BERGERAK

1002 Words
"APA YANG KAMU BICARAKAN!" Tae Haa menatap sang istri dengan wajah sedikit marah dan beberapa pelayan yang ada disana sedikit terkejut dengan suara anak majikannya yang sangat kencang. Natalie menatap suaminya dan berkata. "Aku bicarakan apa yang ada didalam hatiku!" Natalie mulai menyentuh lengan suaminya. Namun Tae Haa langsung menepis tangan istrinya dan mengatakan. "Aku akan melupakan pembicaraan kamu yang barusan," ucap Tae Haa yang ingin melangkah pergi. Natalie langsung menahan tangan suaminya dan berkata. "Sayang, ayo nikah kontrak," kata Natalie dengan suara memohon pada suaminya. Dari raut wajah Natalie ada rasa lelah dan kecewa dengan mertuanya itu, ia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk rumah tangganya. Karena Natalie benar-benar tidak menginginkan anak dari pernikahannya dengan sang suami, namun sang mertua selalu menuntut akan keturunan untuk keluarga Kim Group. "Apa semalam mabuk membuat otak kamu sedikit geser?" tanya Tae Haa sambil menatap sang istri dengan tatapan serius. "Tidak sayang," jawab Natalie lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lalu kenapa kamu ..." Tae Haa belum melanjutkan perkataannya namun sang ibu menyela perkataan sang anak. "Ibu setuju dengan apa yang dikatakan Natalie," kata ibu Kim. "IBU!" Tae Haa tidak suka dengan perkataan ibunya membuat ia langsung berteriak dan membulatkan matanya. "Ayah juga setuju," ucap ayah Kim yang tiba-tiba mengatakan itu dari mulutnya membuat Tae Haa semakin membulatkan matanya dan melotot seperti orang kerasukan. "Wah benar-benar gila!" Tae Haa memegangi kepalanya lalu mengacak-acak rambutnya yang dari tadi udah rapih, kini rambut Tae Haa berantakan seperti orang hang baru bangun tidur. Wajah Tae Haa benar-benar marah, kesal dan campur aduk. Hari ini adalah hari yang membuat Tae Haa emosi oleh istrinya sendiri, Tae Haa tidak menyangka kalau sang istri akan mengatakan dan memberikan saran seperti itu. "Sepertinya kamu udah tidak mencintai aku lagi," batin Tae Haa yang sekilas melirik kearah sang istri. Ibu Kim langsung bangun dari duduknya dengan wajah sumringah, entah bagaimana caranya ibu Kim memberikan raut wajah itu didepan anaknya. "Lagi pula semua ini keinginan istri tercinta kamu, kenapa harus ditolak juga, Tae!" Ibu Kim mengatakan itu dengan menatap Tae Haa dan Natalie secara bergantian. "Tapi bu ..." Tae Haa menghentikan ucapannya lalu menghela nafas dengan panjang. Tae Haa rasa tidak ada gunanya menentang ibunya karena sang ibu selalu ingin menang darinya, lalu ayah Kim juga ikut bangun dari duduknya. "Percepat aja kapan Tae Haa harus nikah kontrak," celetuk ayah Kim yang membuat Tae Haa semakin mengacak-acak rambutnya sendiri. Ayah Kim dan ibu Kim langsung melangkah pergi dari ruang makan, dan Natalie juga ingin melangkah pergi meninggalkan suaminya. Namun, Tae Haa menahan tangan sang istri. "Ada apa?" Natalie menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tae Haa menatap sang istri dengan dalam lalu berkata. "Kamu yakin mengizinkan aku nikah kontrak dengan wanita lain?" Lagi-lagi Tae Haa membahas nikah kontrak yang tadi dibicarakan terlebih dahulu oleh sang istri. Natalie menganggukkan kepalanya dengan pelan lalu mengatakan. "Ya aku izinkan kamu nikah kontrak dengan wanita lain," jawab Natalie dengan pelan. Tae Haa yakin kalau sang istri enggak mengizinkan dirinya untuk nikah kontrak, namun Natalie memberikan ide itu hanya karena tertekan oleh tingkah mertuanya. Mengakibatkan Natalie memberikan saran sekaligus ide konyol seperti itu, Tae Haa benar-benar enggak percaya dengan pembicaraan nikah kontrak itu. "Aku mau pergi kerja karena hari ini ..." "Aku antar!" Tae Haa langsung merangkul pinggang sang istri dengan mesra. Tae Haa dan Natalie melangkah keluar dari ruang makan secara bersamaan, dan beberapa pelayan yang ada di ruang makan tadi bergegas membersihkan peralatan makan tadi. "Masuk," kata Tae Haa yang udah membukakan pintu mobil untuk sang istri. "Thanks!" Natalie langsung masuk kedalam mobil dan Tae Haa menutup pintu mobil setelah sang istri masuk kedalam mobil itu. Tae Haa udah masuk kedalam mobil juga dan duduk di kursi pengemudi, saat Natalie ingin menggunakan sabuk pengaman namun Tae Haa langsung memakaikannya untuk sang istri. Tae Haa ini tipe lelaki peka dan sangat romantis, ia selalu memperlakukan sang istri layaknya princess saat bersamanya. "Sayang!" panggil Natalie sambil menatap suaminya. "Ya sayang?" Tae Haa langsung menatap istrinya saat selesai memakaikan sabuk pengaman itu. "Aku yang mencari wanita itu atau kamu?" tanya Natalie sambil menggenggam lembut tangan suaminya. Namun sayangnya, Tae Haa melepaskan genggaman itu lalu menyalakan mobilnya. Tae Haa juga enggak menjawab pertanyaan istrinya karena ia udah tau pembahasan apa yang akan dibahas oleh sang istri. Tae Haa mencoba menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh dari istrinya, ia langsung mengemudi menuju kantor sang istri. Natalie hanya menghela nafas dan mengalihkan pandangan kearah lain. "Sepertinya aku melakukan salah hari ini," batin Natalie sedikit sedih. Natalie merasa kalau suaminya seperti menghindari pembicaraan itu, namun Natalie juga menyadari kalau dirinya melakukan salah hari ini. *** Mi Cha masih duduk setia menemani sang adik yaitu Mi Jung atau biasa di panggil dengan Jun, sang adik belum juga sadar dari koma akibat kecelakaan itu. "Apa yang harus aku lakukan," batinku yang terus-menerus berpikir keras. Aku sedang memikirkan masalah hutang sang adik yang kini membuat kepalaku rasanya ingin pecah, aku langsung bangun dari dudukku dan mengambil ponsel yang ada didalam saku celana. "Haruskah aku menghubungi Klara?" batin aku yang terus-menerus membahas Klara. Karena sahabat aku saat ini adalah Klara, hanya Klara juga yang akan membantu setiap kesulitan aku. Tapi, kali ini aku tidak yakin kalau Klara akan membantuku. "Haruskah aku meminjam uang pada rentenir lain?" Entah pemikiran bodoh macam apa yang ada didalam otak aku ini, tiba-tiba aja aku mengatakan itu didalam otakku. Aku langsung memukul pelan kepalaku dan berkata. "Udah tau aku harus membayar hutang pada rentenir tapi aku ingin meminjam pada rentenir lain? Sebenarnya otakku waras apa tidak sih!" Aku terus-menerus memukul pelan kepalaku membuatku sedikit sakit dan akhirnya menghentikan memukul kepala. Tiba-tiba aja ponselku berdering ada panggilan masuk, lalu aku menatap siapa yang menelepon. "Wah kebetulan sekali dia menelepon," kata aku yang sedikit tersenyum saat melihat penelepon itu. Saat aku ingin menjawab telepon itu tiba-tiba aja ponsel aku mati, lalu aku kembali duduk di kursi samping ranjang sang adik. "Pasti ponselku habis baterai," ucap aku yang sedikit malas untuk mencharge baterai ponsel. Aku ingin mengambil tas yang ada diatas meja disamping aku duduk namun tiba-tiba aja aku melihat tangan Jung bergerak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD