BAB 8

1196 Words
Selama persiapan pertunangan ayana dan yasmin sering menghabiskan waktu bersama. Terkadang mereka melakukan makan siang atau ngopi cantik bersama diluar kegiatan persiapan. Tapi tetap saja pembahasan mereka masih tidak jauh dari aimmar dan juga yuna. Kedua wanita dewasa itu jarang menceritakan tentang kehidupan mereka, lebih kepada pembahasan anak - anak dan cucu. Terlebih ternyata besan yasmin yaitu orang tua olivia juga merupakan sahabat dari ayana. Jadi masih banyak pembahasan lain yang bisa mereka jadikan bahan obrolan selain membahas tentang mereka ataupun pasangan. "Nanti kita mampir ke toko bayi yang disana ya, tadi aku sempat melihat beberapa baju yang lucu dan cocok buat omar." Ajak yasmin saat mereka sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi salah satu cafe di dalam mall disana. "Boleh, aku juga harus mempersiapkan beberapa barang untuk anak aimmar dan yuna nantinya." Yasmin tersenyum mendengar hal itu, setidaknya calon mertua anak perempuannya nanti tidak sama seperti mantan mertuanya dulu. Ayana terlihat sangat perhatian pada yuna. "Mereka belum resmi menikah, bagaimana bisa kamu menyiapkannya sekarang, ayana." Kata yasmin lembut sambil terus menyunggingkan senyuman. "Kau benar, aku terlalu lama menunggu aimmar memperkenalkan calon istrinya. Hingga terlalu bersemangat sampai tidak sadar bahwa mereka belum resmi menikah." Jawab ayana sambil meminum sedikit kopi miliknya. "Sebelumnya aimmar tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain ?" Tanya yasmin lagi. Ayana menggeleng, "Dia terlalu sibuk bekerja, bahkan tidak mempedulikan sekitarnya. Padahal banyak sekali wanita yang mendekatinya." Jelas ayana. "Mengapa mereka sangat mirip. Yuna sendiri selalu sibuk bekerja dan tidak mempedulikan pria - pria yang mencoba mendekatinya. Sampai - sampai juna kesal karena banyak sekali pria yang mendekatinya hanya untuk mencari tau tentang kakaknya itu." Kedua wanita itu tertawa. "Andaikan aira seperti itu juga, anak keduaku itu sangat tertutup. Dia lebih menyukai mengurung dirinya di kamar, orang yang bisa mendekatinya hanyalah aku, aimmar, olivia, dan senna." Jelas ayana dengan raut wajah yang terlihat sedih saat membahas anak keduanya itu. Yasmin menyentuh tangan ayana seakan ingin menyalurkan kekuatan pada calon besannya. Sebagai sesama wanita dia sangat tau bagaimana sedihnya perasaan wanita yang duduk di depannya itu.  Jika yasmin bisa merasakan kesedihan ayana, lain dengannya. Wanita itu justru merasa sangat bersalah. 'Apa dia wanita yang dulu pernah ku sakiti ? Bahkan dia bersikap sangat baik kepadaku.' Sesalnya dalam hati. Raut wajah ayana semakin terlihat sedih. "Ayana, ada apa ? Tenanglah, nanti kapan - kapan kita bisa mencoba mendekati aira dengan sering melibatkan dia dalam urusan persiapan pernikahan kakaknya." Saran yasmin. Padahal sebenarnya bukan hanya hal itu yang mengganggu pikiran ayana. Ada hal di masa lalu yang sangat mengganggu hati dan pikirannya, terlebih saat dia mengenal yasmin semakin dekat. Ayana mengangguk, "Terima kasih, yas." Ucapnya sambil tersenyum. Setelah itu mereka menjalankan misi mereka berbelanja keperluan untuk omar. Ayana terlihat sangat senang dan bersemangat. Sampai - sampai dia membelikan omar banyak pakaian dan mainan baru. "Ini terlalu banyak, ayana." Kata yasmin saat mobil ayana sampai di depan kediaman archer. "Katakan pada olivia, kalau omar juga cucuku. Jadi anggap saja ini hadiah dari salah satu neneknya." Pesan ayana pada yasmin. Lalu, sopir ayana keluar sambil membantu kedua ibu - ibu yang sangat kerepotan membawa barang belanjaan mereka. "Baiklah, aku langsung pulang ya yas. Sampaikan salamku pada calon menantuku, dan juga olivia." Setelah itu mobil ayana langsung pergi meninggalkan rumah keluarga archer. ** Malam ini adalah malam pertunangan yuna dengan aimmar. Suasana ballroom di salah satu hotel terbesar Jakarta yang merupakan milik keluarga adista itu disulap menjadi ruangan mewah. Sesuai tema yang dipilih oleh ayana dan yasmin, yaitu red carpet.  