LIMA WANITA

1016 Words
Lalu lelaki yang dari tadi udah berdiri tegak di samping sofa yang di duduki oleh tuannya, kini ia menatap Seo Ji dan Klara lalu ia mulai berbicara. "Maksud dari Tuan Tae Haa adalah---" Lelaki itu belum juga berbicara dan menjelaskan maksud tuannya namun Tae Haa udah memotong terlebih dahulu. "Apa susahnya kalian bawakan saya wanita!" sentak Tae Haa. Tae Haa adalah anak tunggal dari Kim Group, ia lelaki yang sangat dingin dan arogan. Tidak ada yang berani berbicara dengannya kecuali lelaki yang ada di sampingnya itu, lelaki yang baru aja ingin menjelaskan maksud dan tujuan tuannya datang kesini. Namun udah disela duluan pembicaraan itu oleh tuannya sendiri. "Baik Tuan!" Seo Ji membungkukkan badannya dengan sangat sopan. "Nam Joo!" panggil Tae Haa pada lelaki yang berdiri tegap di sampingnya itu. "Ya Tuan!" Nam Joo sangat patuh dan selalu membungkukkan badannya pada tuannya yang selaku bosnya. Nam Joo adalah assisten Tae Haa sekaligus tangan kanannya, udah pasti Nam Joo juga orang kepercayaan menurut Tae Haa. Tae dan Nam kemana-mana selalu bersama-sama, karena Tae orangnya kurang bisa bergaul dan berbicara dengan orang-orang asing. Lebih tepatnya, tingkat emosional Tae Haa sangat tinggi terhadap orang-orang asing di sekitarnya. "Ambil uang yang ada di koper dalam mobil!" titah Tae Haa dengan santai. "Dua-duanya apa satu aja Tuan?" tanya Nam Joo. "Satu dulu aja dan kasih buat mereka!" Tae Haa menunjuk ke arah Seo Ji dan Klara. "Siap!" Nam Joo langsung bergegas pergi keluar dari ruang VVIP. "Terimakasih Tuan!" Kompak ucapan rasa terimakasih dari Klara dan Seo Ji. Seo Ji dan Klara langsung berlutut seperti tanda sangat berterimakasih pada Tae Haa. "Wanitanya yang cantik, dan saya akan berikan apapun untuk wanita itu asalkan dia mau melahirkan anak untuk saya!" tegas Tae Haa pada Klara dan Seo Ji. Lagi-lagi Klara dan Seo Ji masih enggak mengerti dengan apa yang di inginkan Tae Haa. Mereka berdua saling bertatapan lalu bangun dari berlutut. "Tuan---" Seo Ji seperti ingin bertanya lagi namun Tae Haa langsung mengangkat tangannya memberi kode agar jangan melanjutkan ucapannya. "Nam Joo akan jelaskan semuanya saat dia kembali dengan koper itu," kata Tae Haa. "Baik Tuan!" "Cepat bawakan banyak wine!" titah Tae Haa yang seperti membutuhkan minuman banyak hari ini, karena raut wajahnya sangat kusut seperti dikejar banyak rentenir. Tidak mungkin juga seorang Tae Haa memiliki banyak hutang, keluar dia sangat kaya dan pasti uangnya enggak akan habis untuk tujuh turunan nanti. "Aku mengizinkan suamiku untuk nikah kontrak dengan wanita lain!" Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telinganya Tae Haa dan didalam otaknya, membuat dirinya sekarang jadi kacau tidak karuan. "Kenapa setelah menikah, hidup kami seperti ini," batin Tae Haa yang sedang memikirkan nasib hidupnya sekaligus nasib rumah tangganya. Seo Ji dan Klara udah pergi dari ruangan VVIP dan meninggalkan Tae Haa sendirian disana, namun diluar ruangan VVIP itu. Bodyguard Tae Haa sangat banyak ada lima orang dan body-nya sangat kekar dan wajahnya sangat seram, membuat orang-orang yang lewat didepan ruangannya sangat takut dan bergidik ngeri. "Kenapa sih Natalie enggak mau punya anak dari aku? Katanya dia mencintaiku, aku udah menikahinya tapi dia enggak mau melahirkan anakku. Apa sekarang aku jelek dan tidak tampan lagi?" Tiba-tiba Tae Haa memikirkan itu, ia seperti ketakutan kalau istrinya tidak mencintai dirinya karena udah tidak tampan seperti dulu. Tae Haa juga jadi berpikir kalau Natalie enggak mau punya anak darinya karena dirinya udah jelek, lalu Tae Haa mengambil ponselnya dan membuka kamera. Tae Haa langsung menatap dirinya sendiri dan membuktikan apa dirinya udah jelek atau masih seperti dulu. "Sepertinya aku masih tampan seperti dulu tapi kenapa istriku enggak mau punya anak?" Tae Haa terus-menerus memikirkan itu membuat kepalanya sakit. Tidak lama kemudian... Nam Joo kembali masuk kedalam ruangan dengan membawa satu koper di tangannya. Lalu Nam Joo menyimpan koper itu diatas meja dan seperti biasa ia duduk tegap di samping sofa tuannya. "Duduk!" titah Tae Haa tanpa melirik Nam Joo. "Tidak Bos, terimakasih atas tawarannya," ucap Nam Joo dengan suara lantang. "Heh, duduk!" titah Tae Haa lagi pada asistennya. "Tidak apa-apa Bos, saya berdiri aja!" Nam Joo kekeh tidak mau duduk. "Duduk, atau---" "Baik Bos!" Akhirnya Nam Joo duduk di sebuah sofa dekat Tae Haa namun mereka enggak duduk di satu sofa yang sama. Nam Joo sebenarnya sangat sungkan duduk dengan Tae Haa, karena menurutnya ia tidak pantas duduk dengan bosnya. Namun Tae Haa udah menganggap Nam Joo seperti teman dan sahabatnya. "Kenapa dua kurcaci itu lama sekali!" sentak Tae Haa seperti tidak sabar. "Bo---Bos, apa yakin akan mencari wanita itu disini?" tanya Nam Joo yang sedikit gugup. "Yakin," jawab Tae Haa dengan singkat dan seperti percaya diri bahwa dirinya akan mendapatkan wanita yang cocok di Klub ini. "Tapi Bos, nyonya Natalie udah memberikan beberapa profil wanita ke email," celetuk Nam Joo. "Saya tidak butuh profil seperti itu, saya hanya butuh wanita yang bisa melahirkan anak!" tegas Tae Haa yang seperti malas membahas pilihan wanita dari istrinya itu. "Baik Bos!" Nam Joo enggak bisa memaksa Bosnya lagi untuk mendengarkan ucapannya karena ia tidak mau terjadi hal-hal aneh pada dirinya karena terus-menerus memaksa Bosnya. Tidak lama kemudian... Beberapa pelayan datang membawa banyak wine, minuman lainnya dan juga makanan. Pelayan itu menyajikan semua bawaannya diatas meja dengan baik, namun Tae Haa langsung mengambil botol wine dan ingin langsung di teguk ke dalam mulutnya. Tiba-tiba aja Nam Joo mengambil botol itu dan langsung menuangkan wine kedalam gelas, lalu memberikan gelas itu pada bosnya. "Silahkan Bos!" Nam Joo menyodorkan gelas yang berisi wine itu. "Oke!" Tae Haa langsung mengambil gelas itu dan meneguk wine dengan sekali tegukan. Pelayan tadi langsung pergi setelah selesai menyajikan semuanya diatas meja, tidak lama kemudian Klara dan Seo Ji kembali masuk kedalam ruangan dengan membawa beberapa wanita. "Ini Tuan pesanannya," ucap Seo Ji sambil menatap lima wanita yang ia bawa kedalam ruangan. Tae Haa yang tadinya sedang minum, ia langsung berhenti minum dan menatap lima wanita itu dengan sangat teliti. "Semoga ada yang cocok untuknya," batin Klara. Tae Haa masih menatap ke-lima wanita yang berdiri di depannya itu, ia menatapnya dengan sangat teliti dan sangat serius. "Apa wanita ini jalang semuanya?" tanya Tae Haa sambil menatap Klara dan Seo Ji. "Saya enggak mau wanita jalang!" sentak Tae Haa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD