Wanita itu bikin pusing! Dulu saat bersama Gia, dia selalu anteng dan menurut dengan apa yang kukatakan. Sekarang bersama Tita, nyaris semua ucapanku dibantahnya. Membuatku kadang merasa tidak dihargai sebagai laki-laki. Aku tau dia mempunyai prinsip, setidaknya prinsip yang kami pegang masing-masing itu melebur menjadi satu sehingga tidak ada kesalahpahaman yang akan terjadi berikutnya. Tapi dia malah bersikap kekanakan dan tidak mau membalas satupun pesanku di mulai dari malam itu. Tita tidak mengerti, padahal dia adalah satu-satunya orang yang kuharapkan untuk mengerti. Aku sengaja bekerja lebih banyak dalam dua bulan ini untuk persiapan pernikahan kami. Setelah mengatakan pada Papa dan Mama aku mau berkontribusi untuk biaya pernikahan di Palembang. Namun, saat bicara dengan Bu Ningsi

