Pagi ini Naya menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Terlihat matanya yang kurang tidur karena sepanjang malam, ia memikirkan pesan misterius yang diterimanya.
"Jangan cari halaman 13 itu. Kalau kamu nekat, kamu tidak akan bertahan lama di WCTG."
Ancaman itu muncul tiba-tiba dan menghapus seluruh ketenangan yang ia punya.
Naya meremas tasnya kuat-kuat. “Aku cuma karyawan baru… kenapa harus aku yang diancam?”
Sampai sekarang halaman tiga belas masih hilang dan itu membuatnya semakin resah, karena dokumen tersebut bukan sembarang berkas, itu berisi data klien besar yang sedang Evan persiapkan untuk proyek besar kuartal nanti.
Karena dokumen halaman tiga belas masih belum ketemu, akhirnya Naya mendapatkan keringanan dari Evan kemarin dan kebetulan juga klien meminta agar jadwal meeting nya diganti hari jadi hari ini.
Kemarin juga Janelle tidak menemukan arsip digital dari divisi legal. Jadi, ia tidak dapat membantu Naya.
Dan Naya harus bener-bener bisa menemukan dokumen halaman tiga belas itu sekarang, jika tidak, maka habislah sudah hidupnya.
Naya sedikit terkejut saat tiba-tiba notifikasi ponselnya berbunyi, buru-buru ia membuka pesannya.
Ini bukan pesan ancaman seperti beberapa waktu lalu, tapi ini pesan dari Janelle.
[Nel] – Jangan lupa, Pak Evan minta progres dokumen yang hilang siang ini. Kamu oke?
Naya mengetik cepat.
[Naya] – Nel… gimana kalau berkasnya masih belum ketemu?... aku takut.
Belum sempat Janelle membalas, Naya sudah lebih dulu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sekarang ia harus datang lima menit lebih awal karena ia tidak mau kena masalah untuk kedua kalinya.
---
Saat pintu lift terbuka, Naya langsung disambut suasana yang jauh lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada beberapa staf senior yang berlalu-lalang dengan langkah cepat.
Naya menghampiri mejanya yang masih rapi seperti biasanya, namun ada satu hal yang membuat jantungnya berhenti sesaat.
Di sana ada sebuah map hitam tipis tergeletak tepat di atas keyboard komputernya.
Perasaan semalam saat ia tinggal pulang, map hitam ini tidak ada di sini. "Apa map ini dari staf lain untuk, Pak Evan? tapi ini dari divisi apa?" pikir Naya.
Naya menelan ludah dan tangannya gemetar setelah ia membuka map itu. Karena di dalamnya ada dokumen yang ia kerjakan kemarin dan seingatnya dokumen ini tidak ditaruh dalam map berwarna hitam.
Tapi entah kenapa Naya ingin sekali melihat bagian di mana halaman tiga belas berada. Dirinya sangat berharap kalau halaman penting tersebut ada di sana dan masalahnya pun selesai.
Namun yang ia temukan justru selembar kertas kecil terselip dengan tulisan tangan rapi.
Aku sudah bilang, jangan dicari.
Seketika wajah Naya berubah pucat.
Janelle berdiri di belakangnya, “Na?” Suaranya terdengar lembut tapi mampu membuat Naya terkejut.
“Eh, Nel… pagi,” jawab Naya mencoba tersenyum, tapi suaranya goyah.
Janelle memperhatikan map itu. “Itu dokumen kemarin, kan? tunggu, halaman tiga belas nya udah ketemu?”
Naya menggelengkan kepalanya lemah.
“Loh, ternyata belum ketemu? aku kira udah ketemu," ujar Janelle yang Naya jawab dengan gelengan kepala untuk kesekian kalinya.
"Terus itu apa? kamu pegang selembaran kertas apa?" Tanya Janelle penasaran.
Karena penasaran, Janelle pun sedikit mencondongkan tubuhnya ke dekat Naya agar bisa melihat apa yang sedang Naya pegang.
Mata Janelle membulat, terkejut dengan apa yang baru saja ia baca. Ingin bertanya lebih lanjut ke Naya, tapi tidak bisa, karena ia mendengar suara pintu otomatis terbuka dan memperlihatkan Evan yang baru saja datang.
Evan datang dengan langkah mantap, aura dingin, dan tatapan fokus seperti biasa. Namun hari ini, Naya merasakan tatapan itu menancap lebih dalam dari biasanya.
“Selamat pagi,” sambut Evan singkat saat melewati mereka.
“P-pagi, Pak,” jawab Naya yang buru-buru berdiri.
“Masuk ke ruangan saya dalam lima menit. Kita bahas dokumen,” ucap Evan tanpa menoleh, ia langsung masuk ke ruangannya.
Sementara kondisi Naya sekarang membatu. Memikirkan kalau lima menit lagi ia harus memilih jujur tentang ancaman yang diterimanya atau tidak.
Ia bahkan belum tahu harus bilang apa tentang halaman 13 yang masih hilang.
Janelle memegang bahu Naya. “Na… kamu mending jujur aja sama, Pak Evan.”
"Tapi... selain ancaman ini, aku dapet ancaman lain, Nel. Dia bilang kalau aku masih tetep cari halaman itu... posisi aku di WCTG nggak akan bertahan lama,” jelas Naya.
“Apapun itu kamu harus cerita, karena aku yakin, Pak Evan bakal lindungi kamu. Soalnya ini bukan salah kamu, Na.” Janelle berusaha meyakinkan Naya.
Naya menghembuskan napasnya berat, "Aku coba ya, Nel... mudah-mudahan Pak Evan nggak marah.”
Janelle mengangguk yakin. Ia tahu betul Evan tidak akan melepaskan orang yang sudah berani mengancam karyawannya, apalagi ini terlibat dengan bisnisnya.
Naya kembali melihat catatan kecil di tangannya. Siapa orang yang berani mengambil halaman tiga belas dan mengancamnya?
Dan kenapa dokumen yang ia simpan di laci yang kuncinya ia bawa pulang itu bisa muncul di atas meja kerjanya, tepat sebelum ia bertemu Evan?
---
“Silakan duduk,” ucap Evan, masih fokus pada laptopnya.
Naya duduk perlahan, tangannya bahkan berkeringat dingin di ruangan Evan yang ber AC.
“Buka dokumennya,” kata Evan tanpa mengangkat wajah.
Naya membuka map itu. Tatapannya terpaku pada halaman kosong di mana nomor 13 seharusnya ada.
“Pak…” suara Naya hampir hilang, “…halaman 13—”
Evan menutup laptopnya perlahan. Tatapannya naik, mengamati Naya seperti sedang membaca ekspresinya.
“Ya, saya tahu,” ucap Evan.
“T-tahu?” Naya terbelalak.
“Halaman 13 masih .”
Jantung Naya berhenti sesaat.
“Bagaimana Bapak tahu…?”
“Saya sudah cek softcopy-nya.” Evan bersandar ke kursi. “Dan halaman itu tidak ada sejak saya menerima versi awalnya kemarin. Jadi, bukan kamu yang menghilangkannya.”
Naya menutup mulutnya, terkejut.
Evan melanjutkan, “Tapi saya ingin tahu kenapa kamu tampak sangat ketakutan saat menyebut halaman itu.”
Naya tercekat, punggungnya menegang, dan entah kenapa ruangan terasa semakin sempit.
Apakah ini waktu yang tepat untuk membahas ancaman itu kepada Evan, tapi kalau ia beritahu, pasti masalah ini akan jadi masalah besar.
Evan menyipitkan mata, mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya menurun.
“Naya, ada yang kamu sembunyikan dari saya?”
Naya menahan napas saat melihat tatapan menusuk dari Evan, seolah bisa menembus rasa takutnya.
Dan sebelum Naya sempat menjawab…
TING!
Ponsel Naya bergetar keras di meja besar Evan dengan layarnya yang menyala, terpampang jelas notifikasi pesan baru dari nomor misterius yang sama.
Evan melihat ke arah layar ponsel itu dengan tatapan tajam dan hal itu membuat Naya memucat.
“Buka ponsel kamu,” perintah Evan.
“Sekarang!"
Naya membuka ponselnya yang ia kunci pin dengan tangan gemetar.
Pesannya muncul di layar, dengan segera Evan rebut ponsel itu dari tangan Naya.
Evan baca satu persatu pesan yang orang misterius itu kirim.
"Berhenti mencari halaman itu.
Untuk kebaikan kamu."
"Kalau kamu terus ikut campur...
Kamu nggak akan bertahan lama di WCTG."
"Berhenti bicara, atau aku akan mencelakai kamu sekarang juga."
Naya spontan merebut ponselnya tetapi Evan tidak membiarkan itu terjadi..
Evan berdiri dari kursi, wajahnya langsung berubah tegang setelah membaca pesan tersebut.
“Naya,” katanya perlahan, suara rendah namun penuh tekanan.
“Kenapa kamu nggak laporkan hal ini segera?”
Naya menatap Evan, matanya penuh rasa takut, lidahnya keluh, dan untuk sesaat, ia merasa ancaman itu bukan main-main.
Sebelum ia sempat menjawab…
—
Pintu ruang Evan tiba-tiba diketuk keras.
Seolah-olah benar ada seseorang di luar sana.