"Grace, ada Anthony tuh." Indah menyentuh Grace yang sedang bersandar malas di sofa.
Meskipun bukan hari libur atau akhir minggu, Grace akhirnya meminta satu hari libur dengan alasan sakit. Beruntung ia mendapatkan izin dari Mario yang memang merasa bahwa dirinya perlu istirahat.
Semalam Grace menghabiskan waktu yang lama untuk menangis di kamar. Ketika bangun lebih lambat kira-kira pukul delapan pagi, ia hanya sarapan sedikit lalu duduk di sofa. Di depannya TV menyala, tetapi ia sama sekali tidak menontonnya.
Grace menoleh pada Bundanya. "Suruh masuk aja, Bun. Grace lagi sulit gerak. Mungkin karena haid," ia beralasan. Padahal sebenarnya haidnya sudah selesai minggu lalu.
Indah merasa ada hal buruk yang sudah terjadi. Tetapi putrinya tidak bercerita mengenai apapun kecuali izin libur sakit akibat haid. Ia yakin Anthony mengetahui sesuatu.
Kembali menemui Anthony di ruang tamu, Indah tidak langsung mempersilakannya menemui Grace. Ia justru memintanya untuk duduk lebih dulu.
"Gimana, Tante? Grace masih tidur?" tanya Anthony ketika tidak mendapati Grace datang menemuinya.
Indah menggeleng lalu duduk di seberang Anthony. "Ada apa tadi malam? Grace kelihatan males banget dan matanya bengkak kaya habis nangis. Tapi dia cuma bilang kalau sakit karena haid. Ya, memang sekali dua kali dia kesakitan karena haid. Tapi nggak separah ini," ujarnya memberitahu.
Anthony mengingat perkataan Grace saat menjemputnya semalam. Tapi ia tidak yakin bagaimana cara memberitahukannya pada Indah.
[Malam sebelumnya]
"Ant, ayo pulang."
Grace menghampiri Anthony yang duduk menunggu di atas motornya. Kepalanya tertunduk dan ia langsung mengambil helm yang tergantung di stang motor. Karena tidak ingin dilihat baru saja menangis, ia memakai helm itu dan menutup kacanya secepat mungkin. Kemudian ia duduk di jok belakang agar bisa menyembunyikan wajah sembabnya.
Anthony terdiam. Ia tidak langsung menyalakan mesin motor seperti keinginan Grace. Sebaliknya, ia menurunkan standar motor dan beranjak dari jok. Dipandanginya gadis yang kini meneteskan air matanya dengan deras itu.
"Ayo, Ant, pulang. Aku capek banget." Grace sudah terisak lagi. Padahal sebelum keluar dari gedung, ia sudah berhasil menahan tangisnya.
Anthony menyentuh bahu Grace. "Grace, kenapa kamu nangis?"
Hanya saja, duka di dalam hati Grace terlalu besar sehingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
Mengetahui gadis itu memerlukan waktu untuk meredakan tangisnya, Anthony menahan diri untuk bertanya lagi. Ia sabar menunggu dengan hanya berdiri di sampingnya.
"Aku ... aku cuma nggak tahan di-bully aja di kantor, Ant." Dengan suara rendah Grace mengatakannya.
"Kamu di-bully? Kenapa?"
"Mungkin karena aku anak baru tapi berprestasi? Deket sama atasan? Nggak tahu lah."
Anthony meraih kedua tangan Grace dan menggenggamnya. "Kamu kuat. Pasti bisa ngelewatin semua ini. Grace yang aku tahu nggak dikalahkan sama apapun," ucapnya memotivasi, tanpa tahu mengenai alasan sebenarnya yang menjatuhkan sang kawan.
Di balik kaca gelap yang menutupi wajahnya, Grace memaksakan sebuah senyuman kecil.
[~]
"Apa selama ini Grace tersiksa kerja di sana? Tapi karena takut Tante sedih, Grace nggak pernah cerita tentang ini. Gitu?" Indah merasa bersalah tidak mengerti situasi ini.
Anthony menggeleng. "Saya nggak yakin, Tante. Sejauh ini Grace kelihatan baik-baik aja. Baru beberapa waktu terakhir ini setahu saya," katanya sambil memikirkan kemungkinan yang ada.
Indah menghela napas panjang. "Tolong bantu Tante jagain Grace ya, Anthony. Mungkin kalau sama kamu, dia bisa jadi lebih terbuka," ucapnya.
Mendengar hal itu, Anthony merasa bersemangat. "Ya, Tante. Pasti," sahutnya. Ia jadi merasa ada kesempatan terbuka baginya agar bisa lebih dekat dengan Grace. Namun tiba-tiba sesuatu mengusik pikirannya. "Tante. Mm, Tante tahu yang namanya Evan?"
Nama itu sudah agak lama tidak didengar oleh Indah. Terakhir kali Grace menyebutkan nama itu adalah empat tahun lalu. "Kok kamu tahu tentang, Evan?" tanyanya heran.
"Grace suka ajak saya ke satu kafe di pantai. Awalnya dia nggak mau cerita kenangan apa yang dia punya di situ. Sampai akhirnya saya nggak sengaja dengar dari pemilik kafe itu tentang yang namanya Evan. Tapi Grace cuma cerita kalau dulu dia itu sahabatnya tapi tiba-tiba putusin komunikasi." Anthony menceritakan semua hal yang ia tahu. Ia berharap bisa mengetahui informasi lebih mengenai sosok lelaki itu.
Mata Indah menerawang ke depan, dimana satu dua orang berjalan lalu di depan rumahnya. "Evan bukan cuma anak laki-laki biasa untuk Grace. Dia yang menyelamatkan Tante sama Grace di kecelakaan besar. Dia juga yang berhasil ubah Grace dari sikapnya yang cuek dan kasar sekali ke orang-orang, jadi jauh lebih manis," jelasnya. Bibirnya kemudian mengembang dan mengeluarkan kekehan kecil. "Tante pikir mereka berdua akhirnya bakalan menikah. Mereka hampir-hampir nggak bisa dipisahkan."
Ada sesuatu yang mengganjal di benak Anthony setelah mendengar cerita Indah. Keyakinannya akan pintu yang terbuka lebar baginya seakan terhambat oleh seseorang bernama Evan ini. Ia ingat bagaimana ekspresi dan nada suara Grace waktu itu ketika menceritakan mengenai lelaki ini.
"Tapi kata Grace, cowok itu berhenti ngobrol sama dia tanpa alasan. Bisa jadi cowok itu sudah nggak mau berhubungan lagi sama Grace. Mungkin karena sudah punya pacar, atau nggak suka lagi sama Grace? Yah, tapi itu tebakan saya. Mungkin tante tahu apa yang terjadi?" Anthony menjadi penasaran dan ingin menggali lebih banyak informasi. Pikirnya hal ini bisa membantunya menyentuh dan memenangkan hati Grace.
"Tante nggak tahu, Anthony. Yang Tante tahu cuma, hmm, Evan itu orang paling tulus yang pernah Tante temui. Dia bukan cuma sayang banget sama Grace, tapi juga Tante." Indah mengenang bagaimana sifat Evan dulu. "Dulu dia suka diam-diam bantu keluarga kami waktu kekurangan. Awalnya Tante nggak tahu kenapa ada banyak orang yang tiba-tiba suka bantu kami. Sampai akhirnya salah satu tetangga beritahu kalau Evan yang kasih pertolongan, tapi nggak mau sampai ketahuan."
Sekarang Anthony jadi mengerti kenapa Evan menjadi sosok yang begitu berharga bagi Grace. "Evan orang kaya ya, Tan?" tanyanya tanpa berpikir.
Indah justru terkekeh. "Iya. Tante sama Grace tahu banget dia orang kaya. Tapi dia nggak mau ngaku. Dan entah kenapa anak itu penampilannya biasa banget. Kaya orang kampung sini malah. Kaos oblong, celana pendek, makan jajanan pinggir jalan—seleranya kompak banget sama Grace, dan kalau ke sini naik sepeda," ceritanya dengan jelas, seakan hal ini belum lama terjadi.
"Nggak usah ngomongin orang sialan itu lagi." Grace tiba-tiba berdiri di ambang pembatas ruangan antara ruang tamu dan ruang tengah.
Sama-sama terkejut, Indah dan Anthony terbelalak melihat penampilan buruk Grace. Gadis itu tampak seperti orang yang mengalami depresi berat.
"Astaga, Grace. Belum mandi ya?" Anthony mencoba bercanda.
"Udah. Belum sisiran aja," Grace menjawab dengan cuek.
Indah tidak mengerti kenapa putrinya menjadi seperti ini. "Kamu nggak malu sama Anthony kelihatan kaya itik buruk rupa begini?" ujarnya mencoba menyadarkan Grace. Ia tahu gadis itu pada dasarnya cukup memperhatikan penampilannya.
"Kan cuma Anthony," sahut Grace cuek. "Kamu pasti nggak langsung benci sama aku karena lihat aku begini kan, Ant?"
Sebenarnya Anthony merasa sedikit tersinggung mendengar kata 'cuma Anthony'. Tetapi ia merasa bahwa ini bukan waktunya untuk merajuk. "Nggak benci lah. Ilfeel aja," sahutnya mencoba bercanda tetapi gagal.
Respons yang Grace tunjukan hanyalah tatapan datar.
Indah mengembuskan napas kecewa sambil bertukar pandang dengan Anthony.
Tahu bahwa harus ada sesuatu yang dilakukan untuk mengatasi kondisi Grace, Anthony mengambil inisiatif. "Ayo makan street food kesukaanmu. Apa favoritmu?" tanyanya.
"Nggak mau." Grace serta merta menolak. "Orang itu juga suka makan itu."
Meskipun disebut tanpa nama, Indah dan Anthony mengerti bahwa Evan lah yang dimaksudkan oleh Grace.
"Kalau gitu, aku kenalin kamu street food yang baru. Yang pastinya kamu bakalan suka. Kamu nggak akan inget lagi orang itu." Anthony menirukan cara Grace menyebut Evan.
"Anthony nggak jaga toko?" tanya Indah, mengingat biasanya lelaki itu sudah siap membuka toko di pagi hari.
Anthony menggeleng. "Saya bisa lebih santai hari ini sama besok, Tante. Sekolah libur dua hari. Jadi adik-adik saya bantuin jaga toko," jawabnya.
Indah merasa senang jadinya. Ia menoleh pada Grace dan menyentuh lengannya. "Ya udah, sana Grace. Pergi sama Anthony. Biar nggak suntuk di rumah," ucapnya lalu berdiri. Ia melepaskan karet pengikat rambutnya dan memakainya untuk mengikat rambut Grace. "Nah, gini lebih rapi."
Grace tidak punya pilihan lain. Ia memang merasa bosan di rumah saja. Jam segini biasanya ia sudah sibuk dengan pekerjaan di kantor. Pada akhirnya ia memutuskan untuk ikut Anthony pergi.
Memandangi putrinya beserta Anthony meninggalkan rumah, Indah mulai memikirkan sikap Grace. Gadis itu memang berhenti membicarakan tentang Evan, tetapi ia tahu bahwa Grace bukannya membenci lelaki itu. Tidak seperti yang barusan dilihatnya.
~~~
"Kenapa ke kafe ini?" Grace memprotes ketika motor berhenti di parkiran kafe pinggir pantai favoritnya.
Anthony melepaskan helm dan menggantungnya di stang. "Nggak di situ. Kita ke pedagang jajanan pinggir jalan sini. Tuh di ujung," ujarnya menunjuk ke arah yang tidak jauh.
"Kenapa nggak parkir di sana aja?"
"Nggak bisa lah. Dilarang parkir di sana. Ayo turun."
Namun Grace sangat enggan. Melihat kafe itu lagi jelas membangkitkan kenangan bersama Evan. "Nggak mau. Bisa nggak sih kita ke tempat lain yang nggak ada hubungannya sama Evan?" tanyanya.
Anthony menghela napas panjang, berusaha tidak tersulut emosi mendengar nada ketus Grace. "Oke. Sekarang bilang ke aku. Tempat mana yang nggak ada hubungannya sama Evan?"
Grace terdiam sejenak untuk berpikir. Setelah beberapa lama, ia menjawab, "Nggak tahu. Luar Bali kali." Ia mengeluh sambil memukul helm yang belum dilepasnya. "Kenapa sih dulu aku suka eksplor Bali sama dia? Naik angkot puter-puter Bali nggak jelas, cari kuliner baru." Ia lebih seperti berkata-kata pada dirinya sendiri ketimbang dengan Anthony.
Jika sudah begini tidak ada pilihan lain. Anthony kemudian turun dari motornya dan melepaskan helm Grace tanpa meminta izin. Setelah digantungkannya helm Grace di sisi lain stang, ia menarik tangan gadis itu untuk berjalan ke tempat yang ia maksudkan tadi.
Tanpa bicara ataupun menolak, Grace pada akhirnya pasrah mengikuti kemana ia dibawa. Hanya saja ia tidak sanggup menahan matanya dari memandang kafe favoritnya saat melewatinya. Ia memang sangat membenci perkataan Evan semalam, tetapi yang namanya kenangan indah tidak bisa dengan mudah dilupakan.
"Rujak kuah pindang." Anthony menyebutkan nama jajanan itu begitu sampai di tempat. "Dua ya, Bli." Ia langsung memesan pada sang pedagang.
"Rasanya gimana? Aku nggak mau kalau terlalu asam." Grace asal bertanya saat ia duduk di kursi bakso plastik yang ada di sana, bersebelahan dengan Anthony.
Anthony menyeringai. "Dirasain aja dulu. Pokoknya jangan nolak dulu," pintanya.
Grace tidak mengeluh lagi. Ia sendiri merasa lelah mengeluh setelah meluapkan kemarahannya semalam melalui tangisan. Alhasil ia hanya melihat kanan dan kirinya dengan tatapan yang hampir-hampir kosong.
"Permisi, Gus, Gek. Ini dia rujak kuang pindang, spesial dibuat untuk pasangan yang paling manis." Pedagang pria paruh baya dengan bucket hat[1] menyodorkan dua mangkuk kepada Grace dan Anthony.
Sementara Anthony tersenyum-senyum sendiri disangka pasangan oleh sang pedagang, Grace justru berekspresi datar. Keduanya kemudian mencoba jajanan kaki lima itu, yang satu dengan semangat, yang lainnya karena terpaksa.
"Hmm, enak banget!" ucap Anthony setelah menyuapkan satu sendok ke mulutnya. "Gimana? Enak kan?" Ia merasa yakin Grace menyukai makanan ini ketika sendok demi sendok tidak berhenti disuapkan.
Grace mengangguk. "Enak kok," ucapnya.
"Apa kubilang?" Anthony menyenggol lengan Grace. Ia terkekeh melihat ada sedikit perubahan mood pada gadis itu.
Tanpa bicara lagi, keduanya menikmati rujak tersebut. Lucunya, Grace yang lebih cepat menghabiskannya. Bahkan setelah selesai makan, Grace memesan satu lagi untuk dibawa pulang. Hanya saja bukan untuk dirinya, melainkan untuk bundanya.
"Nanti aku ganti uangnya—jangan nolak," ucap Grace memaksa ketika Anthony hendak melarangnya mengganti uang. "Aku nggak suka berhutang."
Anthony mengembuskan napas agak keras. "Hutang apa sih? Kan sesama temen nggak masalah saling traktir. Lain kali juga kamu bisa traktir aku. Tapi di resto mahal ya, jangan pinggir jalan," candanya.
Grace tertawa kecil.
"Nah, gini kan jadi cantik. Jangan cemberut terus gitu kali. Kaya zombie," ujar Anthony mengomentari respons Grace.
Namun kebiasaan Grace memukul secara reflek tidak bisa dikendalikan seperti biasanya. Ia memukul Anthony di bagian lengan dengan agak keras. "Kalau kasih pujian tuh ya pujian aja. Jangan dikasih ejekan. Nggak bener," sahutnya ketus.
"Duh. Kamu tuh emang satu-satunya cewek yang kukenal, yang tingkahnya nggak ada manis-manisnya sama cowok," komentar Anthony sambil mengelus lengannya.
"Sama Evan manis kok." Di bawah alam sadarnya Grace kembali menyangkutpautkan Evan. Tetapi sedetik setelah tersadar, ia menggelengkan kepala seraya menarik kembali perkataannya. "Pulang yuk. Kamu harus kerja juga kan?" Ia berjalan lebih dulu dengan langkah yang cepat menuju ke parkiran.
Anthony memandang Grace dari belakang, berjalan menyusul perlahan. Ia tahu bahwa harus ada langkah yang lebih agresif jika ingin memenangkan hati Grace.
[ABY]
Keterangan:
[1] Topi yang tipikal dibuat dari bahan kanvas atau denim, asalnya sering digunakan pemancing atau nelayan, untuk melindungi diri dari sinar matahari, tapi sekarang menjadi trend.