Pertemuan Tiga Orang

1156 Words
Pagi itu berjalan seperti agenda kerja biasa. Evan dan Naya tiba di sebuah hotel bisnis di pusat kota, tempat pertemuan dengan salah satu klien strategis WCTG dijadwalkan berlangsung. Hotel itu tidak terlalu mewah, tapi cukup eksklusif, tempat yang sering dipilih Evan untuk pertemuan penting karena suasananya tenang dan privasinya terjaga. Naya melangkah di samping Evan, membawa map dokumen dan tablet kerja seperti biasanya. Bedanya, pagi ini langkah mereka terasa lebih selaras. Tidak ada jarak dingin yang dulu sering muncul, tidak juga sikap canggung yang berlebihan. Evan sesekali menoleh, memastikan Naya mengikuti langkahnya. “Agenda kita hari ini padat,” ucap Evan sambil berjalan. “Tapi meeting-nya bisa memakan waktu lebih panjang sampai sore.” “Aku sudah siapkan jadwal cadangan kalau klien minta revisi," jawab Naya riang. Evan mengangguk pelan. “Bagus.” Nada suaranya tetap profesional, tapi ada sesuatu yang berubah. Cara Evan mendengarkan lebih penuh, tatapannya lebih hadir, seolah Naya bukan hanya asisten yang berjalan di sampingnya, tapi rekan yang benar-benar ia libatkan dan Naya merasakannya. Bukan deg-degan berlebihan, bukan juga kebingungan seperti sebelumnya. Lebih ke perasaan tenang yang aneh, seolah hari ini tidak menyimpan ancaman emosional apa pun. Tak terasa meeting berjalan lancar. Diskusi serius, presentasi formal, dan beberapa kali Evan dengan sadar memberi ruang bagi Naya untuk menyampaikan pendapat. Bahkan di hadapan klien, Evan tidak ragu menoleh padanya lebih dulu sebelum mengambil keputusan. Hal kecil yang sangat berarti bagi Naya. Setelah meeting selesai dan klien berpamitan, mereka berjalan keluar ruangan menuju parkiran basement hotel. Naya berhenti sejenak. “Evan,” ucapnya refleks. “Dokumen proposal kayaknya ketinggalan di meja tadi.” Naya kembali mengecek isi tasnya. Evan menoleh, lalu menghela napas pendek. “Aku ambil saja.” Ia meraih kunci mobil dan menyerahkannya kepada Naya. “Kamu tunggu di dalam mobil saja, di sini panas.” Nada suaranya tidak memerintah, lebih seperti memastikan dan Naya mengangguk tanpa protes. Parkiran basement itu cukup lengang. Suara langkah kaki dan deru mobil terdengar samar. Naya berdiri di dekat pilar, membuka ponselnya sekadar mengecek pesan masuk. Ia tidak ingin masuk ke dalam mobil milik Evan tanpa si empunya. Hari ini pikirannya tenang, tidak ada rasa khawatir, dan tidak ada kebingungan. Tapi di saat Naya sedang memainkan ponsel, fokusnya teralihkan ketika ada seseorang yang memanggil namanya. “Naya?” Suara itu membuat Naya menoleh. Adrian berdiri beberapa meter darinya, dengan ekspresi yang jelas terkejut tapi cepat tertata. Kemeja biru tua dengan lengan digulung, jas tergantung di lengannya. Ia terlihat rapi, profesional, dan familiar. “Adrian?” Naya tersenyum kecil. “Kok kamu di sini?" Adrian mendekat, senyumnya hangat. “Aku mau meeting. Baru saja sampai.” Matanya melirik sekitar. “Sendirian aja?" “Enggak,” jawab Naya jujur. “Aku lagi nunggu. Habis meeting juga.” Adrian mengangguk, cepat menangkap maksudnya. Dari cara Naya berdiri, dari pakaian kerjanya, dari ketenangan di wajahnya, ia tahu, Naya tidak datang sendiri. “Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini,” ucap Adrian ringan. “Kota ini emang kecil ya.” Naya terkekeh pelan. “Atau kita aja yang sering ketemu nggak sengaja.” Percakapan mereka mengalir mudah, seperti biasa. Tidak ada beban, tidak ada intensi tersembunyi. Hanya dua orang yang sudah nyaman berbagi obrolan ringan. Adrian memperhatikan Naya dengan diam-diam. Cara Naya tersenyum, cara ia menjawab tanpa ragu. Ada sesuatu yang berbeda, lebih tenang, lebih mantap, dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa sedikit sesak. Bukan cemburu, tapi bukan juga penyesalan. Hanya lebih ke kesadaran sunyi bahwa perasaan yang tumbuh di hatinya mungkin datang di waktu yang tidak tepat. Langkah kaki mendekat dari arah belakang Naya. “Dokumennya ketemu,” suara Evan terdengar. Naya menoleh refleks. “Oh, syukurlah, untung nggak hilang.” Evan memberikan map dokumennya ke Naya dan tatapan matanya berhenti sejenak ketika melihat laki-laki lain di sebelah Naya. Ada jeda singkat. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat udara terasa berubah. Untuk ini Hanya Evan dan Adrian saja yang merasakannya. Adrian adalah orang pertama yang bereaksi. Ia tersenyum sopan, mengulurkan tangan. “Halo.” Evan menatap tangan itu, lalu menjabatnya. “Halo.” Nada Evan datar, profesional. Tapi matanya sedikit menyipit. Ada rasa asing yang tidak bisa ia jelaskan dan entah kenapa, wajah Adrian terasa tidak sepenuhnya baru. Naya melirik mereka bergantian, lalu tersenyum kecil. “Evan, kenalin ini Adrian. Teman aku.” “Adrian, ini Evan.” Adrian mengangguk. “Senang bertemu denganmu.” “Begitu juga,” jawab Evan singkat. Tidak ada jabatan yang disebut. Tidak ada penjelasan tambahan, tapi Adrian tahu dari cara Evan berdiri, dari sikapnya, dari aura tenang yang menguasai ruang dan yang paling jelas dari cara Naya berdiri sedikit lebih dekat ke Evan tanpa sadar. Adrian menyimpan kesadarannya rapat-rapat. “Meeting?” tanya Adrian ringan. “Iya,” jawab Evan. “Baru selesai.” “Kebetulan,” balas Adrian. “Aku juga, tapi jadwal aku setelah ini.” Nada suaranya tetap normal, sopan. Tidak ada retakan yang terlihat. Padahal di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergetar pelan. Nama itu, wajah itu. Masa lalu yang tidak pernah benar-benar ia lepaskan. “Kalau begitu, kami lanjut dulu,” ucap Evan, memberi isyarat halus pada Naya. Naya mengangguk. “Aku duluan ya, Adrian.” “Tentu,” jawab Adrian sambil tersenyum. “Sampai ketemu lagi, Naya.” Tatapan mereka bertemu sejenak, tidak ada janji, tidak ada isyarat tersembunyi. Hanya pengertian diam-diam. Adrian melangkah menjauh, menuju lift hotel. Bahunya tetap tegak, langkahnya stabil. Di dalam lift yang tertutup perlahan, Adrian menghela napas panjang. Wajah Evan terlintas jelas di pikirannya. Takdir, rupanya, punya cara sendiri untuk mempertemukan ulang masa lalu. Sementara di dalam mobil, Evan menyetir dengan fokus. Naya duduk di kursi samping, memandangi jalan. “Teman kamu?” tanya Evan akhirnya. “Iya,” jawab Naya tanpa ragu. “Adrian. Kenal dari beberapa kali ketemu nggak sengaja.” Evan mengangguk, tidak bertanya lebih jauh, tapi rahangnya mengeras sedikit. Ia ingat, wajah itu. Laki-laki yang pernah ia lihat tertawa bersama Naya di perpustakaan. Evan tidak mengatakan apa-apa, tidak menuntut penjelasan, tidak menunjukkan rasa tidak suka. Namun satu hal pasti, ia tidak mengabaikan keberadaan Adrian. Mobil berhenti di depan kantor. Evan memastikan Naya turun dengan aman. “Nanti sore kita langsung lanjut meeting sampai selesai,” ucap Evan. “Aku antar kamu pulang.” Naya menoleh, sedikit terkejut. Lalu tersenyum kecil. “Oke.” Hari itu berjalan panjang. Meeting berlanjut, diskusi tak berujung, keputusan-keputusan penting diambil, dan Evan menepati ucapannya. Saat malam turun dan lampu kota menyala, mobil Evan berhenti di depan rumah Naya. “Terima kasih,” ucap Naya pelan. Evan mengangguk. “Istirahat yang cukup.” Ia menunggu sampai Naya masuk ke dalam rumah, pintu tertutup sempurna, barulah ia melajukan mobilnya. Di sisi lain kota, Adrian berdiri sendirian di depan jendela hotel setelah meetingnya selesai. Lampu kota terhampar di bawah sana. Ia tersenyum hambar. “Jadi ini caranya,” gumamnya pelan. Pertemuan itu terlihat biasa, tapi ia tahu, tidak ada yang benar-benar biasa ketika masa lalu dan masa kini akhirnya berdiri di ruang yang sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD