Yuna sampai di sebuah hotel mewah milik calon suaminya itu. Mereka membuat janji bertemu untuk makan malam di restauran hotel tersebut. Mobil yuna sampai di depan lobby, langsung di sambut oleh seorang pegawai hotel bak putri raja.
Dia masuk sambil di antarkan oleh pegawai wanita yang di khususkan oleh calon suaminya untuk mengantarnya ke sebuah ruangan VIP. Ruangan yang khusus di persiapkan oleh calon suaminya untuk makan malam ini.
Aimmar moussa adista, pria berusia 27 tahun yang merupakan satu – satunya cucu laki – laki seorang ken adista. Ibunya adalah ayana adista, merupakan anak tunggal dari ken. Kakeknya itu merupakan seorang pengusaha besar dalam bidang hospitality yang tidak bisa di remehkan begitu saja. Keluarga mereka masuk di jajaran orang yang sangat diperhitungkan.
Yuna merasa sangat tersanjung diperlakukan seperti ini oleh seorang pria yang bahkan belum pernah dia temui. Ini adalah kali pertama untuk mereka bertemu. Tidak, bukan mereka hanya yuna saja. Karena sebelumnya aimmar sudah melihat wajah yuna. Jauh sebelum perjodohan ini terjadi.
Sebenarnya bukan perjodohan, tapi aimmar dengan khusus melamar yuna langsung kepada giovani archer.
*FLASHBACK ON*
Pertemuan khusus dilakukan oleh gio dan juga seorang pemuda yang kemampuannya tidak bisa diremehkan begitu saja dalam dunia bisnis. Pemuda yang menjadi banyak incaran untuk dijadikan rekan bisnis, bahkan seorang menantu untuk anak gadis mereka.
“Selamat siang.” Tegur gio sopan ketika sampai di samping sebuah meja yang sudah dipesan oleh pemuda yang sedang duduk sambil sibuk membolak – balikkan buku menu dihadapannya.
“Oh.. Mr. Gio. Silahkan.” Katanya sopan sambil mengalihkan pandangan kepada seorang pria paruh baya yang sekarang berdiri didepannya. Tangan pemuda itu langsung memberikan tanda untuk mempersilahkan duduk.
Pemuda itu adalah aimmar moussa adista.
“Bagaimana mr. Adista ?” tanya gio mulai membuka pembicaraan.
“Bagaimana jika kita memesan makanan terlebih dahulu sebelum membahas tentang kerjasama ini ?” dengan sopan aimmar menyampaikan idenya, yang juga di setujui oleh gio.
Selesai memesan hidangan untuk makan siang mereka. Pembicaraan bisnis mereka pun berjalan lancar sambil menunggu. Aimmar terlihat sangat profesional dalam bidangnya, hingga diskusi mereka terasa sangat menyenangkan untuk gio.
Di sela – sela makan.
“Mr. Gio, saya dengar anda memiliki seorang putri yang cantik ?” kata aimmar sambil memotong daging steak yang tersaji di piringnya.
“Ah... iya. Namanya yuna.” Gio tidak terlalu menanggapi dengan serius pertanyaan aimmar. Baginya mungkin ini adalah pembicaraan basa – basi untuk bentuk kesopanan.
“Bagaimana jika saya melamar putri anda, Mr. Gio ?” tanya aimmar membuat gio tersedak.
“Melamar ??” tanya gio yang terkejut mendengar pernyataan rekan bisnisnya. Jika dilihat mungkin umur yuna dan aimmar memang tidak terpaut jauh.
“Saya menyerahkan semua keputusan itu pada yuna. Karena itu adalah hidupnya. Saya tidak berhak memberikan keputusan.” Lanjut gio sopan.
“Saya akan membuat putri anda menyetujuinya.” Dengan yakin aimmar mengatakan hal itu.
“Saya tidak bisa memberikan jawaban. Karena kita juga sedang dalam kerjasama bisnis. Hubungan ini bisa saja mempengaruhinya.”
“Tidak, ini urusan pribadi diantara kita. Dan sejujurnya saya sangat tertarik dengan putri anda. Jadi sebelum saya melamar, semua ini sudah saya pikirkan baik – baik.” Terlihat keseriusan di wajah aimmar. Membuat gio teringat dengan dirinya saat melamar yasmin dulu.
“Saya akan berikan kesempatan, tapi semua keputusan tetap berada di tangan yuna.” Jawab gio. Mendengar ini membuat aimmar tersenyum.
“Baiklah, saya akan meminta mama untuk melamar yuna dalam waktu dekat ini.” Senyum bahagia terlihat jelas di wajah aimmar.
“Karena urusan bisnis kita sudah selesai, diluar itu kamu adalah calon menantu saya. Jadi berbicaralah santai. Anggap saja saya seperti ayah sendiri.” Kata gio lembut.
“Baiklah, Mr. Gio.”
“Ah... mungkin kita bisa mulai dengan panggilan ‘papa’ ?” tanya gio yang diangguki tanda setuju oleh aimmar.
“Yuna itu seperti apa.. mm.. pa ?” tanya aimmar yang belum terbiasa dengan suasana canggung ini.
“Bagaimana orang diluar sana menilai tentang yuna ?” bukannya menjawab, gio malah menanyakan pertanyaan lain.
“Terlalu sempurna dan sepertinya cocok dengan kepribadianku.” Jelas aimmar yang mulai terbiasa dengan situasi ini. Baginya ini sangat nyaman, bisa berbicara santai dan berdiskusi dengan sosok papa yang selama ini tidak dia dapatkan.
“Hahaha... yuna tidak sesempurna itu, gadis itu terkadang masih manja dan juga keras kepala.” Kata gio sambil tersenyum. Bagaimana bisa putri manjanya itu di nilai orang sempurna ? Padahal di rumah dia bisa bertingkah sangat manja, apalagi jika berhadapan dengan juna sikap anggunnya itu akan menghilang begitu saja. Tidak akan ada sosok sempurna seperti yang orang – orang bicarakan.
“Kau harus mencoba mengenalnya lebih dalam lagi.” Pesan gio diiringi senyuman penuh arti.
*FLASHBACK OFF*
“Silahkan masuk nona.” Kata pegawai itu sopan sambil membukakan pintu.
Dengan perasaan campur aduk yuna memasuki ruangan itu.
Saat masuk, dia melihat bahwa ruangan itu sudah di hias sedemikian rupa. Tidak disangka makan malam mereka ini sudah dipersiapkan secara matang oleh calon suaminya itu.
‘Wangi ini sepertinya aku kenal.’ Batin yuna saat semakin memasuki ruangan itu. Wangi aromaterapi yang sampai di hidungnya ini mirip wangi miliknya.
Ruangan yang temaran dengan lilin sebagai hiasan di meja bahkan di sudut ruangan. Dengan lampu yang mengeluarkan cahaya berwarna kuning menambah kesan romantis. Di tambah bunga mawar merah segar yang ada di sekeliling ruangan mengeluarkan wangi semerbak, dan tentunya semakin menambah keromantisannya.
“Silahkan duduk.” Kata pegawai itu lagi sambil menarik kursi yang akan didudukin oleh yuna.
“Mungkin sebentar lagi tuan aimmar akan segera datang.” Lanjutnya sopan.
“Baiklah, terima kasih.” Ucap yuna sopan diiringi senyuman yang membuatnya semakin terlihat anggun dan cantik.
“Apa ada yang anda butuhkan lagi, nona ?” tanyanya lagi.
“Tidak, terima kasih.” Tolak yuna sopan.
“Baiklah, saya tinggal dulu. Jika anda membutuhkan sesuatu bisa menekan bel ini.” Katanya sambil menyerahkan sebuat bel berwarna hitam dengan tombol merah. Yuna mengangguk tanda mengerti.
Saat sudah sendiri di ruangan itu, yuna meremas tangannya. Pertanda bahwa dia sedang sangat gugup. Berulang kali dia menarik nafas dan menghembuskannya, mengatur perasaannya, lalu memperhatikan sekitarnya mencoba menikmati suasana yang sudah dipersiapkan calon suaminya khusus untuk mereka malam ini.
Terdengar pintu terbuka.
Yuna langsung menoleh, saat dia melihat seorang pria berwajah tampan dengan rahang tegas memasuki ruangan itu membuat yuna berdiri untuk menyambut kedatangan aimmar.
“Maaf, membuatmu menunggu.” Kata aimmar sopan sambil mengulurkan tangannya menyalami yuna.
“Tidak masalah.” Yuna menjawabnya dengan formal.
“Silahkan duduk.” Aimmar mempersilahkan yuna untuk duduk dengan sopan.
“Baiklah, ini adalah pertemuan pertama kita. Bagaimana jika aku memperkenalkan diriku dulu ?”
“Aimmar.. Aimmar moussa adista.” Lanjutnya lagi, sambil mengulurkan tangannya kembali.
“Ah ya, aku yuna archer.” Yuna membalas uluran tangan aimar. Sambil tersenyum yang bisa membuat siapapun pria rela bertekuk lutut untuk itu. Tapi tidak dengan aimmar, senyuman itu justru membuatnya kesal. Tapi dia masih menahan kekesalannya itu demi misinya menjadikan yuna istrinya.
“Baiklah, sebaiknya kita memulai acara makan sebelum melanjutkan obrolan kita.” Kata aimar lalu menekan bel yang terletak di atas meja.
Beberapa saat kemudian, pegawai yang sama saat mengantar yuna ke ruangan itu membawa trolly berisikan makanan yang akan mereka hidangkan untuk aimmar dan yuna.
“Silahkan, tuan dan nona.” Katanya sopan setelah menghidangkan semangkuk sup sebagai makanan pembuka.
“Mulai sekarang panggil dia nyonya, dia adalah calon istriku.” Dengan tegas aimmar mengingatkan pegawainya itu. Dan sukses membuat wajah yuna memerah saat mendengarnya, tapi karena ruangan itu tidak terlalu terang mungkin aimmar tidak akan menyadarinya.
Mereka mengobrol santai, diawali dengan pembahasan yang tidak jauh dari urusan pekerjaan. Tapi lama kelamaan aimmar mulai menanyakan hal yang menurut yuna sangat menyentuh hatinya.
“Aimmar..” panggil yuna.
“Ah ya, bagaimana jika kita mulai dengan panggilan khusus diantara kita. Agar terlihat lebih nyaman.” Kata aimmar yang disetujui yuna.
“Bagaimana jika kamu memanggilku ‘ay’ ?” aimmar menawarkan alternatif panggilan khusus di antara mereka.
“Ay ?” tanya yuna lagi sambil terlihat mempertimbangkan tawaran calon suaminya.
“Namaku aimmar, mungkin akan lebih mudah kalo kamu panggil ‘ay’.” Jelasnya.
“Baiklah.” Yuna menyetujuinya, padahal maksud aimmar adalah agar suatu saat ibu gadis yang sekarang duduk di depannya ini menyadari bahwa dia merupakan anak seorang lelaki dari masa lalunya. Panggilan itu sama seperti panggilan wanita itu pada papanya dulu, saat mereka masih menjalin hubungan.
“Oh iya ay, aku mau sampein sesuatu. Mungkin ini akan mempengaruhi hubungan kita kedepannya.” Kata yuna dengan wajah tenang, tapi didalam hatinya berusaha mati – matian menahan detak jantungnya yang memompa secara tidak normal. Takut menerima jawaban yang akan keluar dari mulut calon suaminya itu.
“Tentang apa itu ?” aimmar bertanya dengan pembawaan yang tenang, walaupun wajahnya yang tegas itu berkali – kali membuat nyali yuna sedikit menciut.
“Mungkin bisa dibilang ini berhubungan dengan masa laluku... mungkin.” Kata yuna dengan tidak yakin. Sungguh jika ada pilihan lain dia akan memilih hal itu.
“Yuna, aku akan selalu menerimamu apa adanya. Berserta dengan masa lalumu.” Kata aimmar.
“Ta.. tapi.” Yuna masih berusaha mengatakan yang mengganjal di dalam benakknya.
“Sudahlah, aku mempercayaimu.” Aimmar menggenggam tangan yuna, meyakinkan wanita didepannya itu dengan sentuhan itu. Sebenarnya aimmar benar – benar tidak peduli dengan apa yang akan yuna katakan. Baginya, yuna adalah alat untuk membalaskan dendam mamanya dulu.
Apapun yang terjadi pada yuna di masa lalu dan masa depan aimmar benar – benar tidak ingin tahu. Dia hanya ingin senyuman yang ada di wajah gadis itu segera tergantikan dengan air mata. Berbagai cara akan aimmar lakukan untuk membuat yuna menjadi miliknya.
Dan tentu saja sikap lembut yang aimmar tunjukkan seperti ini membuat yuna merasa tersentuh, walaupun rasanya dia masih merasa mencurangi aimmar karena kejadian malam itu. Tapi perkataanya tentang dia mempercayainya itu menyentuh dasar hati yuna. Hati yang sebelumnya hanya bisa di ketuk oleh bobby, sekarang justru terbuka lebar dan siap menerima aimmar dalam hidupnya.
Tanpa dia sadari apa yang akan menimpanya dengan niat tersembunyi yang aimmar simpan rapat – rapat. Sesuatu yang yuna sendiri tidak pernah ketahui kebenarannya.
**