Rumaysha pikir Ardan hanya bercanda soal sepeda baru untuknya. Nyatanya saat pagi-pagi buta ada mobil truk yang mengantarkan sepeda berwarna pink. Dia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa sepeda baru itu tiba dengan begitu cepat? Pukul 8 nanti mereka akan bersepeda mengelilingi komplek. Sekarang masih pukul 6 pagi.
Dengan santainya Ardan melahap nasi goreng buatan Rumaysha. Rumaysha tahu bagaimana cara memanjakan lidahnya. Contoh kecilnya nasi goreng kecap yang diberi potongan baso, ceplok telor beserta kerupuk putih. Ardan sampai menambah dua kali.
“Yang!” panggil Ardan membuat Rumaysha yang tengah makan oat meal menoleh. Dia tidak bisa makan nasi kalau pagi. Makanya mereka selalu menyetok oat, sereal, juga roti.
“Aku kepingin makan rawon. Beuh mantep kali ya.” Sudah lama Ardan tidak makan rawon. Terakhir makan saat dia SMP.
“Aku gak pernah buat, sih. Tapi kalau Kak Ardan mau, aku coba buatin, gimana?”
Ardan mengangguk semangat. Kalau Rumaysha yang masak, pasti dia makan.
“Boleh, pulang ke sepedaan ke Superindo depan aja,” kata Ardan.
“Di sini gak ada tempat belanja sayur gitu?” tanya Rumaysha. Dia sedikit meringis kalau mengingat harga-harga sayuran di swalayan yang sebenarnya bisa dia dapatkan di pasar dengan harga lebih miring dan kualitas tak kalah bagus.
“Ya ada, tapi males ah banyak ibu-ibu.”
“Beli di warung sayur biasa aja, ya?” pinta Rumaysha sambil menatap Ardan dengan penuh harap.
“Ya udah,” jawab Ardan.
Keduanya menyelesaikan sarapan mereka. Meski hendak sepedaan, Rumaysha memaksa Ardan untuk tetap mandi. Katanya biar segar. Selesai mandi, keduanya memutuskan sholat dhuha berjamaah.
Kalau soal rumah, Rumaysha hanya menyapu dan Ardan yang memaksa untuk cuci piring. Biasanya Rumaysha mengepel dan mencuci 2 hari sekali. Karena hanya tinggal berdua, jadi rumahnya tidak terlalu berantakan. Di kamar pun semua tertata rapi. Ardan yang biasanya menyimpan handuk sembarangan atau mengambil pakaian dengan bar-bar, semenjak kehadiran Rumaysha dia merasa terlatih untuk hidup rapi.
Ardan melirik ke arah Rumaysha yang tengah memakai kaus kaki. Keduanya sepakat mengenakan pakaian berwarna sama. Ardan mengenakan kaus putih bersama celana jeans di atas mata kaki. Sedangkan Rumaysha mengenakan hoodie oversize putih milik Ardan, kerudung hitam beserta rok training hitam.
“Aku udah lama gak main sepeda,” ujar Rumaysha.
“Tenang aja, kalau jatuh kan ada aku,” kata Ardan.
“Iyain aja,” balas Rumaysha.
Ardan tertawa. Semenjak hidup bersama Rumaysha, hidupnya benar-benar terasa menggembirakan. Tidur tidak sendiri lagi, kalau makan ada yang memasakkan. Ada pemacu supaya Ardan giat bekerja dan belajar. Kalau capek tinggal minta di puk-puk saja oleh Rumaysha.
“Kak Ardan jangan cepet-cepet ngayuhnya,” protes Rumaysha yang sudah ngos-ngosan.
Maklum saja, dia tidak suka olahraga. Sudah lama juga tidak main sepeda. Dengan setia Ardan menanti Rumaysha. Begitu lucu melihat Rumaysha yang chubby mengayuh sepeda dengan susah payah. Belum lagi pipi putihnya yang agak memerah karena kepanasan.
“Kamu gak bisa naik sepeda, ya?” goda Ardan.
“Enak aja! Aku bisa tau!” balas Rumaysha tak terima. Belum apa-apa keningnya sudah bermunculan peluh.
“Coba balap ayo, yang menang dapat vitamin C.” Rumaysha terdiam sejenak. Vitamin C itu ... aih itu sih untung di Ardan saja.
“Mana adil kayak begitu!”
“Ya udah gini, kalau kamu yang menang, nanti aku traktir makan ke Starbucks. Kalau aku yang menang, kasih aku vitamin C, tapi yang plus-plus gimana?” Ardan menunjukkan senyum anehnya pada Rumaysha. Rumaysha meremas hoodie-nya saat paham maksud Ardan. Pipinya yang merah karena rasa panas, jadi semakin merah.
“Oke deh,” kata Rumaysha yang tergiur ketika mendengar kata ‘Starbucks.’
“Jabat tangan dulu atuh.” Rumaysha mengulurkan tangannya dan disambut oleh Ardan dengan senang hati. Rasa hangat menjalar hingga ke hati keduanya. Ada perasaan bahagia yang tak bisa dijelaskan.
“Oke, kita mulai, ya, sampai warung sayur,” kata Ardan.
Rumaysha beraba-aba. Dia harus menang.
Dengan sepenuh tenaga dia mengayuh sepedanya. Tak peduli meski napasnya terengah. Rumaysha berusaha kuat supaya kayuhannya mampu membuat sepedanya berjalan cepat.
Melihat usaha Rumaysha, Ardan memelankan kayuhannya. Mana tega dia melihat Rumaysha kesusahan. Biarlah dia mengalah. Toh kalau sudah rezeki, nanti dia pasti dapat bagian juga.
Dengan setia dia memelankan kayuhannya hingga tertinggal begitu jauh dari Rumaysha. Ketika Rumaysha sudah hampir sampai, barulah Ardan mengayuh sepedanya dengan cepat.
“Yeayyy aku menang!” seru Rumaysha girang. Wajahnya tampak bahagia membuat Ardan diam-diam tersenyum. Membahagiakan Rumaysha adalah misi seumur hidupnya, bahkan hingga napasnya berhenti berhembus.
“Oke, sepulang dari sini kita ke Starbucks depan.” Senyum lebar terukir di wajah Rumaysha Sesampainya di warung sayur, Ardan tidak turut memilih sayuran. Dia malas, banyak ibu-ibu soalnya. Alhasil dia hanya duduk di atas sepedanya sambil mengawasi Rumaysha.
“Adik baru pindah ke sini?” Sayup-sayup telinganya Ardan menangkap percakapan itu.
“Iya, Bu, sudah satu minggu di sini,” jawab Rumaysha sopan.
“Adik ini istrinya nak Ardan, ya?” sambar seorang ibu-ibu yang penampilannya tampak berkelas meskipun ke warung saja. Tangannya yang penuh emas digerak-gerakkan sampai Rumaysha jadi salah fokus.
“Kok bisa, sih, milih istrinya yang culun begini?” Rumaysha meneguk ludahnya susah payah. Mendadak dapat serangan dari orang yang tidak dikenal itu rasanya sangatlah mengejutkan.
“Iya, padahal anak saya udah hampir nikah sama dia. Anak saya itu lho, cantik, badannya bagus. Enggak gendut gini.” Rumaysha hanya mampu menggenggam sayuran di tangannya. Dia tidak menangis, tapi tidak pula tersenyum. Hanya menunjukkan raut wajah seolah dia tidak paham dengan bahasan mereka.
“Kalau gemuk gini, bisa aja udah hamidun duluan bu-ibu, lha wong namanya anak muda. Pergaulannya gak berbatas,” sahut ibu-ibu lainnya.
“Ssssst, jangan begitulah. Orang baru datang sudah diinterogasi, bukannya diajak kenalan. Sudah-sudah tidak perlu menggosip,” pungkas seorang perempuan berhijab.
Meskipun sesak dan kesal, Rumaysha tetap melanjutkan acara belanjanya. Dia jadi ingat dengan Umma yang tidak pernah membiarkan dia dihina siapa pun.
Umma, batinnya sendu.
Tidak mau berlama-lama di sini, Rumaysha bergegas menghampiri si pemilik warung supaya belanjaannya segera dihitung.
“Jadi 168 ribu, Neng.” Rumaysha menyerahkan 4 lembar uang berwarna biru.
“Terima kasih, Pak.” Rumaysha pamit dari hadapan para ibu-ibu itu dan menghampiri suaminya.
“Kamu kenapa?” tanya Ardan. Rumaysha menggelengkan kepalanya. Lalu tersenyum tipis.
“Pulang aja, ya, Kak?” pinta Rumaysha dengan suara bergetar.
Ardan sadar Rumaysha sedang tidak baik-baik saja. Keduanya pun memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Sungguh Ardan penasaran sekali, apa yang sudah membuat istrinya mendadak murung? Tadi dia mengangkat telepon dulu. Jadi tidak bisa full mengawasi Rumaysha.
“Mau permen mint, gak?” tawar Ardan sebelum mereka mengayuh sepeda. Rumaysha mengangguk. Dia menerima permen pemberian Ardan. Mood-nya jadi buruk. Biasanya untuk membuat mood-nya jadi bagus, dia harus masak atau maskeran.
“Kamu kenapa?” tanya Ardan ketika keduanya sudah duduk di sofa.
“Gak apa-apa.” Tidak mungkin kalau Rumaysha baik-baik saja. Terlihat dari binar matanya yang meredup.
Ya begitulah perempuan, bilangnya tidak apa-apa, padahal sebenarnya kenapa-kenapa.
“Don’t lie to me, May.”
Pertahanan Rumaysha runtuh juga. Akhirnya dia menangis sejadi-jadinya membuat Ardan tak kuasa menahan dirinya untuk tidak memeluk istrinya. Ardan mengelus punggung Rumaysha. Mencoba menenangkan gadis itu.
Sampai 10 menit lamanya Rumaysha masih menangis juga. Dia itu tipikal orang yang agak sulit berhenti menangis. Sekalipun sudah sesenggukan seperti ini.
“Udah dong, May. Capek kamunya,” kata Ardan sambil menghapus air mata Rumaysha.
Rumaysha masih terisak. “Gak bisa berhenti,” balas Rumaysha membuat Ardan tertawa. Hidung Rumaysha yang memerah tampak lucu di matanya. Dia jadi gemas sendiri.
“Mau berhenti?” tawar Ardan. Rumaysha mengangguk.
“Matanya merem dulu tapi.” Rumaysha memejamkan matanya.
Keadaan amatlah hening. Sampai Rumaysha bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Seketika matanya langsung membulat menatap Ardan dalam jarak yang terkikis. Rasanya dia ingin pingsan saja. Dia memukul d**a Ardan. Berharap Ardan mau melepaskannya. Wajahnya langsung memerah malu ketika Ardan melepaskannya.
“Berhenti ‘kan?” bisik Ardan. Laki-laki itu menyeringai ke arah Rumaysha membuat gadis itu menunduk malu