Hari Minggu selalu berjalan lebih pelan dibanding hari-hari lainnya. Suasana yang dibawanya pun terasa berbeda, lebih hangat, lebih ceria, dan membahagiakan.
Seperti yang Naya rasakan, pagi itu, Naya bangun dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Bukan gugup berlebihan, bukan juga gelisah. Hanya antusias kecil yang ia coba abaikan.
Saat mengeringkan rambutnya, Naya sempat mengecek ponselnya dan mendapati ada satu pesan dari Adrian.
"Nanti kita ketemu jam sepuluh, ya."
Naya membalas singkat, lalu tersenyum kecil sebelum meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
Hari Minggu ini seharusnya ia habiskan di rumah. Rencana ke mall bersama Janelle batal tanpa penjelasan panjang, tapi ketika Adrian mengajaknya bertemu, Naya merasa tidak ada alasan untuk menolaknya.
Ia tak menyangka pertemuan tak sengaja itu bisa berkembang sejauh ini.
Mobil Naya berhenti di pinggir jalan beberapa ratus meter dari rumahnya. Baru lima menit berjalan, bannya terasa tidak beres. Setelah dicek, ternyata ban belakangnya bocor.
“Ini serius?” gumam Naya pelan.
Ia terpaksa membawa mobilnya ke bengkel terdekat. Sayangnya, bengkel itu cukup ramai. Setelah berbicara dengan mekanik, Naya tahu ia harus menunggu cukup lama jika ingin mobilnya selesai.
Ia menimbang sebentar, lalu akhirnya memutuskan naik ojek online menuju kafe tempat mereka janjian. Kalau dipaksakan menunggu sampai mobilnya selesai, itu akan membuat Adrian menunggu lama nanti.
Setelah Naya tiba, Adrian sudah lebih dulu sampai. Ia memilih duduk di dekat jendela, menghadap ke taman kota yang hari itu tampak ramai. Terlihat anak-anak berlarian, balon warna-warni menggantung di udara, dan suara tawa mereka terdengar sampai ke dalam kafe.
“Maaf aku telat,” ujar Naya sambil mendekat. “Ban mobilku bocor, jadi harus ke bengkel dulu.”
Adrian langsung berdiri. “Nggak apa-apa. Aku malah khawatir. Kenapa nggak telepon aku aja? Aku bisa jemput.”
Naya tersenyum kecil sambil menggeleng. “Aku nggak kepikiran, karena terlalu semangat mikirin kuenya.” Ia melirik kotak kue di meja, sengaja mengalihkan topik.
Adrian tertawa ringan. “Berarti kuenya sukses bikin kamu penasaran.” Naya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Ia menarik kursi untuk Naya, lalu mendorong kotak kue itu ke arahnya. “Ini buat kamu.”
Naya membuka kotaknya perlahan. Matanya langsung berbinar, melihat lima potong cake berbentuk segitiga, masing-masing varian tampak rapi dan cantik. Ada Classic Cheesecake lembut dengan lapisan tipis di atasnya, Dark Chocolate Cake yang terlihat padat dan menggiurkan, Fresh Berry Cake dengan warna segar, Vanilla Butter Cake yang sederhana tapi elegan, dan Mint Choco Cake dengan hiasan kecil di atasnya.
“Kamu buat sebanyak ini? Aku pikir kamu bakalan buat satu cake aja.” tanya Naya, hampir tidak percaya.
“Iya. Aku malah senang kalau bisa bikin lebih banyak dari itu.”
“Cantik-cantik banget,” ujar Naya jujur. “Pasti orang-orang nggak akan nyangka kalau ini buatan kamu sendiri. Makasih ya, Adrian.”
"Sama-sama," ucap Adrian sambil tersenyum melihat reaksi Naya.
Naya mencicipi Mint Choco Cake dan terdiam sejenak. “Ini enak… biasanya aku nggak suka mint choco. Rasanya aneh kaya pasta gigi, tapi ini... beda.”
Adrian tersenyum puas. “Berarti aku berhasil.”
Mereka makan siang bersama, Naya dengan cakenya, sedangkan Adrian memesan Grilled Chicken Rice bowl. Mereka berbincang ringan tanpa tekanan. Berbeda dari kebingungan yang belakangan sering ia rasakan.
"Kamu Pastry Chef, ya Adrian?" Tanya Naya.
Adrian tertawa sedikit mendengar dugaan Naya, “Aku pengusaha, sih. Kebetulan usahaku memang di dunia pastry, tapi aku bukan Pastry Chef,” jelasnya.
"Mungkin ini bisa dibilang bakat turunan dari Ibu aku. Soalnya Ibu aku yang Pastry Chef." Adrian meletakkan sendoknya di atas piring.
"Siapa namanya?" Tanya Naya dengan antusias.
"Memang sih aku nggak begitu kenal banyak sama Pastry Chef, tapi siapa tau kalo kamu sebut namanya aku bisa ingat," sambung Naya.
"Kirana Amara Mahendra, itu nama ibuku." Sekarang mata Adrian hanya tertuju pada Naya, karena ingin melihat bagaimana reaksinya.
Naya terlihat berpikir sambil memiringkan kepalanya dengan jari telunjuknya yang ia ketuk-ketuk di dagu. Melihatnya yang seperti itu membuat Adrian tersenyum gemas.
"Aku pernah dengar nama itu, Adrian," ujar Naya setelah berhasil mengingat.
"Dulu pas aku cari di berita 'Siapa saja Pastry Chef terbaik', muncul nama Kirana Amara Mahendra. Dia Pastry Chef terkenal waktu itu, tapi aku pernah baca juga berita yang bilang Chef Kirana menghilang begitu aja dari publik. Karena biasanya Chef Kirana ini sering muncul di berita tentang ciptaan kue-kue terbarunya yang cantik dan lezat," sambung Naya.
"Kalo memang Chef Kirana ibu kamu, kenapa ibu kamu nggak muncul lagi di publik?" Pertanyaan tersebut membuat Adrian terdiam.
Naya yang melihat Adrian terdiam langsung sadar dan segera meminta maaf kepadanya atas pertanyaan yang terlalu personal, tetapi ia terkejut karena Adrian mulai menceritakannya.
"Ibu meninggalkan dunia itu demi keluarganya," ujar Adrian pelan. "Sekarang ibu udah meninggal dunia."
"Aku benar-benar minta maaf Adrian... Aku sama sekali nggak tau." Naya benar-benar menyesal dengan pertanyaannya.
"Aku turut berbelasungkawa atas meninggalnya ibu kamu Adrian. Semoga ibu kamu bahagia selalu di sana."
"Makasih doanya, Naya..."
“Kalo kamu mau, kapan-kapan aku bisa ajarin kamu cara bikin cake,” ujar Adrian santai untuk mengalihkan suasana.
Naya yang mengerti pun langsung ikut menimpali, “Aku mau banget!”
"Oke, nanti kita atur jadwalnya," ujar Adrian yang setelahnya mereka sama-sama tertawa.
Lalu saat selesai makan, Adrian mengajaknya berkeliling sebentar. Naya yang memilih tempatnya. Ia membawa Adrian ke sebuah toko buku kecil dekat galeri seni yang jaraknya tidak terlalu jauh dari taman kota.
Naya memilih toko buku kecil ini karena tempatnya yang tenang, tidak terlalu ramai. Mereka berjalan bersebelahan, membaca judul-judul buku, sesekali berhenti di satu rak yang menarik dan membaca buku-bukunya.
Dari sebrang jalan, Evan tanpa sengaja melihat mereka dari balik jendela toko buku. Senyum Naya yang terlihat hangat dan lepas disamping pria lain membuat perasaannya tidak nyaman.
Tidak mau berlama-lama, ia memilih pergi sebelum keinginannya menghampiri Naya semakin kuat.
Akhirnya hari ini berakhir dengan Naya diantar pulang oleh Adrian, karena langit sudah mulai gelap. Mereka berpisah dengan senyum sederhana. Tidak ada janji berlebihan, tidak ada juga perasaan yang didefinisikan.
Malamnya, Naya duduk di meja makan, membuka kembali kotak kue itu. Ia memotret empat potong cake yang tersisa, lalu mengirimkannya ke Janelle dan setelahnya ponselnya berdering .
“NAYA!” teriakan antusias Janelle menyambutnya. “Itu cake banyak banget, dari siapa? Apa itu kamu yang buat? Tapi kan kamu nggak bisa bikin cake, apa kamu beli? Kok belinya banyak banget, buat stok sebulan kah? Bay the way itu cake Dark Chocolate favoritku, buat aku, kan?!”
Naya sebenarnya sedikit pusing mendengar pertanyaan beruntun dari Janelle. “Tenang, Nel... Aku jawab satu-satu dulu, ya."
"Ini cake bukan aku yang beli dan jelas bukan aku yang buat, tapi ini dikasih sama teman aku, Adrian." Naya kembali menutup kotak cakenya dan menempatkannya di dalam kulkas.
"Kamu ingat kan, waktu itu aku pernah cerita kalo aku telat ke kantor gara-gara nolongin orang di toko roti, bahkan aku sampai nggak jadi beli roti buat sarapan."
Janelle menganggukkan kepalanya, lalu sadar kalau tindakannya itu tidak dapat dilihat oleh Naya, jadi dia berkata, "Iya ingat."
"Itu cake Adrian yang buat, katanya sebagai tanda terima kasih karena udah nolongin dia, sama permintaan maaf karena gara-gara dia kemarin aku nggak jadi beli roti buat sarapan." Naya berjalan menuju ke kamarnya.
"Baik banget dia sampai bikin 4 cake buat kamu," ujar Janelle dari sebrang ponsel.
"Bukan 4, Nel, tapi 5," sekarang Naya duduk di atas kasurnya sambil memeluk bantal.
"Dia Chef, kah, sampai buat sebanyak itu?"
"Bukan, dia cuma pengusaha," jawab Naya seadanya saja.
"Wow, keren... Tapi, Na... Itu Dark Chocolate Cake nya untuk aku, ya, ya, ya?" Janelle berkata dengan nada mendayu, berusaha membujuk Naya untuk memberikan cake tersebut.
"Iya, iya, itu aku kasih buat kamu. Besok aku bawa ke kantor, sekalian aku kasih juga yang Berry buat Jared.” Naya matikan sambungan telponnya setelah Janelle mengucapkan terima kasih dan selamat malam.
Keesokan paginya, Naya datang ke kantor lebih awal. Ia meletakkan kotak makan transparan yang isinya cake dan sebuah kotak kecil biru navy berbentuk panjang yang berisi pulpen di atas mejanya. Pulpen itu Naya beli sebagai tanda terima kasihnya kepada Evan. Sederhana, tapi ia memilihnya dengan niat.
Tak lama kemudian, Evan keluar dari lift bersama Jared. Buru-buru Naya berdiri dan menyapa mereka berdua.
“Pagi, Pak Evan, Pak Jared,” Naya sedikit membungkukkan badannya.
"Pagi," sapa Evan dingin, sementara Jared menyapa balik Naya dengan riang.
Naya tidak terlalu memperdulikan nada dingin dari Evan. Karena sekarang ia langsung mengambil kotak makan berisi cake dan juga kotak kecil berisi pulpen, lalu menyerahkannya ke Evan. “Ini… buat Pak Evan. Terima kasih karena waktu itu sudah nolongin saya di lift.”
Jared melirik cepat, lalu tersenyum lebar. “Ekhm. Kayaknya aku ganggu deh, Kita bahas nanti lagi ya, Evan.” Jared pergi sambil melempar tatapan menggoda ke arah Naya yang dibalas balik dengan tatapan tajam.
Evan menerima pemberian itu tanpa banyak ekspresi. “Terima kasih.”
Naya menetralkan kembali ekspresinya, lalu mengangguk canggung. “Sama-sama, Pak."
"Yasudah kalau begitu kamu kembali bekerja." Evan masuk ke dalam ruangan. Ia menatap kotak kecil tersebut, ia tatap kotak itu lama. Lebih lama daripada cakenya dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, ia tersenyum kecil.
Evan membuka kotak kecilnya dan menemukan pulpen bewarna navy sebagai hadiahnya dan secarik kertas kecil di dalamnya. Tulisan tangan Naya yang sederhana, cukup untuk membuat Evan sadar bahwa ia tidak bisa terus diam.
Sementara itu Naya menatap pintu ruangan Evan sedikit lebih lama.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati.
“Kenapa… aku berharap dia bereaksi lebih?"