M.S.S.W - 2

1070 Words
Terlihat beberapa orang yang sedang berdiskusi di sebuah rumah makan pemancingan joglo. Dengan lampu kelap-kelip yang menyala mengelilingi kolam ikan yang ada di situ.   Suasana malam ini sangat syahdu. Sehingga sangat pas untuk berdiskusi santai.   “Hawane penak ya, Nduk?” kata seorang wanita yang masih terlihat awet muda. Padahal umurnya sudah lebih dari setengah abad.   Hana pun mengangguk serta tersenyum lebar. “Iya, Tante. Hana juga suka di sini.”   Hana bertemu dengan keluarga Felix di restoran ini. Hanya berempat saja. Mereka berdua dengan Agnes dan Yudha, orang tua Felix. Tanpa mengajak adik Felix.   “Ferry ke mana, Ma?”   “Biasa adikmu. Nek dolan yo suwe ngono kui. Lali karo mamah papahe nek wes karo kanca-kancane,” jawab Agnes. Menjelaskan kelakuan adiknya yang sudah lupa waktu ketika sudah nyaman bermain dengan teman-temannya.   Yudha pun membuka percakapan dengan topik baru.   “Tanah di Solo murah-murah, lho, sekarang? Kalian nggak mau beli di sini saja?”   Hana menoleh pada Felix. Saling menatap memberi kode siapa yang akan dahulu untuk menjawab.   “Pah, kalau Felix pindah ke Solo nanti Felix harus mulai usaha dari bawah lagi. Cari pelanggan baru lagi. Felix kan sudah ada pelanggan di Jogja,” jelas Felix pada ayahnya.   Sesudah basa-basi yang mereka lakukan. Setelah semua makanan enak yang mereka santap telah habis. Mereka pun akhirnya perlahan menuju ke topik utama yang menjadi bahan diskusi malam ini.   Felix berkata, “Mah, Pah? Sepertinya pernikahan kami ditunda dulu?”   Tentu saja Hana ketar-ketir. Cemas dengan tanggapan kedua orang tua Felix nanti. Jemarinya sudah berkeringat. Hana pun hanya bisa menunduk. Mengikuti arahan Felix yang berusaha berkata pada orang tuanya itu.   Sudah jelas Agnes memberi tanda tanya besar. Mengapa mereka sampai menunda pernikahan yang sudah terpilih tanggalnya itu?   “Ha-Hana ingin menyelesaikan kontraknya di bank terlebih dahulu sebelum nanti menikah,” balas Felix setelah Agnes bertanya.   “Memang kapan kontraknya habis?”   “Satu setengah tahun lagi, Tante,” ucap Hana sambil gemetaran. Ia juga tak mungkin membiarkan Felix menjelaskan semuanya ketika permasalahan ini ada di Hana.   Masih kaget, Agnes mencoba mengatur napasnya.   “Kalian kan sudah tunangan. Pamali kalau tidak segera menikah dalam kurun satu tahun. Besok Februari kan kamu juga sudah satu tahun bekerja di sana. Sudah cukup untuk hanya memiliki pengalaman,” jelas Agnes dengan napas yang sedikit berat.   Sedangkan Yudha, lebih santai daripada Agnes. Sudah biasa bahwa suami terkadang mengikuti kemauan istri.   “Ya sudah. Begini saja. Kan kalian yang menikah, Mamah hanya bisa kasih saran. Keputusan ada di tangan kalian. Kalau dari Mamah sendiri ya inginnya kalian segera menikah lagi pula kalian juga sudah bertunangan. Inginnya Mamah ya kalian menikah bulan Februari nanti. Sesuai kata kalian dahulu.”   “Ya, Tante. Nanti Hana dan Mas Felix pikirkan lagi,” balas Hana lembut. Berusaha menjaga tutur katanya.   ***   Dalam perjalanan kembali ke Jogja, Hana dan Felix diam tanpa kata. Hanya musik yang bersuara selama ini.   Lalu Felix angkat suara. Menjelaskan dalam bahasa yang halus agar Hana mengerti dan tak emosi.   Menjelaskan bahwa sebenarnya Agnes ingin segera mereka berdua menikah. Sebab Agnes sudah menganggap Felix sudah siap dan Felix adalah anak pertama. Sehingga diharapkan sudah memiliki keluarga sendiri.   Sedangkan Hana masih perlu menyiapkan mental. Felix tahu bahwa Hana adalah anak kedua dan terakhir. Sehingga sifatnya masih kekanak-kanakkan dan lebih santai dalam menghadapi berbagai masalah.   Kini Hana bisa bekerja dan memiliki uang sendiri. Jadi sudah pasti Hana ingin menikmati hasil kerja kerasnya ini dan masih ingin belum terlalu serius. Masih ingin menyenangkan dirinya sendiri. Mungkin terdengar sedikit egois tetapi ia juga ingin memenuhi kesenangannya sendiri sebelum berpindah ke jenjang lebih serius.   Karena dalam pernikahan bukan hanya memikirkan dirinya sendiri. Melainkan memikirkan pasangan dan anak kalau sudah memiliki nanti.   “Ya, Mas. Hana tau. Makanya Hana sebisa mungkin nggak mau orang kantor dengar kalau kita mau menikah sampai setidaknya Januari nanti Hana mengajukan pengunduran diri. Nanti kalau sudah mendekati setahun … Hana pikirkan lagi mau lanjut atau nggak. Hana cuma nggak mau dipecat karena melanggar peraturan kalau belum boleh menikah selama kontrak berjalan,” jelas Hana.   Felix pun berusaha menenangkan kecemasan tunangannya ini. Dia menggenggam tangan Hana saat berada di pemberhentian rambu lalu lintas.   I will always be the one who pull you up When everybody push you down It is only me Believe me girl, it’s only me   Musik penenangpun disuarakan oleh Felix. Semoga Hana bisa mengetahui maksudnya ini.   Saat sudah sampai di depan rumah, Hana berkata. “Mas, tunggu aku ya?”   Felix mengusap pelan kepala Hana. “Iya. Kamu juga udah nungguin aku sampai di titik ini. Sampai akhirnya aku bisa ajuin pembelian rumah dan punya mobil ini. Meski masih angsuran,” tawa Felix agar tak terlalu ada drama malam ini.   “Hih! Yang penting uang sendiri, lhoh!? Ya udah. Aku masuk rumah dulu,” pamit Hana sambil menjulurkan lidah.   Dengan jendela mobil yang masih terbuka setengah, Hana melambaikan tangan. “Daaa! Nanti kabarin kalau udah sampai rumah!”   Seusai bebersih diri, Hana merebakan diri di ranjang kamarnya. Sudah hampir tengah malam.   Sesampainya di rumah Hana juga belum menyapa kedua orang tuanya. Semuanya sedang tidur, pikirnya.   Hana menyalakan musik penghantar tidur. Ia juga pasti mengecek ponselnya. Beberapa pesan masuk dan belum sempat ia balas. Ritual malam yang selalu ia lakukan sebelum tidur. Termasuk menggunakan segenap produk perawatan kulit.   Hana menyukai sejumlah skincare. Yang tentu saja bisa dengan mudah ia dapatkan sebab ia juga bekerja. Hal yang ia pikirkan sebelum menikah. Karena ketika menikah nanti Felix ingin Hana mengurus rumah. Sedangkan untuk finansial Felix bisa mengusahakan itu.   Maksud Hana, ia pasti juga akan merasa malu meminta uang pada suami untuk kebutuhan kulitnya ini yang termasuk bermacam-macam. Entah dari toner, serum, pelembab dan perawatan laser serta yang lain. Semua itu butuh uang dan nominalnya tak murah.   Seusai merawat diri malam ini, Hana mengecek pesan masuk di aplikasi.   “Hana? Besok temani Pak Angga mau? Aku ada perlu. Soalnya Pak Angga mau coba proyek baru. Cuma aku  harus ngajarin pegawai baru soalnya trainer kita kurang, jadi kamu yang gantikan aku saja?”   Pesan yang membuat Hana berhawa dingin. Tidak ingin membalas dan berniat tak akan membalas pesan tersebut.   Bukan salah Hana juga. Ini sudah jam malam dan hari Minggu.   Hana bersikap acuh terhadap pesan tersebut karena merasa malas dengan kerjaan tambahan di luar tugas kerjanya sendiri sebagai customer service.   Ia mematikan ponselnya dan mencoba tidur pulas. Tak lupa mengirimkan pesan kepada Felix.   “Aku tidur duluan. Love you.” *** Tulis komentar dulu di setiap bab biar author update terussss!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD