"Mertuamu sudah kamu hubungi, Ta" pagi ini aku memang memilih untuk sarapan di rumah. Tinggal dua minggu lagi menuju hari pernikahanku. Jujur saja, aku mulai merasa gugup. Berada di dekat Ibu dan Arini bisa membuatku lebih tenang daripada berada di apartemen. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah, pulang pergi menembus macet seperti biasa. Mungkin aka nada hari-hari aku menginap di apartemen, namun sudah tidak rutin lagi. "Dua hari yang lalu sih, Mama nanya soal kebaya dan gaun yang dijait, Bu" aku mengingat pembicaraanku dengan Mama Bima tempo hari melalui telepon, saat Bima ada di rumah ini. Mama Bima sangat ramah padaku, bahkan lebih sering menghubungiku akhir-akhir ini dibanding Ibu. Mama Bima juga terlihat sangat menerimaku, aku tidak perlu lagi kuatir tentang hubungan mertua dan men

