Di Balik Pintu Lift yang Terbuka

1455 Words
Terdengar bunyi langkah sepatu bergemuruh mendekat dari luar lift, sudah Evan pastikan bahwa itu adalah para petugas teknisi dan keamanan yang tadi ia panggil. Segera Evan merapatkan posisinya agar Naya aman dari hentakan bila lift tiba-tiba bergerak dan tak lama suara logam bergeser terdengar ketika pintu lift akhirnya berhasil dipaksa terbuka dari luar. Cahaya putih dari lorong menerobos masuk, menyilaukan ruangan sempit itu yang sejak tadi hanya disinari flashlight dari ponsel Evan. Dua petugas keamanan langsung maju, salah satunya menahan pintu agar tetap terbuka. “Pak Evan, sudah aman! Silakan keluar!” seru salah satu petugas. Evan tidak membuang waktu. Ia menunduk, mengamankan posisi tubuh Naya yang masih tidak sadarkan diri, lalu perlahan mengangkatnya keluar dari lift. Para petugas sempat terkejut melihat kondisi Naya yang pucat dan lembap oleh keringat dingin. "Turun perlahan, Pak. Biar Naya kami bantu," ucap salah satu petugas keamanan. “Tidak usah! biar saya sendiri yang bawa,” ucap Evan tegas, ia memotong gerakan dua petugas yang berniat membantu mengeluarkan Naya dari dalam lift. Ia mengangkat Naya dengan hati-hati, satu tangan menopang punggungnya, satu lagi di bawah lututnya. Gerakannya tegas, yakin, dan lebih protektif daripada seharusnya dilakukan seorang CEO kepada asistennya. Tapi Evan terlalu fokus pada kondisi Naya untuk menyadarinya. Ia melihat sekeliling, beberapa pegawai yang kebetulan lewat berhenti di depan lift, menatapnya dengan wajah bingung dan panik, tapi itu tidak dihiraukannya. Saat Evan melangkah keluar, suara langkah cepat terdengar dari ujung lorong. “NAYA!!” Janelle berlari dengan wajah panik, napasnya terengah-engah. Rambutnya yang biasanya rapi kini terlihat berantakan karena ia terburu-buru. “Yaa Tuhan, Naya… kenapa bisa kaya gini, Pak Evan?!” seru Janelle dengan suara gemetar. “Bukan di sini tempatnya untuk bahas hal itu,” potong Evan, matanya masih mengamati wajah Naya dengan fokus penuh. “Saya bawa dia ke ruang kesehatan internal dulu.” Evan mengangkat Naya dengan kedua tangannya, posisi paling stabil agar kepala Naya tidak terantuk apa pun. Janelle menutup mulutnya, jelas ketakutan. “Saya ikut, Pak!” Sambil berlari menggendong Naya, Evan memikirkan bahwa sekarang ia harus mengatur napasnya, menahan emosi yang menumpuk sejak kejadian ancaman sampai lift mogok. Karena sekarang fokusnya tertuju pada Naya. Meski begitu, ada ketegangan yang berbeda pada wajah Evan. Rahangnya mengeras setiap kali ia mengingat bagaimana lift bisa berhenti tepat saat ia dan Naya berada di dalamnya. Terlalu kebetulan dan terlalu tepat sasaran. Setelah ini ia tidak akan memaafkan orang yang telah mengacaukan perusahaannya, dan karyawannya. ---- Ruang kesehatan internal WCTG langsung riuh begitu Evan mendorong pintu dan masuk sambil menggendong Naya. Perawat yang sedang mengecek obat langsung berdiri. "Pak Evan?!" "Dia pingsan di dalam lift," ujar Evan cepat. "Tolong periksa sekarang." "Baik, Pak. Langsung baringkan di sini saja," perawat langsung menyiapkan tempat tidur. Evan akhirnya menurunkan Naya ke atas ranjang pasien dengan hati-hati, seolah ia sedang meletakkan sesuatu yang rapuh. Tangannya sempat menahan kepala Naya agar tidak menghantam bantal terlalu cepat. “Dia kenapa bisa pingsan, Pak Evan?” tanya Dokter. Evan menjawab tanpa ricuh, namun matanya masih memantau kondisi Naya dari dekat. “Serangan panik. Kondisinya sudah tertekan sejak kemarin karena ancaman yang diterimanya. Puncaknya saat lift mogok dan lampu mati, Dokter.” “Naya sebenarnya punya fobia sama ruangan sempit dan gelap, Dok…” Janelle tiba-tiba teringat tentang fobia yang dimiliki Naya, ketika Evan menjelaskan bahwa sahabatnya pingsan saat lift mogok dan lampunya mati. Dokter mengangguk memahami. Segera ia memeriksa tekanan darah dan nadi Naya. Janelle dan Evan langsung berdiri sedikit menjauh, memberi ruang untuk Dokter dan Perawat memeriksa Naya. Di sana Evan tidak bergerak satu sentimeter pun. Tidak seperti CEO biasanya yang biasanya menyerahkan staf ke petugas medis lalu pergi menyelesaikan urusannya yang lebih penting. Perawat melirik Evan sesekali, bingung. “Pak Evan… kami akan mengurusnya. Bapak boleh kembali bekerja dulu.” Evan tidak menoleh. Tatapannya tetap pada Naya yang masih tidak sadarkan diri. “Saya ingin tetap di sini.” Ada jeda. Perawat dan Janelle cukup kaget, namun tidak berani berdebat. “Baik, Pak…” ujar Perawat yang kembali membatu Dokter memeriksa Naya. “Naya hanya pingsan karena syok, tekanan mental, dan kelelahan,” jelas dokter setelah selesai memeriksa. “Tidak ada cedera fisik dan masalah serius. Jadi, sebentar lagi Naya akan segera sadar, Pak Evan.” "Makasih banyak, Dokter!" Janelle langsung menghampiri tempat tidur Naya dengan wajah cemas. "Kalau begitu saya permisi, Pak Evan," pamit Dokter. Evan menganggukkan kepalanya dan menghembuskan napasnya pelan, "Iya, makasih banyak, Dokter." Di saat Janelle memperhatikan wajah Naya sambil menggenggam tangannya dan mengusap pelan punggung tangan Naya dengan ibu jarinya. Ia melihat kelopak mata Naya bergerak, lalu perlahan membuka. Cahaya lampu ruangan membuatnya berkedip beberapa kali. Kepalanya masih terasa berat, napasnya pendek dan ketika pandangannya akhirnya fokus, sosok pertama yang terlihat adalah Janelle yang duduk di sisi ranjang dengan wajah cemas. “Naya?” suara Janelle bergetar, “Kamu bisa dengar suara aku?" Kepala Naya masih pusing. Jadi, ia respon dengan sedikit anggukan kepala "Yaampun Naya... Aku khawatir banget sama kamu..." Begitu melihat sahabatnya, d**a Naya langsung sesak. Air matanya jatuh seketika tanpa bisa ditahan. Ia langsung meraih tangan Janelle, menggenggamnya kuat-kuat seolah takut kehilangan pegangan. “Nel…” suara Naya pecah, “Aku takut… aku takut banget…” Janelle yang kaget langsung mendekat dan memeluk bahu Naya pelan. “Naya… hey… gak apa-apa. Kamu aman sekarang. Ada aku di sini. Tenang, ya?” Namun Naya menggeleng, tangisnya semakin deras. “Aku… aku kejebak di lift… gelap banget… listrik mati tiba-tiba… aku gak bisa lihat apa-apa…” “Aku panik… aku gak bisa napas… aku takut gelap… aku kira… aku gak bakal bisa keluar dari sana… Nel.” Naya memeluk Janelle erat, nyaris seperti anak kecil mencari perlindungan. "Kenapa harus aku? Kenapa aku yang diancam, Nel? Di sini aku cuman mau kerja dengan tenang..." Naya terisak kuat, suara dan tubuhnya bergetar. “Iya, iya Na, kamu tenang aja ya... Pak Evan bakal tangkap pelakunya,” ujarnya pelan sambil mengusap punggung Naya. Evan melihat itu dan rahangnya terkatup. Wajahnya menegang menahan emosi yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. Marah? Takut? Cemas? Semua bercampur. Sebegitu buruknya dampak yang orang itu berikan sampai Naya setakut ini. Dengan pelan, Evan melangkah mendekat. “Kamu tidak apa-apa, Naya? Apa ada bagian yang masih sakit?” tanyanya dengan suara yang nyaris berbisik. Janelle melepaskan pelukannya terhadap Naya dan memperhatikan Naya yang tidak segera menjawab pertanyaan dari Evan. Ia hanya menunduk, menggenggam tangan Janelle lebih erat seakan itu jangkar terakhirnya. Melihat itu, seperti ada sesuatu di hati Evan yang seperti ditarik. “Naya,” lanjutnya, “kamu sudah aman sekarang. Saya janji… kejadian seperti tadi tidak akan terjadi lagi.” "Maaf." Evan sedikit menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya, Naya mendongak sedikit. Matanya merah, pipinya basah, napasnya tersengal. Mendengar Evan berbicara seperti itu membuat Naya sadar, "Nggak perlu minta maaf, Pak. Saya yang salah, nggak seharusnya saya bilang kaya gitu, karena ini udah jadi konsekuensi saya sebagai Asisten pribadi, Pak Evan." Sebelum suasana semakin emosional, pintu diketuk cepat, setelahnya terlihat Jared muncul dengan tablet di tangannya. “Evan, aku sudah dapat rekamannya—” Ia berhenti begitu melihat Naya menangis dan Evan yang berdiri sangat dekat dengannya. “Oh… maaf,” gumamnya pelan sambil melangkah masuk lebih hati-hati. Evan mengangguk singkat. “Sudah ada bukti, Jared?” Jared menghela napas panjang sebelum bicara. “Aku cek sistem CCTV… dan ini aneh,” ujarnya sambil menampilkan rekaman di tablet. “Lift berhenti bukan karena gangguan listrik biasa, tapi ada seseorang yang memaksa shutdown manual dari panel kontrol lantai 20.” “Soalnya Security menemukan bekas pembongkaran paksa di panel lift tadi, dan ada bekas obeng di bagian dalam.” Wajah Evan berubah dingin seketika. Jared melanjutkan, “Tapi sayangnya, rekaman CCTV koridor lantai itu terhapus selama 10 menit. Pas banget sama waktu kamu dan Naya terjebak. Jadi, kita nggak tau siapa pelakunya.” Naya menegang, dan tanpa sadar ia menggenggam tangan Janelle dengan kuat. Janelle yang mengetahuinya langsung mengusap pelan tangan Naya, agar sahabatnya tidak lagi takut. "Raka gimana? Sudah kamu tangkap?" Tanya Evan. “Belum,” jawab Jared. “Dia tidak ada di meja kerjanya. Dan—” Jared menunjukkan sebuah kartu akses rusak yang ditemukan di dekat ruang arsip divisi legal. “Kartu akses Raka ditemukan patah.” Evan menegang. “Dia merusak kartunya?” “Bukan hanya merusak." Jared menatap Evan dengan wajah serius. “Kartu ini dipaksa ditarik dari pintu darurat. Artinya, Evan…” Ia menatap lurus ke mata sahabatnya. “Raka berusaha kabur," sambung Jared. Evan sudah menduganya. Setelah ia lakukan aksi itu secara terang-terangan, sudah pasti dia akan langsung melarikan diri. Evan menatap Jared. “Aku ingin kamu cek siapa yang memasukkan Raka ke perusahaan. HRD bilang dia dipindah mendadak. Cari semua datanya.” “Baik.” Jared mulai memainkan tablet nya sambil melangkah pergi keluar dari ruang kesehatan internal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD