Malam turun perlahan, membawa hawa dingin yang menempel di kulit. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menciptakan pemandangan yang tenang, berbanding terbalik dengan apa yang sedang terjadi di balik layar.
Di rumah sederhana itu, Naya baru selesai mandi. Rambutnya masih basah ketika ia keluar ke ruang tamu, mendapati Janelle duduk gelisah sambil memainkan jemarinya.
“Nel? Kamu kenapa gelisah banget?” tanya Naya sambil mengeringkan rambut.
“Gelisah? Enggak kok! Aku santai, malah super santai, sangat... santai.”
Janelle tersenyum kaku sampai-sampai pipinya gemetar.
Naya menyipitkan mata. “Kamu kebanyakan gula ya?”
Belum sempat Janelle menjawab, tiba-tiba saja ada suara ketukan datang dari pintu.
Tok. Tok. Tok.
Naya dan Janelle saling pandang.
“Ada yang dateng jam segini?” tanya Naya bingung.
Janelle langsung berdiri cepat.
“Biar aku aja, Na, yang buka!”
Jantungnya sempat melompat ketika pintu terbuka, namun ia langsung menghela napas lega, karena ada dua pria tegap bersetelan hitam berdiri di sana.
“Selamat malam. Kami dari tim pengamanan Pak Evan,” ujar salah satu dari mereka. “Malam ini kami ditugaskan untuk menjaga Ibu Naya dan Ibu Janelle untuk sementara waktu.”
Naya membeku. “Hah? Aku? Dijaga? Kenapa? Apa Raka buat masalah lagi?”
Sebelum Naya bertanya lebih jauh, Janelle langsung tertawa canggung sambil mendorong kedua bodyguard masuk.
“Hah! Hahaha! Iyaaa, iyaaa! Ayo masuk! Na, relax ya… Evan kan emang protektif orangnya.”
“Iya aku tau, Nel... Tapi aku rasa Pak Evan ini terlalu berlebihan," ujar Naya yang badanya di dorong menuju ke ruang tamu oleh Janelle.
"Kemarin Jared, sampai akhirnya tadi sore dia pamit pergi ke kantor karena ada tugas yang harus dia handle, terus sekarang malah bodyguard Nel... Aku nggak enak kalo terus diperlakukan kaya gini,” protes Naya, dia membalikkan badan menghadap ke Janelle sambil melipat tangan.
“Tapi… yaa… anggap aja bonus keamanan,” jawab Janelle cepat.
Naya menghela napas panjang, tidak ingin membesarkan masalah karena kepalanya masih sedikit berat. Ia memilih duduk di sofa sambil memonitor bodyguard yang berdiri seperti patung.
Sementara itu, jauh dari rumah, badai lain sedang terbentuk.
---
Lokasi penangkapan Raka berada di sebuah gudang tua di pinggir kota. Keadaan sekitarnya lampu-lampu redup, banyak bagian bangunan yang lapuk, dan suasana yang menegang.
Jared memasang ear-piece sambil menatap layar ponsel yang menampilkan peta lokasi. “Evan, dia tetap di posisi terakhir. Sepertinya dia belum sadar sedang dilacak.”
Saat tau keberadaan Raka, Evan langsung menyuruh seseorang untuk membuntutinya dan meletakkan GPS secara diam-diam di mobil yang Raka gunakan.
Evan mengenakan jaket hitam panjang, ekspresinya setajam pisau. “Bagus. Kita harus tangkap dia sebelum dia kabur, dan sebelum dia sempat menyerang Naya lagi.”
Nada suara Evan mengeras ketika menyebut nama itu. Jared sempat melirik, tahu betul seberapa serius Evan soal keamanan Naya.
Mereka berjalan bersama tim rahasia WCTG, dengan langkah-langkah cepat namun terukur. Terlihat jelas Gudang tersebut semakin dekat.
“Jared,” panggil Evan.
“Ya?”
“Aku kirim bodyguard ke rumah Naya. Pastikan Janelle tetap bisa jaga dia. Kita tidak boleh kembali tanpa membawa Raka.”
“Tenang,” jawab Jared, matanya menajam. “Aku pastikan orang itu tidak bisa menyentuh Naya lagi.”
Hanya dalam beberapa detik setelah itu, mereka tiba di depan pintu samping gudang.
Evan mengangkat tangan sebagai isyarat arahannya. “Tim, bersiap.”
Setelahnya tangan Evan menunjukkan angka tiga, dua, satu—
Pintu pun didobrak.
BRAKK!
Suara itu menggema keras, debu berterbangan ketika para anggota tim masuk dengan formasi.
“Raka Mahendra! Turun tangan dan menyerah!” teriak salah satu dari tim.
Namun yang mereka lihat adalah meja berantakan, lembaran dokumen tiruan, dan suara langkah kaki kabur ke arah pintu belakang.
“Dia kabur!” teriak Jared.
“Kejar!” tambah Evan.
Jared berlari paling depan, tubuhnya melesat cepat melewati rak-rak berkarat. Raka terlihat sedikit di depan, panik sambil membawa tas hitam yang kemungkinan berisi bukti sabotase.
“Berhenti, Raka!” teriak Jared.
Alih-alih berhenti, Raka malah mempercepat larinya, menendang kotak kayu agar menghalangi jalan Jared.
Tapi Jared melompati kotak itu dengan mudah. Detik berikutnya, ia berhasil melompat maju dan meraih kerah Raka.
BRUK!
Mereka berdua jatuh ke lantai yang berdebu.
Raka meronta. “Lepasin! Kalian nggak ngerti! Aku cuma menjalankan perintah!”
“Perintah buat membahayakan nyawa orang lain?” Jared mengencangkan cengkeramannya. “Termasuk Naya dan Evan?!”
Raka terdiam sepersekian detik. Itu cukup untuk membuat amarah Jared meledak. Ia kembali menarik kerah Raka semakin kuat.
“Kamu hampir membunuhnya di lift! Kalau bukan karena keberuntungan—”
“Jared.”
Satu kata dari Evan membuat Jared berhenti.
Evan berjalan menghampiri mereka dengan sorot mata dingin.
“Serahkan dia ke tim internal. Aku akan interogasi dia sendiri.” Jared mendorong Raka kearah salah satu Tim Keamanan dan berhasil ditangkap.
Raka menggigil ketika Evan menatapnya. “A-aku cuma disuruh! Aku nggak bermaksud—”
“Diam,” potong Evan tajam. "Intinya karena kamu, asistenku bisa terancam nyawanya.”
Detik itu juga Evan berbalik dan memberi isyarat kepada tim.
“Bawa.”
Raka diseret keluar gudang, terborgol, sambil berteriak minta ampun.
Jared menghela napas panjang, menendang kotak kayu terdekat untuk melepas sisa amarahnya.
Evan menatap Jared. “Kerja bagus Jared. Kita selamatkan banyak hal malam ini.”
Jared menepuk-nepuk pundak Evan, sambil tersenyum ia berkata, "Intinya sekarang Naya sudah aman."
“Tapi ini mau sampai kapan dirahasiain dari Naya, Van?" tanya Jared.
"Mau gimanapun juga, Naya harus tau kalau Raka sudah berhasil kita tangkap. Biar dia nggak kepikiran terus," sambung Jared.
“Aku bakal kasih tau ke Naya,” Evan memotong lagi. “Tapi nanti setelah aku interogasi Raka.”
---
Baru saja kemarin sama tadi siang Naya merasakan rumahnya yang penuh dengan kehangatan, tapi sekarang malah berubah jadi mencekam.
Naya menatap satu bodyguard yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan sambil memegang walkie-talkie dan satu lagi di luar depan pintu rumahnya, entah apa yang bodyguard itu lakukan di sana, mungkin sama, dia sedang memegang walkie-talkie.
“Nel… mereka dari tadi nggak kedip,” bisik Naya.
“Diam Na, nanti mereka tersinggung,” Janelle membalas sambil mengunyah keripik.
“Kamu dari tadi aku perhatiin makan keripik terus, Nel,” kesal Naya.
“Aku lagi banyak pikiran, Na...”
"Mikirin apa?" tanya Naya penasaran.
"Jared," satu kata yang sukses membuat Naya terkejut.
"Jared??" seketika kesadaran Janelle kembali, ia sangat merutuki dirinya sendiri karena keceplosan.
"A-a-anu... sstttss! udah diem, Na, nggak enak nanti didengar bodyguard." Naya semakin mengerutkan keningnya, ia sama sekali tidak paham dengan tingkah aneh sahabatnya ini.
Tiba-tiba ponsel Janelle bergetar, menunjukkan notifikasi pesan dari Jared.
“Raka sudah ditangkap, Nel. Tolong tetap rahasiain ini dari Naya.”
Janelle menghembuskan napasnya lega setelah membaca pesan dari Jared. Namun, buru-buru ia mematikan layar ponselnya saat tau Naya masih berada di sebelahnya.
Naya langsung curiga. “Itu siapa? Jared? Kok kamu tutup cepat?”
“HAH? Nggak! Itu… eee… notifikasi game! Game masak-masak!”
“Kenapa notif game masak-masak bikin kamu panik?”
“Karena… telurnya gosong. Di gamenya.”
Janelle memaksakan senyum super aneh.
Naya menatap sahabatnya lama… sangat lama… sampai akhirnya menyerah.
“Huft! Aku capek. Aku mau tidur aja. Kalian semua aneh.” Naya berdiri dan pergi ke kamarnya. Maksud dari 'Semua' adalah Janelle dan juga kedua bodyguard di rumahnya.
Begitu pintu kamar tertutup, Janelle langsung menarik napas panjang seperti baru lari marathon.
“Astaga, aku hampir jantungan barusan,” gumam Janelle sambil memegang d**a. “Kalau Naya tahu, aku bisa mati duluan sebelum penjahatnya dapetin hukuman.”
---
Di perjalanan pulang, mobil Evan dan Jared melaju cepat meninggalkan gudang.
Malam terasa lebih dingin, namun tegang sudah mereda. Karena Raka telah ditangkap. Bagaikan ancaman terbesar sudah berada di tangan mereka.
Jared menatap ponselnya, menatap pesan dari Janelle yang hanya berisi...
“Hati-hati ya.”
Tapi mampu membuat ia tersenyum tipis.
Evan melirik Jared yang sedang tersenyum itu. “Apa?”
“Nggak ada,” jawab Jared cepat sambil menyimpan ponselnya dengan baik di saku jas.
Evan hanya mengangkat alisnya sebelah, ada rasa penasaran sedikit tapi ia memilih untuk tidak bertanya lagi.
Hari ini perasaannya cukup lega karena berakhir dengan kemenangan.
Tapi besok?
Tentu tidak ada yang tahu apa yang akan muncul berikutnya.
Yang jelas Naya masih belum tahu bahwa Raka telah ditangkap.
Dan itu membuat semua orang bekerja dua kali lebih keras untuk menjaganya.