Suasana ballroom itu hening. Dengan semua mata tertuju pada wanita cantik yang sedang menuruni tangga.
Selain aimmar yang memandangi yuna dalam diam, ada satu pria lagi yang memandanginya. Bobby.
Pria yang sejak lama menyimpan perasaan pada yuna, bahkan sejak mereka masih kecil. Sulit baginya melupakan yuna begitu saja. Apalagi melihat wanita itu tampil sangat cantik malam ini membuatnya merasakan detak jantungnya memacu dengan cepat. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan.
Tapi mengingat kembali bahwa wanita itu sudah memilih pria lain untuk menemaninya seumur hidup kelak membuatnya kembali sadar. Bahwa kebahagiaan yuna adalah bersama pria yang sedang berjalan ke arahnya.
Aimmar langsung maju menuju arah tangga untuk menyambut calon tunangannya. Mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari lentik milik yuna.
"Kau terlihat sangat cantik." puji aimmar dengan berbisik di telinga yuna. Membuat wanita cantik itu langsung menyunggingkan senyuman yang menambah kecantikannya 100 kali lipat. Untung saja malam ini yuna menggunakan make up, jika tidak maka wajah meronanya yang mirip kepiting rebus bisa terlihat jelas oleh para tamu undangan dan keluarga mereka.
Acara pun segera dimulai, baki yang terbuat dari perak dengan hiasan bunga - bunga di sekelilingnya membuat keberadaan sepasang cincin pertunangan kedua insan itu terlihat spesial. Yasmin menerima baki yang dibawakan oleh salah satu pegawai event organizer. Saat dia mengambilkan cincin milik aimmar untuk diberikan pada yuna, matanya menangkap cincin di dalam kotak sebelahnya. Tapi buru - buru dia hempaskan pikiran itu. Gio pun menyadari sikap aneh istrinya.
Setelah itu giliran ayana yang mengambilkan cincin pertunangan milik yuna untuk diberikan pada aimmar. Mata ayden pun menatapi cincin yang sangat familiar untuknya itu sedang berada di tangan istrinya. Aimmar menerima cincin itu dan segera memasangkan dijari yuna. Ayden, yasmin, dan gio terlihat seperti menyelami masa lalu mereka setelah melihat cincin itu.
"Tenanglah, sayang. Diluar sana banyak cincin dengan model seperti itu. Bukan berarti model cincin yang sama akan membawa nasib yang sama." Kata gio menenangkan istrinya sambil memeluk erat bahu yasmin. Ayden melihat hal itu pun menyadari bahwa yasmin dan gio juga merasakan hal aneh.
Setelah itu acara pun berjalan lancar. Karena yuna dan aimmar berkeliling bersama, ya….untuk memperkenalkan satu sama lain pada kolega bisnis mereka.
"Lu harus milih jalan hidup lu sendiri mulai sekarang, bang. Dia udah milih jalan hidupnya bersama pria lain." Pesan juna saat duduk bersama dengan bobby sambil memegang segelas wine. Bobby hanya diam saja sambil terus memperhatikan wanita yang mengisi hatinya selama ini sedang tersenyum bahagia bersama pria lain.
"Bang, jangan lupakan dia yang berada di sebelah lu." Kata juna sambil memiringkan kepalanya menunjuk seorang gadis yang sedang berdiri bersama istrinya.
"Gua tau." Jawab bobby singkat. Lalu mereka terlihat sama - sama meminum wine sambil memperhatikan suasana sekitarnya.
Tiba - tiba olivia datang ke arah juna sambil menggendong omar yang terlihat rewel. Tangan bayi mungil itu seakan ingin meraih dimana papinya berada. Dan benar saja setelah dalam gendongan juna, bayi laki - laki itu langsung terdiam.
Sekarang olivia duduk bersama dee, karena anaknya sedang bersama suaminya. Lalu hervi datang dengan wajah santainya.
"Siapa nama cewek yang disana ?" Tanyanya pada teman - temannya. Olivia terlihat tertarik dengan pertanyaan hervi, karena pria itu sedang menunjuk ke arah 2 gadis yang sangat dikenalinya. Pria itu sangat jarang menanyakan hal seperti ini, awalnya olivia mengira hervi tidak begitu tertarik dengan wanita. Karena dia mencintai dunia yang diciptakannya sendiri.
"Cewek yang mana dulu nih ?" Tanya olivia pada hervi.
"Yang rambutnya tergerai." Jawab hervi sambil menunjuk gadis itu dengan dagunya.
"Itu aira, adiknya kak aimmar." Jawab olivia.
"Kalo yang sebelahnya ?" Tiba - tiba yoyo ikut nimbrung dalam pembicaraan itu.
"Kenapa sama gadis disebelahnya, hmm ?" Tanya olivia nada sedikit galak. Yoyo tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. "Ya….pengen tau aja."
Juna tertawa, "Kalo lu mau kenal sama yang disebelahnya berarti lu siap - siap jadi adik ipar gua." Kata juna sambil tertawa terbahak - bahak.
"Liv, dia adikmu ?" Tanya yoyo pada olivia untuk memastikan. Istri juna itu hanya mengangguk sambil terus menampilkan wajah galaknya.
"Gila, bini lu galak amat jun. Padahal gua baru tanya namanya aja." Kata yoyo pada juna sambil bergidik ngeri melihat wajah galak istri sahabatnya itu.
Tiba - tiba suasana hening saat yuna datang bersama aimmar untuk bergabung bersama sahabat - sahabat yuna.
"Kalian kenapa diem ? Lanjutin aja." Kata yuna saat menyadari sikap sahabatnya. Terlebih pandangan mata bobby yang melihat ke arahnya bersama aimmar. Tapi yang namanya aimmar tetap saja cuek saat dia terfokus dengan pemandangan didepannya.
Seorang wanita yang dibencinya sedang berbicara bersama omanya.
Juna mengikuti arah pandangan aimmar, lalu melihat mamanya sedang berbicara dengan wanita yang mungkin seumuran dengan neneknya. Tapi wajah mamanya terlihat sedikit aneh, tidak seperti biasanya.
"Ay, kau mau minum sesuatu ?" Tanya yuna pada aimmar yang masih fokus dengan pemandangan didepannya. Bobby semakin panas mendengar panggilan sayang yuna pada calon suaminya.
"Apa saja, sayang." Jawab aimmar singkat tanpa sadar dengan matanya yang tidak menoleh pada yuna. Mendengar panggilan 'sayang' yang diberikan aimmar padanya, membuat yuna tersipu malu. Tapi dia berusaha menahan rasa bahagianya itu didepan orang lain. Hal itu pun tidak lepas dari pandangan bobby. 'Ternyata mereka memang saling mencintai.' Batin bobby miris.
Olivia yang menyadari hal itu hanya menepuk lembut punggung tangan sahabatnya. Hingga dee dan olivia saling memandang, seakan dari tatapan mata itu bisa menunjukkan bagaimana perasannya.
Setelah itu yuna kembali sambil memegang 2 gelas wine ditangannya. Dia langsung menyerahkan satu gelas itu pada aimmar.
"Ay…" panggil yuna. Tangan aimmar langsung menerima gelas itu tapi lagi - lagi matanya tetap menghadap ke depan sana.
"Kau sedang memperhatikan siapa ?" Tanya yuna yang heran melihat sikap tunangannya.
"Enggak, kayaknya oma kenal deket sama mama yasmin." Ucap aimmar enteng. Tapi kata - kata itu menarik perhatian olivia, juna, dan juga bobby.
"Kita kan mau jadi satu keluarga, kayaknya itu hal yang wajar." Jawab yuna. Aimmar seketika menolehkan kepalanya, memandangi wajah tunangannya. Lalu menggenggam tangan yuna yang berada di atas meja. "Kamu bener." Katanya sambil tersenyum.
'Kau saja yang tidak tau hal apa yang sudah dilakukan wanita itu pada keluargaku. Bahkan kau tidak menyadari bahwa kalimat tadi adalah sebuah sindiran.' Batin aimmar.
Yuna tersenyum saat tangannya digenggam oleh aimmar. Tapi bobby semakin merasakan ada yang tidak beres dengan sikap calon suami yuna. Saat menolehkan kepala, pandangan mata bobby bertemu dengan mata olivia.
Suasana semakin sahdu, saat memasuki acara puncak. Yaitu acara dansa. Diawali oleh pemilik acara besar malam ini, yuna dan aimmar. Lalu disusul juna dan olivia, gio dan yasmin, serta ayana dan ayden. Kedua belah pihak keluarga ini terlihat sangat menikmati acara dansa, kemudian disusul oleh para tamu yang juga turut bergabung untuk berdansa.
Musik klasik mengalun indah mengiringi acara dansa itu. Semakin menambah suasana romantis. Konsep yang dibuat ayana dan yasmin benar - benar sangat berkesan untuk yuna. Mungkin malam ini menjadi 1 malam terbaik dalam hidupnya.
Saat mereka saling bertukar pasangan, tiba lah giliran yasmin berdansa dengan ayden. Kebetulan yuna bertukar pasangan dansa dengan gio, lalu aimmar berdansa bersama ayana. Perasaan canggung menyelimuti yasmin dan ayden. Gio pun merasakan hal yang tidak nyaman dihatinya, lalu segera saja dia menarik tangan istrinya agar berdansa lagi dengannya. Aimmar yang melihat hal itu pun langsung menyerahkan mamanya agar berdansa kembali bersama papanya, dan dia menarik tangan yuna agar mereka berdansa kembali.
Setelah acara itu selesai, aimmar mengambil dua gelas wine yang rencananya satu gelas lainnya akan dia berikan pada papanya.
"Pasti acara dansa adalah acara yang sangat anda tunggu - tunggu. Dengan begitu selalu ada alasan untuk mendekati bahkan menggenggam tangan mantan istri anda." Kata aimmar sinis saat menyerahkan gelas itu pada ayden.
"Pernahkan terbesit sedikit rasa bersalah di hati anda pada mamaku ?" Tanya aimmar lagi tak kalah sinis dari sebelumnya.
"Katakan padaku apa saja yang kau ketahui. Jangan hanya mendengar informasi dari satu pihak saja, dengarkan dari kedua belah pihak. Setelah itu kau baru bisa simpulkan semuanya." kata ayden bijak.
"Cih!!! Aku tidak perlu semua itu! Yang aku lihat sudah cukup membuktikan semuanya." Ayden menolehkan kepalanya.
"Bukti apa yang kau lihat ?" Tanya ayden. Saat menolehkan kepala terlihat sangat jelas tatapan benci dari mata anaknya.
"Anda tidak perlu tau, karena bisa saja anda menghilangkan semua bukti kebenaran itu." Setelah mengatakan hal pedas pada papanya, aimmar pergi meninggalkan ayden sendirian.
'Apa kau sangat membenciku, nak ?' Batin ayden miris.
Juna sempat memperhatikan sikap aneh ayah dengan anak laki - lakinya. Tapi dibuyarkan oleh kedatangan bobby dengan wajah seriusnya.
"Jun, gua dapet informasi tentang aimmar."
**