Naya Mulai Stabil, Evan Semakin Protektif

1723 Words
Pagi itu kantor terasa lebih hidup daripada biasanya. Suasana yang sempat tegang selama beberapa hari terakhir akhirnya mereda, membuat setiap sudut lantai kantor kembali terdengar riuh dengan suara keyboard, dering telepon, dan obrolan ringan para karyawan. Rasanya seperti napas baru bagi seluruh divisi. Naya berdiri di depan gedung WCTG sambil menarik napas panjang. Ini hari keduanya kembali bekerja setelah insiden lift. Wajahnya tampak lebih tenang, meski sesekali ia meremas jarinya sendiri, kebiasaan lamanya saat gugup. “Na, kamu yakin?” Janelle menepuk bahunya. Naya mengangguk. “Iya, kemarin aja aku bisa ngejalaninnya, masa hari ini nggak bisa.” “Kalau kamu tiba-tiba takut, tinggal pegang tangan aku, ya,” gumam Janelle sambil menyeringai. “Kamu kira aku anak TK?” Naya mencubit lengan Janelle pelan. "Iya kadang-kadang,” balas Janelle. Tepat saat itu Jared datang menghampiri dengan coffee cup di tangan. “Pagi, kalian! Nih, Na. Aku bawain latte buat kamu. Katanya kamu cuma bisa minum kopi kalau manis banget.” Naya terkejut. “Kamu tau darimana, Jared?” “Dari Janelle,” Jared tersenyum kecil sambil menyerahkan kopi itu. Naya tersenyum lembut kepada Janelle dan Janelle membalasnya dengan senyuman yang lembut juga. Sudah dua tahun tidak ketemu, ternyata sahabatnya itu masih mengingat minuman favoritnya. Janelle di sampingnya langsung melotot. “Aku? Mana kopiku? Kamu nggak inget favorit aku?” Jared mengangkat alis. “Kebab extra keju bukan minuman, Nel.” Janelle memasang ekspresi sedih, “AH! Padahal aku berharap—” “Next time aku bawain,” bisik Jared pelan. Janelle langsung berhenti bicara dan pura-pura sibuk merapikan rambut padahal kupingnya panas. Sementara Naya menahan senyum, lalu mereka bertiga berjalan masuk ke gedung. — Saat mereka bertiga masuk ke dalam lift, Naya diam sejenak. Napasnya menahan. Dadanya terasa sedikit menegang. Walaupun lampu terang dan lift penuh orang, memori gelap itu tetap menghantuinya. Janelle refleks menggenggam tangannya. “Kamu nggak apa-apa?” Naya mengangguk. “Iya… cuma tadi tiba-tiba keinget.” Jared menoleh, memperhatikan dengan tatapan khawatir. “Kalau kamu mau naik tangga—” “Jangan. Kita lagi di lantai dua puluh, kalau naik tangga pasti bakalan capek banget. Jadi, terima kasih, aku harus coba hadapi ini.” Lift naik pelan. Naya memejamkan mata, menarik napas, lalu membukanya kembali. Jari Janelle masih menggenggamnya erat, memberi kekuatan kecil namun sangat berarti. Ketika pintu lift terbuka di lantai dua puluh, Naya menghela napas lega. “Good job,” ucap Jared sambil tersenyum tipis. Naya balas tersenyum kecil, tapi tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan dari kejauhan, yaitu Evan. Ia berdiri di depan ruangannya, seolah kebetulan muncul di saat yang tepat. Tetapi matanya telah memperhatikan sejak pintu lift terbuka, dari cara Naya menggenggam tangan Janelle dengan wajahnya yang sedikit pucat, dan cara Jared menepuk bahunya. Ada sesuatu yang mengganggu di hati Evan. Perasaan yang tidak ia sadari muncul sampai hari ini. “Naya,” panggil Evan akhirnya. Naya langsung menoleh. “Pagi, Pak Evan.” Jared memberi kode bahwa ia akan pergi dulu. Tapi saat ia hendak berjalan, Evan menatap cepat dan dingin ke arahnya. “Jared, aku ada perlu sama kamu nanti,” ucapnya singkat dan langsung masuk kembali ke ruangan. Nada suaranya datar, tapi cukup untuk membuat Jared mengerjap bingung. “Iya, Van.” Janelle yang melihat semuanya langsung memiringkan kepala. “Eh? Kok vibes-nya aneh, ya... Udah mana nama kamu doang, Na, yang disebut. Kita berdua ini nggak kelihatan, kah?” Naya menepuk bahunya. “Udah, kerja dulu.” Naya masuk ke ruangannya dan mulai bekerja. Ia baru menyalakan laptop saat ada ketukan lembut di pintu. TOK-TOK. Evan masuk. “Bagaimana kondisi kamu?” tanyanya tanpa basa-basi. Naya terkejut, karena baru saja kemarin Evan menanyakan hal itu dan sekarang dia bertanya lagi. “Saya… baik, Pak. Sudah jauh lebih tenang.” “Benar?” Naya bertanya-tanya, kenapa pertanyaan sederhana dari Evan terdengar seperti pemeriksaan kesehatan langsung dari dokter pribadi. Ia mengangguk. “Benar, Pak.” Evan menatapnya sejenak, lalu tanpa sadar nada bicaranya melembut. “Kalau kamu merasa sesak atau takut naik lift, jangan paksain diri. Telepon saya, biar saya temanin.” Naya membelalakkan mata. “Lho—nggak usah serumit itu juga, Pak…” “Saya tidak ingin kejadian itu terulang,” jawab Evan pelan. Membuat jeda diantara mereka, sehingga membuat suasana menjadi sunyi, aneh, dan entah mengapa rasanya jadi terlalu dekat. Naya membersihkan tenggorokannya, mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ekhm, oh iya, Pak. Sekedar mengingatkan, nanti siang Pak Evan ada jadwal meeting dengan perusahaan Adiwijaya Group.” Evan langsung kembali ke mode CEO. “Saya tahu. Pastikan saja tidak ada yang terlewat.” “Baik, Pa—” “Dan…,” Evan bersandar ringan di meja. “Saya minta kamu pulang jangan terlalu malam.” “Hah? Kenapa, Pak?” tanya Naya terkejut. Evan terdiam sejenak. Alasan profesionalnya ingin keluar, tapi jawaban yang keluar justru jawaban jujur. “Karena saya tidak tenang kalau kamu pulang sendirian.” Naya bengong mendengarnya. Sementara Evan hanya sadar setelah tiga detik bahwa kalimat tadi terlalu jujur. Ia buru-buru merapikan raut wajahnya. “Maksud saya… masih ada risiko setelah kejadian Raka. Jadi pulanglah bareng Janelle atau Jared.” “Oh…” Naya cuma bisa mengangguk dan tiba-tiba pipinya terasa sedikit hangat. Evan mengangguk singkat, lalu pergi seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal baru saja dia menjatuhkan bom kecil. — Janelle langsung datang ke ruangan Naya sepuluh menit kemudian, dengan wajah penuh gosip. “NA. AKU LIAT. Tadi pas kita baru sampai, Pak Evan tuh ternyata udah berdiri di depan ruangannya.” “Apa?” Naya memijat pelipisnya, kalau sudah begini, ia tau apa yang akan Janelle bahas. “Pak Evan, lho... tadi dia berdiri kaku kayak robot yang baterainya mau habis saat kamu ngobrol sama Jared.” Janelle menceritakan apa yang ia lihat dengan antusias. Benar, kan, dugaannya. “Nel… jangan mulai.” “Terus tadi habis dari ruangan kamu, wajahnya… merah dikit?” Janelle berkata dengan nada sedikit menggoda. “Nel...” Naya berusaha memperingati sahabatnya itu. “Terus kamu juga… merah dikit, kan?” Naya menghembuskan napasnya, “Nel, stop.” Janelle mendesah dramatis. “Na... Aku yakin. Kalau Pak Evan tuh suka sama kamu.” “Apaan sih kamu?” Naya langsung menarik kursi mundur. “Nggak ada hubungannya tau!” “Ada banget!” Janelle menunjuk pintu Evan dari kejauhan. “PRIA itu… cemburu.” Naya langsung memalingkan wajah. “Dia cuma CEO yang peduli sama asistennya. Udah cukup nggak lebih dari itu.” “Na, CEO yang ‘peduli’ itu paling banter ngasih vitamin sama cuti. BUKAN ngasih tatapan laser ke Jared begitu.” Naya tersedak udara. “Apa—” “Jared juga sadar, tau. Dia tadi sempat bilang vibes Pak Evan ke dia beda banget kalau kamu ada di dekatnya.” Naya terdiam, entah mengapa wajahnya memanas, dan pikirannya mendadak kacau. “Pokoknya jangan pura-pura nggak tau, deh...” gumam Janelle sambil mencium aroma kue Donat Naya. “Ini, makan dulu. Kamu soalnya keliatan kayak ponsel yang disilent tapi berkedip-kedip.” “Nel…” Akhirnya suara merajuk Naya terdengar juga ditelinga Janelle, membuatnya tertawa kecil. "Iya, nggak... Ini dimakan dulu Donatnya, aku tau kamu belum sarapan kan, Na? Janelle menyerahkan sekotak Donat yang isi enam kepada Naya. Naya menganggukkan kepalanya dan mengambil Donat pemberian dari Janelle. Sambil memakan Donat, Naya masih memikirkan perkataan-perkataan Janelle barusan. Kenapa setelah ia mendengar itu semua tiba-tiba saja perasaannya jadi gugup dan juga ada rasa aneh yang ia sendiri nggak bisa jelaskan. — Sore itu kerjaan berjalan seperti biasa. Tapi setiap kali Naya melihat Evan, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Evan terlihat lebih sering berdiri di pintu ruangannya, seolah mengecek kondisi Naya. Kalau Naya tidak salah, Evan mengeceknya setiap lima belas menit? Naya jadi mulai curiga atau justru dirinya yang sedang berhalusinasi? Saat Naya berdiri untuk mengambil berkas, Evan muncul tiba-tiba. “Perlu bantuan?” Naya hampir menjatuhkan map yang ia bawa. “Hah? Nggak, Pak. Saya bisa sendiri kok…” Evan mengangguk tapi langkahnya tak bergeser. Seolah memastikan Naya benar-benar baik. Tarik ulur tipis-tipis Evan mulai terasa dan Naya bingung setengah mati. — Menjelang malam, Jared dan Janelle muncul dengan senyum misterius di depan pintu ruangan kantor Naya. “Naya, pulang bareng kita ya,” ucap Jared yang sedang setengah duduk di penyangga tangan sofa. “Iya, biar aman,” tambah Janelle yang duduk di sofa tepat bersebelahan dengan Jared. “Tapi aku masih—” “Evan yang suruh,” ujar Jared. Naya langsung menegang. “Hah?” Jared mengangguk. “Dia bilang kamu nggak boleh pulang sendiri.” "Atau nanti malah nyawa kita berdua yang bakal terancam." Jared menunjuk dirinya dan Janelle, baru setelahnya ia pergi menuju lift. Janelle menambahkan sambil berbisik, “Liat kan? Protektifnya tuh bukan main.” Mereka bertiga pun berjalan ke arah lift. Saat pintu lift terbuka, Naya menelan ludah. Memang agak susah untuk membiasakan naik lift kembali. Padahal Naya tidak takut naik lift sebelumnya, tapi sejak kejadian kemarin, list tempat yang ia takuti jadi bertambah. Janelle menggenggam tangannya lagi. “Sini, pelan-pelan.” Jared berdiri di belakang mereka, memastikan Naya tidak merasa tertekan. Lift turun dengan lembut. Tidak ada kejadian apa pun, tapi begitu mereka keluar di lobi, terlihat seseorang sedang berdiri tak jauh. Orang tersebut adalah Evan. Dia bersandar di pilar marmer, tangan di saku, tapi tatapannya langsung fokus ke satu orang, yaitu Naya. Ia menghampiri mereka pelan. “Kalian pulang bertiga, kan?” “Iya, Van,” jawab Jared. "Atau kamu mau anterin Naya sendiri?" Evan tau kalau Jared sedang menggodanya. Sebenarnya mau-mau saja Evan anterin Naya pulang, tapi itu terlalu terlihat jelas kalau dirinya sangat protektif kepada Naya. Padahal sikapnya sedari tadi juga sudah kelihatan banget protektif nya ke Naya. “Aku masih ada urusan.” Evan menggeleng, lalu menatap Naya agak lama. “Hati-hati di jalan.” Nada suaranya seketika melembut, bahkan terlalu lembut untuk seorang CEO. Terlalu personal. Naya tidak sanggup menatap balik lama-lama. “Iya, Pak…” Evan menahan bibirnya yang nyaris tersenyum saat melihat tingkah Naya. Tarik-ulur halus itu dimulai lagi. Dan Naya? Ia bahkan tidak tahu kenapa detak jantungnya berubah cepat. Setelahnya Jared pergi ke parkiran mobil, membawa mobilnya menuju ke lobi. Saat mobil Jared sudah tiba di lobi, Naya masuk ke mobil bersama Janelle. Sedangkan Evan berdiri di depan gedung, memperhatikan mereka pergi. “Mulai sekarang... Aku harus menjaganya,” gumamnya pelan. Evan berkata seperti itu tanpa sadar kalau dirinya sedang jatuh. Jatuh perlahan, tapi pasti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD