Senyumku mengembang saat melihat Tita tengah berada di dapur apartemenku saat aku membuka pintu. Bau bawang yang tercium jelas menandakan bahwa dia tengah memasak sesuatu. Dia tak menyadari kehadiranku bahkan sampai aku berada di belakangnya seperti ini. Aku langsung memeluknya dari belakang, membuatnya terkejut dan langsung melepaskan diri. "Gue pikir tukang galon yang berani meluk gue" ujarnya tersenyum tipis kemudian membalikkan badan lagi. Aku langsung mengambil kesempatan untuk memeluknya kembali. Biar saja, hari ini terasa lelah dan aku membutuhkan energi darinya. "Bim, lepas ih. Gerah!" Tita masih memberontak di depanku, malah semakin membuatku mengeratkan pelukanku. Aku sudah tidak sabar mendapati pemandangan seperti ini setiap pulang dari rumah sakit. "Kok ngomongnya pake gue

