Cahaya matahari menembus tirai kamar, membuat Naya mengerjapkan mata perlahan. Kepalanya terasa jauh lebih ringan dibanding semalam, meski memori gelap lift masih menyisakan bayangan samar.
Ia menarik napas panjang. Hari ini ia diizinkan tidak masuk kerja oleh Evan, bahkan Jared dan Janelle juga ikut diliburkan untuk menemaninya, tapi tetap saja ada kegelisahan kecil mengendap di dadanya.
Naya bangkit, merapikan rambut seadanya, lalu berjalan keluar kamar. Langkahnya sengaja dipelankan supaya tidak membangunkan Janelle yang semalam tidur di sofa, tapi ternyata sofa itu kosong.
Saat Naya menoleh ke dapur, ia menemukan Janelle sedang berdiri di sana dengan hoodie kebesaran milik Naya, rambut acak-acakan seperti selesai perang dengan bantal.
Ternyata pagi tadi Janelle sempat kebingungan mau pakai baju apa. Seragam kantor sudah ia pakai seharian dan terasa tidak nyaman. Untungnya, ada pesan dari Naya yang dikirim tengah malam, mengizinkan Janelle meminjam baju atau bahkan tidur di kamar jika sofa tidak nyaman. Tapi karena Janelle sudah pules duluan, jadilah ia hanya meminjam hoodie.
Sementara di meja makan, Jared duduk sambil menatap ponselnya serius. Mungkin urusan internal kantor, pikir Naya. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga dan mendekat.
“Pagi…” sapanya.
Janelle menoleh cepat. “Pagi, Na! Gimana tidurmu? Nyenyak nggak? Ini aku buatin teh manis biar kamu nggak lemes.”
“Rambut kamu, Nel…” Naya menahan tawa sambil memegang perut. “Kayak singa mau konser.”
“Ih!” Janelle refleks merapikan rambut. “Jangan ketawa dong! Namanya juga baru bangun…”
Janelle lalu mendelik tajam ke arah Jared. “Salahin Jared! Mandinya lama banget! Kalau dia cepet, rambut aku pasti nggak kayak begini!”
Jared meletakkan ponselnya di meja dan mendongak. Semalam dia memang tidak tidur, jadi mandi duluan supaya tidak ketahuan.
“Aku udah minta maaf,” ujarnya santai. “Lagian kamu tetap cantik kok.”
“Diam! Ini masih pagi!” Janelle menunjuknya pakai sendok.
Naya sampai menahan napas. Ia tidak menyangka Jared akan selugas itu.
Ia duduk. “Kalian belum sarapan?” lalu Naya mulai meminum Teh Manis nya sedikit.
“Belum,” jawab Janelle.
“Aku udah. Pakai Roti,” sahut Jared saat menyandarkan punggungnya pada kursi sambil melipat kedua tangannya.
Janelle mendengus dramatis. “Roti tawar lagi?”
“Roti itu penyelamat segala situasi, Nel,” jawab Jared sambil menatap Janelle.
Naya tertawa kecil. “Kalian ribut udah kayak pasangan aja.”
Janelle hampir tersedak udara.
“Apa sih, Na?!”
Jared tersenyum tipis. “Tapi kalau kamu mau—”
“JARED!” Janelle melempar lap meja.
Jared menangkapnya tanpa melihat. Janelle makin kesal. Naya memijat pelipis sambil tertawa.
Naa memijit pelipisnya yang sedikit pusing. “Sudah-sudah. Kita buat sarapan aja, Nel.” Naya berdiri. “Nasi goreng mentega ya.”
Mereka masuk dapur. Naya menyiapkan bumbu, Janelle mencoba memasak telur dengan teknik yang patut dipertanyakan.
“Nel? Kamu… itu kayaknya—”
“AMAAAN!” Janelle bersuara panik. “Cuma nyiprat dikit!”
Jared, dari meja makan, bersandar sambil bersuara santai, “Telurnya mungkin marah sama kamu.”
“Diam!” Janelle mencibir.
Melihat api terlalu besar, Jared ikut masuk. “Sini, aku bantu.”
Janelle menurut seperti anak kecil. “Makasih…”
Naya terkekeh. “Kalau akur gini kan damai rasanya.”
“Itu pujian atau sindiran?” gumam Janelle.
Setelah semuanya matang, mereka menyusun piring ke meja makan. Saat Naya membawa tiga gelas sekaligus dan satu teko…
CLANK!
Gelas hampir meluncur, tapi Naya menangkapnya dengan refleks panik.
“Aku nggak apa-apa! Ini gelas juga selamat!” katanya sambil memeluk gelas itu.
Janelle tertawa. “Kamu tuh ceroboh, Na…”
“Aku pekerja keras, bukan atlet keseimbangan.” Naya kembali membawa gelas dan teko dengan hati-hati.
Lalu mereka duduk dan sarapan bersama. Obrolan ringan mengalir, sesekali membuat Jared tersenyum.
“Jadi kalian sahabatan?” tanya Jared.
“Iya lah,” jawab Janelle cepat. “Aku bodyguard-nya Naya.”
“Mana ada?” protes Naya.
Jared menahan tawa. “Keliatan kok… Naya tuh terlalu ceroboh.”
“NO COMMENT!” seru Naya sambil lanjut makan.
---
Setelah selesai sarapan, Naya membersihkan meja. Jared mengecek area rumah, memastikan semuanya aman. Janelle yang sudah mandi keluar dengan handuk kecil di bahu.
“Na… Jared serius banget, ya…” gumam Janelle sambil mengintip.
“Iya, makanya kamu jangan ganggu," ujar Naya memperingati.
Janelle membantah, “Aku nggak ganggu—”
“Kemarin kamu ngagetin dia, Nel,” potong Naya.
Janelle menghela napas. “Iya sih… Tapi… dia perhatian banget ya?”
Naya menoleh. “Perhatian ke tugas? Atau ke kamu?”
“M-mungkin dua-duanya…” Janelle langsung memalingkan wajah.
Naya tertawa. “Baru dibantuin bikin telur ceplok aja baper kamu, Nel...”
“NA!” Janelle memukul lengannya.
“Eh tapi…” Janelle menunduk malu. “Kayaknya dia tipe yang kalau sayang… bakalan totalitas deh.”
Naya mengangguk. Ia sangat setuju akan hal itu.
Tapi tanpa mereka tahu, Jared berdiri di dekat pintu, mendengar semuanya. Ekspresi wajahnya tenang, tapi sudut bibirnya terangkat perlahan.
---
Sementara itu di kantor…
Evan belum masuk ke ruangannya sejak pagi. Tim Internal gelisah melihat CEO bekerja tanpa istirahat menelusuri rekaman CCTV, menghubungi keamanan gedung, bahkan bekerja sama dengan divisi eksternal.
Di hadapannya, layar monitor menampilkan rangkaian data yang akhirnya cocok.
“Ketemu kau…” gumam Evan rendah, matanya menajam.
Nama: Raka Mahendra
Status: karyawan kontrak—disusupkan oleh pihak luar
Keterlibatan: hilangnya halaman 13, ancaman terhadap Naya, sabotase lift.
Ternyata Raka Mahendra adalah orang suruhan dari perusahaan lain yang ingin menjatuhkan WCTG. Sudah sering Evan mendapatkan hal ini, tetapi tidak ada yang sampai berhasil menghilangkan berkas penting.
Sepertinya perusahaan itu mengetahui kalau dirinya baru saja merekrut Assistant pribadi, jadi dia ambil celah itu untuk masuk ke perusahaan dan mencuri dokumen penting.
Namun, yang terpenting dari semua itu adalah lokasi terakhir Raka terdeteksi. Hal ini membuat Evan langsung berdiri dengan mengepalkan tangannya, dan juga rahangnya mulai mengeras. Mengingat wajah pucat Naya semalam membuat amarahnya kembali muncul.
“Bersiap. Kita jemput dia,” ujarnya tegas.
Namun, sebelum itu Evan harus memberitahukan hal ini kepada Jared, karena bagaimanapun juga saat penangkapan Arka nanti ia perlu bantuannya.
Tim Internal saling pandang dengan wajah tegang.
Drama Raka sudah mendekati akhir dan Naya masih belum tahu bahwa bahaya itu sudah sangat dekat.
----
Di saat menjelang sore, suasana rumah akhirnya lebih santai. Naya tidur siang sebentar, Janelle kembali menonton film, dan Jared duduk di kursi tamu sambil memeriksa ponsel, yang sesekali melirik Janelle.
Jared membuka pesan terbaru dari Evan, jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
“Lokasi Raka sudah terpantau, Jared. Tim sedang bersiap dan perkiraan penangkapannya malam ini.”
"Nanti malam kamu ikut bantu saya untuk menangkap Raka, nanti saya kirim bodyguard untuk berjaga-jaga di rumah Naya selama kamu pergi."
"Ingat, jangan sampai Naya tahu."
Jared mengatupkan rahang.
“Raka… akhirnya.”
Dan tanpa ia sadari, Janelle sedang memperhatikannya.
“Kenapa kamu sebut nama Raka, Jared?”
Jared menoleh cepat, terkejut kalau gumamanya ternyata didengar jelas oleh Janelle.
Ia bingung harus memberi alasan apa, tapi jika dipikir-pikir tidak ada salahnya ia memberitahukan hal ini kepada Janelle. Seenggaknya gadis itu harus tau, supaya nanti bisa bantu melindungi Naya jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi disaat ia membantu Evan menangkap Raka.
Tadi kan yang Evan mau jangan sampai Naya tahu. “Evan sudah tahu posisi Raka di mana, Nel.”
"APA? KAMU SERIUS JARED?!" Janelle sekarang duduk fokus menghadap Jared, dengan ekspresi wajah tidak sabar menunggu jawaban dari Jared.
"ssttss..." Jared meletakan jari telunjuknya di depan bibir. Bisa gawat kalau Naya bangun.
"Jangan kencang-kencang! Nanti Naya tahu," ujarnya dengan suara sedikit berbisik.
"Jawab dulu! Ini beneran?" Janelle ikut mengecilkan suaranya.
Jared mengangguk, "Nanti malem aku ikut Evan buat nangkap Raka. Jadi nanti kamu tetep di sini buat jagain Naya," jelas Jared yang masih berbisik.
"Selagi aku pergi, Evan bakal kirim bodyguard buat jagain kalian berdua. Evan juga titip pesan, jangan sampai Naya tahu. Jadi tolong rahasiain ya, Nel," sambung Jared, berharap Janelle mengerti.
Janelle mengangguk mengerti, "Tapi nanti kamu hati-hati ya, Jared."
Perkataan Janelle mampu membuat Jared tersenyum.
Sementara perasaan Janelle tiba-tiba saja gelisah, entah karena apa, tapi ia merasa suatu yang besar akan segera terjadi.