Aku hanya menghela nafas saat mengatakan itu, aku tidak ada niat juga untuk meminjam uang pada siapapun. Tapi, hari ini aku harus melunasi hutangnya.
"Apa aku bisa membayar semua hutangnya Jun?" tanya aku pada diri sendiri.
Sekilas aku bersandar pada sofa yang sedang aku duduki, aku juga memijat pelan pelipis aku sambil memejamkan mataku. Hari ini rasanya sangat lelah bagiku, ingin sekali rasanya ikut dengan orang tuaku.
Aku langsung membuka mataku dan berkata. "Apa yang baru aku pikirkan?"
Aku tidak menyangka kalau diriku memikirkan ingin ikut dengan mendiang orang tuaku. Kalau aku benar-benar ikut dengan mereka, lalu bagaimana dengan Jun?
"Lama banget sih Klara!" gerutu aku setelah melirik jam tangan.
Aku menatap layar ponsel yang masih membuka pesan dari sang Bos, aku mencoba mengeluarkan pesan itu dan ingin memasukkan ponselku kembali kedalam tas. Namun, tiba-tiba aja ponselku berdering ada panggilan masuk.
"Siapakah?"
Aku langsung menatap layar ponsel dan segera menjawab telepon itu.
Di telepon.
"Halo Bos," sapa aku saat menjawab telepon itu.
Entah kenapa Bos Yoo Gi menelepon aku membuat sedikit terkejut.
"Hai Cha, bagaimana kabar kamu? Kenapa pesan saya tidak dibalas?" Bos Yoo Gi memberikan banyak pertanyaan padaku membuat diriku bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu, belum lagi nada bicara sang Bos yang sangat cepat seperti orang dikejar hantu.
Beberapa detik kemudian.
"Kabar saya baik Bos, dan maaf pesannya tidak dibalas karena baru sempat pegang ponsel," jawab aku yang berbohong pada Bos sendiri.
"Syukurlah kalau kamu sehat, oh kamu sibuk ya? Kapan kamu akan kembali bekerja?" tanya Bos Yoo Gi dengan suara seperti membutuhkan diriku.
"Kalau itu saya kurang tau karena---"
"Karena kamu harus membayar biaya rumah sakit?" Tiba-tiba Yoo Gi mengatakan itu ditelepon membuat aku membulatkan mata.
"Bo---Bos tau dari mana?" aku benar-benar terkejut mendengar perkataannya itu.
"Kenapa kamu enggak bilang kalau adik kamu mengalami kecelakaan? Saya ini Bos kamu, kenapa juga kamu enggak meminta bantuan saya!" Nada bicaranya Yoo Gi seperti sedikit kesal.
"Bo---Bos, saya hanya tidak ingin merepotkan Bos aja," ucap aku dengan lirih.
"Tidak ada yang merepotkan, kamu ini sekertaris saya dan saya sangat membutuhkan kamu. Jadi berapa biaya rumah sakit dan saya ingin kamu segera kembali bekerja!" titah sang Bos yang berbicara seperti benar-benar membutuhkan diriku untuk berada di sampingnya.
Karena seorang sekertaris memang tidak bisa jauh-jauh dari Bosnya, namun mau bagaimana lagi? Aku benar-benar bingung dengan semua ini.
"Loh, kenapa diam?" tanya Yoo Gi dibalik layar ponsel itu.
"Bos tidak perlu, saya bisa bayar semuanya---"
"Ya udah kalau kamu tidak akan berterus-terang pada saya, saya akan langsung lunasi biaya rumah sakit dan biaya lainnya!"
Tut.
Tut.
Tut.
Tiba-tiba aja telepon itu di matikan oleh Bos dan aku hanya bengong sambil menatap ponselku.
"Kenapa Bos ini keras kepala sekali," ucap aku sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi, bagaimana bisa Bos tau kalau adik aku kecelakaan? Apa ada seseorang yang memberitahunya?" Tiba-tiba aku memikirkan itu, karena aku tidak pernah berterus-terang padanya.
Aku kembali memasukkan ponselku kedalam tas dan aku masih duduk di sofa sambil menunggu Klara.
***
Pukul 19.00.
Aku udah di make-up oleh Klara, aku juga menggunakan pakaian bagus dan sedikit terbuka.
"Klara, apa enggak ada pakaian yang lain?" tanya aku yang merasa tidak nyaman dengan pakaian yang menempel di tubuhku.
"Tidak ada, kau cantik pakai ini Cha," jawab Klara yang dari tadi masih menatap tubuhku dari atas hingga bawah dengan berkali-kali.
"Oke, tapi berhenti kau menatapku seperti itu!" gerutu aku pada Klara karena aku benar-benar merasa lebih tidak nyaman saat sang sahabat menatapku seperti ini.
"Hahaha aku aja wanita suka dengan kamu Cha, bagaimana nanti lelaki!"
"Hei, aku masih normal!" sentak aku yang agak kesal dengan perkataan Klara.
"Hahaha!"
Tiba-tiba aja Klara keluar dari ruang ganti, entah dia akan pergi kemana. Aku langsung menghadap kearah cermin dan menatap tubuhku, aku bercermin dengan cermin full body membuat diriku puas melihat diri sendiri.
"Baru kali ini aku menggunakan pakaian seperti ini," gumam aku yang masih tidak percaya dengan semua ini.
Saat ini aku menggunakan dress berwarna merah dan sangat seksi, karena dress ini sangat pendek hanya sampai atas lutut dan tidak menutupi lutut aku. Lalu lengannya tidak ada seperti menggunakan kaos dalam namun disebelah kiri ada pita lumayan besar.
"Tapi aku suka dengan warnanya merah dan sangat cocok untuk kulitku yang putih," ucap aku sedikit tersenyum.
"Kenapa juga aku memuji diri sendiri haha padahal belum tentu orang lain akan memuja diriku," kata aku sambil geleng-geleng kepala dan langsung tidak bersemangat.
Klara baru aja sampai disebuah ruangan VVIP dan disana udah ada suaminya dan beberapa orang lainnya. Klara langsung membungkuk sopan pada seorang lelaki yang sedang duduk di sofa.
"Good Night, mister," sapa Klara dengan suara ramah.
"Hahaha kenapa kau sok Inggris?" tanya seorang lelaki yang sedang duduk di sofa itu.
Klara langsung menggarukkan kepalanya dan berkata. "Maaf Tuan, saya dengar kalau---"
"Ya semenjak saya menikah saya tinggal di Amerika tapi tidak selamanya karena perusahaan saya juga ada di Korea," ucap lelaki itu dengan tegas.
"Bagaimana Tuan kabarnya? Tumben sendirian aja?" tanya Seo Ji.
Seo Ji adalah suami dari Klara, Seo Ji ini sangat mengenal lelaki yang sedang ia ajak bicara.
"Saya baik, istri saya sibuk dengan kerjaannya," jawab lelaki itu dengan malas.
"Kalau begitu, haruskah saya bawakan---"
Klara belum selesai berbicara namun lelaki itu langsung menatap sinis kearah Klara.
"Ma---Maaf Tuan," ucap Klara lalu menundukkan kepalanya.
Klara sangat tau kalau lelaki ini sangat tidak suka kalau saat datang ke Klub dibawakan seorang wanita untuk menemaninya, namun kali ini berbeda.
"Bawakan satu wanita yang bisa melahirkan anak untukku!" titah lelaki itu membuat mata Klara melotot dan sekilas menatap suaminya.
Klara dan Seo Ji saling bertatapan dan sangat terkejut dengan ucapan lelaki itu, lelaki yang selama ini tidak pernah mau dibawakan seorang wanita kedalam ruangannya. Tapi yang membuat Klara dan Seo Ji terkejut bukan masalah wanita, melainkan masalah anak.
"Tu---Tuan, maksudnya apa melahirkan anak?" Klara benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh lelaki itu.
"Maksudnya Tuan udah bercerai dengan nyonya Natalie?" Lagi-lagi Seo Ji malah memberikan pertanyaan aneh pada lelaki itu membuat lelaki itu mengerutkan keningnya.
"Heh! Siapa juga yang mau bercerai dengan istriku!" Lelaki itu langsung menatap tajam kearah Seo Ji lalu ia berpangku tangan.