapi, ia malah melihat Mira segar dan sama sekali tidak pucat. Terlebih wajah Mira sedikit berantakan karena adonan bewarna coklat yang menempel di wajahnya.
“Kamu bikin kue?” Tanya Darrell.
“Eh.. Kok tau?” Tanya Mira terkejut.
Darrell menunjukan wajah Mira yang terkena Adonan. Melihat hal itu Mira langsung berlari ke belakang mencuci mukanya.
Bodoh bodoh!! Mira malu sekali. Terlihat dekil di depan Darrell.
“Astaga!!” Kaget Mira Karena Darrell yang sudah berada di belakangnya.
“Ngapain disini?” Tanya Mira.
“Mau lihat kamu bikin kue. “ Kata Darrell.
“Ya.. Yaudah!”
Mira langsung melanjutkan membuat brownies lumer coklat. Mira telah selesai membuat cookies tadi.
Darrell sendiri duduk tenang melihat Mira. Selama ini ia pikir Mira berbohong kepadanya. Ia pikir selama ini Mira selalu membeli dengan mengatasnamakan jika ia memasak. Tapi, melihat Mira sekarang yang membuat Brownies ia percaya.
“Oh ya.. Ini..” Kata Mira dengan membawakan toples berisi cookies coklat.
“Aku baru bikin tadi. Meskipun kamu nggak pernah bilang suka tapi, kalau lihat kamu ngabisin kue yang aku bikin cepet banget. Aku simpulin kalau ini cookies kesukaan kamu.” Kata Mira lagi. Ia dulu sering sekali memberikan kue ini kepada Darrell. Tapi Darrell tak percaya. Dan selalu mengejeknya jika ia membelinya.
Darrell membuka toples tersebut dan mencobanya. Rasanya masih sama seperti dulu.
“Sekarang percaya kan kalau aku bikin ini sendiri? “ Tanya Mira sembari tersenyum sumrigah.
Darrell menganguk sembari menatap Mira yang tersenyum ceria. Perempuan itu terlihat lebih cantik dari biasanya di mata Darrell.
Mira mengikat rambutnya, tak seperti biasanya yang ia biarkan tergerai.
Deg...deg..deg...
“Kamu nanam kaktus?” Tanya Darrell.
Mira menoleh lalu tersenyum lagi. Awalnya ia membenci Kaktus. Tapi, sejak Darrell memberikannya dan Kaktus itu berhasil berbunga, Mira mulai menyukainya.
*****
Mira merangkul Darrell mesra berjalan sepanjang Taman, meskipun di katakan Taman, tapi tak ada satu pun bunga disana. Mangkanya Darrell mau di ajak jalan.
“Rell.. Kamu nggak mau beliin aku bunga?” Tanya Mira yang melihat toko bunga di ujung jalan.
“Nggak.” Jawab Darrell cepat.
“Aku mau Bunga.” Kata Mira manja.
“Terus?”
“Ya beliin dong Beb.”
“Beli aja sendiri.” Suruh Darrell ketus.
“Beliin.”
“Ogah!”
“Kamu nggak pernah beliin aku bunga loh!”
“So??”
“Tau ah Nyebelin.” Kesal Mira yang langsung berjalan meninggalkan Darrell.
Selama 3 bulan pacaran Darrell sama sekali tak pernah membelikan atau membelikanya bunga.
Darrell tak peduli dengan Mira yang merajuk. Ia pura-pura tak tau. Terserah, apa yang mau dilakukan Mira.
Tapi, Mira tak menyerah, keesokannya dan sampai hari seterusnya ia memaksa Darrell untuk membelikannya bunga. Darrell melihatnya kesal. Mira benar-benar merepotkannya.
“Buat apa sih Bunga?? Mending Beli baju atau tas.” Kata Darrell emosi.
Mira terdiam mendengar suara Darrell yang sedikit meninggi.
Melihat kediaman Mira Darrell panik. Terlebih mata Mira berkaca-kaca seolah-olah akan menangis.
Darrell menghela napas. Lebih baik ia putus dengan Mira. Supaya perempuan ini tak menganggunya lagi. Lebih sekarang ia pergi daripada melihat Mira menangis.
Darrell langsung berjalan meninggalkan Mira sendiri. Ia tak peduli, terserah Mira nanya mau pulang naik apa. Mira menatap sedih kepergian Darrell.
Meskipun kesal dengan Mira yang merengek seperti itu, di kamarnya ia masih memikirkan Mira yang berkaca-kaca. Darrell tak paham dengan pemikiran Mira. Kenapa Mira meminta Bunga. Masalahnya Darrell alergi serbuk sari. Alerginya terlalu parah. Baru mencium sedikit saja ia akan bersin bersin, demam lalu pingsan. Bisa malu Darrell jika pingsan di depan Mira. Mangakanya Darrell tak mau memberikan bunga. Tapi, melihat mata Mira yang berkaca-kaca. Darrell tak tega.
Darrell langsung searching di handphonenya bunga yang cocok untuk orang alergi Bunga. Banyak pilihan ternyata. Sampai pilihannya jatuh di salah satu tulisan disana.
Darrell tersenyum membacanya. Ia akan memberikan bunga tersebut kepada Mira.
Keesokannya Darrell mengirimkan pesan ke Mira menyuruhnya datang ke kelasnya. Mira sendiri, langsung tersenyum sumrigah. Ini pertama kalinya Darrell mengirimkan pesan kepadanya sejak mereka pacaran.
“Kenapa?” Tanya Mira dengan tersenyum sumrigah.
Darrell langsung memberikan pot kecil. Mira menatapnya syok.
“Kaktus??” Tanya Mira terkejut.
Darrell menganguk.
“Aku kan minta bunga, bukan Kaktus.” Kesal Mira.
Darrell melihat wajah marah Mira, seperti tebakannya, Mira benar-benar kesal. Habis ini Mira pasti akan memutuskannya.
“Ya kamu rawat lah Kaktusnya, Nanti kan tumbuh bunga.” Jawab Darrell.
Mira menatap Darrell terpengarah.
“Hah..”
“Mau nggak??” Tanya Darrell.
“Yaudah deh.” Jawab Mira kesal. Ia langsung mengambil bunga tersebut dan membawanya kembali ke kelasnya.
Darrell menatap bingung Mira kepergian Mira. Gadis itu menerimanya dan langsung pergi. Darrell pikir Mira akan marah lalu memutuskannya.
*****
“Iya.” Jawabnya.
“Kenapa? Bukannya nggak suka Kaktus? “ Tanya Darrell
“Awalnya sih, Tapi Mamaku pernah bilang kalau filosofi dari Kaktus itu dalam banget. Waktu aku tau artinya, Aku jadi suka. Habis itu aku cari tau deh gimana caranya nanam Kaktus. Aku tanam terus aku rawat dia ternyata ia berbunga kayak yang kamu bilang. Dan bunganya bagus banget. Sejak itu aku suka. “
“Berbunga?” Tanya Darrell.
“Iya.. Meskipun lama sih, waktu itu aku sempet mau nyerah. Karna Kaktusnya nggak berbunga bunga.”
“Emang berapa lama?” Tanya Darrell
“Waktu itu, 2 tahun baru berbunga. Aku mau kasih tunjuk ke kamu kalau Kaktusnya berbunga. Tapi, kamu ganti nomor. Aku nunggu buat kamu hubungin aku. Ternyata waktu bunganya udah mati kamu baru hubungin aku.” Cerita Mira.
Darrell merasa tersentuh mendengarnya. “Lama banget.” Komentar Darrell.
“Masih lama nunggu hati kamu kebuka buat aku Rell..” Batin Mira.
“Kamu mau lihat fotonya nggak??” Tanya Mira.
“Boleh.”
Mira tersenyum lagi.
Deg... Deg...deg...
Mira langsung mendekati Darrell dan menunjukan foto di hpnya.
“Baguss banget kan??”
Darrell menganguk melihatnya. Apa yang di katakan Mira benar. Bunganya terlihat cantik.
“Ini Kaktus Gymnocalycium.” Kata Mira lagi.
“Ya, aku tau.” Jawab Darrell. Waktu itu ia sengaja memilihkan Kaktus yang tak terlalu berduri untuk Mira. Tapi, ia tak menyangka jika bunganya memang secantik ini.
“Lalu Kaktusnya masih ada?” Tanya Darrell.
“Ada di rumahku yang dulu. Untung waktu itu sempat ku pindah di kebun. Karna kaktus tumbuhan yang kuat. Jadi aku nggak khawatir kalau dia mati. Karena ia bisa tumbuh dimanapun. Menyesuaikan keadaan.” Jelas Mira.
“Kayak kamu.” Kata Darrell sembari menatap Mira.
Mira mendongak ganti menatap laki laki disampingnya.
Deg..deg.... deg....
Mira menghindar, takut bunyi jantungnya terdengar sampai kuping Darrell.
“Mak..maksudnya ??”
“Kamu kayak Kaktus. “
“Maksudnya??” Tanya Mira lagi. Apa Darrell memujinya karna filosofi yang baru saja ia katakan. Tentang Kaktus yang bisa tumbuh dimanapun.
“Cantik pada waktunya.” Lanjut Darrell dengan tersenyum.
Deg...deg....deg...
Mira berdebar semakin keras melihat Darrell yang tersenyum. Rasanya Darrell hari ini lebih hangat dari pada biasanya. Terlebih senyum Darrell. Ini pertama kalinya ia melihat Darrell tersenyum selebar ini kepadanya.
Mira menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kenapa?” Tanya Darrell bingung ketika Mira menjauhinya lalu terduduk menutupi wajahnya.
“Kamu marah karna aku samain sama Kaktus?” Tanya Darrell panik.
Sebenarnya ia berniat memuji Mira. Bukan mengejeknya. Lalu sekarang bagaimana caranya ia memberitahukan kepada Mira.
“Demira...” Panggil Darrell lembut
Mira terkejut mendengar Darrell memanggil namanya. Demira Maharani Agashi.
“Isshh..” desah Mira. Ia tak bisa menahan kesenangannya hari ini. Darrell menyebut namanya. Menyebut namanya. Selama ini Darrell tak pernah memanggil namanya dengan lembut seperti ini.
“Kamu beneran marah?” Tanya Darrell yang langsung menghampiri Mira. Ia ikut berjongkok di depan Mira memperhatikannya.
Mira menggigit bibirnya dalam-dalam. Ia sangat senang hari ini. Meskipun mimpi ia tak akan menyesal. Jika saja hari ini status Mira kekasih Darrell, Mira akan memeluk Darrell erat. Dan akan meminta Darrell mengucapkan namanya lagi.
Tapi sayang, semua itu hanya khayalannya. Ia tak akan pernah kembali lagi dengan Darrell.
“Rell tak apakan jika aku mencintaimu lagi? Mengharapkanmu lagi? “ Batin Mira.