Kembali ke kantor bisa disamakan dengan kembali ke medan perang. Grace memperlengkapi dirinya dengan beberapa senjata. Yang pertama untuk menghadang serangan perundungan dari para pegawai yang mulutnya setajam pedang. Yang kedua untuk menghindari keterlibatan dengan Evan.
Grace mengajukan permintaan pada Mario agar mengizinkan Nita menjadi asisten manajer pengganti selama beberapa waktu. Awalnya permintaan itu memberatkan baik Mario maupun Nita. Mario lebih suka Grace karena punya lebih banyak pengalaman dan sangat cekatan. Sementara Nita merasa lebih cakap bekerja di depan komputer daripada di depan publik. Namun dengan alibi yang masuk akal, ia mendapatkan izin tersebut.
Selama kurang lebih satu bulan Grace berhasil menghindari Evan. Setiap kali diminta untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan GM, selalu ada alasan yang berhasil membatalkan pertemuan mereka. Ia hanya keluar dari ruangannya jika perlu ke toilet atau pantry satu kali sehari. Bahkan ia kembali membiasakan diri untuk pulang tepat waktu. Hal ini membuktikan bahwa ia benar-benar tidak ingin melihat wajah lelaki tersebut.
Namun layaknya seorang prajurit yang tidak bisa terus bersembunyi di medan perang, pada akhirnya Grace harus keluar menghadapi masalah. Ada sepasang tamu berusia lanjut dari Argentina yang menghadapi kendala. Pemandu wisata beserta penerjemah yang selama ini mendampingi mereka tidak muncul seharian. Alhasil keduanya tidak bisa berlibur sesuai rencana dan marah-marah di depan resepsionis.
Mengetahui kompetensi Grace dalam berbahasa Spanyol, Mario memintanya untuk segera turun tangan. Dengan sigap ia meninggalkan ruangannya dan menemui pasangan tersebut.
Hanya saja saat sampai di lobi, sosok Evan ditemukannya sedang mengobrol dengan kedua tamu. Grace hendak mengambil langkah untuk berbalik pergi. Namun kehadirannya diketahui lebih cepat oleh Evan.
"Grace!" panggil Evan.
Mau tidak mau Grace berbalik lagi, kemudian berjalan mendekati Evan. Ingin sekali ia melemparkan tatapan tidak peduli. Tetapi ia sedang ada di depan tamu sehingga harus menjaga citra hotel dengan keramahannya.
"Tolong. Bahasa Spanyolku terbatas. Nggak mungkin pakai Google Translate di situasi kaya gini. Jadi jelasin ke dia kalau pemandu wisata mereka kecelakaan. Tanyain apa yang mereka mau dan staf hotel bisa bantu menyediakan," perintah Evan tanpa berbasa-basi karena sang tamu tampak sudah tidak sabar.
Mengerti duduk permasalahannya, Grace mulai berbicara menjelaskan. Kedua pasangan tersebut terkejut mendengar apa yang terjadi. Seperti yang diminta, ia menawarkan bantuan yang kemudian disambut dengan baik oleh mereka.
"Ah, querido. Por favor, dígale que lamentamos haberle gritado[1]." Tamu yang wanita meminta agar Grace menyampaikan permintaan maaf mereka pada Evan karena telah meneriakinya.
Melihat dirinya ditunjuk oleh wanita tersebut, Evan menoleh pada Grace untuk menanyakan apa maksudnya.
Sayangnya Grace masih marah pada Evan sehingga ia lebih memilih untuk mengganti terjemahan yang seharusnya menjadi unek-uneknya. "Katanya mereka nggak suka kamu karena kelihatan arogan dan bilang supaya bisa memperlakukan orang lain lebih bijaksana," ujarnya.
Evan mengernyit kenapa perkataan itu terlalu terdengar personal. Tetapi ia tidak berniat menanyakannya pada Grace demi menjaga profesionalitas di depan tamu.
"Lo siento por la inconveniencia[2]." Evan mengucapkan permintaan maafnya atas ketidaknyamanan yang terjadi dengan keterbatasannya.
Berbanding terbalik dengan terjemahan yang disampaikan oleh Grace, sang tamu tersebut justru tersenyum dan menepuk bahu Evan. Dari situlah ia merasa yakin bahwa gadis itu tidak mengatakan yang sebenarnya.
Sebagai penerjemah pengganti sementara, Grace memberikan nomornya pada kedua tamu itu. Jika mereka memiliki kendala lain, ia bersedia untuk membantu. Setelah mereka pergi, ia juga tidak berlama-lama berdiri di tempatnya, di dekat Evan.
"Grace, makasih," ucap Evan cepat, tapi dianggap lalu oleh Grace.
Grace benar-benar tidak peduli situasi ini dilihat oleh staf resepsionis. Ia bahkan berpikir bahwa sikap dinginnya terhadap Evan bisa mematahkan rumor yang beredar di antara para pegawai.
Awalnya kaki Evan hendak melangkah mengejar Grace, berniat menanyakan kembali terjemahan sebenarnya dari perkataan sang tamu. Tetapi ia tidak ingin menciptakan rumor baru yang tidak penting. Belum lagi ia sudah berhasil menjauhkan sahabatnya itu dari padanya. Oleh karena itulah ia lebih memilih untuk kembali ke kantornya melalui jalan lain.
~~~
Hari-hari tanpa Grace terasa tenang tapi hampa. Entah bagaimana Evan menjadi terbiasa terusik oleh gadis itu selama ini. Kini ketidakhadiran Grace membuatnya kehilangan sesuatu. Ini adalah perasaan yang sama ketika mereka berpisah untuk pertama kalinya. Mau tidak mau, ia harus mengakui bahwa ia merindukan sang sahabat.
Namun betapa terkejutnya Evan ketika pagi itu Grace menampakkan diri di ruangannya. Melihat sosoknya lagi setelah sekian lama seakan menimbulkan percikan kecil di dadanya. Ia langsung bisa menebak bahwa Mario kembali berhalangan karena ibunya.
Tepat seperti pemikirannya, Grace berkata, "Permisi, Pak Evan. Saya datang menggantikan Pak Mario untuk berbincang dengan Bapak mengenai pelatihan pegawai hotel yang direncanakan awal tahun depan." Tatapan datar terpasang di wajahnya. Dari yang bisa dilihat, ia berusaha untuk mengesampingkan masalah personal dan mengedepankan profesionalitas.
"Oke. Kamu pasti sudah tahu kalau agenda rapat kecil hari ini adalah membahas materi baru yang akan diberikan untuk pelatihan para pegawai. Kamu ada ide apa?" tanya Evan.
Grace menyalakan iPad-nya dan memutarnya 180 derajat agar bisa dilihat oleh Evan. Tangannya dari samping menunjuk per poin yang tertera di sana. "Secara garis besar ada Service Excellence, Hospitality, How to Handle Difficult People, Basic 5S, Lean Leadership, Sense of Belonging, dan Team Building," jelasnya. "Tapi mungkin ada yang harus dipangkas karena keterbatasan waktu."
"Ya. Point dua dan tiga bisa jadi satu. Lalu dua poin terakhir juga." Evan menyetujui proposal Grace sekaligus menambahkan ide.
"Baik," sahut Grace singkat. Ia merevisi catatan di iPad-nya.
Keduanya membahas beberapa hal dalam setiap poin untuk beberapa lama. Namun di tengah-tengah diskusi, selalu ada keadaan hening yang cukup lama. Sementara Grace bertindak sibuk menulis sesuatu di iPad-nya, Evan menggulir halaman dokumen yang sama di laptopnya.
Tanpa sengaja Vino menangkap keanehan itu dari mejanya. Ia juga mendengar rumor di antara Grace dan Evan. Tetapi dengan apa yang dilihatnya sekarang, ia merasa ada hal lain yang terjadi. Bukan seperti rumor yang cenderung terdengar dibuat-buat itu.
"Permisi, Pak Evan, Bu Grace." Vino tiba-tiba memecah keheningan, membuat kedua sahabat yang sedang perang dingin itu menoleh padanya. "Boleh saya memberi satu masukan?"
Evan mengangguk. "Ya, boleh. Silakan duduk di samping Gr—Bu Grace," katanya, mengoreksi caranya memanggil.
Vino beranjak dari tempatnya lalu berpindah duduk ke sebelah Grace. "Tapi mohon maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud menyinggung siapapun," ucapnya memulai.
Grace tidak menunjukkan ekspresi apapun sementara Evan mempersilakan Vino untuk lanjut bicara.
"Tentang rumor yang beredar di kalangan pegawai beberapa waktu ini—" Vino terpaksa berhenti sejenak ketika melihat mata Grace melotot seketika. "Ah, maksud saya juga termasuk rumor-rumor tidak penting lainnya yang sudah ada, atau mungkin yang akan datang." Ia merasa tidak enak hati dan mengoreksi perkataannya sendiri.
"Lanjut." Grace terlihat kembali tenang.
"Iya, saya pikir materi ini perlu dimasukkan dalam pelatihan pegawai. Di poin team building," lanjut Vino. "Memang kita tidak bisa mencegah rumor apa yang mungkin terjadi. Tapi kita bisa meminimalisir efek yang terjadi. Pada dasarnya kita adalah satu tim yang bersama-sama membangun citra hotel ini. Jadi akan lebih baik jika profesionalitas terjaga tanpa adanya rumor."
Grace menyilangkan sebelah kakinya di atas kaki yang lain. "Sudah seharusnya sejak awal rumor itu beredar, ada tindakan yang diambil. Tapi sepertinya untuk menangani masalah seperti ini diperlukan kompetensi dan jam terbang yang tinggi, Vino," ujarnya dengan nada santai yang berakhir sarkastik.
Disindir seperti itu, Evan langsung berdehem. "Sebenarnya rumor adalah masalah trivial. Kita tidak bisa asal mengalihkan fokus pada hal ini, hanya demi melindungi beberapa pihak. Ada lebih banyak hal yang jauh lebih penting demi kemajuan hotel. Kita perlu mengadaptasi sistem skala prioritas. Kerjakan mana yang lebih krusial," balasnya dengan ucapan yang penuh bahasa teknis.
"Hmm, mungkin diperlukan adanya konsekuensi yang terjadi lebih dulu, sehingga hal ini bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi pihak yang memiliki otoritas. Karena pada dasarnya masalah trivial sudah seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat. Bukannya dibiarkan begitu saja sampai perlahan menjadi krusial tanpa disadari." Berbekal latar belakang akademis manajemen dan psikologi, Grace tidak mau kalah menyampaikan pendapat balasan.
Vino merasa sedikit menyesal telah menyampaikan pendapatnya. Ia kini menjadi seperti sebuah kubangan air di tengah medan perang yang hanya bisa terdiam melihat dua pihak sedang bertarung dari kanan dan kirinya.
"Tetapi pemimpin yang baik harus mengerti betul untuk memisahkan kepentingan pribadi dari profesionalitas. Karena itulah saya memusatkan perhatian pada hal yang mengacu pada kemajuan hotel." Evan masih berusaha mempertahankan posisinya.
Grace mendengus lembut dengan senyuman kecil tersungging di pipi kiri. "Begitulah kata seseorang yang mengabaikan kepentingan pribadi sama sekali," sahutnya dengan nada yang masih tenang.
Vino sengaja berdehem dengan keras demi memecah tensi di antara keduanya. "Pak Evan, Bu Grace, saya pikir saya sudah selesai menyampaikan ide. Silakan Bapak dan Ibu melanjutkan diskusi yang terdengar penuh semangat ini," katanya dengan sarkasme yang halus. Ia bangkit dari kursi dan kembali ke mejanya di ujung ruangan.
Menyadari apa yang barusan terjadi di antara mereka, Grace dan Evan saling membuang muka. Untuk beberapa waktu, keheningan kembali tercipta. Vino pun menjadi gemas melihat keduanya bersikap seperti anak-anak. Karena itu ia menangkap momen itu dalam gambar tanpa berpikir panjang.
"Saya pikir sekian rapat kita hari ini. Saya pamit." Grace yang tidak tahan berada dalam situasi ini beranjak dari kursi.
Namun ketika Grace membalikkan badan, ada bercak merah di rok coklat mudanya. Cepat-cepat Evan berlari mengambil jasnya dan dari belakang mengikatkannya di sekitar pinggang Grace.
Grace terkejut mendapati dirinya berada sedekat itu dengan Evan. Suhu tubuhnya meningkat dan ia hampir-hampir sulit bergerak.
"Minta tolong bantuan temenmu. Ganti bawahan," bisik Evan.
Lagi-lagi dari tempatnya Vino menjadi saksi yang mulai mengerti ada apa di antara sang GM dan senior favoritnya. Ia kembali mengambil gambar keduanya tanpa izin.
Grace menelan ludahnya. "Oke. Makasih," sahutnya singkat. Ia tidak berlama-lama ada di sana lalu meninggalkan ruangan GM.
Merasa tidak mungkin masuk ke kantornya dengan jas Evan terikat di pinggangnya, Grace mengirimkan pesan pada Nita melalui iPad-nya. Sementara itu ia masuk ke dalam toilet dan menunggu di sana.
"Ugh! Nyebelin! Aku udah menjauh dari kamu, tapi kenapa kamu harus nunjukin perhatian sama aku sih? Dan ya, kenapa harus bocor gitu? Timing-nya itu loh, buruk banget," keluh Grace sambil meremas rambutnya dengan kedua tangan. Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada jas berkualitas tinggi itu. "Mana jas branded gini, bisa-bisanya dipakai nutupin noda mens."
"Palingan dia punya rasa sama kamu." Suara seorang wanita terdengar dari salah satu bilik yang tertutup.
Grace sontak merasa terkejut. Ia tidak memperhatikan bahwa ia tidak sedang sendirian di sana karena emosinya. "Siapa di sana?" tanyanya.
"Ndak perlu lah tahu siapa aku. Anggap aku rumput yang bergoyang," sahut wanita itu.
Karena terdengar aneh, Grace sempat merasa geli. Tetapi tidak semudah itu ia tertawa setelah emosinya terkumpul.
"Dari yang aku denger, kamu juga punya rasa ke dia kan?" tebak sang sosok misterius. "Kalian bertengkar hebat. Putus ya? Terus kamu berusaha menjauh tapi masih ada rasa suka. Sementara dia dorong kamu menjauh karena ndak bisa tahan sama perasaannya yang terlalu besar untuk kamu. Atau mungkin ada hal lain. Intinya kalian itu memaksa saling pisah padahal masih terikat."
Wanita itu memang tidak begitu tepat menggambarkan hubungan Grace dan Evan. Tetapi garis besar yang diucapkannya cukup mewakili situasi yang terjadi. Setidaknya itulah yang Grace rasakan. Masih ada bagian terdalam di hatinya yang menganggap Evan sebagai seorang sahabat meskipun sudah sempat direndahkan.
"Selama masalah kalian belum beres, pasti ada aja kesempatan yang akan bikin kalian dipertemukan. Karena itu lakukan saranku ini. Bicara baik-baik sama dia, putuskan hubungan kalian dengan tegas. Lalu cari fokus yang baru untuk lupain dia. Bisa jadi laki-laki lain, atau hobi baru." Tanpa disangka sebuah wejangan yang terdengar bijaksana dan masuk akal itu keluar dari bilik toilet. Hanya saja suara kentut yang kemudian datang menghancurkan kharisma yang sudah tercipta.
Grace menggeleng-geleng heran sekaligus geli. Harinya yang buruk sedikit lebih ringan karena kehadiran wanita bersuara berat itu.
"Grace, nih." Akhirnya Nita muncul sambil membawa sebuah tas. "Kebetulan ada rok cadangan, jadi nggak harus beli baru. Tuh si Pak Ev—" Ia terpaksa berhenti bicara karena mulutnya ditutup paksa dengan tangan Grace.
"Ada orang." Grace memimikkan hal itu tanpa suara pada Nita sambil menunjuk ke arah bilik toilet yang tertutup dengan jarinya.
Nita mengerutkan dahinya. "Siapa?" tanyanya balik tanpa suara juga.
Grace menggeleng. "Oke aku ganti dulu," ucapnya lalu masuk ke salah satu bilik yang kosong.
"Halo, kamu. Temannya mba yang kisah cintanya rumit ya?" Wanita tersebut angkat bicara lagi. Kali ini ia berusaha berkomunikasi dengan Nita. "Dibantu itu temannya, biar ndak depresi."
Berbeda dari Grace yang bisa menahan geli, Nita justru menyemburkan tawa. "Oke, oke," sahutnya.
Dari dalam bilik, Grace terkekeh-kekeh geli. Wanita itu benar-benar sebuah hiburan di siang hari. "Mba misterius, yang katanya rumput yang bergoyang, makasih ya untuk wejangannya," katanya.
"Sama-sa...ma. Ah ..." Erangan lega terdengar hingga membuat para pendengarnya tertawa lepas. Agaknya wanita itu juga tidak tahu malu.
Grace selesai dengan urusannya. Ia keluar dari bilik toilet. "Mba, minum obat laksatif lain kali kalau ada masalah konstipasi. Biar nggak ada masalah sama 'pengeluarannya'," ujarnya, ganti memberi wejangan.
"Oh ya, ya. Makasih."
"Kami duluan ya, Mba." Grace berpamitan lalu segera keluar dari toilet demi tidak mencium bau tak sedap.
Di luar toilet, Grace dan Nita sama-sama melepas tawa mereka.
[ABY]
Keterangan:
[1] Ah, nak. Tolong beritahu dia kami minta maaf sudah berteriak padanya.
[2] Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.