Detak jantung Naya terasa berpacu tidak normal dan tatapan Evan yang tajam beberapa menit lalu masih terbayang jelas, hingga kata-katanya pun terus menggema di kepala Naya.
“Kamu harus menemukannya.”
Kata “kamu” itu seolah menempel tegas, tanpa keraguan, tanpa pilihan lain, dan kini Naya berdiri di depan mejanya, menatap map yang terasa jauh lebih mengintimidasi daripada sebelumnya.
Satu halaman dokumen telah hilang. Yaitu, Halaman ketiga belas dan itu dokumen paling penting.
“Siapa yang sengaja ngilangin ini?” gumam Naya sambil memeriksa ulang setiap lembaran map nya.
Namun, hasilnya tetap nihil, seolah memang lembaran halaman tiga belas tidak pernah dimasukkan sejak awal.
Naya menarik napas panjang, “Oke, Naya. Kamu harus tenang."
Namun, pada kenyataannya, ia jauh dari kata tenang.
---
Langkah pertama yang bisa Naya lakukan adalah kembali ke divisi legal tempat map ini berasal.
Naya membawa map itu dan turun satu lantai ke ruang divisi legal. Di sini lorongnya sunyi, hanya suara mesin printer besar yang terdengar.
Terlihat seorang wanita paruh baya dengan kacamata bundar sedang mengetik cepat di meja terdekat. Namanya tertera di ID card, Bu Ratna-Legal Specialist.
“Permisi, Bu,” sapa Naya sopan.
Bu Ratna menoleh. “Iya, ada yang bisa dibantu?”
“Saya Naya Almeera, asisten baru Pak Evan. Mau memastikan soal map dokumen untuk presentasi jam dua nanti.”
“Oh ya, itu saya yang serahkan tadi.” Bu Ratna berdiri.
“Ada masalah?”
Naya mengangguk pelan,
“Dokumen halaman tiga belas tidak ada, Bu.”
Alis Bu Ratna langsung naik.
“Tidak ada?”
“Iya, saya sudah cek berulang kali.”
Bu Ratna mengambil map itu dan mengecek dengan sangat teliti. Ekspresinya berubah dari penasaran menjadi bingung, lalu hati-hati.
“Ini tidak mungkin,” gumamnya.
“Saya sendiri yang menyusunnya pagi ini, dan halaman tiga belas itu saya letakkan di tengah. Saya ingat persis karena halaman itu berisi data sensitif.”
Naya menelan ludah. “Apa mungkin… sebelumnya ada orang yang meminjam?”
“Tidak ada. Map ini saya simpan di laci sampai kamu datang.”
Naya bertanya pelan, “Bu, kalau boleh tahu… data di halaman tiga belas itu tentang apa?”
Bu Ratna terlihat ragu, tapi kemudian menjawab, “Bagian itu merangkum angka keuntungan cabang luar negeri dan rencana ekspansi. Informasi yang tidak boleh bocor ke luar.”
Naya terdiam, kepalanya pusing memikirkan bahwa di halaman tiga belas itu berisi data sensitif yang bahkan tidak boleh bocor.
Namun, sekarang hilang entah di mana.
“Apa menurut Ibu… ini semua disengaja?” tanya Naya dengan hati-hati.
Bu Ratna memejamkan mata sejenak seolah mempertimbangkan. “Kantor sebesar ini… kemungkinan apa pun bisa terjadi.”
Naya merasakan dingin merayap ke tengkuknya.
---
Saat ia kembali ke lantai 20, Janelle sedang menunggunya di depan meja dengan tangan di pinggang.
“NAYA! Kamu ke mana aja? Kenapa kamu tiba-tiba hilang,” cecarnya sambil menatap penuh curiga.
Naya langsung menunduk lemas.
“Maaf, Nel. Aku abis ke divisi legal bentar.”
“Legal? Udah ada masalah di hari pertama?”
“Bukan masalah… tapi lebih ke tragedi.”
Janelle mengedip cepat. “Apa lagi ini?”
Naya menelan ludah. “Satu halaman dokumen hilang.”
Janelle langsung membeku. “Yang buat presentasi Evan?”
Naya mengangguk pelan.
“Astaga, Na…” Janelle memijat pelipis. “Evan kalau soal dokumen itu super sensitif. Dia bisa curiga sama siapa pun.”
Naya menggigit bibir. “Aku tahu…”
“Yaudah kamu tenang aja,” Janelle menepuk bahunya. “Aku bantu cek sistem arsip digital mereka. Kadang divisi lain punya backupnya.”
Naya matanya berbinar. “Beneran?”
“Tentu. Aku nggak mau kamu mati berdiri di hari pertama.”
Mereka hampir tertawa, tapi tidak jadi ketika mendengar suara pintu ruangan CEO terbuka.
Terlihat Evan keluar sambil membawa ponsel yang tatapannya langsung jatuh pada Naya.
“Naya. Masuk!”
Janelle mundur pelan seperti orang yang menghindari badai.
“Good luck,” bisiknya ketakutan.
---
Setelah Naya masuk, pintu langsung tertutup otomatis dan ruangan itu terasa lebih dingin dari sebelumnya, entah karena AC atau tatapan Evan.
“Kamu sudah cek divisi legal?” tanya Evan tanpa basa-basi.
“Iya, Pak.”
“Hasilnya?”
“Bu Ratna bilang halaman tiga belas seharusnya ada, Pak. Dia ingat betul menaruhnya.”
Evan mengangguk perlahan. Matanya fokus, tidak terkejut sama sekali, seolah ia sudah menduga hal ini.
“Baik,” katanya. “Sekarang jawab pertanyaan saya.”
Naya menegakkan punggung. “Iya, Pak.”
“Pertama, apakah kamu membuka map itu sebelum masuk ke ruangan saya?”
Naya menggeleng cepat. “Tidak, Pak.”
“Apakah ada orang yang memegang map itu saat kamu menerima dari divisi legal?”
“Tidak juga.”
“Dan apakah kamu sempat meninggalkan map itu tanpa pengawasan?”
“…tidak, Pak.” Nada Naya terdengar sangat hati-hati.
Evan menatapnya lama, seolah mencari celah, atau membaca kebenaran lewat gerak-gerik mata Naya.
“Baik,” ucap Evan akhirnya. “Saya percaya.”
Naya terperangah. “Bapak… percaya?”
Evan meletakkan ponselnya di meja.
“Kalau kamu yang menghilangkannya, kamu tidak akan kembali ke legal untuk mencari tahu, dan kamu akan lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu.”
Naya tidak tahu apakah itu pujian, atau justru analisis dingin seperti polisi.
"Tapi,” lanjut Evan, “artinya ada orang lain yang menyentuh dokumen ini sebelum sampai ke tangan kamu.”
Naya memegang map itu lebih erat.
“Pak… apa mungkin ada yang ingin menjatuhkan perusahaan?”
Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Di dunia bisnis?” Evan tersenyum tipis, dingin tapi elegan. “Selalu ada.”
Naya merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Mulai sekarang,” Evan berkata pelan, “apa pun yang berhubungan dengan dokumen saya, kamu harus cek dua kali. Bahkan tiga kali.”
Naya mengangguk cepat. “Baik, Pak.”
Evan menatap layar laptopnya.
“Dan saya ingin kamu temukan halaman itu sebelum jam dua.”
Naya nyaris tersedak udara.
“Sebelum… jam dua, Pak?”
“Ya.”
“Sekarang jam sebelas lewat tiga puluh…” Evan melirik jam di laptopnya.
“Kamu punya satu jam tiga puluh menit," lanjutnya.
Naya menelan ludah dalam. “B-baik, Pak.”
“Kalau butuh bantuan, cari Jared.”
Naya terkejut. “Pak Jared?”
Evan mengangguk, “Dia lebih mengenal orang-orang di dalam kantor daripada siapa pun.”
Entah kenapa, kalimat itu terdengar sangat serius.
---
Naya keluar dari ruangan CEO dengan langkah agak limbung menuju pantry kantor. Ia berniat untuk menenangkan pikirannya sejenak di sana.
Namun, setibanya di pantry, Naya mendengar bahwa ada suara Jared di sana. Maka dengan segera Naya menghampiri Jared.
“Siapa tadi yang bilang file itu udah lengkap? Gila ya, masa halaman paling penting bisa hilang?”
Naya langsung refleks masuk.
“Pak Jared!”
Jared menoleh. “Oh, Naya. Kamu nyari aku?”
“Iya…” Naya menurunkan suara,
“Pak Evan bilang saya boleh minta bantuan anda.”
Jared menatapnya dengan ekspresi, "Oh, ini urusan serius."
“Ayo duduk.” Ia menunjuk kursi pantry di sebelahnya, “Ceritain semuanya.”
Naya menjelaskan mulai dari map, divisi legal, sampai kata-kata Evan "kita harus cari tahu siapa yang sengaja menghilangkannya."
Jared menghela napas panjang.
“Kalau sampai dokumen itu bocor… bisa gawat.”
“Gawat… dalam arti?”
“Dalam arti… itu bisa digunakan untuk menyerang perusahaan dari dalam.” Jared menatap Naya tajam. “Dan perusahaan ini punya banyak orang yang ingin mengambil posisi Evan.”
Naya tercengang, “Kok bisa?”
“Karena Evan selalu berhasil,” jawab Jared tanpa berpikir. “Orang ambisius nggak suka pemimpin yang sulit dijatuhkan.”
Naya memegang map itu lebih erat, “Pak Jared… apa mungkin ada orang yang sengaja menargetkan Pak Evan?”
Jared terdiam sejenak, kemudian ia menjawab pelan, “Bukan mungkin, Na, tapi sudah pasti."
Naya menelan ludahnya, Tuhan harusnya membiarkan dirinya bekerja dengan tenang di hari pertamanya ini.
Jared berdiri, mengambil tablet nya, “Ayo! Kita cek rekaman CCTV lorong legal.”
“CCTV?” Naya terbelalak.
Jared mengangguk. “Kalau ada orang yang buka map itu, kita pasti bisa lihat.”
Naya mengikuti Jared. Namun sebelum mereka sempat melangkah keluar pantry, pintu pantry sedikit bergerak. Seolah ada seseorang yang baru saja berdiri di baliknya dan pergi begitu cepat.
Naya langsung menoleh. “Pak… ada orang tadi?”
Jared menatap pintu itu dengan dahi mengerut, “Sepertinya…” katanya pelan.
Dan entah kenapa, Naya merasa seseorang di lantai ini sedang mengawasi mereka sejak tadi.
---
Ketika mereka berjalan menuju ruang monitoring CCTV, ponsel Naya tiba-tiba bergetar.
Tanda bahwa ada satu pesan masuk, tapi dikirim dari nomor yang tidak dikenal.
Isi pesannya
"Berhenti mencari halaman itu. Untuk kebaikanmu."
Naya langsung berhenti melangkah, wajahnya pucat ketika membaca isi pesan tersebut.
“Na?” tanya Jared.
Namun Naya tidak bisa menjawab dan ponselnya kembali bergetar.
Pesan kedua masuk
"Kalau kamu terus ikut campur… kamu nggak akan bertahan lama di WCTG."
Sekarang Nanya membeku, ia sadar masalah ini jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.