Malam yang Dijaga Jared

1438 Words
Saat di ruang kesehatan internal, Evan mengizinkan Naya untuk beristirahat di rumah. Awalnya Naya menolak karena merasa pekerjaannya masih menumpuk dan tanggung jika meninggalkan kantor begitu saja. Namun Evan tetap memaksanya pulang. Ia menatap Naya dengan ekspresi yang tidak bisa dibantah. “Tapi, Pak… pekerjaan saya—” “Tidak ada tapi, Naya,” Evan memotong cepat. “Kesehatan kamu lebih penting.” Janelle yang sejak tadi ikut menunggu di ruangan, akhirnya mencoba menenangkan sahabatnya. “Na, udah. Kamu pulang aja dulu. Kamu kan masih kelihatan pucat. Nanti kalau kamu paksain lanjut kerja terus kondisi kamu makin parah, gimana?" Naya terdiam. Napasnya berat, ditambah pikirannya masih kacau akibat ancaman Raka dan kejadian di lift. Janelle lalu menoleh ke Evan. “Pak Evan, saya izin untuk ikut temenin Naya di rumah, ya? Soalnya Naya tinggal sendirian di rumah, Pak, nggak tenang saya.” Evan memikirkan hal itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. “Yasudah kamu boleh ikut, tapi saya nggak biar biarin kalian pulang berdua.” Naya memandang Evan, bingung. “Kenapa memang, Pak?” Evan tidak menjawab langsung. Tatapannya berat, mengandung kekhawatiran yang jelas. “Jared ikut dengan kalian,” putusnya. “Tapi Pak, saya nggak mau merepotkan Jared,” ucap Naya, menolak lagi. “Naya.” Nada Evan berubah tegas, tidak menerima bantahan. “Saya tidak mau ambil risiko. Titik.” Janelle cepat mengangguk. “Udah Naya nggak apa-apa, malah bagus kalau Jared ikut. Biar aku ada partner kalau semisal kamu kenapa-kenapa di jalan.” Naya akhirnya menyerah. “Iya… baik...” Setelah mereka bertiga pergi, Evan tidak membuang waktu. Ia segera kembali menyelidiki sosok bernama Raka. Entah bagaimana, ia harus menemukan siapa orang suruhan yang berdiri di balik pria itu dan memastikan Naya aman. ----- Begitu mobil melaju keluar dari parkiran kantor, suasana dalam mobil sempat sunyi. Naya menyandarkan kepalanya ke jok, matanya terpejam lemah. Janelle yang duduk di sampingnya, sesekali mencuri pandang untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja. Jared yang menyetir akhirnya memecah keheningan. “Kalau kalian lapar bilang ya. Aku ada roti di dashboard.” Janelle langsung melirik tajam. “Kamu bawa roti? Serius?” Jared mengangguk santai. “Iya, darurat. Kadang kalau kerja lembur, itu penyelamat hidup.” “Roti apa?” tanya Janelle curiga. “Roti tawar yang tanpa pinggir," jawab Jared santai. Janelle langsung komentar. “HAHAHA itu roti anak TK!” Naya sebenarnya lelah, tapi tawa kecilnya lolos ketika mendengar Janelle yang mengejek Jared. “Iya juga sih…” Jared mengernyit, pura-pura tersinggung. “Hei! Itu roti netral. Semua umur bisa makan.” “Iya, iya, roti netral,” sahut Janelle disela-sela sisa tawanya. Lampu merah membuat mobil berhenti. Jared menggunakan kesempatan itu untuk membuka plastik roti. “Mau?” "Mau dong... Kebetulan tadi belum sempat makan siang," Janelle menerima roti pemberian dari Jared. "Kamu suka banget roti tawar, Nel?" Tanya Jared. Soalnya reaksi Janelle sangat antusias. Janelle terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jared, "Biasa aja sih... Lagi dikasih roti gratisan siapa yang nolak?" Naya terkekeh pelan mendengarnya. Jared menganggukkan kepalanya. "Naya, mau roti juga?" Jared menawarkan Naya. Janelle langsung menjawab duluan, “Mau lah! Naya tuh maniak roti. Dia suka semua roti, bahkan dulu cita-citanya buka toko roti biar bisa makan tiap hari.” Naya menatap Janelle lemas. “Nel…” “Ya bener kan?” Janelle mengunyah roti lagi. Akhirnya Naya menyerah dan mengambil satu. “Boleh deh, Pak” "Panggil Jared aja, Na, nggak usah terlalu formal kalau sama saya. Pakai Aku-Kamu juga nggak apa-apa, kaya Janelle tuh," jelas Jared. "Iya Naya, kalau sama Jared mah nggak usah kaku, tapi beda cerita lagi ya kalau sama Pak Evan," timpal Janelle. "Siap-siap!" ujar Naya. Ketika mobil mereka kembali melaju, Jared bertanya pada Janelle, “Kalau kamu, Nel? Suka makanan apa?” “Kebab tapi yang extra keju. Aduh, ngebayanginnya aja udah bikin ngiler," jawab Janelle yang rotinya sudah sisa setengah. Jared mengangguk pelan. “Oke, noted. Next time aku bawain kamu kebab extra keju.” Janelle hampir tersedak roti. “Eh?! Aku nggak minta dibawain kebab, loh!” Naya yang mendengar hanya bisa tersenyum letih sambil memijat pelipis. “Nel, santai aja…” Janelle membalas bisik-bisik, “Na, gimana ini?? Padahal aku nggak bermaksud minta dibawain!" Naya yang mendengarnya cuma bisa menyengir letih dalam hati. Kejadian ini sedikit menghiburnya dan membuatnya lebih tenang. "Naya... Gimana ini??" Bisik Janelle panik, sementara Naya hanya menggeleng lemah dan kembali menyadarkan kepalanya pada jok, lalu ia pejamkan matanya. Dan tanpa mereka sadari, Jared beberapa kali melirik Janelle lewat kaca spion. Tidak lama, hanya sepersekian detik. Naya yang duduk lelah sambil memejamkan matanya tentu saja tidak menangkap hal itu. Janelle? Apalagi. Sekarang ia jadi salah tingkah memikirkan Jared yang akan membawakannya kebab dengan isian extra keju. ----- Angin malam menyapu pipi Naya ketika mobil berhenti di depan rumahnya. Lampu teras kuning temaram memberi kesan hangat di tengah kecemasan yang masih menyelimuti mereka. “Naya, udah lama banget aku nggak ke sini,” kata Janelle sambil melihat rumah Naya. “Kita dulu sama-sama sibuk,” jawab Naya singkat. “Ayo masuk,” ajaknya sambil membuka pagar. Mereka bertiga berjalan ke teras. Kunci pintu rumah berbunyi ketika diputar, dan begitu pintu terbuka, “Maaf ya kalau berantakan,” ucap Naya refleks, padahal ruang tamunya sebenarnya cukup rapi. “Berantakan dari mana? Ini masih rapi dibanding kamar kos aku waktu disidak ibuku! Inget nggak kamu?” Janelle langsung masuk sambil memandang sekeliling. Naya menahan tawa. “Lebay banget kamu.” Sementara itu, Jared berhenti di ambang pintu. Napasnya teratur, tapi tatapannya tajam, memeriksa teras, pagar, jendela, hingga pot tanaman. Ia teringat pesan Evan yang terus menggema di pikirannya, "Periksa semua sudut rumah Naya, jangan abaikan apa pun." Setelah yakin aman, barulah ia melangkah masuk. “Aku tutup pintunya ya,” ucapnya. “Iya,” jawab Naya. Jared kembali menelusuri ruang tamu dan dapur dengan mata terlatih. Naya memperhatikannya bingung. “Jared, minum dulu,” ujar Naya sambil menuangkan air. “Boleh,” jawab Jared, namun tidak duduk. Ia malah bergerak lagi, menghampiri jendela. “Kamu nyari apa sih?” tanya Naya. “Nggak apa-apa. Cuma kebiasaan ngecek sekitar aja.” “Kebiasaan?” Janelle menyahut sambil membuka snack. “Emang kamu mantan pasukan khusus?” Jared tertawa kecil. “Nggak. Ini tadi Evan titip pesan.” “Pesan apa?” tanya Naya agak cemas. “Nyuruh aku pastiin kalian aman.” Janelle langsung heboh. “Naya, kayanya Pak Evan perhatian banget sama kamu. Jangan-jangan…” “Nel!” Naya buru-buru memotong. “Jangan mulai.” “Serius! Waktu kamu pingsan di lift, dia panik banget! Sampai petugas aja dia larang sentuh kamu.” "Lagi, ya... Selama aku kerja di WCTG, nggak ada tuh aku lihat Pak Evan sebegitu khawatirnya sama karyawan yang lain. Cuma sama kamu doang dia kaya gitu. Bener kan, Jared?" Jared mengangguk. Naya memutar mata. “Itu perasaan kalian aja. Jelas-jelas aku liat sendiri kok kalau Pak Evan khawatirnya cuma sebatas CEO dengan Assistant nya aja, nggak lebih.” Ia berdiri. “Aku mandi dulu deh. Awas kalian berdua, jangan gosip yang aneh-aneh!” Begitu Naya masuk kamar, Jared kembali menyurvei rumah Naya. Sementara Janelle memilih memperhatikannya sambil memakan snack. “Aman, Jared?” tanya Janelle. “Sejauh ini aman.” Ketika ia melihat ke luar jendela tadi, sebenarnya ada yang janggal. Seseorang berjaket hitam berdiri di kejauhan, topi dan maskernya menutupi hampir seluruh wajah. Membuat Jared susah mengenali siapa orang tersebut, karena yang terlihat hanya matanya saja. Sangat mencurigakan. Dan Jared yakin itu bukan kebetulan. Beberapa menit kemudian, Naya keluar dari kamar dengan wajah segar dan baju tidur. "Janelle udah tidur?" tanyanya. "Udah,” jawab Jared setelah memastikan Janelle memang tertidur pulas. "Kenapa dia nggak tidur di kamar aku aja," gumam Naya. “Aku izin nginep di sini semalam ya?” tanya Jared. “Kok tiba-tiba? Apa ada yang ngintai rumah aku?” Naya menatap tajam. Jared sedikit kaget, tapi menggeleng santai. “Nggak kok. Ini perintah Evan aja.” Padahal Naya tadi sempat melihat sosok mencurigakan itu, tapi ia memilih diam. Dirinya terlalu lelah untuk memikirkan hal lain. “Tapi kamu tidur di ruang tamu nggak apa-apa?” tanya Naya. “Nggak apa-apa. Biar sekalian aku temenin Janelle tidur di sini, kasihan dia udah pules tidurnya.” Naya mengangguk. “Maaf ya, Jared. Hari ini aku udah repotin kamu.” “Santai aja. Aku nggak merasa keberatan kok.” Naya tersenyum tipis. “Kalau gitu aku tidur dulu. Selamat malam.” “Selamat malam.” Naya masuk ke kamarnya, sementara Jared sudah memutuskan untuk tidak tidur. Malam ini ia harus benar-benar berjaga, memantau, mengawasi, dan memastikan, apakah orang tersebut kembali mengintai atau tidak. Jika orang tadi kembali… maka ia harus siap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD