"Ju-Jung!" panggil aku dengan sangat gugup.
Aku langsung bangun dari duduk dan langsung menekan tombol darurat yang ada didekat ranjang Jung. Aku langsung menggenggam lengan Jung dan mengusap-usap.
"Ayo bangun!"
Aku terus-menerus menggenggam lengannya dengan erat, dan tidak lama kemudian. Dokter dan beberapa suster masuk kedalam ruangan.
"Dok, tangan Jung bergerak!" teriak aku saat melihat keberadaan Dokter dan suster yang udah masuk kedalam ruangan.
Dokter dan suster itu bergegas menghampiri Jung, aku langsung menghindar dari ranjang itu agar tim medis bisa mengecek keadaan Jung lebih leluasa.
"Tuhan, sadarkan adikku," batin aku yang terus-menerus memohon.
Beberapa menit kemudian.
Dokter dan para suster selesai mengecek keadaan Jung, namun Jung masih belum membuka matanya.
"Bagaimana Dok, keadaan adikku?" tanya aku sambil menatap sang Dokter.
Dokter itu sedikit menundukkan kepalanya dan berkata. "Tuan Jung belum memberikan tanda kapan ia akan sadar, dan sepertinya yang tadi dilihat oleh nyonya Mi Cha hanya reaksi obat aja," jawab Dokter yang menjelaskan keadaan.
"Hah? Itu enggak mungkin Dok! Aku lihat sendiri kalau tangan adikku bergerak," kata aku yang kekeh karena Jung benar-benar menggerakkan tangannya.
"Iya nyonya saya mengerti apa yang dijelaskan oleh nyonya Mi Cha, tapi keadaan sekarang memang seperti ini," ucap Dokter yang mencoba menenangkan diriku.
Aku menghela nafas panjang dan berkata. "Baiklah, mungkin semua ini belum saatnya untuk Jung bangun," balas aku dengan suara lirih.
Dokter sedikit menundukkan kepalanya dan seperti merasa tidak enak denganku, namun mau bagaimana lagi? Jung memang belum bisa bangun dan sadar dari koma. Aku hanya bisa berdo'a dan menjaga dirinya, namun aku juga sedang bingung dengan hutang yang hari ini harus segera dilunasi.
"Kalau begitu, kami permisi nyonya," ucap Dokter.
Aku hanya menganggukkan kepalaku lalu Dokter dan beberapa suster itu melangkah pergi keluar dari ruangan satu persatu. Aku kembali duduk di kursi di dekat Jung yang masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
"Aku akan selalu di sampingmu, Jung!"
Aku kembali menggenggam lengan Jung, lalu aku tersadar kalau harus menghubungi Klara untuk meminta bantuan.
"Semoga Klara bisa membantu diriku," batin aku lalu bangun dari duduk dan mencoba mencharger ponselku.
Pukul 12.00.
Seorang wanita baru aja masuk kedalam ruang kamar Jung. Aku langsung menatap kearah pintu kamar.
"Klara!"
Panggil aku setelah melihat seorang wanita masuk kedalam kamar, seorang wanita itu adalah sahabatku. Klara langsung bergegas menghampiriku dan memelukku dengan erat.
"Cha, maaf aku enggak bisa membantu kamu," bisik Klara ditelinga aku.
"Enggak apa-apa Ra," bisik aku di telinganya.
Klara melepaskan pelukannya dan menatapku, lalu ia mengatakan. "Apa benar Jun memiliki hutang sebanyak itu?" tanya Klara dengan mata melotot.
Klara sangat tidak percaya kalau Jun memiliki hutang sebanyak itu, entah juga uang sebanyak itu dipakai untuk apa. Klara juga selalu memanggil adikku dengan sebutan Jun.
"Ya benar adikku memiliki hutang sebanyak itu," jawab aku sambil menundukkan kepalaku.
Klara menghela nafas dan berkata. "Aku tidak ada uang sebanyak itu, tapi malam ini di klub aku akan ada---"
Klara belum sempat menyelesaikan pembicaraannya namun aku langsung memotong pembicaraan itu.
"Biarkan malam ini aku melayani tamu itu, tapi aku ingin semua tip dari tamu itu untukku," ucap aku yang udah memotong pembicaraan Klara.
Klara menganga dan sangat terkejut saat diriku mengucapkan itu, karena Klara tau siapa aku. Aku sangat anti melayani tamu di klub dia, bahkan kalau diajak ke klub dia aja. Aku selalu beralasan ini-itu, namun karena sekarang aku sangat membutuhkan uang untuk membayar semua hutang Jung. Aku harus melakukan banyak pekerjaan, walaupun pekerjaan itu kotor.
"Kau yakin?" tanya Klara dengan menyentuh kedua pundakku
"Yakin," jawab aku dengan menganggukkan kepalaku.
"Kalau begitu jam tiga sore kau harus datang ke klub dan aku akan membuat kamu sangat cantik hari ini," ucap Klara sambil tersenyum.
Klara sangat bahagia saat diriku akan melayani tamunya malam ini di klub, namun aku merasakan perasaan yang tidak enak akan pekerjaan ini. Tapi, aku tidak bisa menolak pekerjaan ini karena aku benar-benar membutuhkannya.
"Lalu, bagaimana dengan adikku?" Disaat seperti ini aja aku masih memikirkan adikku, kalau aku nanti bekerja malam ini. Siapa yang akan menjaga adikku disini? Aku tidak bisa membiarkan adikku sendirian disini, walaupun adikku sedang koma setidaknya harus ada seseorang yang menjaga dirinya.
"Aku akan sewa suster untuk menjaganya," kata Klara.
"Baik!"
Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Klara, aku juga tidak yakin kalau Klara yang akan menjaga Jung. Karena Klara juga harus mengurus Klub nya yang sedang diambang kebangkrutan.
"Ra, thanks!"
Sekilas aku memeluk Klara dan Klara mengusap-usap punggungku, kami benar-benar sedih dengan nasib yang sedang kami alami. Sebenarnya aku enggak mau menceritakan semua ini pada Klara, tapi kalau bukan pada Klara yang aku ceritakan. Aku harus bercerita dengan siapa? Aku sama sekali tidak memiliki teman atau sahabat lainnya kecuali Klara.
"Sama-sama," ucap Klara setelah aku melepaskan pelukanku. "Oh ya, lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Klara seperti mengkhawatirkan pekerjaan aku.
"Aku masih cuti, mungkin aku akan kembali bekerja setelah hutang Jung lunas," jawab aku dengan asal.
"Lunas?" Klara mengulang jawaban aku.
"Entah juga kapan hutang Jung akan lunas," ucap aku dengan geleng-geleng kepala.
Sebenarnya aku tidak pernah tau apa diriku bisa membayar semua hutang-hutang Jung, tapi aku ahrus membayar semua hutangnya. Aku tidak mau saat Jung sadar nanti, ia masih harus di sibukkan dengan hutang yang semakin menumpuk.
***
Pukul 15.00.
Aku dan Klara baru aja sampai di Klub.
"Naik aja terlebih dahulu keatas!" titah Klara seperti akan sibuk dengan sesuatu.
"Oke!"
Aku hanya menuruti apa yang dikatakan Klara, lalu Klara mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Semoga Jung tidak akan pernah tau kalau aku bekerja seperti ini selama dirinya koma," batin aku yang perlahan-lahan menaiki anak tangga menuju atas.
Aku udah berada diatas dilantai dua, namun aku bingung aku harus memasuki ruangan mana.
"Aku harus kemana ya?" tanya aku pada diri sendiri lalu melirik sekitar.
Ada sebuah sofa berwarna merah, aku memutuskan untuk duduk disana sambil menunggu Klara.
"Semoga dia enggak lama," gumam aku yang menunggu kedatangan Klara.
Aku mengambil ponselku dan melihat ada sebuah pesan masuk, aku langsung membaca pesan itu.
Pesan.
Bos Yoo Gi:
Halo Mi Cha, bagaimana kabar kamu? Semoga sehat selalu. Oh ya, sebenarnya kamu cuti kenapa?
Setelah aku membaca pesan itu, rasanya ingin sekali aku meminjam uang padanya.
"Haruskah aku meminjam uang Bos Yoo Gi?"