SATU MINGGU

1078 Words
Aku masih tidak percaya dengan perjanjian macam itu, bagaimana bisa aku menikah dengan lelaki asing hanya untuk membayar hutang? Aku memijat kasar pelipisku dan melirik ke arah Jun. 'Bagaimana bisa kau memiliki hutang sebanyak ini, Dek?' batinku yang bertanya-tanya padanya. "Jadi bagaimana?!" Lelaki itu semakin meninggikan suaranya. "Be-berikan saya waktu." "Baik, waktumu hanya satu minggu!" "Hah? Kalian pikir uang satu milyar dalam waktu satu Minggu itu mudah?!" bentakku yang semakin emosi dengan Rentenir itu. "Ya sudah kalau menurutmu susah kita menikah saja!" Lelaki itu sudah dipastikan dia adalah Bos nya, lelaki itu sudah cukup tua, kurasa dia sudah memiliki banyak istri dan anak. Lalu aku harus menikah jadi istrinya yang ke berapa? Memikirkan hal itu saja membuatku bergidik, bagaimana aku mengalaminya? Jijik sekali. Aku hanya menghela napas, sebenarnya aku tidak tahu bisa membayar semua ini apa tidak. Satu Milyar bukan uang yang sedikit, aku mengacak-acak rambutku dengan frustasi. "Jadi bagaimana?!" tanya lelaki lain. Aku menghela napas. "Baiklah seminggu!" "Oke!" Semua lelaki besar itu langsung pergi meninggalkan kamar rawat Jun, lalu aku memukul-mukul mulutku dan terjatuh di lantai. "Kenapa aku harus mengiyakan? Uang dari mana satu milyar?" tanyaku. "Aku harus meminta bantuan siapa?" tanyaku sambil berpikir keras. Tiga menit kemudian… "Haruskah aku menghubungi Klara?" "Tapi dia juga sedang ada masalah," ucapku sambil menghela napas lelah. *** Pukul 10 malam. Tae Haa duduk di sofa sambil menunggu sang istri yang belum juga pulang, ia sebenarnya sedang gelisah, karena jam segini Natalie belum juga pulang dari pekerjaannya. "Kemana sih!" Tae Haa seperti kesal dengan keadaan, ia terus-menerus menatap layar ponsel. Tae Haa sudah menghubungi sang istri, namun belum juga ada respon darinya. Pesan tidak dibalas, telepon tidak dijawab. Hingga sepuluh menit kemudian, terdengar suara mobil dari luar rumah, dan Tae Haa bergegas melangkah keluar rumah. Saat Tae Haa keluar, sang istri keluar dari mobil dengan jalan sempoyongan. Tae Haa langsung berlari menghampirinya. "Hello my love!" sapa Natalie dengan suara mabuk. Natalie yang hampir saja terjatuh ke jalan, untung Tae Haa sudah di sampingnya dan merangkulnya. Mobil tadi langsung pergi begitu saja, dan Tae Haa menghela napas kasar saat melihat istrinya yang sudah sangat mabuk. "Berapa botol yang kamu habiskan malam ini?" tanya Tae Haa sambil menuntun istrinya ke dalam rumah. "A--Aku tidak tau," jawab Natalie yang masih sangat mabuk. "Sudah diam, biar aku gendong!" Tae Haa langsung menggendong Natalie ke dalam rumah, lalu melangkah menuju kamar. Belum sempat menaiki tangga, Tae Haa kena teguran dari seseorang. "Lihatlah istrimu, setiap hari pulang jam segini dengan keadaan mabuk!" sindirnya. "Ibu!" sentak Tae Haa. "Sudah ibu bilang, sebaiknya ceraikan saja istri seperti itu!" lanjutnya. "Aku malas berdebat, aku pamit ke kamar," ucap Tae Haa lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ibu Kim hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban sang anak. "Pernikahan itu harus memiliki anak, kalau begini terus bagaimana bisa Kim Group memiliki penerus!" Ibu Kim sangat kesal dengan pernikahan sang anak, Tae Haa. "Kasih waktu saja untuk mereka memiliki anak," sambung seseorang. Ibu Kim melirik ke belakang. "Belum tidur?" tanyanya. "Belum sayang, masih sibuk dengan kerjaan," jawab ayah Kim. "Kerjaan terus!" sindir ibu Kim. Tae Haa sudah berada di dalam kamar, ia langsung merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Bau alkohol sudah sangat melekat di tubuh Natalie. Tae Haa mencoba menggantikan pakaian istrinya dengan pakaian tidur, Natalie dari tadi diam saja. Entah dia sudah tidur atau karena pengaruh alkohol. Setelah selesai menggantikan pakaian Natalie, Tae Haa menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal. Tae Haa tidak ikut tidur, ia melangkah menuju sofa dan duduk di sana. "Hari ini kerjaan dia kemana saja sih!" Tae Haa seperti mencurigai aktivitas istrinya. Tae Haa mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, namun tidak dijawab. Tae Haa kembali bangun dari duduk dan tidur di samping sang istri. Sebelumnya, Tae Haa tidak pernah mencurigai Natalie seperti ini. Namun, akhir-akhir ini Natalie sering pulang larut dan dalam keadaan mabuk. Suami mana yang tidak mencurigai itu? Walaupun Tae Haa tau, apa pekerjaan istrinya itu. *** Pukul 7 pagi. Kim selesai sarapan. Namun, semuanya masih duduk di kursi masing-masing. "Sampai kapan kalian tidak memberikan kami cucu?" sindir ibu Kim. "Sepertinya aku harus segera ke kantor," ucap Tae Haa yang mencoba menghindari ucapan sang ibu. "Duduk!!" tegas ibu Kim. Sekilas Natalie melirik ibu mertuanya dengan sedikit sinis. Karena ini masih sangat pagi, kenapa juga harus memulai keributan. Natalie tidak suka kalau pagi harinya di buat bad mood, apa lagi membahas sesuatu yang sering dibahas. Salah satunya membahas ini. "Ibu, aku sudah bilang kalau aku tidak bi--" Natalie belum selesai bicara, namun ibu Kim sudah memotong terlebih dahulu, lalu menatap Natalie dengan sangat sinis. "Saya malas mendengar ucapan kau yang itu-itu terus!" bentak ibu Kim. "Bu, ini masih pagi." Tae Haa mencoba menenangkan suasana. "Ibu bisa bicara dengan istrimu yang super sibuk ini ya di pagi hari saja, sisanya dia kerja dan sangat sibuk dengan pekerjaannya!" sindir ibu Kim yang terus-menerus menatap Natalie dengan sinis. Natalie menghela napas sangat panjang. "Sampai kapan pun jawaban saya tetap sama!" tegas Natalie dan bangun dari duduknya. "Menantu seperti kau memang tidak pantas dipertahankan," celetuk ayah Kim. Tae Haa melirik sang ayah dengan tatapan tajam, ia menatap sang ayah dengan bingung, ia tahu kalau ayahnya tidak pernah berucap seperti itu. Tapi kali ini, tiba-tiba saja ayahnya berucap seperti itu. Ucapannya singkat tetapi sangat menyakitkan, dan sekilas Natalie melirik ke arah ayah mertuanya. "Apa saya sudah tidak pantas mendampingi Tae Haa?" tanya Natalie sambil menatap kedua mertuanya. Ibu Kim mengangguk dengan cepat. "Sebaiknya kalian cerai saja," celetuknya. "Bagaimana kalau kita cerai, Tae Haa?" Natalie melirik suaminya, Tae Haa. "Kamu bicara apa sih!" Tae Haa menarik tangan Natalie hingga kembali duduk di kursi. Semakin lama semakin sinis tatapan mereka satu sama lain, Tae Haa bingung harus melakukan cara apa agar semuanya menghentikan pembicaraan ini. Tae Haa sangat muak kalau tiap hari membahas ini terus-menerus, ia juga sebenarnya sangat ingin memiliki seorang anak. Tapi dia lebih menghargai keputusan sang istri. "Haruskah Tae Haa menikah lagi dan memiliki dua istri? Tentunya istri yang mau melahirkan seorang anak?!" tiba-tiba ibu Kim memberikan pertanyaan seperti itu. "Omong kosong macam apa itu!" sentak Tae Haa sambil memijat pelipisnya dengan kasar. "Itu ide bagus!" sambung ayah Kim. Tae Haa semakin bingung dengan tingkah ayahnya hari ini, entah apa yang merasuki sang ayah di pagi ini. "Saya tidak mengizinkan Tae Haa memiliki dua istri, tetapi saya mengizinkan Tae Haa nikah kontrak dengan wanita lain hanya sebatas untuk memberinya keturunan, setelah itu kontrak pernikahan mereka selesai!" tegas Natalie membuat semua orang yang ada di sana menatapnya dengan dahi yang mengerut dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD