83

1345 Words

Nala menyandarkan kepalanya di d**a bidang suaminya, jari-jarinya dengan lembut menggambar pola acak di sana, menikmati kehangatan yang selalu membuatnya merasa aman. "Mas, kapan kita bawa Cala pulang?" tanyanya dengan suara manja, bibirnya sedikit mengerucut. Ebas, yang masih memejamkan mata sambil mengelus punggung istrinya, hanya menggumam pelan. "Bukannya tadi dia ikut Mama ke mansion?" Nala menghela napas kecil, lalu mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya. "Iya, tapi dia ikut Mama lagi. Aku rindu." Ebas membuka matanya perlahan, menatap wajah istrinya yang masih dihiasi luka memar. Hatinya terasa mencelos. Luka itu belum sepenuhnya memudar, dan meskipun ia tahu Nala kuat, tetap saja melihatnya seperti ini membuat amarahnya kembali berkobar. "Tunggu kamu pulih dulu, Say

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD