Nala mengerjap pelan saat merasakan sentuhan lembut di pipinya. Samar-samar, di antara kantuk yang masih menyelimuti, ia melihat sosok mungil berdiri di samping ranjang. Mata gadis kecil itu berkaca-kaca, menahan tangis yang tampaknya sudah sejak tadi ingin pecah. "Mami?" suara lirih itu menyayat hati Nala. Kesadaran Nala langsung penuh. Dengan segera, ia bangun dan meraih tubuh kecil putrinya, menariknya ke dalam pangkuan lalu memeluknya erat. "Sayang, kenapa? Kok nangis?" Tapi Cala hanya menggeleng, bibir mungilnya bergetar sebelum akhirnya isakan itu pecah. "Hiks… hiks…" Nala semakin mengeratkan pelukannya, mencium lembut kening dan pipi Cala berulang kali. "Sstt… sudah, jangan nangis, Sayang." Tapi Cala tidak bisa berhenti. Seperti ada beban yang akhirnya bisa ia lepaskan, tangisn

