BAB 15

1153 Words
Lucas menatap penasaran claw machine alias mesin pencapit boneka di sudut bar apartemen milik Darrell sedangkan Darrell menatap fokus benda di depannya. Jika melihat Claw Machine itu ia merasa jengkel. Kenapa dulu ia tak membuangnya saja. “Lo ngapain?” tanya Lucas sembari mengambil koleksi Sampanye milik Darrell. Darrel diam tak menjawabnya. Ia memperhatikan mesin tersebut. “Woy.” panggil Lucas dengan menyentuh bahu Darrell. “Gue pikir lo dulu mau buka Time Zone disini, tapi ternyata cuma benda ini yang disini.” tanya Lucas penasaran. Ya, Claw Machine ini ada ketika Gisel mengajaknya ke mall lalu bertemu adiknya, yang mengejeknya. Karena kesal tak mendapatkan boneka Darrell langsung membeli mesin itu beserta pabriknya. “Mau?” Tanya Darrell. “Apa??” “Mesin bodoh ini. “ jawab Darrell dengan menunjuk mesin di depannya “Kesal sekali kalau melihatnya disini.” lanjutnya. Darrell langsung mengambil Sampanye yang di pegang Lucas lalu meminumnya. Ia mengambil stik Billyardnya dan mulai memainkannya. “Nggak. Nggak butuh.” “Bukannya perempuan suka boneka?” Lucas mengedikkan bahunya tanda tak tau. Ia saja tak pernah pacaran. baru menyukai seseorang, tapi perempuan itu malah berpacaran dengan orang lain. Kurang ngenes apalagi Lucas. “Kau bisa memberikannya kepada pacarmu.” Lucas tersenyum mengecek. Darrell beneran minta di cekik. “Lo aja kasih ke tunanganmu.” balas Lucas. Darrell melirik Lucas malas. Lucas membalasnya dengan tersenyum. Darrell menaruh Stik Billyard dan duduk diam di sofa sembari menatap mesin pencabit boneka. Jika mengingatnya ia sangat kesal. Padahal kejadian itu sudah setahun yang lalu. Tapi tetap saja jika mengingatnya rasanya kesal. Tak lama Darrell mendengar suara bell, ia langsung membukanya. Tapi melihat siapa yang datang ia terkejut. Darrell memperhatikan Aurel yang duduk di depannya. Darrell penasaran, ia baru pindah pagi ini, dan Aurel bisa tau Apartemennya yang baru. Aurel memberikan roti yang sedari tadi di pegangnya kepada Darrell. “Dari Mama.” Kata Aurel. “Thanks.” Jawab Darrell. Ia diam menunggu Aurel pulang atau berbicara. Aurel juga diam. Ia bingung mau mengatakan apa. Aurel berdehem. “Maksud lo naikin pangkat Dimas itu kenapa?” Tanya Aurel. “Mau aja.” Jawab Darrell. Aurel menatap Darrell kesal. Apa yang di maksud laki laki di depannya ini. Mau, maksudnya mau itu apa?? Darrell membuka roti yang di bawa Aurel. Coklat. Brakk... Aurel dan Darrell langsung melihat ke arah pintu ketika seseorang membukanya dengan kasar. “Mau ini?” Tawar Darrell ke Aril. Yah, orang yang membuka pintu tadi adalah Aril. Brakk.. “Gue lebih butuh Whisky!” Jawab Aril cepat yang langsung masuk ke dalam Apartemennya. Darrell menatap roti di depannya. Aril sangat menyukai roti, kue atau apapun berbau Coklat sama sepertinya. Biasanya Aril tak menolak. Tapi Aril hari ini menolaknya dan memilih Whisky. Darrell tak ambil pusing. Ia malah bangkit mengambil pisau, piring dan garpu. Darrell memotongnya lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya. Lumayan. Meskipun Rasanya tak seenak buatan Mira. Tapi, ia tetap menyukainya. Aurel menatap Darrell yang memakan roti buatan ibunya santai. Baru saja Aurel akan membuka mulutnya, Ceklek.. Aurel dan Darrell langsung melihat siapa yang membuka pintu tadi. “Aril sama Lucas disini kan?” Tanya Sean. Darrell menganguk. “Lo kapan balik?” Tanya Darrell ke Sean. Sejak kepergian Gisel Sean pindah ke Amrik. Dan sekarang ia sedang liburan disini. “Ga tau!” Jawabnya. Brakk... Sean langsung masuk menyusul Aril dan Lucas. “Rame” Komen Aurel. Darrell menganguk. Tak lama ia mendengar suara teriakan. Darrell langsung bangkit dan memeriksa. Aurel mengikuti di belakangnya. Aril dan Sean sedang berebut botol Darrell, sedangkan Lucas bermain Billyard. Aurel memperhatikan Apartemen Darrell. Sangat bagus. Ia melihat ke sekeliling Sampai Pandangan matanya jatuh ke arah mesin pencapit boneka. “Dia kenapa?” Tanya Darrell ke Lucas Lucas mengedikkan bahunya tanda tak tau. “Dari kemaren kayak gitu.” Jawab Lucas. “Kalian pernah nggak sih ngerasa bersalah sama seseorang yang kalian benci?” Tanya Aril. “Tuh Darrell, ngerasa bersalah sama Mira.” Saut Lucas. Aurel mengerutkan keningnya. Mira itu siapa? “Aku nggak Benci Mira!” Tegas Darrell. Aurel langsung menatap ke arah Darrell. Aku. Darrell menggunakan aku, bukan lo gue?? “Aku??” Tanya Aurel. “Kenapa? “ Tanya Darrell. “Darrell cuma ngomong aku kamu sama orang yang ngomongnya begitu ke dia. Lo bilang aja aku kamu, Ntar Darrell juga bilang aku kamu!” Saut Sean. “Ohh..” Respon Aurel. Aurel pikir Darrell berkata seperti itu karna Mira itu orang yang penting untuknya. Entah kenapa ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. “Lo lagi ngerasa bersalah sama siapa?” Tanya Sean ke Aril. “Ada.. Menurut lo gue harus ngapain?” Tanya Aril panik. “Ya, Minta maaf kalo lo ngerasa bersalah.” Jawab Sean. “Kayaknya dia nggak bakal maaffin gue!” Saut Aril. “Kenapa?” Tanya Darrell. “Karna gue udah...” “Udah?” “Udah...” Sambung Aril, “Udah.. Ngam....bil” “Ngambil apa?” Tanya Sean penasaran. “Ngambil... “ “Ngambil?” Ulang Sean penasaran. Aril menghentikan perkataannya. Ia langsung meminum whisky di gelas Sean. “Ngambil apaan sih?” Tanya Sean penasaran. “Ga papa.” Jawan Aril cepat. “Ngambil apaan sih Rill.. Sumpah penasaran gua!” “Gapapa. “ Jawab Aril. Darrell menatap Aril. Aril langsung mengalihkan pandangannya menjadi menunduk dan memukul kepalanya berulang ulang. “Menurut lo gue harus ngapain sekarang?” Tanya Aril “Lah.. Masalahnya aja nggak tau. Ya nggak bisa ngasih saran.” “Gue nggak bisa tidur gara-gara mikirin dia!!” Lanjut Aril. “Kalau ngerasa bersalah ya minta maaf.” Saut Aurel. Aril menoleh menatap orang itu, “Lo siapa?” Tanya Aril. “Aurel, Calon tunangan Darrell.” “Calon tunangan lo?” Tanya Aril ke Darrell. Aril pikir itu cuma isu aja, ternyata beneran. Darrell menganguk sebagai jawaban. Melihat Darrell menganguk. Aril terpengarah. “Daripada itu, Gisel dimana?? “ Tanya Sean. Darrell langsung berbalik pergi, tak lupa ia menyeret Aurel supaya mengikutinya. “Sana balik.” Suruh Darrell. “Lo nggak kerja?” Tanya Aurel. Darrell menggeleng. Buat apa ia pergi ke kantor. Ia sedang di masa liburan tidak bekerja. “Kalau gitu..” Darrell mentatap Aurel yang mengadahkan tangannya. Seperti meminta sesuatu. Darrell paham. Ia lalu mengambil dompet dan memberikan 3 lembar uang ratusan ribu. “Terlalu banyak.” Jawab Aurel sembari mengembalikan 2 lembar uang ratusan itu kepada Darrell. Darrell menatap kepergian Aurel. Tak lama Darrell langsung mengejar Aurel mengikutinya. “Mau kemana?” Tanya Aurel ke Darrell ketika melihat pria itu di belakangnya menunggu lift. “Nganterin Lo!” Jawab Darrell cuek. “Nggak usah gue bisa balik sendiri!” Tolak Aurel. “Gue anterin!” Keukuh Darrell. Aurel menatap Darrell bersiap membantah laki-laki itu. Tapi, Darrell menatapnya tajam seolah menyuruhnya diam. Aurel mencebikkan bibirnya kesal. “Bebek.” Ejek Darrell. “Apa??” “Lo mirip Bebek.” Ejek Darrell lagi. “Lo..” Syok Aurel. Darrell memiringkan bibirnya. “Bebek!!” “Darrelll!!” kesal Aurel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD