Pagi itu kantor kembali terasa lengkap. Setelah beberapa hari terpecah karena masalah Raka, akhirnya Naya, Janelle, dan Jared kembali bekerja seperti biasa. Mendengar sapaan karyawan, dan aroma kopi yang baru diseduh di pantry, entah kenapa jadi suasana kantor yang paling mereka rindukan.
Naya masuk dengan langkah pelan namun mantap. Meski masih ada sisa tegang di wajahnya, ia terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Di belakangnya, Janelle berjalan sambil merapikan tas, sedangkan Jared seperti biasa menyusul sambil menguap kecil.
“Pagi semuanya,” sapa Jared kepada beberapa karyawan yang kebetulan lewat dihadapannya.
“Kalian akhirnya kembali juga,” celetuk Jesslyn dari meja resepsionis. “Kantor jadi kerasa sepi banget tanpa kalian.”
Janelle tertawa kecil. “Kita cuma pergi beberapa hari, Jess.”
“Ya tetep aja!” Jesslyn mencibir manja.
"Yasudah, kita mau ke ruangan kita dulu, bye Jess," pamit Janelle.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam lift. Jujur Naya masih agak trauma naik lift, tapi ruangannya berada di lantai 20, jadi ia harus mulai memberanikan diri lagi untuk naik lift.
Naya dan Jared berpisah dengan Janelle saat lift berhenti di lantai 19. Sedangkan Jared ikut bersama Naya ke lantai 20 karena dia ingin bertemu dengan Evan.
Saat keluar dari dalam lift, Naya dan Jared tidak sadar bahwa Evan berdiri di depan pintu ruangannya. Ia baru saja menyambut Rendi, staf bagian legal untuk mengajaknya masuk membicarakan masalah pekerjaan. Saat matanya menangkap sosok Naya, tubuhnya seperti otomatis berhenti bergerak.
Rasanya aneh, padahal baru dua hari ia tidak bertemu dengan Naya, tapi entah kenapa rasanya seperti sudah lama tidak bertemu. Melihat Naya kembali ada rasa lega, dan ada rasa senang yang merayap memenuhi hatinya.
Dan… ada rasa lain yang bahkan ia sendiri enggan mengakuinya.
Sementara itu, Jared berjalan di samping Naya sambil bertanya,
“Kamu yakin udah benar-benar siap balik kerja, Nay?”
Naya tersenyum. “Yakin kok. Lagian kan Raka sudah ditangani polisi, jadi aku sudah lebih tenang rasanya.”
Jared mengangguk, ekspresinya lembut seperti biasanya kalau bicara dengan Naya. “Kalau ada apa-apa kabarin aku aja atau nggak Janelle, ya?”
“Siap, Pak Bodyguard,” balas Naya sambil tertawa.
Di kejauhan, Evan memperhatikan percakapan itu dari pintu ruangannya. Matanya menajam sedikit tanpa ia sadari. Ada sesuatu yang menusuk dadanya ketika melihat Jared dan Naya terlalu dekat, dan terlihat terlalu nyaman.
Rendi yang masih ada di depan Evan berdeham saat tau CEO nya ini malah diam berdiri di ambang pintu.
“Kita jadi bahas masalah divisi legal, Pak?” tanyanya.
Evan tersentak kecil. “Ah—iya. Masuk saja.”
Namun pikirannya tetap tertinggal pada satu hal. Kenapa rasanya tidak nyaman melihat Naya sedekat itu dengan Jared?
---
Interogasi Raka — Sore Hari Sebelumnya
Semalam, Evan ikut hadir dalam interogasi terakhir Raka di kantor polisi. Ia meminta izin untuk mendampingi sebagai pihak pelapor.
Di dalam ruang interogasi, Raka duduk dengan tangan terborgol. Wajahnya pucat, pandangannya kosong seperti seseorang yang sudah terdesak habis-habisan.
“Siapa yang nyuruh kamu?” tanya Evan dengan nada datar namun tegas.
Raka tersenyum miring. “Saya cuma menjalankan perintah.”
“Dari siapa?” Evan menatap Raka dengan tajam.
Raka menaruh kedua tangannya yang terborgol di atas meja interogasi. Badannya dia condongkan ke depan, sedikit mengikis jarak antara dirinya dan juga Evan, “Sampai kapanpun saya tidak akan kasih tahu siapa yang menyuruh saya," ujarnya sedikit berbisik.
“Kenapa?” Tatapan mata Evan semakin tajam, ia tidak suka dengan sikap Raka yang seperti bermain-main.
Raka mendengus, "Nggak ada untungnya buat saya kalau saya kasih tau siapa orangnya." Dia kembali menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada kursi.
Jawaban itu membuat Evan geram. Tanpa sadar ia mengepal kedua telapak tangannya kuat-kuat.
“Karena… saya juga mau hidup nyaman. Udah itu aja.” Suaranya lirih, seolah ada ancaman yang jauh lebih besar dari hukuman penjara.
Evan menatapnya lama, mencoba membaca ekspresinya. Ada ketakutan di sana. Ketakutan yang bukan main-main.
“Raka, kalau kamu gak jujur, kamu akan diproses sesuai hukum. Dan kalau orang yang nyuruh kamu itu memang jahat… kamu pikir dia bakal lindungi kamu terus?” Evan berusaha sabar.
Raka bimbang, ia menunduk dengan tangannya yang bergetar.
“Saya… udah selesai, Pak.”
Kalimat itu seperti tanda bahwa mulutnya terkunci rapat. Ia takkan bicara apa pun lagi, meski tekanan datang dari mana saja.
---
Berita mengejutkan datang dari polisi keesokan paginya saat matahari baru naik, setelah semalaman ia mengintrogasi Raka.
Isi beritanya adalah Raka yang ditemukan tewas di dalam selnya. Dugaan awal: bunuh diri.
Segera Evan menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki kematian Raka. Ia yakin Raka tidak mungkin bunuh diri.
Namun, semua bukti yang mereka temukan mengarah bahwa Raka memang bunuh diri. Tidak ada lagi informasi lain tentang siapa yang menyuruh Raka, bahkan riwayat Raka pun terbatas, tidak ada jejak transaksi atau pesan yang jelas. Karena semua bukti berhenti di Raka, maka kasus ditutup sementara.
Evan menerima laporan itu terlebih dahulu. Wajahnya menegang. Meski ia tak suka apa yang Raka lakukan pada Naya, tetap saja kematian itu terasa tidak wajar.
Namun ia memilih untuk tidak memberitahu hal ini kepada Naya ataupun Janelle. Mereka sudah cukup ketakutan.
Untuk sekarang, yang paling penting adalah Naya bisa bekerja tanpa rasa terancam.
---
“Naya,” panggil Evan dari pintu ruangannya setelah ia selesai berbicara dengan Rendi staf bagian Legal.
Naya yang baru saja menyalakan komputer langsung mengangkat wajah. “Iya, Pak?”
“Masuk sebentar."
Jared yang masih berada di sana spontan menoleh dan langsung ikut masuk tapi sebelum berhasil masuk ia langsung ditahan oleh Evan.
“Saya cuman panggil Naya," ujar Evan dingin, membuat Jared mengernyit heran dengan tingkah lakunya dan ia menurut saja.
Tidak biasanya Evan bersikap seperti ini, biasanya dia santai-santai saja jika dirinya ikut masuk atau tiba-tiba masuk disaat Evan sedang membahas pekerjaan dengan karyawan yang lainnya.
Naya juga heran dan sedikit takut melihat sikap dingin Evan kepada Jared.
Setelah masuk, Evan berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Dari sudut tertentu, siluetnya terlihat terlalu tenang, terlalu mengintimidasi, dan entah kenapa sedikit khawatir.
“Duduk,” katanya.
Naya duduk hati-hati. “Ada apa, Pak?”
Evan menatapnya lama sebelum akhirnya bertanya dengan suara rendah, “Kondisi kamu gimana?”
Naya sedikit terkejut. “Saya? Baik, Pak. Sudah jauh lebih tenang.”
“Beneran?” Evan menatap tajam, seperti ingin menggali jauh ke dalam. “Kamu gak lagi maksa diri supaya keliatan baik-baik aja kan?”
Pertanyaan itu menembak tepat ke hati Naya. Membuatnya terdiam.
Evan mendekat, duduk di kursi di depan meja. Suaranya melembut, hanya sedikit namun cukup membuat jantung Naya memanas.
“Naya, kamu nggak harus pura-pura kuat. Kalau kamu masih takut atau butuh waktu, tinggal bilang aja. Nanti saya bisa atur supaya kamu istirahat lebih lama.”
Naya menggeleng pelan. “Terima kasih, Pak. Tapi benaran, saya sudah merasa lebih baik, kok. Lagi saya nggak mau terlalu banyak merepotkan kantor. Cukup kemarin-kemarin aja.”
“Kamu sama sekali nggak merepotkan, Naya” potong Evan cepat.
Suasana mendadak hening. Mata Naya membulat sedikit saat mendengar jawaban tersebut. Sementara Evan yang sadar akan jawabannya langsung mengalihkan pandangan, menyadari ia terdengar terlalu jujur?
“Saya harap kamu tetap merasa aman di sini,” lanjut Evan, suaranya lebih terkontrol. “Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya.”
“Baik, Pak," ujar Naya dengan sopan.
Namun saat Naya hendak berdiri, Evan menambahkan dengan pelan, hampir seperti gumaman, “Dan… jangan terlalu dekat sama Jared.”
Naya berhenti. “Hah? Maksudnya, Pak?”
Evan tersentak kecil. Ia baru sadar kalimat itu lolos begitu saja.
“A—maksud saya… Saya cuma mau kamu fokus kerja.”
“Tadi kedengerannya bukan begitu sih, Pak…” Naya menyipit curiga. Ia yakin kalau itu bukan yang Evan bilang barusan.
Evan langsung menegakkan badan, kaku seperti robot. “Ekhm! Apa maksud kamu?”
“Gak apa-apa kok,” jawab Naya yang tersenyum penuh arti. “Saya ngerti.”
Evan yang biasanya dingin kini malah kehilangan kata-kata.
---
Sementara itu, dari luar ruangan, Jared melirik ke arah pintu dengan wajah sulit dibaca. Janelle yang baru saja tiba langsung menepuk lengannya.
“Lho? Jared? kamu belum balik ke ruangan?”
“Ini mau balik, mau ikut?” ujar Jared tanpa mengalihkan pandangannya dari ruangan Evan.
“Nggak usah, aku mau ketemu sama Naya.” Janelle mengikuti arah pandang Jared. Di sana ada Evan yang lagi berbicara dengan Naya.
“Udah mending ikut aku aja, kita beli kebab extra keju,” ujar Jared sambil membalikkan badan Janelle dan menuntun pergi dari sana.
Janelle langsung merah saat mendengar ajakan Jared. Rupanya laki-laki tersebut tidak lupa dengan makanan kesukaannya.
Telat setelah Jared dan Janelle pergi, Naya keluar dari ruangan Evan. Tatapannya tenang, tapi pipinya sedikit memerah. Pengen coba menyangkal, tapi ia dengar sendiri dari mulut Evan barusan.
Sementara Evan berdiri di balik meja, masih memikirkan kalimat bodoh yang ia ucapkan tadi.
Namun, di belakang semua itu, kematian Raka masih menjadi misteri.