Pagi itu, Naya datang ke kantor dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan deg-degan berlebihan seperti orang yang menunggu pengakuan, bukan juga cemas seperti seseorang yang takut diabaikan, lebih ke perasaan tenang yang aneh, tapi penuh kesadaran.
Seperti tahu ada sesuatu yang berubah, tapi belum tahu harus menaruh sikap di mana.
Ia tiba lebih awal dari biasanya. Jam di pergelangan tangannya baru menunjukkan pukul delapan kurang lima menit saat ia melangkah masuk ke lantai dua puluh. Suasana lorong kantor masih lengang, hanya terdengar dengung pendingin ruangan dan beberapa langkah kaki karyawan lain yang juga datang lebih awal.
Naya menaruh tasnya di meja, menyalakan komputer, lalu membuka agenda hari ini. Meeting di luar kantor bersama klien utama, presentasi yang cukup panjang, dan beberapa evaluasi internal. Hari yang padat.
Baru saja ia ingin menyesap kopi pertamanya yang dirinya buat di pantry tadi sebelum ke ruangan, tapi tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Membuat Naya berhenti dan refleks menoleh.
Terlihat Evan baru saja keluar dari lift, jasnya rapi seperti biasa, rambutnya sedikit masih tampak basah pertanda ia mungkin terburu-buru pagi ini, tapi langkahnya santai, tidak tergesa, tidak juga dingin.
“Pagi, Naya.” Evan masuk ke dalam ruangan Naya.
Bukan sekadar sapaan formal yang singkat. Kali ini nadanya hangat dan santai. Seperti menyapa seseorang yang dikenalnya, bukan hanya asistennya.
Naya sedikit tertegun sebelum membalas, “Pagi.”
Evan berhenti tepat di depan meja kerja Naya, matanya sempat melirik sekilas ke atas meja, di sana sudah ada satu cup kopi latte.
“Kamu datang lebih awal.” Evan memperhatikan jam di pergelangan tangannya.
“Iya,” jawab Naya. “Ada beberapa dokumen yang mau aku cek ulang sebelum meeting.”
Evan mengangguk kecil, kemudian memperhatikan paper bag berukuran sedang yang ia bawa. Pagi ini ia sedikit terburu-buru hanya karena ingin mampir ke toko roti langganan Naya.
“Ini,” katanya sambil meletakkannya di meja Naya.
Naya mengerutkan kening pelan. “Apa itu?”
“Roti coffee bun keju,” jawab Evan ringan. “Yang kamu suka.”
Naya refleks menatap paper bag itu, lalu kembali menatap Evan. “Tapi aku sudah sarapan.”
“Bagus kalau kamu sudah sarapan,” balas Evan tanpa ragu. “Berarti ini buat kamu nyemil nanti.”
Nada suaranya datar, seolah itu hal paling masuk akal di dunia.
Naya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Akhirnya ia hanya tersenyum kecil. “Makasih..." Naya mengambil paper bag tersebut.
"Tapi kamu tahu dari mana aku suka roti ini?” tanyanya penasaran.
"Dari Jared. Aku dengar dari dia kalau kamu suka roti coffee bun keju." Naya hanya membulatkan mulutnya seolah-olah berkata 'o' tanpa mengeluarkan suara.
Evan mengangguk, "Kalau gitu, selamat bekerja." setelahnya ia masuk ke ruangannya.
Tidak ada kalimat berlebihan, tidak ada tatapan berlama-lama, tapi langkahnya terasa berbeda. Lebih dekat, tanpa memaksa.
Dan Naya menyadari satu hal kecil yang membuat dadanya menghangat, yaitu Evan tidak bertanya apakah ia sudah makan untuk memastikan kewajibannya sebagai atasan, tetapi ia bertanya karena peduli.
Pagi ini berjalan seperti biasa, setidaknya di atas kertas.
Namun di praktiknya, Naya mulai menangkap perubahan-perubahan kecil.
Evan lebih sering keluar dari ruangannya. Kadang hanya untuk memastikan jadwal, kadang sekadar menanyakan pendapat Naya sebelum memutuskan sesuatu. Seperti saat ini.
“Naya, menurut kamu klien ini lebih cocok dibahas dulu soal timeline atau budget?”
Biasanya Evan sudah punya keputusan sebelum bertanya, tapi kali ini, ia benar-benar menunggu jawaban.
Naya sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya ia memberikan pendapatnya, dan Evan mendengarkan. Tanpa menyela dan memotong.
“Oke,” katanya setelah Naya selesai. “Aku pakai saran itu.”
Hal yang sederhana, tapi terasa sangat berarti bagi Naya.
Selain itu, beberapa kali Evan juga berdiri terlalu dekat tanpa sadar saat membahas dokumen. Sekali waktu, saat mereka berjalan beriringan menuju ruang meeting internal, Evan refleks menahan pintu agar Naya bisa lewat lebih dulu.
Hal-hal kecil ini sebenarnya tidak romantis berlebihan, tapi entah kenapa membuat dirinya sedikit salah tingkah.
Dari ruangannya, Janelle memperhatikan semua itu dengan mata menyipit penuh kecurigaan.
Ruang Janelle berada di sisi yang sama di lantai dua puluh, tidak sejajar persis, tapi cukup dekat untuk melihat lalu lalang. Sebagai Senior Project Manager, ruangannya berdinding kaca dengan tirai tipis yang bisa ditutup sebagian. Tidak seprivat Evan, tapi cukup memberi ruang kerja yang layak.
Dan pagi ini, ia melihat Evan bolak-balik ke ruangan Naya lebih sering dari biasanya.
Bukan dengan wajah tegang, bukan juga buru-buru.
“Ini aneh,” gumam Janelle pelan.
Saat akhirnya ia masuk ke ruangan dan mendekat ke meja Naya, Janelle bersandar santai. “Na… aku boleh jujur nggak?”
Naya mendongak. “Kenapa?”
“Bos kita hari ini kenapa kelihatan kayak… manusia normal?”
Naya tertawa kecil. “Aku nggak tahu harus tersinggung atau setuju.”
Janelle menyeringai. “Makan siang kemarin itu gimana sih ceritanya?”
“Nanti aku ceritain,” jawab Naya cepat sambil tetap fokus pada komputernya.
Janelle mengangkat alis. “Wow... Berarti ada cerita.”
"Aku tunggu ya... Awas aja kalau kamu sampai nggak cerita, bakalan aku paksa nanti!" Setelahnya Janelle buru-buru pergi ke toilet untuk buang air kecil. Sementara Naya hanya menggelengkan kepalanya.
Naya beralih dari layar komputer ke dokumen yang berserakan di atas mejanya, ia langsung rapi kan dokumen tersebut dan membawanya pergi keluar dari ruangan, hal itu bertepatan dengan Evan yang juga keluar dari ruangannya.
Mereka berdua secara bersamaan berdiri di depan pintu ruangan masing-masing dengan Naya yang sedang membawa dokumen.
Melihat Evan sudah berdiri di depan pintu, tanpa sadar, Naya bersuara lebih dulu.
“Evan, dokumen meeting untuk nanti siang ada beberapa hal yang harus dibahas kembali.”
Langkah Janelle yang baru keluar dari toilet langsung terhenti.
Mata Janelle membesar. Kepalanya menoleh cepat ke arah Naya.
“Eh??!”
Evan sendiri tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia menoleh santai ke Naya.
“Yang revisi kedua?” tanyanya Evan seolah tahu apa yang menjadi permasalahan Naya.
“Iya.”
“Taruh di meja aku aja. Nanti kita bahas sebelum berangkat.”
“Oke.”
Percakapan itu berakhir begitu saja. Evan pergi ke lantai bawah, dan Naya masuk ke dalam ruangan Evan untuk meletakkan dokumennya.
Sementara Janelle langsung menghampiri Naya.
“NA," panggilnya segera saat melihat Naya ingin masuk kembali ke ruangannya.
Naya menoleh, ekspresinya terlihat jelas menunggu apa yang akan Janelle katakan setelahnya.
“Tadi… kamu manggil Pak Evan apa?”
"Evan," jawab Naya dengan polosnya.
"KAMU SUDAH JADIAN?!" Naya terkejut, detik berikutnya langsung membekap mulut Janelle.
“Ssstt! Pelan! nggak enak nanti di dengar sama karyawan lain!” Naya menolehkan kepalanya ke kenan dan ke kiri, untuk memastikan semua aman.
Janelle menepis tangan Naya dengan mata berbinar. “Jawab aku!”
Naya baru menyadari sepenuhnya. “Aku sama Evan nggak jadian. Lagi dia sendiri yang minta supaya aku panggil dia Evan.”
“NGGAK JADIAN KATANYA,” bisik Janelle heboh sambil mendorong pundak Naya dengan pundaknya. “Tapi cieee udah aku kamu aja nih!”
“Pelan ish!” Naya mendesah. “Aku tuh belum jadian, Nel. Udah jangan bahas lagi, nggak enak nanti kalau ada yang dengar.”
“Tapi arahnya ke situ,” balas Janelle yakin.
Naya tidak menjawab. Ia lebih memilih masuk ke dalam ruangannya, menghadapi Janelle yang seperti ini membuatnya pusing.
Siang harinya Evan dan Naya melakukan meeting di luar kantor. Bagi mereka berdua hari terasa berjalan panjang dan melelahkan.
Di ruang konferensi restoran bisnis itu, Evan tetap Evan yang profesional. Tegas, terukur, tapi ada satu perbedaan besar, ia tidak menyingkirkan Naya dari meeting.
“Naya, menurut kamu bagaimana?” tanyanya di tengah diskusi klien.
Klien menoleh ke Naya, dan Evan memberi anggukan kecil, seolah berkata, 'Aku percaya kamu'.
Saat klien mulai terlalu menekan, Evan mengambil alih dengan tenang. Ketika keputusan besar akan diambil, ia selalu melirik Naya lebih dulu.
Bukan minta izin, tapi memastikan dan Naya merasa dirinya seperti hadir, bukan disembunyikan, dan bukan sekadar bayangan di belakang CEO.
Saat hari sudah gelap dan meeting akhirnya selesai, Evan menoleh ke Naya.
“Aku antar kamu pulang,” katanya santai.
Di mobil, mereka tidak membahas perasaan. Hanya obrolan ringan tentang kerjaan, tentang lalu lintas, tentang roti coffee bun keju yang akhirnya Naya makan setelah acara meeting.
Sesampainya di rumah Naya, Evan memarkir mobil, lalu keluar membukakan pintu untuk Naya.
“Terima kasih,” kata Naya saat Evan menutup kembali pintunya.
“Hati-hati,” balas Evan.
Naya tertawa kecil, "Aku sudah di depan rumah, kenapa kamu bilang hati-hati? Harusnya aku yang bilang itu ke kamu."
Evan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia membenarkan ucapan Naya.
"Karena kamu belum masuk ke dalam rumah, siapa tahu kamu tersandung nantinya?"
Naya hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, lalu ia berjalan masuk menuju pagar rumah. Evan masih setia menunggu sampai Naya benar-benar masuk ke dalam rumah sebelum akhirnya pergi.
Di dalam mobil, sebelum Evan mengendarai mobilnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk.
Naya:
"Evan,"
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut."
Evan tersenyum kecil sebelum membalas.
Evan:
"Makasih, Naya"
"Kamu istirahat yang cukup."
"Selamat malam, Naya."
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Naya:
"Kamu juga, selamat malam, Evan."
Tidak ada kalimat besar dan tidak ada janji berlebihan, tapi untuk pertama kalinya, Naya tahu satu hal dengan pasti.
Evan tidak pergi, ia menempati janjinya, dan ia sedang mendekat, dengan caranya sendiri.