Sentuhan

1231 Words
Arista terus berusaha fokus mengerjakan pekerjaannya. Namun, ia sesekali masih melihat ke ponsel yang tergeletak di samping laptop, berharap Davin akan membalas. Sementara di seberang meja, Arkana memperhatikan setiap gerak-gerik Arista dengan mata elangnya. Ekspresi wajahnya dingin, tetapi di dalam d**a, ada sesuatu yang berkecamuk. Setiap kali Arista melirik ponsel, dadanya seperti dipenuhi bara. “Kalau kamu terus menatap ponsel seperti itu, pekerjaanmu tidak akan selesai sampai pagi, Arista,” komentar Arkana akhirnya, suaranya terdengar berat. Arista berhenti mengetik, mendongak menatap laki-laki itu. Ia tidak menyangka jika Arkana memperhatikan gerak-geriknya. “Siapa yang melihat ponsel? Bapak lihat sendiri saya sedang bekerja,” jawabnya datar berusaha mengelak apa yang Arkana katakan. Alis Arkana terangkat tipis. “Jelas-jelas kamu selalu melihat ponsel. Sebenarnya siapa yang kamu tunggu?” “Bukan siapa-siapa,” jawab Arista datar, kembali fokus ke pekerjaannya. “Saya tidak suka jika karyawan saya bekerja setengah-setengah. Kalau bekerja dengan saya, maka fokusmu harus penuh.” Arista mendengkus kecil, menahan kesal. “Saya fokus, Pak. Tapi tolong, jangan terlalu mengawasi saya seperti ini.” Arkana menyandarkan punggungnya, menautkan kedua tangannya di d**a, tetapi matanya tetap tidak lepas dari Arista. “Kalau saya tidak mengawasi kamu, kamu tidak akan fokus yang bisa membuat pekerjaan kamu hasilnya tidak sempurna. Saya tidak ingin rapat besok berantakan hanya karena ada yang salah dari bahan presentasi yang kamu kerjakan.” Arista menghela napas panjang. “Astaga, bos macam apa sih ini?” gerutunya dalam hati. Ia kembali menunduk, mengetik lebih cepat. Hening beberapa menit, hanya terdengar bunyi ketikan laptop. Hingga tiba-tiba layar ponsel Arista menyala. Refleks ia menoleh. Jantungnya berdebar karena ia yakin itu pesan dari Davin. Tapi sebelum sempat meraihnya, sebuah tangan panjang terulur lebih dulu. Arkana mengambil ponsel itu tanpa peringatan. “Pak! Apa-apaan Anda?!” seru Arista kaget, berdiri spontan. Arkana menatap layar ponsel sebentar, lalu pandangannya beralih ke wajah Arista. Ekspresinya sulit ditebak, ada gurat dingin bercampur emosi yang ia sembunyikan. “Jadi benar, kamu menunggu pesan dari tunanganmu,” gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri. Arista melotot, tangannya berusaha merebut ponsel itu kembali. “Itu privasi saya! Anda tidak berhak—” “Privasi?” Arkana menyeringai tipis. “Kenapa saya merasa kamu terlalu sibuk menunggu kabar dia sampai kamu lupa ada pekerjaan penting di depanmu?” Arista terdiam sejenak, lalu menggertakkan giginya. “Saya tidak lupa! Saya sedang bekerja, Anda lihat sendiri.” Mata Arkana menatapnya lama, tajam, seakan ingin menembus isi hati Arista. Lalu ia meletakkan ponsel itu kembali di meja, tapi tidak sekalipun melepas sorot matanya. “Baiklah. Bekerjalah. Tapi ingat, malam ini kamu tidak pulang sebelum semua selesai.” Arista mengerjapkan matanya cepat, menahan campuran marah dan takut. “Apa maksud Anda? Sudah hampir tengah malam, Pak!” Arkana mendekat, mencondongkan tubuh hingga wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajah Arista. Napasnya hangat, matanya gelap penuh intensitas. “Maksud saya sederhana. Kamu di sini … sampai saya puas.” Arista terpaku, wajahnya panas, jantungnya berdetak tak karuan. Bukan karena apa-apa, tetapi ucapan Arkana sungguh sangat ambigu. Ucapan laki-laki itu bisa diartikan ganda, antara pekerjaan atau sesuatu yang lebih berbahaya. Dengan susah payah, ia menarik napas, lalu menjawab tegas meski suaranya sedikit bergetar. “Kalau itu soal pekerjaan, saya akan lakukan. Tapi kalau lebih dari itu ... jangan pernah coba-coba, Pak Arkana.” Sejenak ruangan dipenuhi ketegangan. Arkana hanya tersenyum samar, tapi sorot matanya tidak berubah. Ia lalu mundur selangkah, akhirnya berkata, “Jangan berpikiran kotor Arista, siapa juga yang ingin macam-macam sama kamu. Kamu bukan selera saya.” Arista mendelik. “Saya bukan berpikiran kotor, Pak. Tapi, kata-kata Bapak yang sangat ambigu.” Arkana menarik ujung bibirnya, tersenyum sinis. “Perkataan saya normal, Arista. Sudah. Lanjutkan pekerjaannya. Waktumu tidak banyak.” Arista kembali duduk, berusaha menenangkan diri dan kembali mengerjakan pekerjaannya. —oOo— Arista masih duduk di sofa besar dengan laptop terbuka di hadapannya. Cahaya layar memantulkan wajahnya yang serius, matanya fokus membaca dokumen, alis sesekali berkerut ketika menemukan data yang tidak sinkron. Arkana juga masih dengan setia duduk di sofa yang ada di hadapan Arista. Posisinya masih sama seperti tadi hanya saja satu kaki disilangkan di atas yang lain, dengan mata yang nyaris tidak pernah lepas dari sosok Arista. Ia menatap lekat, seolah ingin menghafal setiap detail gerakan perempuan itu. Hening memenuhi ruangan, hanya bunyi ketikan keyboard yang terdengar. Namun, hening itu justru menekan d**a Arista. Ia bisa merasakan tatapan Arkana yang terlalu intens. Rasanya seperti ada beban di bahunya. “Apa Anda tidak punya pekerjaan lain selain mengawasi saya, Pak?” tanya Arista akhirnya, mencoba memecah suasana. Arkana mengangkat alis. “Kalau kamu butuh saya pergi, bilang saja. Tapi jangan menyesal kalau hasil kerjamu tidak sesuai harapan.” Arista mendengkus kecil. “Saya bukan anak kecil, Pak. Saya tahu apa yang saya lakukan.” Arkana tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyum miring, sebuah senyum yang membuat Arista makin kesal sekaligus gugup. Ia kembali menunduk, mengetik lebih cepat. Waktu berjalan, jarum jam sudah hampir menunjuk pukul dua dini hari. Mata Arista mulai terasa berat, tapi ia memaksa dirinya tetap fokus. Tangan kirinya meraih cangkir kopi yang tadi disiapkan Arkana, meneguknya dalam-dalam. Arkana yang melihat itu tiba-tiba berkata, “Kalau kamu paksakan terus, besok kamu akan jatuh sakit.” Arista mendongak kaget. “Apa?” tanyanya, takut salah dengar. “Mata kamu sudah merah. Bahumu juga tegang. Kamu butuh istirahat.” “Udah tau, masih aja maksain aku ngerjain pekerjaan ini sampai selesai!” gerutu Arista. Namun, ia hanya bisa menggerutu dalam hati, pada kenyataannya ia hanya menghela napas, menutupi rasa kesalnya. “Saya baik-baik saja. Lagi pula, ini perintah Anda sendiri, bukan? Saya tidak boleh pulang sebelum selesai.” Arkana terdiam sesaat, lalu berdiri. Ia berjalan mendekat dan berdiri di belakang sofa, menunduk sedikit hingga wajahnya nyaris sejajar dengan Arista. Tangannya terulur, menyentuh bahu perempuan itu dengan perlahan. Arista menegang seketika. “P-Pak Arkana, apa yang Anda—” “Diam.” Suara Arkana rendah, dalam, dan entah kenapa membuat bulu kuduk Arista meremang. Jemari pria itu mulai memijat lembut bahu Arista yang tegang. “Kalau kamu jatuh sakit, apa yang bisa kamu lakukan untuk saya?” Arista terpaku. Sentuhan itu membuat tubuhnya bergetar, bukan hanya karena kaget, tapi juga karena sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Ia ingin menolak, tapi lidahnya kelu. Arkana menunduk sedikit lebih dekat, napasnya terasa di telinga Arista. “Kamu terlalu keras kepala.” Arista buru-buru menggeser tubuhnya, menjauh dari sentuhan itu. Wajahnya memanas. “Saya tidak butuh Anda mengkhawatirkan saya. Saya hanya ingin menyelesaikan pekerjaan ini.” Arkana terdiam, memandangi wajah Arista yang jelas-jelas kemerahan. Senyum samar muncul lagi di bibirnya, kali ini bukan ejekan, tapi lebih seperti kepuasan terselubung. “Baiklah. Lanjutkan. Tapi kalau kamu pingsan, jangan salahkan saya.” Arista menggigit bibirnya, kembali fokus ke layar laptop. Namun, jantungnya berdetak tak karuan. Sentuhan singkat Arkana tadi meninggalkan jejak yang sulit ia abaikan. Jam terus berjalan. Pukul tiga dini hari, Arista akhirnya menyelesaikan draft terakhir. Ia menghela napas lega, menutup laptop dengan tubuh lelah. “Selesai,” katanya pelan. Arkana bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekat. Ia menatap map di meja, lalu menoleh ke arah Arista. “Bagus.” Arista bersandar di sofa, memejamkan mata sejenak. “Kalau begitu saya pamit, Pak.” Arkana menatapnya lama, lalu tiba-tiba berkata, “Terlambat. Sudah jam tiga pagi. Kamu tidak akan sempat pulang dan beristirahat.” Arista langsung menoleh, kaget. “Maksud Anda?” “Kamu tidur di sini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD