Hana mengibaskan rambutnya. Sekilas aroma parfum yang ia pakai di tengkuknya tersebar.
“Kamu pakai parfum apa, sih, Han? Kok enak.”
“Vanilla kopi gitu, deh! Kemarin aku beli waktu jalan sama Felix,” sahut Hana pada Tita.
Tita mendengus. “Hadeuhhh, kalau ingat Felix tuh jadi ingat pernikahan kalian nanti. Mau sampai kapan kamu sembunyi-sembunyi gini? Kalau lagi jalan sama Felix terus ketemu orang kantor gimana?”
“Ck! Nggak usah khawatir,” decaknya.
“Ya lebih baik kamu keluar baik-baik, kan?! Daripada nanti kamu udah nikah dan di-cut?!”
Tita sebagai sahabatnya sejak kecil sedang menasehati. Namun tetap saja, Hana tak peduli dengan nasehat tersebut. Ia masih tetap ingin bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Masih ingin memenuhi semua keinginannya.
Kebutuhan Hana masih banyak. Terutama perawatan kulitnya. Ia suka menghabiskan waktu dan uang untuk pergi ke salon kecantikan demi mendapatkan kulit yang bagus.
Itulah alasan Hana ia belum mau keluar dari pekerjaannya sekarang. Ia cemas apabila nanti ia menikah dan ekonomi keluarganya hanya fokus pada anak dan suaminya saja. Untuknya hanya uang bulanan dan makan. Tak ada biaya yang diberikan untuk perawatan.
Sedetik sebelum pulang, Hana mendapat telepon.
“Ya, Tante? Ada apa?”
“Hana? Tolong dipikir baik-baik ya. Kalian sudah tunangan dan lamaran. Tanggal juga sudah ada. Pamali kalau dalam setahun kalian belum jadi menikah,” tutur Agnes mengingatkan.
Hana menunduk dengan senyum pahitnya. “Ya, Tante. Nanti Hana pikir lagi sama Mas Felix, ya. Tante tidak perlu cemas.”
Kemudian Agnes menutup telepon tersebut.
***
Sepasang suami istri sedang berpelukan di sebuah sofa. Mereka berdua saling menghangatkan diri karena cuaca yang tak menentu ini. Siang ini sedang turun hujan deras.
“Pah?! Mama tuh dah pengen banget punya cucu! Mama dah umur segini masa belum gendong cucu juga?!” omel Agnes pada Yudha.
Yudha hanya mengusap pundak istrinya itu sambil mengganti-ganti siaran TV.
“Ya sebentar lagi kan Felix juga mau nikah, Mah.”
“Gimana? Hana saja belum mau keluar dari kerjaannya itu! Mama nggak mau kalau nanti cucu mama diasuh sama pengasuh! Nanti kayak anaknya Bu Mawar tuh! Kurang kasih sayang, ortunya sibuk semua,” keluh Agnes.
“Yaaa, mau gimana lagi, Ma?!”
Agnes pun berdiam diri. Tampaknya ia sedang merencanakan sesuatu.
“Eh, Pah? Inget si Dio nggak?”
“Hah? Itu … anaknya si—“
“Iya! Anaknya Sinta!”
Yudha mengangguk. “Inget, Mah. Kenapa?”
Agnes pun berdecak senang. “Mamah ada rencana!”
***
Ponsel itu pun berdering kesekian kalinya. Felix tak menghiraukan getaran tersebut. Hingga kali ini ia berusaha mengangkat panggilan itu.
“Ya, Sayang?”
“Kamu di mana?”
“Maaf, Sayang. Aku sibuk dari pagi.”
Hana mengomel kesal. “Aku tau! Tapi kenapa nggak ada waktu sama sekali untuk balesin chat-ku?”
“Iya, maaf. Aku sibuk banget. Kliennya minta revisi mendadak tadi.”
“Ya, udah! Aku masuk kerja lagi. Tadi istirahat tapi kamu nggak balesin,” sindir Hana.
Tut!
Panggilan itu berakhir dan Hana kembali bekerja.
“Eh! Eh! Katanya ada anak baru!”
“Ya kah?”
“Iya! Pada ganteng dan cantik tau! Nggak kayak kita udah buluk begini,” tawa seorang wanita di balik meja teller.
“Bapak, ini mobile banking-nya sudah saya bantu buka blokir. Nanti setelah lima menit bisa digunakan kembali, ya,” ucap Hana sedikit tak fokus pada nasabah. Telinganya juga mendengar celotehan bagian teller. Ia juga penasaran.
Setelah nasabah terakhir itu pergi, Hana segera membereskan meja kerjanya dan ikut menimbrung dengan Rara dan para teller.
“Anak baru? Haduh, nanti aku disuruh gantiin kerjaan lagi. Males deh,” resah Hana.
Setelah bergosip, mereka semua bersiap pulang.
Kali ini Hana tidak menunggu Felix menjemputnya. Ia memilih memesan taksi online.
Lamun saat Hana sudah menunggu di teras depan, seseorang menyapanya.
“Eh! Pak Angga,” sapa Hana segan.
“Ayo, Hana. Saya antar pulang aja.”
Tampak menolak, Angga langsung saja turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Hana.
Dengan sedikit paksaan tersebut, Hana tidak bisa menolak tawaran bosnya. Sehingga ia ikut masuk ke dalam mobil tersebut.
Hana menunjukkan jalan menuju rumahnya.
Selama perjalanan, obrolan mereka hanya biasa saja. Seputar pekerjaan.
“Han, besok kamu coba proyek baru lagi, ya? Besok biar anak baru yang gantiin kamu di meja depan. Sekalian biar dibantu Rara belajar,” pesan Angga.
“Ohh, ya, Pak,” balas Hana. Sebenarnya tak ingin mengiyakan.
“Hana?”
“Ya, Pak?”
Suasana yang semula adem kini berubah menjadi semakin dingin. Suara parau Angga seolah ingin memberitahukan sesuatu.
“Sebenernya …”
“Apa, Pak?”
“Saya menggunakan kamu sebagai pengalihan saja.”
“Maksudnya?” tanya Hana seiring mengerutkan kening yang sudah terasa kering ini.
Angga mengecilkan suaranya. “Sa-saya dan Reni sudah menikah.”
“HAHHH!? Reni? Reni teller itu?”
“I-iya. Tolong jangan bilang siapa-siapa, ya?! Reni belum siap resign,” ucap Angga. Penuh percaya dengan Hana.
Dari penilaiannya, Hana adalah orang yang mampu menyimpan rahasia. Sehingga ia tak segan memberitahukan sebuah rahasia yang sudah Angga pendam selama hampir satu tahun ini.
Wah, parah Pak Angga, nih! Kalau masih kontrak aja nggak boleh menikah! Apa lagi ini?! Menikah dengan rekan sekantor! Kalau ketawan audit bisa mati kutu mereka berdua, nih!
Sesampainya di depan rumah, Hana berkata. “Ya, Pak. Hana nggak bakalan ember! Tapi saran Hana coba pikirkan baik-baik, ya, Pak. Kasian Reni kalau kena pecat.”
Angga pun mengangguk dan segera bergegas dari hadapan rumah Hana.
Hana pun tersenyum lebar.
Ternyata bukan cuma aku aja yang punya masalah begini! Hahaha!
Hana segera masuk ke dalam rumah. Ia pun bertemu dengan mamanya setelah membersihkan diri.
Mereka berada dalam satu ruang makan. Berhimpitan langsung dengan dapur dan taman belakang rumah.
Hana dengan riangnya mengambil makanan. Sei sapi kesukaannya yang ia pesankan online sebelum ia datang ke rumah. Ia membelikan makan malam untuk keluarganya.
Saat makan, Hana melihat sebuah kelapa di dekat wastafel.
“Mah, itu kelapa mudanya buat aku, yah?” tanya Hana penuh kepercayaan diri. Sebab ia suka kelapa muda. Bisa membuatnya kulitnya bersih.
Indah—ibunda Hana, menyahut. “Huuu bukan. Itu punya mbakmu. Lusa kan hari Sabtu. Dia mau ke rumah.”
Hana terkekeh. “Kirain buat aku, Mah! Kan aku juga suka, lhoh?”
“Ya, udah. Besok mama belikan lagi,” imbuh Indah. Meski dengan gelak tawa mereka yang nampak, rupa Indah sejujurnya sedang berkerut.
“Kenapa, Mah?”
“Kenapa apanya? Mama nggak apa-apa,” balas Indah.
Hana memerhatikan kulit wajah ibunya itu dengan seksama. “Mah!”
“Apa? Astaga mengagetkan saja.”
“Mah! Aku beliin skinker ya? Nanti dipakai biar kulit mama nggak kerutan kayak gitu, lhoh?!”
Hana membujuk mamanya yang serba sederhana ini agar mau menggunakan produk perawatan wajah. Mamanya Hana ini cantik namun jarang sekali mau berdandan apalagi merawat diri. Hanya tampil apa adanya saja. Sangat berbanding terbalik dengan Hana.
“Iyaaa bawelku,” jawab Indah dengan senyuman.
“Mamah juga jangan banyak pikiran, ya! Nanti tambah kelihatan tua,” ejek Hana. Wah, kelewatan!
Ya mama itu mikirin kamu. Kamu belum mau resign dan segera menikah. Padahal sudah tentukan tanggal. Persiapannya butuh waktu. Butuh kamu juga untuk menyiapkan semuanya, Hana. Tidak mungkin, kan, kalau mama dan mamanya Felix yang menyiapkan sedangkan calon mempelainya saja terlihat tidak niat begitu?!
***
Hayo! Yang mau cerita ini terus update bisa bantu promokan di grup atau bisa ramein kolom komentar ^^