Menginap

938 Words
“Kamu tidur di sini saja.” Arista membelalak, hatinya berdebar keras. “Tidur … di sini? Di apartemen Anda?” tanyanya tak percaya. Senyum miring Arkana kembali muncul. “Kenapa? Takut saya macam-macam?” Arista menegakkan tubuhnya, berusaha terlihat tegas meski wajahnya memerah. “Bu-bukan ... saya hanya tidak nyaman. Saya punya tunangan, saya takut kalau dia salah paham.” Arkana mendekat sedikit, matanya dalam menatap lurus ke mata Arista. “Dan saya bos kamu.” Hening. Udara di antara mereka seolah membeku. “Saya tahu Anda itu bos saya, tapi Anda tidak berhak memaksa saya untuk tidur di sini. Itu tidak pantas.” Arista meraih tasnya dan berdiri, wajahnya tegas walau tubuhnya sudah terlihat limbung karena lelah. Arkana yang sejak tadi berdiri dengan tangan bersedekap, menatapnya tanpa berkedip. Tatapannya tajam, penuh kuasa. “Tidak pantas? Apa yang tidak pantas? Kamu tidur di kamar tamu, bukan di kamar saya.” Arista menggigit bibir bawahnya, menahan emosi. “Tetap saja. Saya punya keluarga, saya punya tunangan. Mereka bisa salah paham jika saya tidak pulang.” Arkana maju selangkah, suaranya rendah tapi tegas. “Lebih baik mereka salah paham daripada kamu jatuh sakit karena memaksakan diri atau lebih parahnya terjadi apa-apa sama kamu saat kamu pulang. Kamu pikir saya tega melihat bawahan saya tumbang? Besok pagi rapat besar, Arista. Kamu tidak boleh terlihat seperti mayat hidup.” Arista terdiam sejenak, menatap pria itu dengan campuran marah dan bingung. “Tapi saya—” Belum sempat ia melanjutkan, Arkana sudah menyambar tas dari tangan Arista dan meletakkannya kembali di sofa. Gerakannya cepat, nyaris seperti perintah yang tak bisa dibantah. “Pak Arkana!” Arista berseru, matanya melotot. Arkana menunduk sedikit, wajahnya mendekat pada wajah Arista hingga jarak mereka hanya sejengkal. Suaranya terdengar berat, tapi juga dingin. “Dengar baik-baik. Saya tidak sedang meminta. Saya menyuruhmu. Malam ini, kamu tidur di sini.” Arista menahan napas, jantungnya berdebar kencang. Ada bagian dari dirinya yang ingin melawan, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah. Tatapan Arkana yang gelap dan penuh intensitas membuatnya kehilangan tenaga untuk berdebat. Akhirnya, ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu membuka lagi dengan pasrah. “Baiklah,” ucapnya lirih. “Saya akan tidur di sini. Tapi tolong ingat, Pak Arkana ... saya melakukan ini karena terpaksa.” Senyum tipis terbentuk di bibir Arkana, namun bukan senyum mengejek. Lebih seperti senyum puas karena berhasil mengendalikan keadaan. “Bagus. Ikut saya.” Arkana berjalan lebih dulu, membuka pintu salah satu kamar. Kamar tamu itu sederhana tapi mewah, ranjang besar dengan seprai putih bersih, cahaya lampu hangat, dan aroma segar yang menenangkan. Arista masuk dengan langkah ragu, matanya meneliti ruangan. “Ini … kamar kamu?” tanyanya memastikan. Arkana menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Kamu tidurlah. Saya tidak akan mengganggu kamu. Tapi jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa panggil saya di kamar sebelah.” Arista yang berdiri di dekat tempat tidur terdiam, tidak menyangka dengan sikap Arkana yang mendadak menjadi sangat lembut. Ia mengangguk dengan kaku. “T-terima kasih, Pak," jawabnya dengan kedua tangan menggenggam tasnya dengan erat. Arkana tidak langsung pergi. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Arista dengan sorot mata yang sulit ditebak. Hening sejenak, hingga akhirnya ia berkata, “Istirahatlah. Besok … kamu butuh tenaga penuh.” Arista hanya mengangguk kecil. “Selamat malam, Pak Arkana.” Pria itu tidak menjawab, hanya mengukir senyum samar lalu menutup pintu perlahan. Begitu sendirian, Arista masih diam menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Hatinya masih berdebar tidak nyaman, bukan hanya karena terpaksa tidur di apartemen sang bos. Namun, karena sikap dan tatapan Arkana yang tidak biasa —tatapan yang terlalu intens, seolah menyimpan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. —oOo— Jam terus berjalan, meski tubuhnya terasa remuk karena lelah, mata Arista sama sekali tidak bisa terpejam. Ia berbaring miring di tempat tidur dengan cahaya lampu meja yang redup menjadi satu-satunya penerang. Ponsel di tangannya terus menyala, layar menampilkan pesan yang ia kirim pada Davin sejak sore tadi. Namun, hingga kini, tidak ada balasan. Bahkan tanda centang biru pun tidak muncul. Arista menggigit bibirnya. “Sebenarnya Davin ke mana? Kenapa pesanku nggak dibaca?” “Dia nggak kenapa-napa 'kan ya? Apa dia sibuk? Tapi kalau sibuk masa cuma balas pesan dariku aja nggak sempat sih. Atau ….” pikirannya mulai dipenuhi kemungkinan buruk. Arista segera menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran buruk di pikirannya. “Sadar Arista, kamu nggak boleh punya pikiran seperti itu! Mungkin dia memang lagi sibuk.” Perlahan, matanya terasa panas. Bukan hanya karena lelah, tetapi juga karena perasaan tidak tenang di hatinya. Di saat ia benar-benar butuh seseorang yang menanyakan kabar, justru Davin menghilang tanpa jejak. Tangannya mengusap layar ponsel berulang kali, seolah dengan begitu pesan balasan dari Davin akan tiba. Namun, yang ia dapat hanya keheningan. Dalam keheningan itu amar-samar ia mendengar suara langkah dari luar kamar. “Siapa ya?” tanyanya di dalam hati. “Apa Pak Arkana belum tidur?” Hati Arista sempat terguncang. Ada dorongan kecil untuk keluar, sekadar memastikan apa itu benar-benar Arkana atau bukan. Namun, cepat-cepat ia menepisnya. “Bodoh. Kenapa juga aku harus liat. Kalau bener dia belum tidur ya biarin. Kenapa aku harus peduli!” ucap Arista pada dirinya sendiri. Setelah itu, ia berusaha memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur walau hatinya tidak tenang, memikirkan tunangannya yang sama sekali tidak ada kabar dan tidak nyaman karena harus tidur di tempat baru. Namun, pada akhirnya beberapa saat ia akhirnya terlelap, tapi ketika ia baru saja tertidur ia mendengar suara pintu terbuka. Terlihat seseorang mendekat ke arahnya dan berdiri di tepi tempat tidur. Orang itu, membungkukkan tubuhnya, membenarkan selimut pada dirinya dan tidak lama pergi lagi dari sana dengan tatapan yang membuat Arista bertanya-tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD