78

1607 Words

Ebas menghela napas panjang, jari-jarinya meremas pelipisnya yang mulai berdenyut. Di ruangan itu, keheningan begitu menekan. Bukan karena tidak ada yang ingin berbicara, tapi karena semua orang terjebak dalam penyesalan mereka masing-masing. Papa Dhipa menatap menantunya yang duduk tertunduk, penuh beban dan kelelahan. Dengan gerakan penuh kebapakan, ia menepuk pundak Ebas dengan lembut. "Pergilah, Nak. Istrimu butuh dirimu." Ebas mendongak, menatap ayah mertuanya yang kini tampak lebih tua dari biasanya. Ada kelelahan, ada kesedihan, dan yang paling jelas—ada rasa bersalah. Di sebelahnya, Mama Wulan masih memeluk Cala erat dalam pangkuannya, seolah gadis kecil itu adalah satu-satunya hal yang bisa memberinya ketenangan. "Andai saja aku tidak memaksa Nala untuk menikah dengan Angga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD