3. Rejeki Nomplok

1276 Words
Morning Asqhila cantik," sapa lelaki cantik yang baru saja masuk melewati pintu kaca. "Tumben telat, pasti loe pulang larut malam lagi kan!" tanya Asqhila curiga. "Tuh tau beib. Gue bawain sesuatu buat loe," memberikan paper bag berukuran kecil pada Qhila. "Apa nih?(mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag), wahhh cantik banget (kagum melihat benda berbentuk yang di dalamnya terdapat hiasan boneka salju, jika di goyang-goyangkan akan turun salju di dalamnya), thanks yah beib," "Your welcome sis, gue ngeliat itu pas lagi jalan, keinget loe pengen banget ke negera bersalju." ucap Levi, teman sekaligus tempat curhat Qhila. "Next kalau duit gue udah terkumpul, gue bakalan menjelajah ke negeri yang banyak salju, gue juga pengen ke Swiss." Ucap Qhila sembari berandai-andai. Levi menatap Qhila sendu." Qhil, loe baik-baik saja kan? Loe kalau butuh apa-apa, hubungi gue, jangan sungkan. Gue bakalan bantuin sebisa yang gue mampu." Asqhila tersenyum menatap Levi. "Iya. Sudah sana bantuin beresin barang-barang yang lagi di bongkar." kata Asqhila. "Okey," ucap Levi. Lelaki cantik itu segera bergegas membantu yang lain. Note : Aqhila dan Levi bekerja disebuah minimarket yang cukup terkenal dan ramai akan pengunjung. Asqhila sebelumnya sudah melamar kerja di berbagai perusahaan, namun dirinya selalu di tolak. Bukan peruntungannya bekerja di sebuah perusahaan. Bekerja sebagai karyawan minimarket sudah bagus untuknya, dan dia sangat bersyukur. Terlebih lagi karyawan yang lain sangat baik padanya. Asyik menata barang-barang yang akan di pajang di rak display, terdengar suara dari pintu kaca minimarket itu terbuka. Itu tandanya ada pelanggan yang masuk. Seorang pria terlihat sedang mencari sesuatu. Dia berjalan kearah lemari pendingin, sepertinya akan membeli minuman dingin. Dibukanya lemari pendingin itu, dan mengambil beberapa minuman kaleng yang dingin. Setelahnya dia berjalan kearah kasir untuk membayar. Sesampainya di meja kasir, ternyata tak ada seorang pun yang standby di meja itu. Pria itu sedikit berteriak. "Permisi, ini kasirnya mana yah?" Levi mendengar panggilan itu," bentar yah mas, saya panggilin kasirnya," "Ckk, bisa-bisanya meja kasir di biarkan kosong seperti ini. Kalau ada maling gimana?" tutur pria itu. Asqhila mendengar ocehan pria itu. "Qhil, sana ada yang mau bayar," bisik Levi. Asqhila berdiri dan berjalan menuju meja kasir. Betapa kagetnya dia ketika tahu siapa pria yang berdiri di depan meja kasir, pria yang juga mengoceh barusan. "Loe," tunjuk Qhila pada pria itu. Tak kalah kaget dengan Qhila, pria itu pun terkejut melihatnya. "Loe kayaknya ada di setiap sudut." "Oh loe kerja disini, ya ya ya. Bagus," lanjut Dio berkata. Yah, pria itu adalah Dio. Lelaki yang Qhila temui kemarin, dan kemarin lusa. Ini pertemuan ketiga mereka. "Jadi bayar gak?" tanya Qhila, dia malas melihat pria songong ini berlama-lama. Dio menyerahkan beberapa minuman kaleng yang di genggamnya."Jutek amat, sama pelanggan itu harus ramah dan murah senyum." Ledek Dio. Asqhila tak memperdulikan bualan dari mulut Dio. Dia dengan cepat dan teliti men-scan barcode dari minuman agar muncul di layar komputer kasir. "Totalnya empat puluh satu ribu," kata Asqhila sembari menunjukkan angka nominal yang tertera, barangkali pria rese ini tidak mempercayainya. Dio mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada Asqhila. "Ini kebanyakan, totalnya cuma empat puluh satu ribu," Qhila mengembalikan selembar uang merah, dan hanya mengambil selembarnya. Dia akan mengambil uang kembalian, namun Dio telah pergi. Bahkan Asqhila tak menyadari belanjaan minumannya pun sudah pria itu ambil dan berjalan keluar menuju mobil. Dan selembar uang seratus ribu yang dia kembalikan masih tertinggal juga di meja. Beberapa detik dia tersadar dan dengan cepat berlari keluar mengejar Dio. "Hei, tunggu ini kembaliannya," Qhila berlari namun mobil Dio siap untuk pergi. Sebelum benar-benar akan pergi, Dio membuka kaca mobilnya dan berteriak pada Asqhila. "Ambil saja kembaliannya, dan juga uang yang gue simpan di meja, buat loe. Buat loe jajan," setelahnya Dio pun pergi. Asqhila terdiam sesaat. "Cih, dasar songong. Tapi makasih," tanpa sadar dirinya tersenyum. Asqhila kembali berjalan masuk ke dalam minimarket. Kembalian uang dan selembar uang yang di tinggalkan Dio di meja, dia mengambilnya. Dan berjalan menuju Levi serta yang lain, yang masih sibuk menata barang-barang display. "Hari ini kita dapat rejeki," perkataan Asqhila membuat teman-temannya menatapnya heran. "Hari ini, makan siang gue yang traktir," ucap Asqhila tersenyum. "Yes, duit makan gue utuh." Kata Adit. "Siapa yang mau pergi kewarung beli makan, nih duitnya," Asqhila memberikan uang dari Dio. "Gue aja," ucap Lina. "Gue temanin loe," sambung Adit. "Terserah kalian mau beli apa, di cukupin aja buat semuanya." Kata Qhila. Semuanya mengganguk. Dan kembali melanjutkan pekerjaan. Asqhila turut membantu. Karena stok barang yang masuk lumayan banyak. Sebagian di display, sebagiannya di simpan di gudang penyimpanan. Dia akan kembali ke kasir jika ada yang ingin membayar. Minimarket itu tersedia cctv yang menyala 24 jam. Jadi cukup aman untuk mengawasi. * * * "Sudah saya siapkan semuanya pak, sejam lagi rapatnya akan di mulai," ucap Clara, sekretaris Dio. "Makasih Clara, ingatkan saya sejam lagi keruangan rapat." perintah Dio. "Baik pak," Dio berjalan menuju ruangan kerjanya. Baru saja dia duduk, pintu ruangannya di ketok seseorang. Dari balik pintu muncul wajah lawak sahabatnya. "Darimana loe, gue tadi kesini loe kagak ada," tanya Bara. Sahabat Dio. "Dari minimarket, beli minuman." menunjukkan minuman kaleng yang dibelinya tadi. "Keluar cuma beli minuman, kan di kantin kantor loe ada. Atau gak bisa nyuruh OB untuk membelikannya." Bara bertanya dengan heran. "Selagi bisa sendiri kenapa harus nyuruh orang lain. Lagian gue kepengen aja beli di luar." ucap Dio santai. "Iya deh iya, by the way kita jadikan ke Anyer minggu depan?" Bara menatap Dio, mereka memang berencana liburan ke Anyer. Lebih tepatnya Dio yang memaksa Bara semalam saat mereka sedang berkumpul. "Jadi dong," "Hmmm, loe kenapa tiba-tiba pengen ke Anyer?" tanya Bara curiga. "Gak ada, gue pengen aja main ke Anyer, sekalian udah lama juga kan kita gak kesana." "Gak ada hubungannya sama Sera kan?" Bara bertanya hati-hati. Dio terdiam sejenak, kemudian tersenyum simpul. Bara bisa melihat dengan jelas, arti senyuman sahabatnya itu. Dio menatap lurus kedepan." Sepertinya gue gak ada harapan lagi." "Emangnya loe sudah ngungkapin perasaan yang sebenarnya sama Sera. Belum kan? selagi belum ada jawaban, berarti loe masih punya harapan." Ucap Bara menyemangati. "Apa gue harus ungkapin, kalau gue di tolak gimana?" tanya Dio dengan wajah memelas. "Ya sudah kalau di tolak, memangnya mau gimana lagi! Gak mungkin loe maksain Sera kan!" Bara menatap Dio horor. "Loe gak akan ngelakuin hal memalukan itu kan Dio?" Plak (kepalanya mendapat tamparan cukup keras dari Dio). "Jangan konyol, gue gak akan ngelakuin hal itu." "Ya kali aja loe nekat. Cinta itu buta, bisa membutakan segalanya. Orang waras bisa jadi gila kalau sudah terlanjur jatuh cinta. Apalgi cinta yang dipendam sekian tahun lamanya." Ocehan Bara di balas tatapan tajam Dio. "Hehehehe, canda bro." Bara menepuk-nepuk pundak Dio, menyemangatinya agar tak menyerah hingga mendapat jawaban yang pasti. "Setidaknya loe sudah mengungkapkan apa yang selama ini loe pendam. Biarkan Sera tau perasaan loe yang sesungguhnya. Di terima dan tidaknya itu terserah Sera." "Supaya juga gak jadi beban pikiran loe. Biar perasaan loe legah." Dio menatap Bara, sahabatnya itu sangat memahami dirinya. "Thanks bro, gue akan cari waktu yang tepat. Lebih cepat mungkin lebih baik." "Gitu dong, fighting." ucap Bara. Keduanya tengah asyik mengobrol.Tiba-tiba bunyi pintu terbuka. Ternyata itu Clara. "Permisi pak, sebentar lagi rapat akan di mulai." "Okey, terima kasih Clara, kamu duluan keruang rapat, sedikit lagi saya akan menyusul," perintah Dio. "Baik pak," Clara menutup kembali pintu ruangan kerjanya. "Gue balik juga deh ke rumah sakit." pamit Bara. "Sip bro, hati-hati loe salah suntik pasien. Bukannya sembuh malah makin parah." Ledek Dio. Bara adalah seorang dokter umum di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. "Sialan loe," melemparkan sebuah majalah yang terletak di atas meja kearah Dio. Dio tertawa terbahak-bahak, puas ngatain Bara. Setelah Bara berjalan keluar, tak lama Dio pun berjalan keluar menuju ruang rapat dengan sedikit terburu-buru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD