Ebas tahu betul bagaimana istrinya. Nala mungkin terlihat kuat di hadapan semua orang, tapi di balik itu, ada hati lembut yang masih sering mempertanyakan keputusannya sendiri. Melihat Nala yang masih murung, Ebas tidak ingin membiarkannya terus tenggelam dalam pikiran yang membuatnya ragu. Ia ingin mengalihkan perhatian istrinya, membuatnya tersenyum lagi. Maka, tanpa banyak bicara, Ebas menarik tangan Nala, membawanya berdiri. “Ayo jemput Cala.” Nala mengerjap, sedikit terkejut dengan perubahan topik yang tiba-tiba. “Hah? Sekarang?” Ebas mengangguk, meraih jasnya lalu melingkarkan tangan di pinggang Nala, menuntunnya keluar ruangan. “Kita jemput Cala, lalu ke mall. Aku butuh bantuan kalian untuk memilih kado ulang tahun Mama.” Mata Nala sedikit melebar. “Ulang tahun Mama Haris?” “