Di acara pertunangan kedua keluarga yang berpengaruh di Indonesia ini banyak sekali mengundang orang - orang hebat. Dengan dresscode warna hitam untuk para pria, dan juga warna merah untuk wanita menambah kemegahan acara tersebut. Anggota keluarga archer dan juga anggota keluarga adista kompak menggunakan setelan jas berwarna abu untuk para pria di keluarga mereka, dan juga gaun berwarna silver untuk para wanita cantik. Tapi gaun milik yuna adalah yang paling gemerlap dengan model shoulder dress dibagian, lalu dress panjang itu memiliki potongan sedikit tinggi sampai 10cm di atas lutut yuna. Dihiasi swarovski di bagian atas hingga ke pinggangg. Jangan lupakan aksesoris anting yang mewah senada dengan hiasan gaunnya. Rambut yuna sengaja dibuat curly wave dengan bagian depannya sedikit dibuat lebih mengembang. Serta makeup yang terlihat sangat glowing tapi tidak berlebihan semakin melengkapi kecantikan yuna. Karena malam ini dia adalah ratu di acaranya. "Oh Tuhan, kau sangat cantik kak." Puji olivia yang baru saja masuk ke dalam kamar yuna sambil menggendong omar yang terlihat menggemaskan dan tampan dengan setelan jas berwarna abu senada dengan setelan jas juna. "Makasi, sayangnya kakak." Yuna memperhatikan olivia juga tampil cantik dengan gaun pilihan mama mertuanya yang tentu saja setelah mendapat persetujuan juna. Rambut adik iparnya itu dikepang ke samping dihiasi dengan hiasan bunga kecil di sela kepangannya. "Adik perempuan kakak juga cantik." Puji yuna. Lalu tiba - tiba saja omar mengulurkan tangannya ke arah yuna untuk minta di gendong. "Jagoan aunty juga ganteng banget." Kata yuna sambil menerima uluran tangan kecil keponakan kesayangannya.  "Ganteng lah, coba lihat siapa papinya." Tiba - tiba juna juga muncul di dalam kamar milik kakaknya. Membuat yuna dan olivia memutar matanya jengah mendengar tingkat kepedean juna yang luar biasa. Lalu juna memperhatikan yuna dari atas sampai ke bawah, "Kayaknya gaun lu kekurangan bahan deh kak. Masa itu robekannya tinggi banget, minta di jahit gih." Komentar juna membuat yuna memperhatikan kembali penampilannya di kaca. "Nggak usah dengerin juna, kak." Bisik olivia dari belakang yuna tepat ditelinga wanita cantik itu. "Kakak lupa kalo dia kan tingkat posesifnya udah di tahap nggak masuk akal." Lanjutnya lagi, yuna hanya mengangguk - angguk. "Hishhh, kalian berdua ini pasti sedang membicarakanku!!!!" Omel juna sambil memperhatikan yuna dan olivia yang  sedang berbisik sambil tersenyum. "Kak, kita turun dulu ya. Lama - lama dia disini malah bisa bikin kak yuna ganti baju sampe 10 kali." Canda olivia yang akhirnya menggendong omar lalu menarik suaminya untuk segera keluar dari sana. Yuna dan orang disana tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kedekatan mereka bertiga yang unik. Aimmar terlihat menyapa beberapa kolega bisnisnya di area ballroom. Ayden terlihat juga menyapa beberapa kolega bisnisnya, hingga akhirnya mereka berdiri bersama. "Kalian berdua sangat mirip." Puji istri salah satu kolega mereka. Ayden nampak mengulurkan tangannya memeluk bahu anak laki - lakinya. Aimmar melihat uluran tangan papanya itu dengan senyuman, tidak mungkin kan dia menunjukkan sorot mata permusuhan pada papanya dihadapan orang lain. "Tentu saja, siapa lagi yang akan mewariskan wajah ini kalo bukan dia dan aira." canda ayden sambil sesekali menepuk lembut bahu anaknya. Setelah mereka mengobrol sebentar, aimmar langsung menjauhkan dirinya dari ayden saat kolega mereka pergi. "Anda benar - benar sangat jago bersandiwara tuan ayden yang terhormat." Sindir aimmar.  "Sandiwara ? Aku mengatakan yang sejujurnya, nak." Jawab ayden. Tiba - tiba, lampu di sekitar ballroom sedikit demi sedikit meredup dan satu lampu sorot langsung menuju ke arah yuna berdiri. Sudah mirip seperti acara red carpet, bukan ? Ayden dan aimmar sama - sama mengalihkan pandangan mereka ke arah sorot lampu. 'Dia benar - benar mewarisi kecantikan yasmin.' Puji ayden dalam hati. Aimmar pun mengamati calon tunangannya itu dengan tatapan yang sulit di artikan. "Pilihanmu sangat tepat, nak." Kata ayden sambil menyenggol lengan anaknya. "Aku selalu melakukan hal yang tepat, tidak seperti anda." Sindir aimmar lagi. Ayden langsung menolehkan kepalanya. "Bagus jika memang itu benar. Jangan pernah sia - siakan menantu papa. Jangan pernah kau mengulang kesalahan papa di masa lalu." Pesan ayden sebelum pergi meninggalkan anaknya yang sedang hanyut dengan pikirannya saat melihat yuna malam itu. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD