Arista sontak memejamkan mata rapat-rapat, saat melihat Arkana yang mencondongkan tubuh padanya, mengikis jarak di antara tubuh mereka yang seakan tidak berjarak lagi. Jantung Arista semakin berdetak dua kali lipat lebih cepat, seolah hendak pecah. Ia begitu yakin pria itu akan melakukan sesuatu yang tidak pantas. Napasnya pun tersengal, seolah udara di ruangan mendadak habis.
Sementara itu, senyum muncul di bibir Arkana saat melihat ekspresi wajah Arista. Ia menyusuri setiap wajah Arista dengan matanya, seakan ada magnet di wajah perempuan itu hingga membuat Arkana tidak ingin mengalihkan tatapannya.
Tatapan matanya terus turun, hingga saat di bibir Arista, Arkana berhenti sejenak. Ia lalu membasahi bibirnya saat melihat bibir ranum milik Arista. Ingin rasanya ia meraup bibir itu, tetapi ia segera menggelengkan kepalanya.
“Apa yang kamu pikirkan Arkana? Kamu melakukan semua ini untuk membalas perempuan di hadapan kamu ini, bukan untuk terpesona dengan dia!” dengus Arkana di dalam hati. Setelahnya, ia mengambil sebuah buku di belakang Arista dan membenarkan posisinya lagi.
Arista masih memejamkan matanya dengan jantung yang berdebar, takut dengan apa yang Arkana lakukan. Namun, detik-detik berlalu tanpa ada sentuhan mencurigakan. Tidak ada yang terjadi.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memejamkan mata?”
Arista sontak membuka matanya saat mendengar suara Arkana. Matanya langsung membelalak saat tepat di hadapannya, Arkana berdiri dengan ekspresi datar, jarak di antara mereka sudah cukup jauh dengan sebuah buku di tangannya.
Arista sontak kaku, wajahnya memanas. “S-saya … saya kira Anda—” ia terhenti, lidahnya kelu.
Arkana menundukkan wajahnya sedikit, mendekat hingga suaranya terdengar rendah di telinga Arista. “Kira saya apa, hm? Melakukan hal yang tidak-tidak padamu?”
Arista menegakkan tubuhnya, buru-buru menggeleng. “Bukan begitu! Jangan salah paham, Pak. Saya hanya—”
Senyum Arkana makin melebar, berubah menjadi smirk puas. “Jadi kamu sempat memikirkan kemungkinan itu.”
“Tidak!” sergah Arista cepat, berusaha menepis. Namun justru wajahnya semakin merah, membuat dirinya semakin terlihat salah tingkah.
Ia lalu mengalihkan pandangan, mencari cara untuk kabur dari situasi memalukan itu. “Lebih baik Anda langsung saja katakan, apa sebenarnya yang Anda inginkan, sampai membawa saya ke sini?”
Arkana menatapnya lama sebelum akhirnya melangkah mundur dua langkah, memberi sedikit ruang. Senyumnya berubah tipis, kali ini dingin. “Santai saja. Saya tidak punya waktu untuk main-main. Alasannya sederhana. Saya ingin kamu mengerjakan bahan rapat besok dengan para pemegang saham.”
Arista membelalak lalu sontak menatap Arkana dengan tatapan tidak percaya. “Apa?! Kenapa saya? Bukankah sudah ada tim yang ditunjuk untuk itu?”
“Saya tidak suka dengan hasil mereka,” jawab Arkana datar. “Ada banyak hal yang harus ditambahkan, dan saya tidak bisa menunggu mereka menyusunnya lagi. Saya butuh cepat, dan kamu yang akan melakukannya.”
Arista semakin terkejut. “Bapak tidak bisa seenaknya seperti itu. Bagaimana saya mengerjakan apa yang Bapak inginkan dalam waktu singkat?!”
“Saya tidak peduli. Yang saya inginkan hanya satu, besok bahan materi untuk rapat besok sudah jadi dengan semua ide yang saya inginkan.”
Arista menatap Arkana dengan tatapan benci. Malam yang seharusnya ia gunakan untuk istirahat tetapi malah dikacaukan dengan menemani laki-laki itu ke pesta lalu sekarang ia harus kembali bekerja.
“Jadi bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya?” tanya Arkana sambil terus menatap Arista, “jika tidak, maka bersiaplah mencari pekerjaan di tempat lain,” lanjutnya senyum tipis, nyaris seperti ejekan, terlukis di bibir pria itu.
Rahang Arista mengeras dengan tangan mengepal. Ia tahu sekarang alasan Arkana melakukan ini padanya. Laki-laki itu ingin dirinya tidak betah bekerja di sana.
Ia lalu menghela napas panjang. “Baiklah, saya akan melakukan apa yang Anda mau, Pak. Tapi saya akan bawa pulang pekerjaannya. Saya bisa kerjakan di rumah.”
“Tidak.” Arkana langsung menolak, suaranya tegas dan tak memberi ruang kompromi. “Kamu kerjakan di sini.”
Mata Arista membelalak. “Kenapa harus di sini?!” Arista tak bisa menahan nada protesnya.
Arkana mencondongkan tubuh sedikit, matanya tajam menatap lurus ke dalam mata Arista. “Karena saya ingin melihat proses kamu mengerjakannya. Saya tidak mau hasilnya meleset dari apa yang saya inginkan. Mengerti?”
Arista mengembuskan napas keras, matanya memutar malas. Pria ini benar-benar seenaknya sendiri. Tapi akhirnya ia pasrah, menunduk sebentar, lalu mengangguk kecil. “Baiklah.”
Arkana tersenyum samar, kemenangan jelas tergambar di wajahnya. Ia lalu berbalik hendak berjalan ke kamar, tetapi ia kembali menatap Arista sebentar, dan berkata, “Duduklah. Saya ambilkan bahan yang perlu kamu kerjakan.”
Arista mengembuskan napas panjang dan hanya bisa mengangguk pasrah. Begitu Arkana masuk ke dalam kamar untuk mengambil map berisi dokumen, ia buru-buru meraih ponselnya dan mengetik pesan cepat untuk adiknya, Rafa, bahwa ia tidak akan pulang malam ini karena ada pekerjaan mendesak. Ia juga mengirim pesan singkat pada Davin, menanyakan apa yang sedang tunangannya lakukan saat ini.
Senyum tipis muncul di bibirnya saat menunggu pesan balasan. Senyum semakin mengembang di bibir saat ponselnya berbunyi.
Arista membuka pesan itu, berharap jika itu adalah pesan balasan dari Davin. Namun, senyum itu menghilang seketika saat pesan itu ternyata dari Rafa.
Rafa : “Baik, Kak. Tapi ingat, Kakak jangan terlalu capek, aku nggak mau Kakak kecapean dan jatuh sakit.”
Walaupun hatinya sedih bukan Davin yang membalas, tetapi senyum tipis kembali terukir saat membaca pesan dari adiknya itu. Ia kemudian mengetikkan pesan balasan pada Rafa yang akan menjaga kesehatan diri.
Di sisi lain, Arkana ke luar dari kamarnya dengan sebuah map di tangannya. Ia yang melihat Arista sedang menatap ponselnya dengan senyum samar merasa ada yang janggal di hatinya. Sesuatu dalam dadanya mendadak terasa panas.
Dengan langkah tegas, Arkana menghampiri dan meletakkan map tebal di meja dengan cukup kasar, membuat Arista tersentak kaget. “Itu bahannya,” ucapnya dingin.
Arista mendongak, menatapnya dengan bingung sekaligus kesal. Tapi ia tak berkata apa-apa, hanya meletakkan ponselnya di atas meja dan mulai membuka map tersebut.
Sementara itu, Arkana duduk di seberangnya, menatap setiap gerak-gerik Arista. Tatapan matanya tajam dan menusuk, seakan siap menerkam siapa saja yang ada di hadapannya.
Arista mulai mengerjakan pekerjaannya. Ia mencoba fokus mengetik, menyalin sekaligus menyusun ulang ide-ide yang Arkana minta. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard laptop. Namun, pikirannya sedikit terpecah —satu sisi pada pekerjaan, sisi lain menunggu balasan pesan dari Davin. Sesekali ia melirik ponsel yang tergeletak di meja. Namun, layar itu tetap gelap, tidak ada tanda-tanda notifikasi baru.
“Kenapa Davin belum balas, ya?” batin Arista gusar, khawatir jika terjadi apa-apa pada tunangannya.