4.

1476 Words
"Baik, rapat ini saya akhiri disini. Terima kasih untuk semuanya, semoga proyek kita ini dapat berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Saya mohon untuk semua staff, agar tetap selalu jaga kondisi kesehatan, buat tim yang di lapangan tetap jaga keamanan dan keselamatan, patuhi semua protokol dan peraturan yang telah di buat, agar semuanya dapat berjalan dengan lancar." "Silahkan semuanya beristirahat, makan siang telah di sediakan, silahkan dinikmati. Saya permisi pamit." ucap Dio dan tak lupa seutas senyuman terukir di wajahnya. Semua yang berada di ruangan rapat, memberikan tepuk tangan."Baik pak," ucap semuanya. Dio bergegas meninggalkan ruang rapat. Senyumannya terukir sempurna mendengar suara seseorang yang begitu berarti untuknya. "Hallo," sapa seorang gadis disana. "Sudah makan? Gimana keadaan loe?" tanya Dio pada pemilik suara di balik layar handphone. "Baik Dio. Gue belum makan, lagi malas hehehe," jawab gadis itu dengan kekehan. "10 menit dari sekarang gue sampai dirumah loe. Kita makan siang bareng," tukas Dio. "Gue lagi malas keluar Yo." jawab gadis itu memelas. "Jangan ngebantah Sera, gue jalan sekarang." Dio memutuskan sambungan telepon itu sepihak. Tanpa berlama-lama dia bergegas keparkiran dan memasuki mobilnya. Sedangkan di rumah si gadis."Dio Dio, selalu saja melakukan sesuka hatinya. Ck," Tak sampai 10 menit, sebuah mobil hitam memasuki pekarangan rumah gadis cantik yang beberapa saat lalu berbicara padanya lewat telepon. Sera mengintip dari balkon, di lihatnya pria itu turun dari dalam mobil dan memasuki rumahnya. "Non Sera ada diatas den," kata bibi yang bekerja di rumah Sera. "Terimakasih bi, Dio langsung naik keatas," dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamar Sera. Baru saja Dio akan mengetuk pintu kamarnya, pintu itu telah terbuka. Dio tersenyum, dan langsung menarik tangan Sera dan membawanya. "Gue lagi malas keluar, Dio." Dio berbalik dan menatap Sera."Oke kita nggak keluar, tapi setidaknya loe harus makan. Gue nyuruh bibi siapin makan yah!" bujuk Dio dengan suara lembut. Sera menghela nafas pasrah, kalau tidak dituruti Dio akan terus memaksanya. Sera hafal betul watak Dio yang keras. Mereka berdua pun turun kebawah."Tungguin di taman, biar gue yang bilang ke bibi dulu" ucap Sera. "Iya, jangan lama," kata Dio. "Idih apaan sih, sudah sana duluan." Sera mendorong bahu Dio. Dio berjalan menuju taman belakang rumah Sera. Tak berapa lama Sera pun menyusulnya. Sera duduk di kursi taman berbentuk persegi panjang. Dio masih berdiri, sedang melihat ikan-ikan kecil berwarna orange-hitam di dalam kolam kecil. "Loe tuh kalau nggak di turutin pasti ngambek," Sera bersuara. Dio masih sibuk melihat ikan-ikan."Karena kalau nggak di paksa, loe nggak bakalan mau dengerin." ucap Dio serius. "Kenapa gue?" tanya Sera heran. Dio berbalik menatap Sera."Kenapa loe? Karena loe Sera." Sera mencoba mencerna ucapan Dio. Apa maksudnya? "Gue nggak paham maksud loe Dio?" Sera bingung dengan ucapan Dio. Dio sedikit mencodongkan badannya dan menatap mata Sera yang juga sedang menatapnya. "Karena loe Sera Anaya. Nggak usah tanya alasannya." Tangannya mengusap-usap lembut kepala gadis itu. Sera bukan perempuan bodoh, dia tahu ada arti dari ucapan Dio. "Malam nanti gue mau ngajak loe kesuatu tempat." ucap Dio lagi. "Kemana?" "Nanti loe akan tahu sendiri," "Ck, okey. Gue mana bisa bilang nggak. Ujung-ujungnya pasti loe maksa." jawab Sera. "Berdua aja?" lanjut Sera bertanya. Dio menganggukkan kepalanya. "Kak Niko gak diajak?" pertanyaan Sera merubah ekspresi Dio. Dia kesel kenapa Sera selalu mengingat Niko. "Ra, gue cuma mau perginya sama loe. Bukan Niko atau siapapun." Nada suara Dio terdengar sedang menahan kesel. "Iya-iya, udah gak usah sensian. Gue cuma nanya." Dio kalau sedang kesel atau marah sangat terlihat, tidak bisa di sembunyikan. "Non Sera, den Dio. Makanannya sudah siap, mari makan," bibi sedikit berteriak memanggil keduanya, untung saja bibi datang di waktu yang tepat. Kekesalan Dio beberapa detik yang lalu hilang dan dengan cepat wajahnya berubah ceria. "Ayok, gue sudah lapar." Menarik tangan Sera masuk kedalam rumah, menuju meja makan. Sampai di meja makan. Dio menarik kursi dan mempersilahkan Sera duduk. Dan dia sendiri mengambil kursi tepat di depan Sera. Tanpa bersuara, Dio mengambil piring dan mengisi sedikit nasi, sepotong ayam goreng serta sedikit capcay untuk diberikannya pada Sera. "Nih, makan. Habisin, gue cuma naruhnya dikit." ucap Dio, Sera hanya diam memperhatikannya. Dio mengambil piring dan mengisi makanannya. Perutnya sudah sangat lapar. Mereka makan dalam keheningan tanpa suara. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang beradu. Yang penting Sera makan, hanya itu saja tujuan Dio sebenarnya. * * * "Minggu nanti jadwal loe off kan Qhil? Ikut gue yuk beib," seru Levi. Mereka baru saja menyelesaikan makan siang traktiran dari Asqhila. "Kemana? malas gue, mau rebahan aja di kos." tanya Asqhila sambil menyeruput es tehnya yang tersisa dikit. "Anyer," Asqhila menatap Levi dengan mata berbinar."Serius! ke Anyer! Mau dong, gue ikut." Dia sangat excited. "Tapi kita perginya malam, karena jadwal kita berdua sift pagi. Gimana?" "Gak apa-apa sampainya malam, cuma berapa jam doang perjalanan. Biar besok pagi kita bisa snorkeling kek, keliling pantai kek, ngelakuin apa aja gitu, yang penting kita nikmati liburan seharinya. Nanti baliknya malam lagi," lanjut Levi. "Baiklah, gue mau." jawab Asqhila. "Yeee asyik," giliran Levi yang kegirangan. "Eh, tapi kita pergi berdua aja gitu?" tanya Qhila penasaran. "Ya enggak dong, sama eumm-," Levi menggantung kalimatnya, dan tersenyum centil. Asqhila dapat menebaknya. "Ya ya ya, okelah gue paham. Yang penting biaya liburan gue di tanggung sih," Asqhila melirik Levi. "Oh tentu saja beib, tenang semuanya sudah di atur." Levi mengedipkan mata genit. "Beruntung banget gue sahabatan sama loe, paling mengerti." Qhila menepuk-nepuk punggung Levi. "Sakit Qhil, loe cewek tapi tepukkannya kayak preman aja," Levi memengani punggungnya, terasa sakit sedikit. "Gitu doang mewek." Malah Asqhila meremehkannya. "Loe yah, gue sumpahin dapat cowok rese dan galak nanti," ucap Levi sedikit kesel. "Idih, serem amat. Masa nyumpahinnya begitu. Harusnya loe nyumpahin biar gue cepat menemukan keberadaan sepasang sejoli itu." tiba-tiba dia merasa jengkel mengingat kedua orang itu. "Loe tenang aja, gue pasti bakalan bantuin loe cari mereka." giliran Levi yang menepuk punggung Asqhila. Tapi dengan pelan. "Humm, makasih Lev. Sudah yuk, balik kerja." keduanya kembali fokus kerja. Minimarket hari ini lumayan rame pengunjung. Waktu terus berputar, dan siang sebentar lagi akan berganti malam. Dio baru saja keluar dari bilik pintu ruangan kerjanya. "Pak Dio," sapaan dari karyawan saat dia melintas di depan mereka. Dio hanya membalasnya dengan anggukan. Mobilnya telah terparkir di depan pintu lobi. Dengan segera dia memasukinya dan bergegas meninggalkan kawasan kantor. Senyumnya sedari tadi tak sirna. Malam ini akan jadi malam yang penting untuknya, mungkin?. Pukul 19.00, Dio telah tiba di kediaman Sera. "Malam Tante, Om," sapa Dio pada kedua orang tua Sera yang sedang duduk di ruang tamu. "Eh, nak Dio. Duduk sini," Ibunda Sera menyahut dan menyuruhnya duduk bersebelahan dengannya. "Apa kabar kamu nak?" kini giliran Ayah Sera yang bersuara. "Baik Om." "Mau jalan sama Sera pasti. Mah, panggilin Sera," "Iya Om, Dio mau ngajak Sera keluar bentar. Gak lama." ucap Dio sopan. Ibunda Sera baru saja akan naik memanggil anaknya. Namun tidak jadi karena Sera sudah muncul dari atas. "Nah itu dia," ucap Ibunda Sera. "Cantik banget anak mamah," lanjutnya. Dio tersenyum kagum, Sera begitu sempurna dimatanya. "Mah, Pah, Sera keluar dulu bentar yah," pamit Sera. "Om, Tante, kita jalan dulu yah." "Iya, hati-hati. Kalian have fun yah." ucap Ibundanya. "Yuk," Dio menggandeng tangan Sera dan membawa gadis itu menuju mobilnya. "Mau kemana sih? serius deh gue penasaran,"tanya Sera. Mereka kini lagi dalam perjalan menuju suatu tempat. Tempat yang sudah di siapkan Dio dalam waktu yang singkat. Dio tidak menjawab, lelaki itu hanya tersenyum dan itu membuat Sera bertanya-tanya. "Dio ihhh, di tanya malah senyum-senyum doang," Tiba-tiba handphone Sera berbunyi, ada panggilan masuk dari seseorang. Dio melirik sekilas, dia bisa lihat dengan jelas siapa nama yang tertera di panggilan masuk. Kak Niko. "Hallo kak," ucap Sera menjawab panggilan itu. "Aku lagi keluar," ucap Sera lagi, Dio hanya diam fokus menyetir namun telinganya fokus juga mendengar percakapan Sera dan Niko. "Sama Dio," saat Sera mengucapkan nama Dio, dia berbalik menatap Dio. "Iya aku bentaran doang, gak lama juga keluarnya. Kak Niko mau bicara sama Dio?" tanya Sera pada Niko. Sepertinya iya, Niko ingin berbicara pada Dio. Karena Sera memberikan ponselnya pada Dio. Dio menatap sekilas ponsel itu, jujur dia tidak ingin berbicara pada Niko. Tapi dia hilangkan ego nya dulu. Mobilnya dia berhentikan dulu di tepi. Barulah dia berbicara pada Niko. "Ya," satu kata dengan wajah malas. "Loe mau bawa Sera kemana? Biar gue nyusul." ucap Niko. "Gak usah bang, gue cuma mau berdua sama Sera. Kalau ada loe pasti ngeganggu." ucap Dio blak-blakan. Dia tidak ingin Niko menggangunya kali ini saja. "Dio, kok loe ngomong gitu sih sama kak Niko," Sera memukul pelan lengan Dio. "Gak kak, jangan dengarin Dio (Sera mengencangkan suaranya agar Niko mendengarnya). Dio loe apa-apain sih!" "Sudah dulu bang, gue mau jalan sama Sera. Nanti saja kalau loe mau telpon atau bicara sama Sera." Dio memutuskan panggilan dari Niko. Sera menatap Dio dengan kesel, dia mengambil ponselnya dari tangan Dio. Dan memalingkan pandangannya kearah luar jendela. Mobil Dio kembali berjalan menuju tempat yang akan dituju.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD