Ruangan terasa semakin mencekam. Semua orang kini tak hanya menatap Elvira, tetapi juga mulai melirik ke arah Wildan, Kepala Keuangan yang sejak tadi duduk dengan gelisah. Ebas yang masih duduk dengan tenang, perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya tajam, namun bibirnya melengkung dalam seringai tipis. "Nala," panggilnya lembut. Nala menoleh. "Ya, Mas?" "Kau sudah menyelidiki semuanya, bukan? Termasuk orang yang bekerja sama dengan Elvira?" Nala tersenyum samar. Ia mengambil satu lagi map berwarna merah, lalu meletakkannya di atas meja. "Tentu saja." Wildan, yang sejak tadi hanya diam, kini mulai merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Nala membuka map itu, menampilkan beberapa bukti transfer yang mencurigakan. "Jika tadi kita me

