Bab 2

978 Words
Sudah tiga hari sejak kecelakaan itu. Namun bayangan wajah pemuda yang ia tabrak masih terus muncul di kepala Aruna. Ia ingat bagaimana Rangga tersenyum meski kesakitan, bagaimana matanya teduh tapi menyimpan sesuatu, mungkin kelelahan, mungkin pasrah. Sejak hari pertama ia mengantarnya ke rumah sakit, Aruna belum berani kembali. Ia takut... bukan pada Rangga, tapi pada dirinya sendiri. Takut karena perasaan aneh yang tumbuh di dadanya setiap kali mengingat tatapan itu. Namun pagi ini, saat ia menatap cermin dan melihat wajahnya sendiri yang pucat dan kosong, ia sadar, diam hanya akan membuatnya lebih gelisah. Ia mengambil tas, mengenakan cardigan panjang, dan pergi diam-diam. Andre sudah berangkat sejak subuh untuk urusan kantor, jadi rumah terasa sepi seperti biasanya. Rumah sakit itu tidak besar. Bangunannya agak tua, tapi bersih. Aruna masuk dengan langkah ragu, menanyakan nama Rangga pada resepsionis. “Masih di ruang perawatan lantai dua, Bu,” jawab perawat dengan ramah. “Tapi dia sudah bisa duduk. Luka jahitannya mulai kering.” Aruna mengangguk. Saat ia mengetuk pintu kamar itu, suara lembut terdengar dari dalam. “Masuk aja.” Rangga sedang duduk di tepi ranjang, berusaha melipat lengan bajunya. Wajahnya terkejut begitu melihat Aruna. “Lho... Aruna? Saya kira nggak bakal balik lagi.” “Kenapa nggak?” Aruna tersenyum kecil, menaruh kantung plastik di meja. “Saya bawain makanan. Kamu pasti bosen makan nasi rumah sakit.” Rangga tertawa pelan. “Iya sih... tapi ngapain repot-repot. Saya udah cukup banyak nyusahin kamu.” “Jangan bilang gitu,” jawab Aruna cepat. “Saya yang salah waktu itu. Kalau bukan karena saya, kamu nggak bakal luka begini.” Ia menata makanan di meja: sup ayam, buah potong, dan sedikit roti. Sederhana, tapi aromanya menenangkan. Rangga memperhatikan dengan tatapan canggung. “Kamu masak sendiri?” Aruna tersenyum lembut. “Iya. Saya suka masak. Katanya makanan buatan sendiri bisa bikin cepat sembuh.” Beberapa detik kemudian mereka hanya diam. Sunyi, tapi bukan sunyi yang canggung, lebih seperti dua orang asing yang mencoba memahami ritme masing-masing. Rangga akhirnya membuka suara. “Kamu kerja di mana, Aruna?” Aruna menatap keluar jendela sejenak sebelum menjawab, “Saya dulu kerja di perusahaan swasta. Sekarang... ya, bisa dibilang saya cuma di rumah.” Ia tak ingin membahas lebih. Kata “ibu rumah tangga” terasa terlalu berat baginya. Rangga mengangguk, tidak memaksa. “Saya kerja di bengkel. Kadang bantu proyek kecil kalau ada panggilan. Tapi sekarang, dengan kaki begini...” Ia menatap perbannya dan menghela napas. “Kayaknya saya harus nganggur dulu.” Aruna memandangnya dengan iba. “Berarti kamu tinggal sama siapa di rumah?” “Sama Ibu,” jawab Rangga lirih. “Beliau udah tua dan sering sakit. Saya yang ngurus, jadi kalau saya nggak bisa kerja, ya agak susah juga.” Ada sesuatu yang bergetar di d**a Aruna mendengar itu. “Kalau gitu, saya bantu, ya. Paling nggak, selama kamu belum bisa jalan, saya bisa bantu antar makanan ke rumah atau jenguk Ibu kamu.” Rangga menatapnya kaget. “Nggak usah, Aruna. Kamu udah cukup baik. Saya bisa cari cara lain.” “Tolong jangan nolak,” ucap Aruna pelan tapi pasti. “Saya cuma mau tanggung jawab. Itu aja.” Dan dari kalimat sederhana itulah, sesuatu mulai berubah di antara mereka. Hari-hari berikutnya, Aruna datang hampir setiap sore. Kadang membawa makanan, kadang hanya sekadar duduk dan mengobrol. Ia tahu jadwal Andre dengan baik, kapan pulang, kapan rapat, jadi semua kunjungannya diatur diam-diam, penuh kehati-hatian. Dari Rangga, Aruna tahu banyak hal kecil yang dulu sudah lama tak ia rasakan: tentang kesederhanaan, tentang tawa tanpa pamrih, tentang kehangatan tanpa tuntutan. “Dulu waktu kecil, saya pengen banget punya ibu kayak di film,” kata Rangga suatu sore, menatap jendela dengan senyum samar. “Yang masakin sarapan, marah kalau saya pulang malam. Tapi Ibu saya kerja keras sendirian, jadi saya nggak pernah ngerasa punya waktu bareng beliau.” Aruna hanya diam, mendengarkan. Di matanya, ada kesedihan samar, seperti seseorang yang baru sadar betapa sepinya hidupnya sendiri. “Sekarang kamu udah punya ibu yang harus kamu jaga,” ucapnya lembut. “Dan kamu beruntung, Rangga. Kamu masih punya seseorang untuk pulang.” Rangga menoleh pelan. “Kamu juga punya, kan?” Aruna tersenyum samar, menunduk. “Entahlah.” Beberapa minggu kemudian, saat dokter mengizinkan Rangga pulang, Aruna ikut mengantarnya. Rumah Rangga terletak di gang kecil di pinggiran kota, sederhana tapi bersih. Di terasnya duduk seorang wanita paruh baya, tubuhnya kurus dengan selimut menutupi kaki. “Ibu, ini Aruna,” kata Rangga, membantu ibunya duduk lebih tegak. “Beliau yang bantuin saya waktu kecelakaan.” Wanita itu menatap Aruna dengan mata lembut. “Terima kasih, Nak. Kamu orang baik, mau repot bantu anak saya.” “Jangan gitu, Bu. Saya yang harus minta maaf. Karena saya, Mas Rangga sampai luka.” Mereka bertiga lalu berbincang lama. Aruna tak menyangka betapa hangatnya suasana rumah itu, sederhana tapi penuh cinta. Saat ia pamit, ibu Rangga sempat menahan tangannya. “Datanglah kapan-kapan, Nak. Saya senang kalau ada yang bisa nemenin ngobrol.” Aruna tersenyum, dan entah kenapa hatinya terasa hangat sekaligus nyeri. Sudah lama sekali ada yang menunggunya dengan tulus. Sejak hari itu, ia mulai sering datang, kadang membawa makanan, kadang membantu mencuci piring atau mengganti perban Rangga. Ia melakukannya diam-diam, bersembunyi di balik nama “Aruna yang single,” karena ia tak sanggup menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Andre tidak tahu. Dunia luar pun tidak tahu. Hanya di rumah kecil itu, Aruna merasa menjadi dirinya sendiri, tanpa tekanan, tanpa tuduhan, tanpa rasa bersalah. Dan Rangga, tanpa sadar, mulai menjadi tempat ia bernaung dari semua luka. Senyum pemuda itu yang sederhana dan tulus perlahan menambal bagian-bagian dalam dirinya yang sudah lama retak. Namun di balik kehangatan itu, Aruna tahu ada bahaya yang menunggu. Kebohongan kecil yang ia ciptakan, jika terus tumbuh, suatu hari akan menuntut balasan. Tapi untuk saat ini, hanya untuk sementara, ia ingin merasakan damai itu sedikit lebih lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD