Arah yang Jelas

1991 Words
Kedua tangan Naya berpegangan pada sisi meja kerjanya, kakinya terasa lemas. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi tak mau kembali normal. Beberapa detik setelah Evan pergi, ia bahkan sempat merasa lupa caranya bernapas. Ucapan Evan masih terngiang jelas di kepalanya. Bukan karena nada suaranya, melainkan caranya mengatakan semuanya tenang, terkontrol, tapi jujur. Tidak berlebihan, tidak dramatis, namun cukup untuk mengguncang sesuatu yang selama ini ia pendam. Naya tahu betul apa yang terjadi di antara mereka. Tatapan yang terlalu lama, perhatian kecil tanpa penjelasan, lalu jarak dingin yang muncul tiba-tiba. Tarik ulur yang halus, tapi melelahkan. Dan hari ini, semuanya seperti berhenti di satu titik. Bukan karena pengakuan cinta, bukan pula sentuhan, hanya sebuah pulpen. Pulpen navy sederhana yang niatnya hanya untuk berterima kasih, tapi ternyata disimpan Evan dengan makna yang jauh lebih dalam dari dugaannya. Naya menunduk, menatap pulpen itu yang masih tergeletak di atas mejanya. Ia ambil pulpen tersebut, sekarang benda kecil itu kini terasa jauh lebih berat. “Besok makan siang…” Ia mengulanginya pelan, hampir tak terdengar. Itu bukan sebuah ajakan biasa, bukan juga basa-basi atasan pada bawahan dan yang jelas bukan sekadar formalitas. Naya menutup matanya sejenak. Pertanyaan yang sama berputar-putar terus di kepalanya. Seperti, besok apa yang akan terjadi? Apakah Evan akan mengatakannya dengan jelas? Atau justru kembali menarik diri setelah melangkah sejauh ini? Entahlah yang jelas sekarang Naya sudah tidak bisa kembali fokus mengerjakan tugas kantornya. Pintu ruangannya kembali terbuka, membuat Naya tersentak kecil. Janelle menyembulkan kepala, ekspresinya langsung berubah begitu melihat wajah Naya yang pucat. “Na… kamu kenapa?” Janelle masuk dan menutup pintu. “Kamu kayak habis dikejar deadline hidup.” Naya menelan ludah. “Pak Evan… barusan ke sini.” “Dan?” Janelle mendekat, jelas menahan rasa penasaran. “Jangan bilang dia marah atau—” “Dia ngajakin aku makan siang besok.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan ekspresi datar, tapi efeknya instan. “HAH?” Janelle hampir refleks berteriak sebelum buru-buru menutup mulutnya sendiri. “Makan siang? Berdua?” Sekarang Janelle duduk di kursi tepat hadapan Naya. Naya mengangguk lagi sambil menyimpan pulpen navy yang ia berikan ke Evan tadi pagi ke dalam laci meja kerjanya. Janelle menatapnya lama, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Ini bukan hal kecil, Na.” “Aku tahu,” jawab Naya jujur. Memang ini bukan hal kecil, selama Naya bekerja di sini belum pernah ia makan berdua bersama dengan Evan. Kalaupun pernah, pasti selalu bersama dengan klien yang memang ingin meeting sambil makan di restoran. “Dan dari ekspresi kamu sekarang,” lanjut Janelle, “aku bisa tebak ini bukan sekadar makan siang biasa.” Naya tersenyum tipis, lelah. “Dia bilang… dia nggak mau bikin aku bingung lagi.” Janelle terdiam sesaat. “Berarti dia sadar.” “Iya," jawab Naya. “Dan itu artinya,” Janelle menatap Naya lebih serius, “besok kamu nggak cuma datang sebagai asistennya.” Kalimat itu membuat d**a Naya menghangat sekaligus berdebar dan sekarang ia bukannya menjawab, tapi pikirannya justru sudah melayang ke hari esok. Sementara itu, di ruangannya sendiri, Evan berdiri menghadap jendela ruangannya. Napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Ia tahu apa yang barusan ia lakukan bukan keputusan kecil. Mengakui bahwa ia menyimpan pulpen itu karena ia mau. Mengakui bahwa ia sering membuat Naya bingung. Tapi anehnya, setelah keluar dari ruangan itu, ia justru merasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya, ia tidak mundur. Evan menolehkan kepalanya ke arah meja kerjanya, di sana ponselnya bergetar. Dia pun berjalan mendekat ke meja kerja, tertera Nama Jared muncul di layar. Evan menatapnya sebentar, lalu mengangkat telepon. “Apa?” tanyanya singkat. “Kamu ke ruangannya, ya?” suara Jared terdengar puas. “Aku lihat kamu keluar tanpa jas. Itu jarang.” Evan mendengus pelan. “Kamu ngintip?” “Observasi,” balas Jared santai. “Jadi?” “Besok aku makan siang sama dia.” Sekarang Evan berjalan menuju kursinya dan duduk di sana. Hening di seberang sana, lalu tawa pendek Jared terdengar. “Akhirnya.” "Aku sedang mengusahakannya," ucap Evan pelan. “Besok jangan tarik rem lagi.” Jared mengingatkan. Evan menutup mata sejenak. “Aku tahu.” Dan kali ini, ia benar-benar bermaksud menepatinya. Di malam harinya Naya sulit tertidur. Sejak tadi ia terus memandangi ponselnya, memperhatikannya selama 10 detik, menunggu pesan masuk tapi tidak ada satupun pesan dari Evan. Sejak kejadian tadi sore, ia sama sekali tidak bertemu dengan Evan. Memang hari itu tidak ada meeting atau apapun itu yang membuatnya harus bertemu dengannya tapi apa yang harus ia lakukan besok siang, Evan sama sekali tidak menjelaskannya tentang makan siang di mana, apakah di luar kantor atau di kantin kantor. Intinya tidak ada kelanjutan apa pun dan justru di situlah kegelisahannya tumbuh. Besok akan jadi apa? Jawaban… atau kebingungan baru? Naya meletakkan ponselnya kembali di atas meja tetap di bawah lampu tidurnya, “Katanya nggak mau bikin aku bingung lagi,” gumamnya pelan, tapi sampai sekarang, bahkan pesan pun tidak ada. Ia akhirnya mematikan lampu, menarik selimut, dan tidur, seenggaknya malam ini ia harus tidur dengan nyenyak. Keesokan harinya, Naya datang lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi. Ia memilih kemeja warna krem dan rok hitam sederhana tidak berlebihan, tidak juga terlalu formal. Aman, pikirnya. Ia tidak ingin terlihat seperti sedang berharap, meskipun jujur saja, ia memang berharap. Ia menghela napas pelan sambil keluar dari kamar mandi, tangannya meraih ponsel, refleks mengecek layar, tapi masih tidak ada pesan masuk dari Evan yang berkaitan dengan kemarin sore. Kalau seandainya Evan mengirim pesan, mungkin ia akan tahu apa yang diharapkan. Namun, ini tidak ada apa pun, hanya ada janji makan siang yang diucapkan tanpa embel-embel, tanpa penjelasan, dan tanpa kepastian arah. Di kantor, suasana berjalan seperti biasa. Mesin fotokopi berdengung, obrolan ringan terdengar di sana-sini, dan email masuk silih berganti. Hanya Naya yang merasa waktu bergerak dengan cara berbeda. Jam di layar komputernya baru menunjukkan pukul sembilan, tapi rasanya sudah hampir siang. Ia berusaha fokus bekerja, membalas email, menyusun jadwal, mengecek ulang dokumen, namun setiap beberapa menit, pandangannya selalu melirik jam. “Na,” suara Janelle memanggil pelan dari balik pintu. “Kamu keliatan tegang.” Ia kembali menutup pintu ruangan Naya. Naya menoleh, tersenyum tipis. “Kelihatan banget, ya?” “Banget,” jawab Janelle tanpa ragu dan setelahnya ia meminum kopi dari tumbler yang Naya baru saja melihatnya. Naya menghela napas. “Aku takut hari ini malah jadi makin bingung.” Janelle memiringkan kepala. “Atau justru jadi jelas.” “Entahlah...” balas Naya jujur. “Omong-omong dia belum ngabarin apa-apa ke kamu, Naya?" Janelle kembali meminum kopinya. Naya menggeleng pelan. “CEO itu benar-benar suka bikin orang deg-degan ya,” gumam Janelle. “Kalau aku jadi kamu, aku udah bolak-balik ke toilet sepuluh kali.” “Jangan gitu dong,” desah Naya. "Udah kamu percaya aja sama sahabat kamu ini, Naya. Aku yakin semuanya akan berjalan dengan lancar sesuai yang kamu harapkan," Janelle menepuk-nepuk dadanya, membuat Naya percaya bahwa ia dapat dipercaya. Naya tertawa kecil melihatnya, rasanya ingin membalas ucapan Janelle tetapi dirinya kedeluanan seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu. "Kalian tuh harusnya percaya sama Tuhan." Seketika tubuh mereka berdua menegang karena tahu persis itu suara siapa, apalagi Naya yang bertatapan langsung dengan orang tersebut. Ketika Evan muncul di ambang pintu, semua pertanyaan yang sejak pagi memenuhi kepalanya tiba-tiba berhenti. Janelle tidak berani menatapnya, ia memilih langsung berdiri dan membungkukkan sedikit tubuhnya dengan kepala yang tetap menunduk, membuat rambutnya yang tidak dikuncir itu jatuh menutupi wajahnya. Janelle merasa berterima kasih sekali kepada rambutnya. "Maaf Pak." Naya ikut membungkukkan badannya sedikit, setelahnya ia kembali menegakkan badanya, "Ada yang bisa saya bantu?" “Kita berangkat sekarang,” kata Evan tenang. “Oh—iya, Pak.” Naya buru-buru meraih tas kecilnya. Sekilas ia melirik jam di layar komputernya yang ternyata sudah pukul Sebelas tiga puluh. Kehadiran Janelle benar-benar membuat waktu jadi tidak terasa. Mereka berjalan bersebelahan menuju lift tanpa banyak bicara. Sunyi di antara mereka terasa berbeda dari biasanya, bukan canggung, tapi seperti dua orang yang sama-sama menahan sesuatu. Menjelang tengah hari ini suasana kantor sedikit lebih lengang. Beberapa orang mulai bersiap makan siang, sebagian sudah meninggalkan ruangan. “Kita jalan kaki saja,” ucap Evan singkat. “Jaraknya nggak terlalu jauh.” Naya mengangguk saja, mengikuti langkahnya tanpa bertanya. Restoran kecil itu tenang, tidak terlalu ramai. Bukan tempat mewah, tapi nyaman. Evan memilih meja di sudut, agak tersembunyi. Lagi-lagi, sebuah pilihan yang terasa disengaja. Mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing. “Kamu kelihatan capek,” ucap Evan setelah pelayan restoran pergi menjauh. Naya tersenyum tipis. “Sedikit, Pak.” “Pekerjaan hari ini terlalu banyak?” “Bukan,” jawab Naya jujur, lalu berhenti. “Lebih ke… pikiran saya.” Evan menatapnya, sejenak terlalu lama, lalu mengalihkan pandangan ke gelas minumnya. “Kalau kerjaan yang bikin kamu kewalahan, bilang aja ke saya.” "Baik, Pak Evan." Setelahnya Evan kembali mengajak Naya membahas pekerjaan. Tentang proposal yang sedang Naya kerjakan, tentang jadwal minggu depan, dan tentang hal-hal aman lainnya. Hingga makanan datang. Sampai Naya menyadari satu hal, Evan masih melakukan hal yang sama. Memutar, menghindar, dan menjaga jarak dengan rapi. Ia meletakkan sendoknya pelan, menatap Evan lebih lama dari sebelumnya. “Pak Evan,” panggil Naya akhirnya. Evan mendongak. “Iya?” Naya menarik napas dalam. Kali ini ia tidak ingin menghindar. “Boleh saya jujur?” Evan terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Silakan.” Naya menautkan jarinya di atas meja, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Kalau Bapak menyukai seseorang…” ucapnya pelan, "Sebaiknya diungkapkan saja.” Evan mengerutkan kening, tapi tidak menyela. “Karena tarik ulur seperti ini,” lanjut Naya, kini menatapnya lurus, “itu bikin bingung.” Naya tersenyum kecil, lebih ke senyum jujur yang sedikit lelah. “Dan kadang,” tambahnya, “yang bingung itu bisa keduluan orang lain.” Evan menatap Naya tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya, ia tidak menyembunyikan apa pun di balik ekspresi profesionalnya. “Apa kamu sedang menegur saya?” tanyanya pelan. Naya mengangguk. “Sedikit.” “Saya cuma bilang apa yang saya rasain." “Tapi bikin orang lain menunggu tanpa kejelasan… itu juga menyakitkan," lanjut Naya. Tatapan mereka bertaut lama dan Evan akhirnya tersenyum tipis, bukan senyum dingin, bukan senyum sopan, tapi senyum seseorang yang baru saja dipukul telak oleh kejujuran. “Kamu selalu seberani ini?” tanya Evan. “Kalo saya merasa udah capek bingung aja, Pak Evan,” jawab Naya jujur. Evan menghela napas, punggungnya bersandar ke kursi. “Kemarin saya bilang saya nggak mau bikin kamu bingung lagi,” ucapnya pelan. “Dan saya serius.” Ia menatap Naya lurus. “Awalnya saya kira ini cuma rasa kagum. Tapi setelah ancaman itu, setelah kejadian di lift… saya sadar perasaan saya lebih dari itu.” “Waktu kamu panik dan pingsan,” lanjutnya tenang, “saya cuma kepikiran satu hal, saya ingin melindungi kamu. Saya nggak mau kamu terluka, dalam bentuk apa pun.” Evan terdiam sesaat. “Jujur… kamu wanita pertama yang benar-benar menguasai pikiran dan hati saya. Itu yang bikin saya takut memulainya. Takut salah langkah, takut menyakiti kamu.” Ia menghela napas pendek. “Dan saya memang bukan orang yang mudah bicara soal perasaan.” Naya tersenyum lembut. “Takut itu wajar, Pak Evan, tapi menunggu tanpa kejelasan… itu juga menyakitkan.” Tatapan mereka bertaut lama. “Itu sebabnya saya Naya terdiam, matanya berkedip lucu. “Bukan tarik ulur,” lanjut Evan, “tapi pendekatan. Dengan arah yang jelas.” Naya tersenyum kecil. “Itu sudah cukup buat saya.” Selanjutnya mereka melanjutkan makan siang hari itu dengan lebih tenang bersama obrolan-obrolan ringan. Saat mereka kembali ke kantor, Evan berhenti sejenak di depan pintu. “Naya,” panggilnya. “Iya?” “Terima kasih,” ucap Evan. “Karena jujur.” Naya tersenyum kecil. “Sama-sama, Evan.” Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Naya tidak pulang dengan rasa bingung, melainkan dengan rasa menunggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD