68

1217 Words

Hening. Galih menggeser duduknya, bersiap kalau situasi semakin panas. Sementara Ebas tetap dalam posisinya, tak bergerak sedikit pun. Ebas tetap mempertahankan ekspresi datarnya, meskipun sorot matanya menggelap. Angga tersenyum tipis, menikmati ketegangan yang mulai terasa di ruangan ini. "Kau tahu, aku bukan tipe orang yang terlalu percaya pada kebetulan, Ebas," Angga bersandar santai di kursinya, tangannya berlagak membersihkan debu di jasnya. "Beberapa hari yang lalu, aku mampir ke kantormu untuk urusan bisnis." Ia menatap Ebas dengan seringai puas. "Dan tebak siapa yang aku lihat?" Tania tersenyum sinis, ikut menikmati permainan ini. Ebas masih diam, tapi jemarinya mengepal di atas meja. Ya... Saat itu dirinya memergoki Angga yang seakan mencari seseorang hingga tersesat di lant

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD