Ketika Fokus Evan Mulai Terganggu

1348 Words
Pagi itu, Evan menyadari ada satu hal yang mengganggunya sejak ia melangkah masuk ke kantor yang membuatnya jadi sulit fokus. Bukan karena laporan keuangan yang menumpuk, bukan karena jadwal meeting yang padat, bukan juga karena target kuartal yang menuntut presisi. Melainkan karena satu sosok yang duduk rapih di balik meja, yaitu Asistennya Naya. Naya sedang menatap layar laptop dengan serius, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh di sisi wajahnya yang tampak terlihat sedikit lelah, tapi tetap tenang. Terlalu tenang, bahkan menurutnya. Evan melirik sekilas, lalu kembali menatap dokumen di tangannya. Namun, kalimat yang ada di dokumen itu sama sekali tidak bisa ia mengerti, sampai ia baca tiga kali pun tetap tidak masuk. Ia menghela napas pelan. “Fokus,” gumamnya pada diri sendiri. Beberapa menit kemudian, ketika ia masih berusaha untuk fokus, tiba-tiba saja Naya sudah berdiri dihadapannya dengan membawa map bewarna biru. “Pak Evan, ini revisi laporan vendor yang kemarin Bapak minta. Sudah saya sesuaikan dengan catatan Bapak.” Naya menyerahkan map bewarna biru tersebut. Nada suaranya yang profesional, netral, tidak ada senyum berlebihan, tidak ada juga nada manja. Entah kenapa justru itu yang membuat Evan terganggu. Ia menerima map itu, membukanya sekilas. Isi dokumennya terlihat rapi, teliti, dan juga tepat. “Kamu lembur semalam?” tanyanya tiba-tiba. Naya terdiam sepersekian detik sebelum menjawab, “Sedikit, Pak, tidak sampai terlalu malam.” Evan mengangkat wajahnya. Menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. “Tapi kamu terlihat lelah.” Naya refleks tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Pak Evan. Masih bisa ditangani.” Ada sesuatu dalam senyuman itu, ringan dan tenang. Bukan senyum yang biasanya di tunjukkan padanya. Evan merasakan perasaannya mengencang tipis. "Kalau begitu, setelah jam makan siang, kamu boleh istirahat sebentar,” ucapnya akhirnya. Naya sedikit terkejut. “Tidak perlu, Pak. Jadwal saya masih—” “Itu bukan permintaan, Naya” potong Evan cepat. Naya kembali merasakannya, suara datar Evan, dengan nada yang terlalu protektif. Naya mengangguk pelan. “Baik, Pak Evan.” Saat Naya kembali ke mejanya, Evan menatap punggungnya dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia menyadari satu hal yang lebih mengganggu daripada kurang fokusnya. Yaitu ia terlalu perduli. Karena sepanjang hari, pola itu kembali berulang. Ketika Naya sibuk mengetik, Evan memperhatikan dari balik layar laptopnya. Ketika Naya menguap pelan sambil meneguk kopi, Evan ingin menyuruhnya pulang. Ketika Naya tertawa kecil menanggapi candaan Jared di pantry, Evan menegang dan ketika Naya kembali tenang, profesional, tidak menatapnya sama sekali, Evan jadi merasa resah. Seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah ia miliki. “Aneh,” gumamnya lagi. Ia menutup laptop lebih keras dari seharusnya. --- Di sisi lain, Naya juga merasakan kejanggalan itu. Sikap Evan hari ini sangat membingungkan. Naya lupa kapan awal semua ini bisa terjadi. Intinya belakangan ini Evan seperti sedang bermain tarik ulur dengannya dan karena ulahnya itu membuat Naya jadi kesal. Pagi perhatian, siang dingin, beberapa jam kemudian protektif lagi, lalu kembali menjaga jarak seolah tak terjadi apa-apa. Naya duduk di mejanya, menatap layar kosong. “Kenapa sih Pak Evan?” batinnya. Ia bukan tidak peka. Justru ia sangat merasakan tatapan itu, nada suara itu dan cara Evan yang memperhatikannya lebih lama dari biasanya. Namun, setiap kali Naya mulai berpikir lebih jauh, Evan selalu menarik diri. Membuatnya merasa bodoh karena sempat berharap. “Sudahlah,” bisiknya pelan. “Jangan GR.” --- Janelle bersandar di sisi meja Naya saat jam istirahat. Memperhatikan Naya yang masih berkutat dengan pekerjaannya. “Kamu sadar nggak sih,” ucapnya pelan, “Pak Evan hari ini aneh banget.” Naya meneguk air minumnya. “Semua orang juga bilang gitu tiap hari.” “Bukan, ini beda.” Janelle menyipitkan mata. “Dia kelihatan terganggu setiap kamu senyum dan cemburu pas kamu ngobrol sama orang lain.” "Ini semua berawal dari Pak Evan yang lihat kamu senyum-senyum sambil main ponsel kemarin," sambung Janelle. Naya hampir tersedak dan menghentikan jarinya yang sedang mengetik. “Janelle!” “Apa? Aku jujur, Na," ujar Janelle santai. “Itu cuma perasaan kamu aja,” bantah Naya cepat dan kembali lanjut mengetik. “Pak Evan itu cuma bos yang… mood-nya nggak stabil.” Janelle terkekeh. “Kalau gitu, kenapa dia nggak terganggu sama orang lain?” Naya terdiam karena ia sama sekali tidak memiliki jawaban dari pertanyaan tersebut. Melihat sahabatnya terdiam membuat Janelle bosan, lumayan capek dirinya menyadarkan sahabatnya ini bahwa CEO WTCG itu sebenarnya suka sama dia. "Aku mau ke pantry kantor aja, deh, mau bikin kopi." Janelle berdiri dari duduknya. "Kamu mau ikut nggak, Na?" tanya Janelle sebelum pergi. "Nggak dulu deh, aku masih mau ngerjain ini, tanggung sedikit lagi," tolak Naya yang matanya fokus menatap layar komputernya. "Kan bisa dikerjain lagi nanti, Na. Sekarang waktunya istirahat... Kalau kamu kerjainnya sekarang terus jam istirahat selesai, kapan kamu istirahatnya, Na?" "Tanggung, Nel..." Janelle hanya bisa menghembuskan napasnya berat. "Aku yakin sih kalau Pak Evan lihat kamu masih ngerjain tugas kantor di jam istirahat, pasti dia bakalan narik kamu ke kantin," ujar Janelle. "Iya, iya, deh... Nanti aku nyusul," ujar Naya pada akhirnya. Malas ia harus ke kantin berdua sama CEO nya itu. Apalagi di saat sikapnya yang lagi aneh begini. Janelle tersenyum puas, ternyata rencananya menakuti Naya akhirnya berhasil, "Oke, aku duluan, ya... Aku tunggu lho!" Setelahnya Janelle pergi ke pantry. Sementara itu, di pantry, Jared memperhatikan Janelle yang berjalan mendekat kearahnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan untuk menyapa. Ia pun membalasnya. Ia melihat cara Janelle tersenyum, melambaikan tangannya sambil berjalan dengan ringan membuat hatinya menghangat. Ketika Janelle sudah berdiri di dekatnya ia menyerahkan kopi yang baru saja ia buat. “Kopi tanpa gula,” katanya ringan. Janelle menoleh. “Kamu hafal?” “Pelan-pelan,” jawab Jared sambil tersenyum. “Aku lagi belajar.” Janelle terdiam, lalu tersenyum tipis. Melihat hal tersebut membuat Jared tahu kalau ia berada di jalur yang benar. Melihat interaksi Jared dan Janelle sangat berbeda sekali dengan interaksi CEO dan Asistennya ini. --- Sore hari, Evan menatap jam di pergelangan tangannya. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 17.45. Ia berdiri, keluar dari ruangannya ketika melihat Naya yang masih berkutat di meja kerjanya. “Naya,” panggilnya. Naya menoleh cepat. “Iya, Pak Evan? Ada yang bisa saya bantu?” Evan menggeleng pelan, “Kamu bisa pulang, sekarang sudah waktunya pulang.” Nada Evan datar, sama sekali tidak hangat, tetapi tidak dingin. “Tap—” "Tidak ada lembur untuk hari ini, Naya," ucap Evan yang sama sekali tidak ingin dibantah. Membuat Naya menurut pada akhirnya. Tetapi saat ia mengambil tasnya, Evan kembali bicara. “…Hati-hati di jalan.” Naya berhenti sejenak, menoleh untuk melihat Evan. “Iya, Pak.” Namun, untuk sesaat, hanya sesaat mata mereka bertemu, tetapi Naya dapat melihat ada sesuatu di mata Evan yang tidak bisa diucapkan dan tidak diakui. --- Malam itu, Naya duduk di kamarnya, memainkan ponselnya. Rasanya sudah lama ia tidak membuka sosial media, padahal baru seharian. Tiba-tiba saja notifikasi masuk dari Adrian yang membuat berita-berita di sosial media teralihkan. "Besok aku mau ketemu sama kamu, Naya. Aku ingin kasih kue itu langsung." Naya terdiam, ia membaca ulang pesan itu dua kali. Lalu mengetik perlahan. "Besok Minggu?" Tidak lama kemudian Adrian membalas pesannya. "Iya. Kalau kamu nggak keberatan." Naya tersenyum kecil. Ada rasa hangat dan aman. Tidak membingungkan seperti Evan. Buru-buru Naya membalasnya. "Aku sama sekali nggak keberatan, kok." ----- Sementara itu, tanpa ia sadari diwaktu yang sama. Evan berdiri di depan jendela rumahnya, sambil matanya menatap halaman rumah. Entah mengapa pikirannya tidak berhenti memutar satu nama. Naya. Melihat Naya kemarin tersenyum ketika memainkan ponselnya dan tersenyum saat berbicara dengan Jared sudah membuatnya cukup sadar bahwa dirinya memiliki perasaan lebih kepada asistennya tersebut. Walau sebenarnya ia sudah menyadari hal ini saat kejadian di lift. “Bagaimana cara memulainya?” gumamnya lirih. Sebenarnya Evan bingung harus bagaimana, ia ingin jujur dengan Naya dan juga dengan dirinya sendiri, tetapi ia takut untuk memulainya. Takut jika nantinya langkah yang ia ambil ini salah. --- Pesan Adrian kembali masuk. "Besok aku jemput, ya." Naya menatap layar itu lama dan entah kenapa disaat ia tidak sabar menantikan hari esok justru ia juga merasakan kekhawatiran. Ia merasa sesuatu akan terjadi besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD