Di ruang kerjanya yang luas dan elegan, Ebas menyandarkan tubuhnya ke kursi, masih tersenyum tipis sambil menatap layar ponselnya. Suara Nala barusan benar-benar membuatnya tenang. Setidaknya, istrinya baik-baik saja di rumah. Namun, senyum di wajahnya perlahan memudar saat pikirannya kembali ke pekerjaannya. Masalah yang harus ia selesaikan hari ini masih menumpuk, dan yang paling mendesak adalah laporan dari Galih mengenai Elvira dan Wildan. Tak butuh waktu lama, pintu ruangannya diketuk. "Masuk," ucapnya, suaranya kembali tegas. Galih, tangan kanannya yang selalu bisa diandalkan, melangkah masuk dengan ekspresi serius. Ia membawa beberapa dokumen di tangannya, lalu menutup pintu sebelum berjalan mendekati meja kerja Ebas. "Tuan, saya sudah mengonfirmasi kembali laporan mengenai Elv

