"Apa kau yakin, Sayang?" Suara Ebas terdengar serak, senyuman miring menghiasi wajahnya saat matanya menatap penuh arti ke arah Nala, yang kini berada di atasnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu—kekaguman, tantangan, sekaligus ketertarikan yang begitu dalam. Nala menyipitkan matanya sedikit, bibirnya melengkung nakal. "Apa kamu meremehkan aku, Bas?" Nada suaranya terdengar menggoda. Ebas terkekeh, jemarinya terangkat menyelipkan rambut panjang istrinya ke belakang telinga. "Do what you want. I give you all control." Perlahan, Nala mengangkat kedua tangannya, menyatukan rambut panjangnya yang sempat terurai. Dengan gerakan sederhana, ia menggigit karet gelang di pergelangan tangannya, lalu dengan cekatan mencepol rambutnya asal. Ebas menelan ludah, napasnya sedikit berat. "Ow, sh*t…" gum

